Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama

Isekai : Mengubah Takdir Tokoh Utama
ZILYA DAISHA | 23 : KEGIATAN?


__ADS_3

***


Waktu berlalu hingga tidak terasa, sekarang sudah sore hari. Waktu berlalu begitu cepatnya. Sebentar lagi, waktu sore hari akan digantikan oleh waktu malam hari.


Kegiatan literasi hari ini pun berakhir. Waktu terasa begitu singkat. Padahal perlu diketahui, kegiatan literasi dimulai dari pagi hari kurang dari jam 8 hingga saat ini jam 5 sore ini. Istirahat hanya 2 jam. Sisanya adalah waktu literasi.


Para mahasiswa di Kampus ini begitu bersemangat ketika membaca buku, terlebih lagi buku novel dengan ciptaan penulis yang mereka favoritkan.


“Sayang sekali ya, waktu berjalan begitu cepat, dan sekarang saatnya waktu literasi selesai. Semua mahasiswa dibubarkan dan kembali ke rumah mereka masing-masing,“ seru mahasiswa 1 dengan raut wajah sedikit kecewa.


“Iya, sayang sekali. Semoga lain waktu, pihak Kampus kembali mengadakan literasi seperti ini lagi,“ sahut mahasiswa 2 dengan raut wajah penuh harapan. Tidak sabar dia menunggu hal itu terjadi.


“Aku juga berharap seperti itu,“ jawab mahasiswa 1 lalu bangkit dari tempat duduknya.


Saatnya kembali mengumpulkan buku-buku yang telah mereka baca. Nantinya akan ada panitia yang mengadakan event kali ini yang akan menghitung total buku yang telah dibaca oleh setiap mahasiswanya satu per satu. Siapa yang membaca lebih banyak, maka akan diberikan hadiah misterius.


Oleh sebab itulah, mengapa para mahasiswa di Kampus Lily ini berlomba-lomba untuk membaca buku favorit mereka. Selain mendapatkan hadiah misterius jika menjadi pembaca buku terbanyak, mereka juga bisa membaca buku yang mereka inginkan secara gratis tanpa mengeluarkan sepeser uang dari saku mereka.


“Perhatian kepada seluruh para mahasiswa di Kampus Lily!“ seru salah satu panitia bersuara dengan menggunakan mikrofon agar seluruh mahasiswa dapat mendengar suaranya dengan jelas.


“Silakan mengumpulkan buku-buku yang telah kalian baca ke dalam loker dengan nama masing-masing. Diharapkan tidak ada yang berbuat curang ataupun bekerjasama demi mendapatkan hadiah,“


“Baik siapapun dia, mau dia adalah mahasiswa semester akhir di Kampus ini ataupun mahasiswa baru di Kampus ini, sanksi tetap berjalan,“


“Selalulah ingat, kejujuran itu yang paling penting. Kejujuran adalah hal utama sebelum akademik,“ seru Panitia itu dengan tegas. Semua mahasiswa yang mendengarnya hanya mengangguk.

__ADS_1


“Baiklah, mungkin hanya itu saja yang dapat saya sampaikan. Selamat sore,“ pamit Panitia tersebut.


Semua mahasiswa pun meletakkan buku-buku bacaan mereka pada hari ini kedalam loker dengan nama mereka masing-masing. Kegiatan mereka hari ini diawasi oleh para Panitia agar tidak ada yang berbuat curang. Meski demikian, ternyata diam-diam ada yang berbuat curang, namun perbuatannya itu belum diketahui siapapun termasuk Panitia.


“Sstt, setelah ini, kamu jangan beritahu kepada siapapun. Sepakat kita ya,“ ucap mahasiswa itu dengn teman kerjasamanya.


"Iya, sepakat,“ Mereka pun berjabat tangan.


“Ini sebagai imbalannya karena kamu telah membantuku. Selanjutnya imbalannya akan diberikan sisanya lagi jika aku memenangkan lomba ini,“ ucap mahasiswa itu lagi.


“Baiklah,“ Mahasiswa yang bekerjasama dengannya itu pun menerima uang sebagai imbalannya karena telah bekerjasama dengan mahasiswa itu.


***


Terlihat kedua mahasiswa sedang berburu-buru mengendong tasnya dan turun dari tangga.


Mereka menuju tempat parkiran. Masuk ke dalam sebuah kendaraan beroda empat. Mobil pun berjalan dengan disetir oleh Sopir.


Mobil tersebut berjalan dengan kecepatan sedang. Apapun kegiatan yang membuat kita terburu-buru, keselamatan memang tetap yang utama.


“Jalannya sepi bukan?“ tanya salah satu mahasiswa kepada temannya.


“Iya, sepi sekali,“ jawab temannya yang merupakan mahasiswa juga.


"Pak, sebaiknya lajukan kecepatannya. Jalanan sangatlah sepi. Kegiatan ini sangat penting, Pak!“ perintah mahasiswa itu kepada Sopir.

__ADS_1


“Meskipun jalanan sepi, keselamatan tetap utama, Nona. Tidak baik melajukan kendaraan dalam keadaan jalanan sepi, dan lebih berbahaya lagi jika keadaan jalanan ramai,“ jelas Sopir tersebut menolak permintaan penumpangnya.


“Aku tidak mau tahu, Pak! Jika aku sampai di tempat tujuan sebelum waktunya sampai, maka aku akan membayar lebih untuk Bapak,“ pinta mahasiswa itu lagi yang pantang menyerah.


“Tidak, Nona. Meskipun Nona memberikan saya bayaran tinggi, saya tidak mau. Risiko kecelakaan tinggi. Saya tidak mau karena uang, saya harus mengorbankan nyawa saya. Lebih baik mengorbankan uang saya daripada nyawa saya,“ jelas Sopir tersebut yang masih menolak.


“Baiklah jika begitu. Turunkan kami di Halte sana,“ perintah mahasiswa itu sembari menunjuk salah satu tempat Halte.


“Baik, Nona,“ jawab Sopir tersebut.


***


Kedua mahasiswa itu pun kembali memanggil taksi lainnya. Sungguh, mereka terpaksa membuang waktu yang berharga ini begitu saja demi kegiatan ini.


“Nah itu ada taksi!“ seru mahasiswa tersebut lalu menghentikan sebuah taksi secara paksa. Padahal mahasiswa itu mengetahui jika taksi tersebut ada penumpangnya yang sedang ingin ke Bandara.


“Maaf, Nona. Saya ada penumpang yang ingin ke Bandara. Sebaiknya, Nona cari taksi lainnya saja,“ tolak Sopir taksi tersebut.


Mahasiswa itu terpaksa mengeluarkan salah satu senjata apinya. Iya, senjata api itu ialah pistol yang dikeluarkan olehnya. Sopir dan penumpang taksi tersebut merasa ketakutan ketika mahasiswa itu mengeluarkannya apalagi pistol tersebut diarahkan ke arah mereka.


“Patuh atau kalian akan tertembak?!“ Mahasiswa tersebut mengarahkan senjata api itu kearah Sopir dan penumpang taksi tersebut.


“Maaf, Tuan, Nyonya. Ini demi keselamatan kita semua,“ Sopir Taksi tersebut merasa tidak enak hari kepada penumpangnya.


“Tidak masalah, Pak. Silakan,“ Penumpang Taksi itu pun keluar dari taksinya.

__ADS_1


Mobil taksi itu pun pergi dengan membawa kedua mahasiswa yang memaksa Sopir agar mengantarkan mereka kesuatu tempat bahkan hingga mengancamnya.


__ADS_2