
Tanpa disadari oleh Penjaga tersebut, Dania diam-diam sudah berhasil membebaskan diri. Ia berniat menyusun strategi untuk melarikan diri dari Gedung Tua tersebut. Penjaga annya begitu ketat diluar. Sepertinya dia harus mencari cara lain agar bisa melarikan diri dari Gedung tersebut tanpa diketahui oleh Penjaga-penjaga tersebut atau ibaratnya tidak ketahuan.
***
Sementara di sisi lain.
Tidak terasa, perjalanan yang bisa dikatakan perjalanan dadakan dan menggunakan kecepatan tinggi, Zilya akhirnya sampai di lokasi Dania saat itu juga.
Walau pada saat perjalanan, ia hampir menabrak kendaraan lain, ia tidak menyerah untuk bisa sampai di lokasi ini.
Zilya mengambil sapu tangannya dan mengelap pelipisnya yang basah setelah mengendarai.
Sambil menyusun strategi yang akan ia gunakan untuk menyelamatkan Dania, saudari kembarnya, Zilya memantau bangunan tua tersebut dari jauh.
Iya, Zilya memarkirkan mobilnya jauh dari bangunan tersebut. Dengan tujuan agar mata-mata ataupun penjaga-penjaga bangunan tua tersebut tidak merasa apabila mereka sedang dimata-matai sekarang, bukan memata-matai orang lain.
“Aku harus bisa menyelamatkan Dania dari sana sebelum semuanya terlambat!“ gumam Zilya dengan penuh tekad.
Ia mulai menyusun strategi didalam mobil.
Begitu pula dengan Dania. Dania juga turut menyusun strategi. Mereka berdua sama-sama membuat strategi, namun beda tempat, dan strategi yang dibuatnya.
***
Sementara di lokasi acara kelulusan...
__ADS_1
Mahasiswa-mahasiswi merasa heboh, karena sejak tadi, mahasiswa yang mendapatkan nilai tertinggi dibandingkan mahasiswa-mahasiswi lainnya tidak kunjung menampakkan dirinya.
Mei, sahabat Zilya. Merasa khawatir dengan keadaan Zilya. Takut Zilya kenapa-kenapa. Apalagi sedari tadi, panggilannya tidak ada satupun yang dijawab oleh Zilya. Hal tersebut seolah menandakan sepertinya Zilya dalam situasi yang berbahaya saat ini.
“Mei,“ panggil seorang mahasiswa. Raut wajahnya kebingungan. Entahlah kenapa...
“Iya?“ Mei langsung menolehkan wajahnya kearah sumber suara.
“Ada apa, Daf?“ tanya Mei. Ia bisa menebak apa yang dirasakan oleh Daffa atau Zayn saat ini dari raut wajah Daffa.
“Sekarang apa yang sedang terjadi? Mengapa para mahasiswa terlihat heboh, dan juga para dosen yang sepertinya terlihat panik? Apakah terjadi sesuatu? Oh ya, sedari tadi masuk ke sini, aku tidak melihat Zilya. Kemana dia?“ cerocos Daffa membuat Mei pusing kepala tujuh keliling.
“Tidak bisakah memberi pertanyaan satu per satu? Jangan seperti ini, Daf! Kamu membuat kepalaku terasa semakin pusing,“ kesal Mei.
“Mmm … Baiklah, maafkan aku, Mei. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu pusing,“ ucap Daffa dengan penuh penyesalan.
Suasana diantara keduanya pun tiba-tiba menjadi hening. Daffa yang masih bingung dengan keadaan hanya diam seribu bahasa. Sedangkan Mei yang merasa kesal sekaligus khawatir dengan keadaan sahabatnya saat ini, sehingga juga ikut diam seribu bahasa.
“Mei?“ Daffa mencoba membuka suara. Ia merasa, sebaiknya dirinya tidak diam seribu bahasa seperti ini. Ia harus segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi firasatnya mengatakan bahwa sesuatu buruk terjadi, membuat dirinya semakin tidak tenang.
“Mei?“ panggil Daffa lagi. Namun, Mei masih diam seribu bahasa. Gadis yang merupakan sahabat dari gadis pujaannya itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Mei!“ panggil Daffa dengan nada yang sedikit dinaikkan, membuat Mei terkejut, hingga tanpa sadar gadis itu malah refleks meloncat.
“Ya ampunn, Daf! Kamu membuatku kaget saja!“ ucap Mei sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
“Maaf, maafkan aku,“ ucap Daffa dengan penuh penyesalan dalam hatinya. Ia tidak bermaksud untuk membuat gadis tersebut terkejut akibat ulahnya.
“Mm, tidak masalah. Ada apa?“ tanya Mei mengalihkan arah pembicaraan mereka agar tidak membahas itu ini saja.
“Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku tadi,“ ucap Daffa langsung to the point. Sepertinya pria itu tidak sabaran, apalagi ia bertanya hal tersebut sudah membuang waktu beberapa menit, yang seharusnya ia pergunakan untuk hal-hal yang penting menurutnya.
“Baiklah, baiklah, akan aku jelaskan,“ ucap Mei lalu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Mulai dari Zilya yang menghilang, para mahasiswa mulai kelihatan pada heboh, dan hal-hal yang terjadi. Ia menjelaskannya kepada Daffa tanpa dilewatkan poin-poin pentingnya. Mei sudah terlihat seperti seorang mahasiswa yang sedang mempresentasikan ringkasan materi kepada gurunya.
Wajah Daffa mendadak pucat pasi mendengar Zilya menghilang. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi, ia bergegas meninggalkan tempat lokasi acara perpisahan mahasiswa itu diadakan.
Mei yang melihat Daffa perlahan mulai beranjak pergi dari tempat tersebut, hanya diam membiarkannya saja. Ia tentu tidak akan bisa menghentikan pria itu.
***
Daffa bergegas menaiki mobilnya. Mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Zilya.
Kedua bola matanya membulat ketika panggilan tersebut yang awalnya memanggil kini menjadi berdering. Itu artinya ponsel Zilya diaktifkan. Namun, oleh siapa?
Daffa pun mengambil laptopnya segera. Dengan penuh harapan, semoga saja Zilya mengangkat teleponnya walau hanya sejenak. Memberikan kesempatan kepada dirinya untuk melacak lokasi gadis tersebut.
“Zilya, semoga kamu baik-baik saja. Aku akan merasa sangat bersalah jika kamu kenapa-kenapa,“
***
__ADS_1
Akhirnya Author bisa update kembali untuk kalian...
Ditunggu update selanjutnya yaa