Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Penenang


__ADS_3

Edward segera memasuki mobil dengan mata memerah menahan emosi yang membuncak di dalam dadanya bahkan otot-otot di lehernya nampak begitu jelas menonjol, diikuti Reno yang langsung duduk dibalik kemudi mobil. Reno melirik sebentar kearah Edward dari kaca spion atas mobilnya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tak ada pembicaraan di dalam mobil, keadaan benar-benar hening. Terlihat Edward yang masih mengepalkan kedua tangannya sambil melihat ke arah jalanan sedangkan Reno berpikir mengenai kejadian hari ini dan terus fokus mengemudi.


"*Astaga... Sebenarnya ada berapa banyak fakta tersebunyi mengenai keluargaku? Ini baru satu yang teru*ngkap, aku yakin akan ada banyak lagi fakta-fakta lainnya yang jauh lebih mengejutkan daripada ini" batin Reno sembari menghela nafasnya kasar.


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Di halaman rumah terdapat dua orang gadis yang tengah sibuk dengan kegiatan menanam dan menyiram tanaman bersama, sedangkan di depan teras terdapat seorang laki-laki paruh baya sedang mengawasi kedua gadis itu. Kedua gadis itu tak lain adalah Elli dan Alika, sedangkan sang pria paruh baya adalah Papa William.


Keduanya tengah asyik dengan kegiatan menanam tanaman bunga dan buah sambil bernyanyi. Lebih tepatnya hanya Elli yang bernyanyi sedangkan Alika hanya menirukan gaya berjoget Elli.


"Joko Tingkir ngombe dawet


Jo dipikir marai mumet


Ngopek jamur nggone Mbah Wage


Pantang mundur, terus nyambut gawe...


Pantang mundur, terus nyambut gawe


Hak e... Hak e... Joss..." seru Elli dengan menggoyangkan tubuh dan juga pantatnya begitupun dengan Alika.


"Hahaha lihat Ed, istri dan adik loe hahaha" ucap Reno sambil tertawa di dalam mobil melihat tingkah Elli dan Alika saat berjoget dengan hebohnya sedangkan Edward hanya tersenyum tipis saja.


"Astaga... Alika sudah ternodai" lanjutnya dengan menepuk dahinya.


Amarah yang sedari tadi tertahan di dalam diri Edward kini perlahan menghilang setelah melihat tingkah Elli dan Alika yang benar-benar menghiburnya.


"Ayo turun" ajak Reno pada Edward untuk segera turun dari mobil dan diangguki setuju oleh Edward.


Mereka segera saja turun dari mobil dan berjalan masuk halaman rumah Elli dengan kedua gadis itu yang masih terus bernyanyi dan berjoget hingga tak menyadari kedatangan mereka.

__ADS_1


"Godhong kenikir, godhong koro


Jo dipikir aku arep ngliyo


Mangan jamur, mangan koro


Aku jujur, kowe ra percoyo...


Aku jujur, kowe ra percoyo


Yo di goyang mas e, pakdhe, budhe..." seru Elli sambil terus bernyanyi dan berjoget hingga kegiatan mereka terhenti saat mendengar suara tawa yang menggelegar dari arah belakang mereka.


"Hahahahaha Sumpah suara loe merdu banget, lebih merdu lagi kalau loe enggak nyanyi" seru seseorang yang berada di belakang Elli yang tak lain adalah Reno dengan mengejek sambil tertawa begitu kencangnya.


"Enak aja, suara merdu kaya gini dibilang lebih merdu kalau nggak nyanyi. Dasar pengganggu kesenangan orang aja" gerutu Elli yang langsung membalikkan badannya saat ada yang mengejek dirinya.


Alika hanya menganggukkan kepalanya seakan menyetujui maksud dari ucapan Elli sambil berdiri memegang selang air. Elli seketika saja mempunyai ide brillian untuk membalas ucapan Reno dengan sedikit melirik ke arah Alika.


Alika yang paham dengan seruan Elli segera saja mengarahkan selang air ke arah Reno dan menyemprotkan ke arahnya. Reno yang disemprot air seketika saja berlari menghindar namun Alika terus mengejarnya hingga Reno menjadi basah kuyup. Sedangkan Elli hanya melihat adegan kejar-kejaran itu dengan tertawa terbahak-bahak begitupun dengan Papa William, sedangkan Edward hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala saja.


"Ayo kejar lagi Alika, semprot terus hahaha" seru Elli dengan menyemangati Alika yang kini tersenyum lebar sambil terus menyiram air ke Reno.


"Jahil" ucap Edward dari arah samping Elli berdiri sambil menyentil hidung mungilnya.


"Eh... Bapak suami hehehe" ucap Elli kaget sambil cengengesan saat melihat kehadiran Edward disampingnya.


Elli segera saja mencium tangan suaminya itu membuat Edward seketika tertegun, pasalnya baru pertama kali ini ada orang yang mencium telapak tangannya. Bahkan Edward selama tinggal bersama kedua orangtua dan keluarganya yang lain, tak pernah melihat adegan seorang istri yang mencium tangan suaminya apabila sehabis pulang atau akan pergi bekerja. Sungguh kini perasaan hangat menyelimuti hati Edward melihat perlakua sopan Elli pada dirinya. Perasaan emosi yang sedari tadi ia tahan dan simpan bahkan menghilang begitu saja, bagi Edward kini Elli bagaikan penenang kala lelah dan emosi.


Tanpa Elli dan Edward sadari, ada tiga orang yang tengah memperhatikan adegan Elli mencium telapak tangan Edward. Melihat pemandangan itu ketiganya merasa sangat senang bahkan sedari tadi Alika bertepuk tangan kecil seakan menonton adegan film kartun kesukaannya.

__ADS_1


***


Setelah selesai dengan kegiatan di halaman rumah, mereka semua masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk makan malam. Setelah makan malam semua masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Reno tidur bersama di kamar Edward namun kini Edward tengah termenung di teras depan rumah. Tatapannya kosong seperti ada suatu masalah besar yang tengah menimpanya.


"Kenapa belum tidur, bapak suami?" tanya seseorang yang baru saja datang, yang tak lain adalah Elli.


"Eh... Kenapa kau belum tidur?" tanya Edward balik tanpa menjawab pertanyaan Elli.


"Huh... Ditanya bukannya dijawab malah ditanya balik" gerutu Elli yang kemudian berjalan dan duduk disamping Edward.


"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah tengah malam" tanya Edward dengan datar.


"Aku tadi sudah tidur dan terbangun. Saat aku mengambil minum, aku melihat pintu rumah masih terbuka ternyata kau yang ada disini. Ku kira aku lupa mengunci pintu" jelas Elli dan hanya diangguki pelan oleh Edward.


"Ada apa? Kamu sepertinya sedang menyimpan sebuah masalah besar" tanyanya saat melihat Edward hanya terdiam sambil menatap lurus ke depan.


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Edward tanpa menjawab pertanyaan Elli.


Tanpa menunggu persetujuan Elli, Edward segera saja memeluk Elli kemudian menangis tersedu-sedu. Sedangkan Elli yang dipeluk, awalnya tubuhnya menegang namun tak berapa lama ia segera merilekskan tubuhnya dan membalas pelukan Edward. Saat merasakan tubuh Edward bergetar, Elli segera saja mengelus lembut punggungnya tanpa menanyakan apa-apa.


Setelah 30 menit mereka berpelukan, akhirnya Edward melepaskan pelukannya dengan mata yang terlihat sembab bahkan air matanya masih mengalir di pipinya.


"Yakin nih udahan pelukannya? Kalau mau nambah cium juga boleh lho" ucap Elli menggoda Edward sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat Edward sedikit malu.


Elli hanya terkekeh geli melihat wajah yang biasanya datar kini memerah malu-malu kucing. Sungguh hal itu membuatnya tak bisa menahan untuk dirinya tertawa.


"Duh imutnya bapak suami kalau habis nangis gini" lanjutnya sambil menghapus air mata Edward dengan jempolnya.


"Udah ayo tidur" ajak Edward yang sudah kepalang malu dengan kejadian malam ini kemudian menarik tangan Elli untuk segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mereka berdua pun segera masuk ke dalam rumah lalu tidur di kamar masing-masing.


__ADS_2