Istri Ke Dua Sang Baba

Istri Ke Dua Sang Baba
Pria Lain


__ADS_3

Susi membuka matanya secara perlahan, dia melihat sekeliling dan merasa heran..


''Uhh dimana aku.'' Susi memegangi kepalanya yang terasa pening, terlebih matanya tidak bisa terbuka sempurna..


''Sus, kamu udah sadar.? tanya Radiah senang.


''Diah, dimana aku.?


''Kamu sedang di rumah sakit, si madam semalam bawa mu karna pingsan tak sadarkan diri.''


''Hah? apa bedanya pingsan sama tak sadarkan diri.? Susi terkekeh..


''Isshh kau itu.! si madam semalam panik banget tau gak, lagian kamu itu kenapa sih lebay banget.!!


''Heheh, si madam sekarang dimana.?


''Lagi cari makan dia, laper nungguin kamu semalaman.''


Ceklek__


Pintu terbuka bersamaan datangnya Lintang.. ''Sus kamu udah sadar? tanya Lintang tersenyum.


''Udah nyah.'' Susi tersenyum dan ceria seperti biasa..


''Aahh syukurlah.'' Lintang duduk di pinggir ranjang, dan memegang bahu Susi.


''Masih banyak lelaki baik yang menunggu mu sus, jangan putus asa dan jangan sedih terlalu lama. mungkin Azam bukan jodoh mu, tapi aku yakin Allah menyiapkan lelaki hebat untuk mu kelak Sus.'' tutur Lintang yang mana Susi langsung memeluk sang majikan.


''Terima kasih madam, Terimakasih atas segalanya.''


Lintang mengelus punggung Susi. ''Sama sama Sus, kalau kamu Kenapa-kenapaaa nanti si Yanti gak beliin oleh-oleh buat aku hehehe.''


Susi tersenyum..


''Ya sudah, aku senang kamu baik-baik saja. Aku akan pulang terlebih dahulu, kamu nanti pulang sama Radiah yaaa setelah itu habis.'' tunjuk Lintang ke selang infusan.


Susi mengangguk, Lintang pun pergi..


Radiah duduk di kursi dan memandang Susi. ''Mmmm Sus, kira-kira masih lama gak itu infusan habisnya.? tanya Radiah


''hm, memangnya kamu mau kemana.?


''Itu loh, suami aku minta di kirim uang buat anak masuk sekolah, dari sini kan gak jauh ke bank.''


Susi tersenyum. ''Pergi aja Diah, nanti jika aku sudah selesai aku kabari ko. Kamu bawa ponsel kan.??


Radiah mengangguk. ''Ya sudah aku pergi dulu yaaa, beneran gak papa.?


''Iaa gak papa pergi sanaa, tapi jangan lama-lama yaa.''


Radiah melambaikan tangannya dan meninggalkan Susi sendiri..


Mungkin wajah nya sudah ceria kembali, namun hatinya masih rapuh dan sakit. Airmata itu lolos dan terjatuh, namun buru-buru Susi menghapusnya dan turun dari ranjang dan melepasakn jarum di tangannya..


Susi melangkah dan melihat ke atas, ia pun menaiki tangga untuk menuju atap gedung rumah sakit..


Se'sampainya di atap gedung, Susi melihat ke bawah dan mengerutkan keningnya..


''Jika aku lompat dari sini mati gak yaa.? ucapnya sambil terus melihat ke bawah..


''Tentu saja tidak.'' ucap seseorang yang mana membuat Susi terkejut..


''Astagfirullah.'' Susi terjungkal dan untung saja dia masih berpegangan dengan erat..

__ADS_1


Pria itu melihat ke arah bawah lalu melihat Susi dengan intens. ''Jika kau ingin bunuh diri, jangan dari sini. Sana ke Bruj khalifah yang lebih tinggi. Jika kau jatuh dari sini kau akan menyusahkan orang saja, paling hanya cedera.'' ujar pria itu melipat tangannya di dada..


Khem.


Susi berdehem. ''Si_ siapa juga yang mau bunuh diri. Aku hanya melihat saja.'' Ucap Susi memalingkan wajah ke arah samping..


Pria itu menatap Susi dengan intens. ''Ayo ikut aku.''


''Heiii lepaskan.''


Pria itu membawa Tuti ke lantai bawah, ia sama sekali tidak menghiraukan jika Susi sedang memberontak dan memukul tangannya..


''Haiii dasar pria aneh, kau mau membawaku ke mana hah!!


''Ikut saja dan jangan protes.!!


''Aku tidak mau.!!


''Ya sudah jangan berdiri di atas jika kau tidak mau bunuh diri.''


''Lepaskan tanganku.''


Pria itu melepasakan tangan Susi dan mengulurkan tangannya..


''Abizar.''


''Hah.''


''Namaku Abizar, siapa nama mu.?


Susi tak menjawab, dia malah mengerutkan keningnya dan mundur kebelakang.


''Heii aku bukan orang jahat, aku kerja di rumah sakit ini.''


''Heh, bukankah dia yang menyuruhku pergi? tapi mengapa dia yang pergi Dasar wanita aneh heh.''


''Susi.'' ulangnya sambil melihat punggung Susi yang menjauh..



.


Abizar


.


.


Sedangkan di sisi lain di kediaman Lulu yang sangat tenang dan damai, para khadimah sedang berkumpul di taman mengasuh dua bayi yang sudah aktif merangkak kesana kemari bersama Lulu..


Sementara Borkhan sedang berada di luar kota untuk mengecek restoran miliknya, yang semakin maju pesat bahkan Borkhan dalam waktu dekat ini akan membuka restoran di Indonesia..


''Rumi, apa Sinta sudah pulang dari rumah sakit.? tanya Lulu


''Sepertinya lagi di jalan madam.'' jawab Rumi.


''Apa telinganya separah itu yaa, sampai dia jadi budeg.? tanya nya lagi.


''Ia madam, Sampai-sampai kita ngomong apa dia jawab apa. Bikin kita darah tinggi saja.'' ucap Nani menimpali.


''Eh itu Sinta Madam.'' bi Sum menunjuk Sinta yang baru pulang, dengan muka di tekuk di ujung sana.


''Sintaaa.

__ADS_1


''Weyy Sintaaa.'' teriak Rumi namun Sinta tidak mendengar.


TUNG__


Aiii__


Bi Sumiati mentoyor kepala Rumi. ''Kau pula Rum bodoh sekali, si Sinta kan lagi budeg gak bakalan kedengeran. Mau teriak sampai tenggorokan mu kering pun gak bakalan nyahut dia.'' gemas bi Sum.


Heheheh Rumi menyengir kuda...


Sementara Sinta sedang celingak celinguk mengelus pundak nya. ''iihh siapa yang panggil aku? kenapa Qars ini jadi horor yaa iihhh seremmmm.'' Sinta begidik ngeri dan melangkah pergi, namun netra matanya melihat majikannya yang sedang duduk manis bersama yang lain.


''Ehh bukannya itu si madam yaa samperin ahh.'' Sinta berlari ke belakang menghampiri Lulu dan yang lainnya..


''Madam..


''Madam..


'Madaaaamm.'' teriak Sinta yang mana membuat semua orang menoleh..


Lulu tersenyum. ''Ada apa Sin?


Sinta duduk di tengah tengah Rumi dan Nani, Yang mana membuat Nani harus bergeser sedikit..


''iihh kenapa pula kau duduk di tengah-tengah, kaya badan kau kecil saja.!! gerutu Nani.


''iiihhh padahal aku belum cerita looo, kenapa kamu tau Nan di Qars ini berhantu sekarang.'' jawab Sinta


''Apa pula kau jawab hantu Sin, aku tanya mengapa kau duduk di tengah-tengah mblaheee.!!


''Masaa, kapan kamu lihat hantu nya Nan, aku tadi di sana merasa ada yang manggil akuuu.. Sintaaaaa, sintaaaaa. iihh serem lah Nan.


''HEI BODOH, itu aku yang manggil.'' gemas Rumi karna Sinta mulai tak menyambung.


Sedangkan Lulu hanya tersenyum sambil mendengarkan sampai kapan Sinta akan meracau...


''Rum, kamu juga lihat itu hantu? iihh Madam sepertinya rumah ini harus di panggil ustad biar hantunya lari semua, Aku takut nanti di perkosa genderwo madam..''


''Ya Allaaaahh Sintaaaaa, kuping mu benar-benar sudah di tutupi oleh conge semua rupanya.!! mana Ada genderwo di arab Sintaaaaa.'' Teriak Rumi tepat di telinga Sinta.


''Heiii kenapa kamu teriak-teriak Ruuumm, aku belum budeg.'' Sentak Sinta mengusap telinganya..


Rumi yang melihat Sinta hanya menggerutu. Sedangkan Lulu jadi tertawa melihat kelakukan para khadimah nya..


''Sinta apa kata dokter tadi.? tanya Lulu


Mendengar pertanyaan dari Lulu, Sinta malah tersenyum malu-malu. ''iiihh si madam itu gimana sih, aku itu baru pulang dari rumah sakit loooo bukan baru pulang membelah rawa-rawa ku yang sudah lama tidak di sentuh heheheh..


''Oh may goti Sintaaaaa, aku tanya apa kata dokter. Mengapa jadi bahas rawa rawa sih.?


''Wiiihhh bener madam, Bener banget jika sudah plak plek plok dan keluar itu sari kaya iiiiihh lumut ku bergetar heb___


''BUBARRR WES BUBARRRR GAK NYAMBUNGGG.!! teriak Rumi meninggalkan Sinta, begitu pun Lulu dan yang lainnya..


''Heiiii pada kemanaaa looo, kenapa ninggalin Sintaa sendiriaaann nanti genderwo nya perkosa akuuu..'' teriak Sintaa


.


.


.


...jangan Lupa tinggalkan jejak ...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE ...


__ADS_2