
Kini usia kandungan Lulu sudah meningjak 14 ahad, yang mana membuat perut datarnya kini menjadi sedikit membuncit..
Lulu sedang melihat Khadimah barunya sedang memberesi pakaiannya yang di masukkan ke koper, karna hari ini Lulu akan tinggal di Qars (mansion) yang sudah selesai di bangun oleh sang suami..
Lulu belum pernah melihat bagaimana tempat tinggal barunya, karna bagi Lulu itu tidak lah penting karna jika Borkhan ada bersamanya ia akan betah tinggal di mana pun. Asal jangan tinggal di kolong jembatan saja itu pikir Lulu..
Khadimah yang dulu kerja di rumah Laila, sekarang di pindahkan ke Qars baru yang akan melayani Lulu. Borkhan tak memecat mereka karna mereka sudah lama bekerja dengan Borkhan, walau mempunyai majikan yang sombong dan pemarah seperti laila namun kesetiaan mereka patut di acungi jempol..
Sumiati yang ber'umur setengah abad lebih itu sesekali melirik Lulu, di dalam pikirannya apakah majikan barunya ini sombong dan arrogant seperti Laila atau tidak. Namun di lihat dari parasnya meyakini Sumiati bahwa majikan barunya tidaklah sombong..
''Bibiii jika sudah selesai, makan lah terlebih dahulu setelah itu baru lanjutkan pekerjaannya.'' ucap Lulu dengan lembut yang mana membuat Sumiati tersenyum lega..
''Baik Madam.'' jawab Sumiati semangat..
.
.
.
Sedangkan di sisi lain, Yanti berpamitan kepada Tuti karna ingin menjenguk Susi yang tengah sakit..
''Jadi kamu jenguk ponakan mu.?
''Jadi mbak, nyonya Lintang ngabarin aku tadi suruh kerumahnya..'' jawab Yanti sambil memasukkan dompet ke dalam tasnya..
__ADS_1
''Ya udah hati-hati yaa.''
''Hmm aku pamit dulu mbak.'' Yanti berpamitan sementara Tuti sedang bingung mau ngapain, sendirian di kamar celingak celinguk sendirian. Ia pun ganti baju dan mengambil tasnya, karna hari ini ia akan mengirimkan uang untuk anaknya masuk Universitas..
Walau sang anak mendapatkan beasiswa dan kerja sampingan, namun bagi Tuti anak semata wayang nya itu tetap seperti anak kecil baginya. Terlebih ia akan masuk kampus dan membutuhkan baju bagus agar sang anak tidak di hina oleh teman-temannya, Tuti tidak mau sang anak menjadi bahan ledekan satu kampus..
Ia pun mengambil tasnya dan langsung mengunci pintu kamarnya, namun belum Tuti melangkah ia mendengar suara ambigu di ujung kamar yang membuat Tuti penasaran..
Ah..
Ih..
Uh..
Tuti melihat kanan kiri, lalu melangkah pelan menuju ke arah kamar di ujung. Semakin Tuti mendekat semakin keras juga suara suara ambigu yang mana membuat Tuti langsung menempelkan telinganya di pintu..
Jiwa jiwa kepo Tuti meronta ronta ingin melihat dengan jelas, ia pun melihat ke atas ternyata ada pentilasi udara ia pun mengambil kursi untuk mengintip..
Tuti naik ke atas kursi dan mengintip pelan pelan, dan sedikit tertegun melihat pemandangan di dalam sana yang sedang bergoyang itik ala Jaskia..
''Ahh, lebih kencang Serokan..
''Apapun yang kau mau kajol, aku sangat suka dengan semangka mu yang begitu besar dengan biji hitam yang kecil.'' ucap nya meracau dan meremas semangka itu dengan sedikit menggigit..
Sedangkan Tuti menelan salivanya susah payah, hatinya menyuruh ia pergi Namun matanya tak mau lepas dari terong ungu yang begitu besar sedang maju mundur memijat nyi iteung. Sampai-sampai Tuti memegang nyi iteuntnya sendiri karna berkedut manja di bawah sana..
__ADS_1
''Oh may goti bisa khilaf urusannya ini..'' gumam Tuti yang langsung turun dari kursi pelan-pelan, namun ketika ia akan berbalik kebelakang ia di kejutkan dengan keberadaan Asad yang membuat Tuti langsung terjungkal..
''Astagfirullah..
GUBRAAAAKK__
Aiiii__
Sedangkan Asad langsung menolong Tuti, dan menggendongnya ala bridal style..
''Dasar mesum, berani beraninya kau mengintip orang yang sedang melakukan Itu ''ucap Asad berbisik
''Aku tidak sengaja.!! jawab Tuti membuang muka karna malu sudah di pergoki..
''Jika kau menginginkannya kenapa tidak bilang padaku? dengan senang hati aku akan memuaskan mu.'' ucap Asad yang membuat Tuti memukul dada bidang Asad..
''Dasar anak kecil..
''Dasar mesum..
.
.
.
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak yaa ...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...