
Zilya mulai memejamkan kedua matanya. Sedangkan Zayn asik menatap wajah cantik istrinya.
***
Perjalanan dari Jakarta menuju tujuan membutuhkan waktu kurang lebih 16 jam 25 menit. Ini hanya perkiraan saja, kurang lebihnya tergantung keadaan sekitar dan situasi cuaca. Apakah ada yang bisa menebak, Zilya dan Zayn honeymoon ke mana? Yang bisa jawab, author kasih …
“Pesawat sebentar lagi akan lepas landas,“ lapor Pramugara kepada Zayn.
“Baik, tolong nanti bantu angkatan barang-barang,“ sahut Zayn.
“Siap, Tuan!“ jawab Pramugara tersebut membungkukkan badannya dengan hormat lalu pergi.
Zayn melihat Zilya masih lelap dengan tidurnya. Ada rasa tidak tega untuk membangunkannya saat ini juga. Apalagi terdengar dengkuran halus dari istrinya, itu menandaskan bahwa istrinya benar-benar kelelahan dengan acara kemarin. Seharusnya ia tidak langsung berangkat hari ini juga mengingat acara kemarin begitu besar.
“Maafkan aku, sayang,“ bisik Zayn, lalu menggendong Zilya turun dari pesawat.
“Mari, Tuan. Saya adalah salah satu anak buah yang diperintahkan oleh Tuan Bram untuk menjaga dan membantu Anda selama disini,“ seru salah satu seorang pria bertubuh tegap menggunakan kemeja putih yang dipadukan dengan bawahan celana panjang hitam dan jas hitam. Ditambah dengan menggunakan aksesoris kacamata. Membuat anak buah itu tampak berkelas.
“Jangan berbicara dengan kuat. Istriku sedang tidur,“ peringat Zayn dengan suara yang terdengar seperti berbisik.
“Ba-Baik Tuan,“ jawab anak buah Bram sembari melirik Zilya yang masih tidur terlelap di dekapan Zayn.
“Saya ambil mobil dulu,“ ucapnya dengan suara pelan lalu meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
“Silakan masuk, Tuan,“ ucap Andre sembari membukakan pintu untuk majikannya.
“Terima kasih,“ jawab Zayn saat sudah berada di mobil. Barang-barang mereka juga sudah dimasukkan oleh Andre ke dalam bagasi mobil. Jadi, ia tidak perlu khawatir lagi.
“Tujuan kita ke mana, Tuan?“ tanya Andre sembari mulai mengendarai mobilnya.
“Kita ke Villa-ku saja. Kamu tahu 'kan, di mana? Atau perlu aku berikan alamatnya?“ jawab Zayn.
“Tidak Tuan. Saya sudah mengetahuinya. Baru saja Tuan Bram mengirimkan segala alamat tempat-tempat penting disini. Baiklah,“ sahut Andre.
Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 1 jam. Zayn yang tidak berbicara dengan siapapun merasa sangat ngantuk, bahkan beberapa kali ia menguap namun semua itu ia tahan.
“Tidur saja, Tuan. Tidak apa. Nanti jika sudah sampai, akan saya bangunkan. Lagipula kita sampainya masih setengah jam lagi “ seru Andre melihat Zayn lewat kaca spion.
“Baiklah,“ jawab Zayn lalu mulai memejamkan kedua matanya.
Waktu demi waktu terus berlalu. Hingga tidak terasa sudah berjalannya 1 jam perjalanannya. Mereka telah sampai di sebuah Villa dengan interior minimalis namun terkesan mewah.
“Tuan Zayn, kita sudah sampai,“ seru Andre.
“Ergh, baiklah. Bantu aku untuk angkat barang-barang,“ jawab Zayn yang langsung membuka matanya. Ia pun turun dan masuk ke dalam Villa.
Tujuannya saat ini adalah ruangan tidur pribadinya. Sembari mendekap tubuh Zilya yang masih terlelap, membuat langkahnya menjadi sedikit lambat.
“Erghh,“ terdengar suara dari Zilya saat Zayn meletakkan dengan perlahan di ranjang.
__ADS_1
“Maaf, aku telah membangunkanmu,“ ucap Zayn.
“Tidak apa. Sekarang kita ada di mana?“ tanya Zilya sembari melihat sekelilingnya yang masih asing di pandangannya.
“Di Villa-ku,“ jawab Zayn.
“Villa?“ heran Zilya. Ia masih belum sepenuhnya menyadari bahwa telah sampai di tempat tujuan honeymoon mereka.
“Iya, kita sekarang sudah berada di Paris,“ jelas Zayn.
“APA!?“
***
Keesokan harinya pun tiba.
Usai pengantin baru itu saling memadu kasih di malam hari, paginya mereka memutuskan untuk ke luar Villa untuk mencari angin segar sekaligus jalan-jalan di negeri tersebut.
“Ayo, sayang!“ ajak Zayn sembari menggandeng tangan istrinya dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, senyum Zayn seolah tidak ada habisnya. Gigi yang terlihat seolah kering namun tidak disadari.
“Sayang. Daritadi aku perhatikan kamu senyum terus daritad. Ada apa sebenarnya?“ tanya Zilya dengan penasaran. Ia bahkan tidak menyadari bahwa sebenarnya sumber senyuman Zayn itu dari dirinya.
“Aku sangat senang pokoknya,“ jawab Zayn masih dengan senyumannya. Senyuman yang jarang bisa dilihat oleh orang lain. Dan Zilya menjadi salah satu wanita paling beruntung sedunia karena dapat melihat senyuman itu, bukan hanya sekali namun berkali-kali dapat didapatnya.
Ditambah mereka memutuskan untuk berlibur sekaligus honeymoon selama seminggu di Paris. Pekerjaan Zayn dihandle oleh asistennya, namun bukan berarti pekerjaan itu kelar begitu saja.
Di setiap yang kita lakukan, selalu ada risikonya. Entah risikonya kecil maupun besar. Sadarkah kalian? Misalnya kita ingin membeli baju, kita harus menerima risiko bahwa uang yang kita pegang semakin berkurang.
Inilah namanya hidup. Tidak ada hal yang kita lakukan tanpa risiko. Semua pasti ada risikonya. Mungkin anda saja yang belum menyadarinya..
Seandainya tidak ada risiko apapun setiap perbuatanmu, bisakah kamu membayangkan apa yang akan terjadi pada dunia ini? Semua orang akan bertindak seenaknya. Ada risiko saja, orang-orang masih bertindak seenaknya, apalagi jika tidak ada risiko. Author tidak dapat membayangkannya. Bisakah kamu membayangkan dan jelaskan di komentar?
Tidak lama kemudian, Zilya dan Zayn telah sampai di sebuah wisata Menara Eiffel.
Zilya mengambil kamera dan mulai mengambil gambar dari setiap sisi.
CEKREK! CEKREK!
Salah satu foto yang indah yang diambil oleh Zilya adalah sebagai berikut.
“Woww!! Langitnya sangat memungkinkan untuk kita berfoto aesthetic.“ seru Zayn.
“Iya. Mari kita berfoto bersama,“ sahut Zilya lalu meminta salah satu pengunjung disana untuk memfoto mereka. Beruntung dia menyetujuinya, Zilya dan Zayn segera mengambil posisi yang tepat. Disaat detik-detik terakhir, Zayn langsung mengambil kesempatan mencium pipi Zilya dalam kesempitan.
“Hais! Pasti mukaku akan terlihat jelek,“ seru Zilya sembari mengerutkan bibirnya.
__ADS_1
“Tidak kok. Kamu terlihat cantik di setiap ekspresi apapun,“ puji Zayn.
“Lihat 'kan! Foto yang dihasilkan juga terlihat sangat bagus!“ seru Zayn setelah berucap terimakasih pada pengunjung yang telah bersedia menjadi photographer kilat untuk mereka.
“Iya,“ jawab Zilya masih dalam mode cemberutnya. Yaa, walau fotonya tidak jelek, dimana Zilya masih dengan senyuman manisnya lalu bertepatan dengan Zayn yang mencium pipinya.
“Tahu gak, kenapa foto ini terlihat sangat indah?“ tanya Zayn pada Zilya.
“Kenapa emangnya?“
“Karena ada bidadari yang cantik disini. Makanya fotonya jadi cantik juga deh,“ rayu Zayn.
Pipi Zilya seketika memerah ketika disebut bidadari cantik. Dengan cepat, Zilya memalingkan wajahnya. Ahh tidak, ia benar-benar merasa malu saat ini! Zayn benar-benar berhasil merayu dirinya.
“Tuh kan benar. Ada bidadarinya yang lagi baper (bawa perasaan)“ seru Zayn sembari ikut tersenyum-senyum. Ia senang mengingat kejadian tadi, ia berhasil mencuri ciuman di pipi. Yaa, walau cuma di pipi, namun itu sangat berkesan bagi seorang Zayn Daffa.
“Ahh! Sudahlah, jangan membuatkan malu di depan umum!“ bisik Zilya.
Zayn dapat merasakan embusan napas Zilya mengenai di telinganya ketika berbisik.
“Ya Tuhan … Mengapa kamu yang merayuku disini?“ Zayn mulai merasa hasratnya naik. Sayangnya, saat ini mereka di tempat umum.
“Aku? Merayumu? Bukannya daritadi-“ Ucapan itu terpotong begitu saja karena b*b*r Zilya langsung dibungkam oleh c*um*n yang diberikan oleh Zayn.
“Diam! Jangan berbisik seperti tadi lagi. Itu sama dengan memancing hasratku. Apa kamu mau kita berc*um*n panas di sini?“ tantang Zayn membuat dengan cepat Zilya menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja aku tidak mau! Yang benar saja disini!“ sahut Zilya.
“Daripada kita terus beradu mulut disini, mending kita jalan-jalan lagi yok!“ ajak Zayn.
“Wah, kemana tuh?“ tanya Zilya dengan penasaran.
Mereka pun keluar dari tempat wisata Menara Eiffel. Mereka bergegas masuk kedalam mobil. Zayn membisikkan sesuatu kepada Andre.
“Kita akan pergi ke suatu tempat, sayang. Tidak apa 'kan jika aku menutupi matamu?“ tanya Zayn lebih dulu.
“Kenapa?“
“Aku ingin memberimu kejutan,“ jawab Zayn singkat.
“Baiklah, baiklah,“ sahut Zilya. Kedua matanya pun ditutupi dengan kain hitam oleh Zayn.
Setelah memastikan Zilya tidak dapat melihat apapun, Zayn menggenggam tangan Zilya agar Zilya tidak merasa dirinya pergi.
Perjalanan yang cukup jauh itu sudah tidak terasa lagi. Apalagi jika dibawa sembari berbincang. Tidak terasa, mereka pun sudah sampai di tempat tujuan.
Zilya dibawa masuk dengan perlahan. Ia tidak bisa melihat apapun.
Setelah sampai, penutup mata Zilya pun dibuka. Zilya membelalakkan matanya tidak percaya sembari menutup mulutnya melihat semua ini.
__ADS_1