
Setelah acara pernikahan mendadak itu selesai dan semua orang sudah meninggalkan lokasi masjid, Elli, Edward, dan Reno juga bergegas untuk meninggalkan tempat acara. Sedari tadi Elli hanya diam menatap datar semuanya setelah pertemuannya dengan kedua orangtua dan kakak laki-lakinya. Edward yang melihat hal itu hanya membiarkan saja karena ia ingin Elli bisa menceritakan sendiri apa yang dia rasakan saat ini kepadanya. Ia hanya ingin kalau Elli bisa terbuka tentang semua masalahnya kepada suaminya sendiri.
Mereka akhirnya pulang dengan berjalan kaki menyelusuri hening dan dinginnya malam untuk kembali ke rumah Elli. Papa William sudah diberitahu Reno tentang pernikahan mendadak Edward dan Elli. Sebenarnya tadi saat acara pernikahan, Papa William ingin melihat acara pernikahan anaknya namun mengingat kondisi Alika yang jika bertemu dengan orang-orang baru dan ramai pastinya itu akan membuatnya tidak nyaman sehingga ia mengurungkan niatnya. Apalagi jika nanti mereka muncul dan semua orang tahu bahwa mereka adalah salah satu anggota keluarga Serant, pastinya keselamatan mereka akan terancam.
Saat sampai di rumah Elli, mereka segera saja masuk ke dalam rumah dan mendapati Papa William dan Alika tengah menunggu kedatangan mereka di ruang tamu. Alika yang melihat Elli telah kembali dengan menggunakan kebaya putih tentunya menatap Elli dengan mata yang berbinar-binar.
"Cantik" puji Alika dengan bertepuk tangan seperti anak kecil, bahkan matanya berbinar-binar ceria.
Elli yang mendengar pujian dari Alika itu pun seketika merubah raut wajahnya menjadi ceria dari sebelumnya yang muram dan datar. Elli segera saja berlari kecil mendekat ke arah Alika kemudian memeluknya erat. Alika tak kalah cerianya juga membalas pelukan itu dengan eratnya bahkan ia menggoyang-goyangkan badan Elli sambil tertawa ceria.
Ketiga orang laki-laki disana yang melihat pemandangan dua perempuan yang ada dihadapan mereka itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sepertinya mereka harus terbiasa dengan hal itu mulai saat ini.
"Ayo kita ke kamar, aku sangat lelah hari ini" ajak Elli pada Alika.
Alika hanya menganggukkan kepalanya lalu menarik Elli untuk segera masuk ke dalam kamar mereka meninggalkan ketiga laki-laki berbeda usia itu dengan wajah cengonya.
"Mereka nggak pamit sama kita?" tanya Reno dengan wajah menyebalkannya saat ia tersadar kalau Elli dan Alika pergi tanpa pamit.
"Emang mau berangkat sekolah, harus pamit segala" ucap Edward dengan acuh tak acuh kemudian duduk di kursi sofa dekat kursi roda papanya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Edward membuat Reno kesal hingga ingin mengumpatinya saja, namun ia hanya bisa mengumpat di dalam hati saja. Bisa habis dia nanti kalau sampai dia berani mengumpati Edward di depannya langsung. Reno segera saja ikut duduk di kursi ruang tamu untuk sekedar beristirahat sebentar.
"Selamat atas pernikahanmu, Ed. Semoga pernikahan kalian di jaga sama Allah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Pesan papa kalau kalian ada masalah, selesaikanlah dengan kepala dingin. Jangan asal bicara kalau sedang emosi. Jangan membentak istrimu, papa tahu kalau kau mempunyai sifat keras kepala seperti papa namun rendahkanlah sedikit egomu jika menghadapi sifat istrimu" ucap Papa Edward dengan memberikan beberapa wejangan untuk anaknya.
"Terimakasih pa" ucap Edward dengan tersenyum tipis.
"Ed, malam ini kan malam pertama kalian nih sebagai suami istri. Berarti malam ini jadi nggak bisa dapat jatah malam pertama dong kan Elli tidurnya sama Alika" ucap Reno dengan setengah mengejek.
"Kasiannya" lanjutnya dengan terkekeh geli.
Edward hanya bisa mendengus sebal dengan ejekan Reno itu, ia hanya berusaha acuh tak acuh mendengar ocehan Reno yang sedari tadi terus mengejeknya.
"Yang sabar ya, Ed. Ku do'akan semoga naga loe cepet-cepet dikasih minum di tempat seharusnya biar nggak letoy" lanjutnya dengan terkekeh geli.
Edward yang sudah tak tahan dengan ejekan Reno pun segera saja melempar bantal sofa dengan kencangnya ke arah wajah Reno dan tepat sekali mengenai wajahnya.
"Adohhhh..." rintih Reno saat bantal sofa itu tepat mengenai wajahnya.
Papa William yang melihat tingkah Edward dan Reno hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia merasa bersyukur selama ini Edward ternyata tak sendiri, ada Reno yang selalu menjaga dan mendukungnya dengan ikhlas. Disaat semua keluarganya meninggalkannya karena kondisinya dan Alika, hanya Reno lah yang bersedia mengulurkan tangannya untuk membantu Edward yang kala itu terpuruk melihat kondisi papa dan adiknya.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, Ed. Tunggulah sampai Alika sembuh hingga nagamu itu bisa masuk ke kandangnya. Untuk malam ini sampai Alika sembuh, kamu bisa dulu adu naga dengan Reno ahahaha" ucap Papa William dengan tertawa lepas.
Mendengar ucapan dari Papa William membuat Edward dan Reno seketika saja memelototkan matanya dan bergidik ngeri saat membayangkan ucapan itu. Papa William segera saja pergi dari ruang tamu dengan masih tertawa melihat wajah bergidik ngeri kedua bersaudara itu.
"Ih.... Amit-amit" seru Edward dan Reno bersamaan saat mereka tersadar dan saling menatap.
Edward segera saja berlari memasuki kamar yang tadi disebutkan oleh papanya dan istirahat disana. Namun aktifitasnya itu tertunda akibat Reno yang terus berteriak di depan kamar untuk dibukakan pintunya karena pintu kamar dikunci olehnya.
"Woyyy... Ed, buka pintunya dong. Gue tidur dimana nih kalau loe kunci pintunya" seru Reno yang ditinggal begitu saja dan ketika akan memasuki kamar tetapi pintunya di kunci dari dalam.
"Tidur di luar, nanti dikiranya kita sedang adu naga lagi kalau loe tidur barengan sama gue" seru Edward dari dalam kamar tanpa mau membuka pintu kamar.
"Diluar nggak ada selimut, Ed. Astaga... Loe tega banget sama gue, ya kali gue adu naga sama loe. Gue masih normal ya" seru Reno dengan menggerutu.
"Ogah... Loe tetap tidur diluar" tolak Edward dengan tegas.
Akhirnya Reno pasrah saja untuk tidur di kursi ruang tamu yang bahkan panjang kursinya lebih pendek dari tinggi tubuhnya.
"Nasib... Nasib... Encok... Encok dah besok pagi bangun-bangun. Sabar, Ren. Orang sabar disayang selingkuhan" gumam Reno sambil menata bantal di atas kursi untuk ia gunakan sebagai tidur.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, rumah yang biasanya sepi kini terisi dengan candaan dan tawa lepas. Suasana rumah yang biasanya suram kini terasa lebih hangat dan hidup. Untung saja rumah itu agak sedikit jauh dari rumah warga yang lain, sehingga tak ada yang terganggu dengan suara-suara keras yang berasal dari rumah Elli.