
“Ti-tidak ada. Kamu ingin ke mana, Sayang?“ ucap Zayn mengalihkan pembicaraan.
“Bagaimana jika kita pergi ke Mall?“
“Ide bagus!“
***
Sementara itu di sisi lain ...
Gavin diam-diam duduk sembari merenungi yang selama ini ia lakukan.
Gavin, pria yang berstatus sebagai mantan suami Veni menjalani hukuman penjara selama 10 tahun. Selain karena masalah membuat keributan di kontrakan, ternyata Gavin juga terbukti bahwa ia telah melakukan korupsi di suatu perusahaan.
“Kenapa jadi begini? Aku tidak mau dipenjara, selama beberapa minggu saja sudah membuatku merasa bosan, apalagi sampai 10 tahun,“ keluh Gavin. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya kehidupannya di masa depan hanya dalam Penjara hingga masa hukumannya benar-benar selesai.
“Tidak ada satupun yang benar-benar menemaniku. Bahkan termasuk asistenku, dia benar-benar menghilang dari permukaan bumi,“ Gavin merenungi dirinya.
Tiba-tiba ia mendengar seseorang yang sepertinya adalah seorang wanita berkata kepadanya, “Jangan selalu mengandalkan orang lain, karena pada akhirnya orang itu akan pergi bagaimanapun juga. Yang bisa dihandalkan selamanya adalah dirimu sendiri. Ingat, dirimu sendiri!“ menekan setiap kata yang di ucapnya di kalimat akhir.
“Siapa kamu?“ Gavin menoleh kanan kirinya. Namun, ia tidak menemukan siapa-siapa. Lalu, tadi siapa yang berbicara dengannya. Apakah ini penjara angker? Pikiran Gavin terus bergalut membuat Gavin merasa pusing dikepalanya.
“Hanya gara-gara suara wanita itu, kepalaku terus berpikir dan akhirnya sakit. Memang nasib!“ keluhnya lagi dan memutuskan untuk istirahat sebentar sembari menunggu jam makan malam tiba. Sekaligus mengistirahatkan pikirannya.
***
Sementara itu di sebuah Mall.
Zilya dan Zayn berjalan mengelilingi Mall yang besar nan megah tersebut diiringi dengan candaan dan tawaan.
Zayn memang memiliki rencana agar kekasihnya tidak terlalu memikirkan keluarganya tadi. Biarlah semuanya berlalu. Toh, mereka juga sudah menerima karmanya juga.
“Apa ada yang ingin kamu beli, Sayang? Dari tadi kita terus berjalan, namun tidak ada yang kamu beli. Apakah barang-barang disini tidak menarik?“ tanya Zayn.
“Tidak, bukan begitu maksudku Zayn. Aku hanya ingin berjalan mengelilingi Mall ini. Sungguh jarang sekali aku mendapat waktu untuk jalan-jalan,“ jawab Zilya sembari tersenyum manis.
“Atau kamu ingin pindah ke Mall lain saja, Sayang?“ tanya Zayn sekali lagi. Ia ingin membuat hari ini hari bahagianya Zilya, jadi ia berusaha mungkin agar kekasihnya tidak merasa sedih ataupun hal lainnya selain bahagia.
“Tidak perlu, Zayn.“ jawab Zilya.
“Serius kah?“
“Seriuslah sayang.“
Mereka masih melanjutkan pembicaraan mereka sembari mengelilingi Mall yang bisa terbilang besar dibandingkan Mall-mall lainnya.
Hingga tiba-tiba, Zayn menanyakan sesuatu.
__ADS_1
“Apa kamu menyukai boneka?“ tanya Zayn tiba-tiba.
“Suka sih, cuma di sini bonekanya pada mahal-mahal. Dan tidak mungkin aku menghabiskan uangku hanya untuk-“ Ucapan Zilya berhenti ketika merasa kekasihnya tidak lagi berada disampingnya.
“Loh? Kemana dia?“ Zilya bingung. Lalu menoleh kearah belakang, kiri, kanan, depan bahkan ia sampai mengelilingi tempat tadi, namun ia juga tidak menemukan kekasihnya.
Pikirannya teringat dengan pembahasan yang dibahas oleh Zayn terakhir kalinya. Kekasihnya membahas tentang boneka.
Atau jangan-jangan ternyata kekasihnya berada di toko boneka!? Zilya melangkahkan kakinya dengan cepat sembari menoleh kanan kiri untuk mencari toko boneka.
“Astaga, sudah 10 menit aku berkeliling namun aku juga tidak menemukan kekasihku. Kemana perginya dia?“ Zilya merasa khawatir jika kekasihnya menghilang. Ia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi!
Zilya masih tetap semangat untuk mencari kekasihnya. Walau keringat sudah membanjiri tubuhnya tidak membuat gadis itu berhenti.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke supermarket sebentar untuk membeli minuman.
Lalu ia keluar dari supermarket dan membuka tutup botolnya. Dengan segera, Zilya berhasil menghabiskan minuman tersebut hanya dalam waktu beberapa detik saja.
Zilya merasa sangat lelah. Hampir 20 menit ia habiskan hanya untuk mencari kekasihnya yang tiba-tiba menghilang.
Zilya memutuskan untuk keluar dari Mall sebentar.
“Hmmphhh!“ pekik Zilya saat seseorang dari belakang berusaha membekap mulutnya. Ia dapat menghirup aroma kain tersebut. Aromanya adalah obat-obat yang disangka adalah obat bius. Dengan berusaha, ia menahan hidungnya agar tidak menghirup.
“Hmmphhh! Hmmphhh!“ Zilya berusaha memekik. Namun, tiba-tiba ia menyadari bahwa tidak ada satupun orang lagi disana. Kemana semua orang?
Zilya pun menendang asal ke belakang. Dan ternyata tendangan itu mengenai tulang kering orang di belakangnya.
“Dasar penculik!“ Beruntung Zilya mampu menahan hidungnya agar tidak menghirup aroma tadi. Saat ia merasa keadaan sudah tenang, ia pun memutuskan untuk masuk kembali kedalam Mall.
Namun tidak disangka, dari belakang ia langsung kembali dibekap dengan kencang. Kedua tangannya langsung diikat dari belakang. Orang tersebut menutup kedua mata Zilya.
“Hmmmphhh!“
Zilya berusaha menendang dengan menggunakan kakinya. Namun, kali ini tendangannya meleset. Orang yang membekapnya kali ini mampu menghindarinya.
Zilya yang tidak mampu menahan napasnya, mau tidak mau ia diculik kali ini. Ia sendiri juga tidak mampu berbuat apapun karena kelelahan.
Kesadaran Zilya berangsur menghilang. Kedua orang tadi langsung membawa tubuh Zilya kedalam mobil. Mobil tersebut menuju ke suatu tempat.
Di dalam mobil, pria A mengambil lakban untuk menutup mulut wanita yang ia culik agar ketika sadar tidak dapat berteriak. Kakinya juga diikat agar tidak bisa kabur.
Pria A itu pun menelepon seseorang.
“Kak! Kami telah menyelesaikan misi. Gadis itu telah berhasil kami culik!“ ucapnya.
“Kerja bagus! Aku akan menunggumu di Markas!“
__ADS_1
“Baik, Kak!“
***
Sementara itu, di dalam Mall.
Zayn berusaha mencari Zilya. Ia baru saja keluar dari toko boneka dan tidak menemukan Zilya di tempat tadi.
Tadi saat masih bersama Zilya, Zayn melihat sebuah boneka yang membuatnya tertarik. Oleh karena itulah Zayn menanyakan kepada Zilya, apakah gadis itu menyukainya atau tidak.
Namun, Zayn yang tidak fokus terus berjalan kearah toko boneka. Dan siialnya, Zilya tidak menyadari hal tersebut karena sibuk berbicara hingga tidak menyadari pasangannya sudah tidak berada di sampingnya.
Zayn benar-benar merasa khawatir dengan kekasihnya. Ia segera melaporkan kejadian tersebut kepada Security Mall. Security membawanya ke ruangan CCTV. Namun mereka malah tidak menemukan apapun disana. Seolah jejak CCTV sengaja dihilangkan oleh seseorang.
“Astaga! Aku tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal rekaman CCTV ini sangat dijaga dan keamanannya sudah pasti tidak ada yang berhasil menerobosnya,“ ucap Security itu dengan perasaan bersalah.
“Sebaiknya laporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian,“ saran Security Mall.
“Saya sudah melaporkannya sejak tadi. Pihak kepolisian juga sudah melakukan pencarian. Namun belum ada jawaban dari mereka,“ jawab Zayn merasa
frustasi. Kemana lagi ia harus mencari kekasihnya?
***
Sementara itu di sisi lain..
Di sebuah gedung yang terlihat sudah tua dan tidak berpenghuni. Ternyata diam-diam dibalik kesana luarnya, gedung itu adalah sebuah Markas kejahatan!
“Ini Kak! Gadis yang kau minta!“ ucap Pria A sembari melihat seorang gadis yang tadi mereka culik sedang dibawa oleh anak buahnya.
“Kerja bagus adikku, Sayang! Aku tidak menyangka semudah itu kamu menculiknya!“ sahut seorang pria yang diduga adalah Kakak dari si Pria A.
“Tentu jangan lupakan dengan perjanjian awal ya, Kak! Bayarannya,“ bisik Pria A.
“Tentu saja, aku sudah mentransfernya ke rekening milikmu. Jika tidak percaya, maka kau boleh mengeceknya sekarang,“ jawab Kakak dari Pria A.
Pria A pun nengecek ponselnya. Dan benar saja, sebuah notifikasi masuk uang sebanyak 500 juta. Mata Pria A terlihat berbinar ketika melihat nominak uang tersebut. Ia merasa menjadi kaya.
“Haha! Terima kasih kakakku Rendi tersayang,“ ucap Darwin.
“Sama-sama adik mata uang! Sekarang pergilah! Nanti aku akan menghubungimu jika aku memerlukan bantuanmu!“ sahut Rendi.
“Baiklah, Kak!“
Darwin pun pergi dari hadapan Rendi.
“Bos! Gadis ini mau dikemanakan?“ tanya anak buahnya.
__ADS_1
“Bawa dia ke ruangan pribadiku. Ikat dia di kasur. Pastikan ia tidak bisa kabur!“ perintah Rendi.
“Baik, Bos!“