Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZD | 75 : MELOLOSKAN DIRI


__ADS_3

“Bos! Gadis ini mau dikemanakan?“ tanya anak buahnya.


“Bawa dia ke ruangan pribadiku. Ikat dia di kasur. Pastikan ia tidak bisa kabur!“ perintah Rendi.


“Baik, Bos!“


Rendi masuk ke dalam ruangannya dan melihat tubuh Zilya yang terikat.


“Cepatlah bangun, sayang.“ bisiknya tepat di daun telinga Zilya.


Zilya yang sebenarnya sudah sadar saat ia diikat di kasur hanya bisa menahan rasa geli itu. Sayangnya ia sadar di saat yang kurang tepat, coba saja ia sadar ketika sebelum diikat, mungkin ia sudah bisa meloloskan diri sekarang.


“Aku tidak tahu, mengapa kau sungguh membuatku tertarik, Zilya Daisha.“ ucap Rendi pelan.


“Kau sudah banyak berubah. Aku jadi menyesal karena sudah pernah ikut mengucilkanmu dulu,“


“Tubuhmu sekarang terlihat seksi. Dan aku sangat menginginkannya,“


Merasa Zilya akan membutuhkan waktu yang lama untuk sadar, maka Rendi pun memutuskan untuk bermain sebuah aplikasi games di ponselnya.


“Haduh! Malah kalah! Main lagi gapapa kali ya!? Zilya juga masih belum sadar dari pingsannya,“ monolog Rendi sembari melirik Zilya.


Zilya bergerak ketika Rendi fokus dengan ponselnya. Saat Rendi meliriknya, maka Zilya akan berpura-pura belum sadar dari pingsannya.


“Pria itu mudah sekali dibohongi. Jika ia diberi 100juta tapi harus mentransfer 1 miliar, mungkin dia percaya begitu saja,“ pikir Zilya.


“Itu artinya, aku tidak perlu menguras banyak energi untuk permainan kali ini. Bukan aku yang ingin memulainya, tapi kau Rendi,“ monolog Zilya sembari melirik tajam kearah Rendi.


“Ikatan ini begitu longgar,“ gumam Zilya lalu dengan mudahnya ia melepaskan tangannya dari tali tersebut.


“Syukurlah dia masih fokus dengan ponselnya,“ Dengan gerakan cepat, Zilya melepaskan ikatan kakinya.


“Aku harus kabur,“ Sejak tadi, Zilya telah menemukan tempat di mana ia bisa melarikan diri. Jadi, sekarang ia tinggal melakukan aksinya saja.


Saat Zilya sedang bersiap-siap membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara teriakan orang yang menghentikannya.


“Sayang! Mau ke mana?“ ucap Rendi dengan lembut sembari menghampiri Zilya.

__ADS_1


“Ini orang terlalu berobsesi. Astaga, sepertinya aku mendapat masalah besar!“ gumam Zilya.


“A-aku,“ Seketika Zilya bingung menjawabnya. Otaknya tiba-tiba blank. Tidak mungkin ia menjawab bahwa ia akan kabur.


“Aku sudah tahu apa yang dipikiranmu, sayang. Jangan coba-coba kabur dariku. Kamu adalah milikku,“ ucap Rendi sembari mengendus-endus hidungnya ke leher Zilya.


“Jangan macam-macam, atau aku akan membunuhmu!“ ancam Zilya sembari mengambil sebuah pisau yang entah darimana dan mengarahkan pisau ini seolah-olah ia akan menusuk Rendi saat itu juga.


“Hahaha! Membunuhku? Sepertinya kau sedang bercanda, sayang!“ Rendi tertawa.


“Sudahlah, sepertinya aku tidak perlu bersikap manis seperti ini kepadamu. Akan aku langsung tunjukkan bagaimana sifat asli ku yang sebenarnya,“ ucap Rendi dengan suara pelan, namun setelah itu ia tertawa keras.


“Orang gila!“ umpat Zilya.


“Ya, aku memang orang gila. Tergila-gila dengan keseksiian tubuhmu ini,“ ucap Rendi sembari mengelus lembut punggung Zilya.


“Hentikan! Aku tidak mau disentuh! Kita bukan sepasang suami istri!“ Zilya mulai memundurkan tubuhnya agar tidak dekat dengan pria yang dianggapnya gila itu.


“Aku ini adalah pria mapan, tampan, semua wanita terpesona denganku bahkan mereka rela tidur bersamaku. Apa kurangnya aku hingga kau memilih pria itu, hah! Jawab Zilya!!“ bentak Rendi dengan suara keras membuat Zilya sedikit tersentak.


Zilya mulai sadar, bahwa pria yang di hadapannya ini memang sudah tidak waras lagi. Keras tidak bisa dibalas dengan keras, bukan? Maka dari itu, Zilya harus bisa mencari cara agar pria di hadapannya ini tidak melakukan aneh-aneh.


PLAK!


Zilya benar-benar marah. Amarahnya sudah memuncak di level tertinggi. Ia tidak bisa diam begitu saja, apalagi harga dirinya diinjak-injak oleh pria itu.


Zilya berulang kali menghela napasnya agar tidak keras menghadapi pria tidak waras ini.


“Hahaha! Aku orang gila, aku orang gila hahah!“ tiba-tiba saja, Rendi tertawa sendiri. Membuat Zilya melihatnya menjadi bergidik ngeri.


“Hiks hiks hiks! Kenapa kau tidak mau bersamamu, Zilya? Aku ini sudah mapan, ganteng pula, kenapaa Zilya? Kenapaaa?“ Rendi tiba-tiba malah menangis.


“Jawab aku Zilya, kenapa? Kenapaaa!“ bentak Rendi.


Zilya hanya diam. Membiarkan pria itu meluapkan emosinya. Sungguh, ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi orang gila.


Makanya Zilya lebih memilih untuk diam. Daripada ia berbicara terus-menerus, takutnya malah jadi memperparah keadaan. Rendi yang sudah gila nanti malah tambah gila. Jadinya Rendi gila-gila dong!

__ADS_1


“Kenapa Zilya? KENAPAA!“ tanya Rendi sembari menggoyangkan tubuh Zilya.


“Oh, aku tahu. Mana ada yang mau bersamaku, kan aku orang tidak waras! Hahaha!“


“Dasar tidak berguna! Seharusnya aku mati saja hahaha!“ Rendi benar-benar meluapkan emosinya.


“Daripada hidupku seperti ini, lebih baik aku mengakhiri hidupku saja!“ Entah mengapa tiba-tiba pisau yang tadinya berada di tangan Zilya, sekarang sudah berpindah ke tangan Rendi.


Zilya menjadi panik. Ia berusaha merebut pisau itu dari tangan Rendi bagaimanapun juga. Ya, walau akhirnya tangan ia terluka sih. Daripada Rendi bunuh diri disini kan, malah ia yang akan dituduh membunuh.


“Berikan padaku, Zilya! Aku lebih baik mati!“ ucap Rendi sembari merebut pisau dari tangan Zilya.


“Tidak, Rendi! Jangan berpikir seperti itu!“ sahut Zilya sembari membuang pisau tersebut ke jendela. Sehingga Rendi tidak dapat meraihnya.


Mereka sempat kejar-kejaran yang membuat energi Zilya kembali terkuras. Hari ini benar-benar hari melelahkan!


Pandangan Rendi teralihkan pada tangan Zilya.


“Loh? Kok tanganmu terluka? Pasti sakit ya! Aku ambilkan obat dulu!“ ucap Rendi sembari berlari terbirit-birit untuk mengambil obat.


Hal tersebut dijadikan kesempatan oleh Zilya untuk melarikan diri. Setelah melarikan diri, Zilya akan melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.


“Syukurlah aku berhasil,“ ucap Zilya setelah berhasil melarikan diri dari gedung itu. Tempat ia diculik berada di lantai 10, sehingga membuatnya mau tidak mau harus menuruni satu per satu lantai.


Keringatnya bercucuran. Bersamaan itu, mobil polisi datang. Membuat Zilya merasa heran, padahal ia belum menelepon polisi.


Polisi pun mengerumuni tempat tersebut. Ia melihat Rendi bersama anak buahnya sudah berhasil tertangkap.


“Hahaha! Senangnya, akhirnya aku dipenjara!“ Rendi benar-benar tidak waras. Author saja yang membuat ini sudah merasa kesal sekaligus kasihan sih sama sosok Rendi. Kasihan sampai gila gitu.


“Zilya!“ suara tidak asing itu membuat Zilya menolehkan wajahnya.


“Zayn!“ Zilya memeluk kekasihnya.


“Apa kamu baik-baik saja?“ Zayn memutari tubuh kekasihnya, bahkan ia menggunakan kacamata agar dapat melihat dengan jelas.


Matanya menemukan bercak darah yang masih belum kering di tangan Zilya. Bahkan darah itu masih mengalir. Juga lebam merah yang sepertinya disebabkan karena diikat saat penculikan di Mall. Penculik itu sepertinya agak aneh juga, saat di Mall ikatnya kencang banget, tapi giliran di Markas malah longgar. Aneh sekali bukan? Jangan-jangan penculik itu juga memiliki penyakit kejiwaan?

__ADS_1


“Ada apa dengan tanganmu?“ tanya Zayn dengan wajah khawatir.


__ADS_2