
Setelah adegan kejar-kejaran yang tentunya dimenangkan oleh Elli dengan triknya yang pintar berkilah, akhirnya mereka langsung membersihkan diri masing-masing. Reno juga telah mengaku kalah dengan kecerdikan Elli menghindari dirinya. Edward membantu papanya untuk mandi, Reno yang mandi terlebih dahulu di kamar mandi yang ada di kamar Edward, dan Alika yang mandi dibantu Elli. Alika sebenarnya bisa mandi sendiri, namun ia masih trauma dengan yang namanya air jadi harus ada yang mengawasi ketika dia mandi.
Setelah selesai membantu Alika, Elli segera keluar rumah untuk membeli bahan makanan untuk sarapan nanti. Tak lupa dengan Alika yang terus mengintili Elli seakan tak mau lepas, namun beruntungnya Elli sama sekali tak terganggu dengan tingkah Alika. Melihat ada penjual sayur di dekat gang perkampungan, mereka berdua pun segera kesana dengan Alika terus menggenggam tangan Elli.
"Eh... Mbak Elli" sapa penjual sayur itu yang memang adalah langganan Elli saat ia mulai tinggal di rumahnya Bibi Rere.
"Pagi mang" sapa Elli dengan tersenyum tipis.
"Pagi juga mbak, sama siapa nih? Tumben nggak sendirian" tanya penjual sayur.
"Sama adik iparnya itu, mang. Kemarin kan mbak Elli nikah" ucap ibu-ibu yang juga sedang membeli sayur disana.
"Wah... Selamat ya mbak Elli atas pernikahannya. Duh... Jadi mamang udah nggak ada kesempatan nih buat deketin mbak Elli" ucap penjual sayur itu dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
"Hahaha Wah... Maaf ya mang, udah nggak ada kesempatan buat mamang. Mending mamang sama anaknya Pak RT aja yang masih single" ucap Elli dengan setengah menggoda pasalnya anak Pak RT itu memang suka mengejar-ngejar pedagang sayur itu.
"Enggak deh, mbak. Mending saya jadi suami kedua mbak Elli aja daripada sama dia" tolak penjual sayur dan hanya ditanggapi Elli dengan senyuman saja karena ia tahu kalau si penjual sayur itu hanya bercanda saja.
Elli memilih-milih sayuran dan bumbu dapur yang akan ia masak untuk menu sarapan hari ini.
"Mbak Elli, adik iparnya kurang waras ya" seru salah satu ibu-ibu yang sedari tadi melihat ke arah Alika dengan tatapan aneh.
"Eh... Iya tuh kayanya kurang waras. Duh percuma punya suami tampan dan kaya tapi harus ngurusin saudaranya yang kurang waras" ucap ibu-ibu yang memakai bibir merah menyala.
"Jangan-jangan mbak Elli dinikahin cuma buat ngurusin adik iparnya yang kurang waras itu" lanjutnya.
Banyak celotehan-celotehan ibu-ibu yang membuat telinga Elli panas, bahkan kini Alika mulai menggenggam tangan Elli dengan eratnya karena melihat tatapan aneh dari oranglain.
"Pulang" lirih Alika yang mulai takut dengan tatapan-tatapan merendahkan yang ditujukan ibu-ibu kepadanya.
"Sebentar ya" ucap Elli dengan lembutnya untuk menenangkan Alika.
__ADS_1
"Ini mang, jadi totalnya berapa?" tanya Elli pada penjual sayur menghiraukan ucapan-ucapan tak berfaedah ibu-ibu itu.
"55ribu saja, mbak" ucap penjual sayur itu dan langsung saja Elli membayar sesuai dengan jumlah yang disebutkan.
Setelah selesai membayar, Elli segera menggenggam tangan Alika dan menariknya untuk pergi dari sana. Namun setelah 1 meter berjalan, Elli membalikkan badannya ke arah kumpulan ibu-ibu itu.
"Joko tingkir, ngombe dawet...
Tukang nyinyir, tak do'ake uripe ruwet" seru Elli yang kemudian membalikkan badannya dan berlari bersama Alika.
Ibu-ibu yang mendengar hal itu pun seketika saja menatap Elli tajam, bagaimana tidak Elli mendo'akan mereka hidupnya menjadi nggak karuan dan sulit.
"Makanya bu ibu... Jangan suka julid sama kehidupan oranglain apalagi mencela kekurangan oranglain. Coba berkacalah, apa hidupnya ibu-ibu itu sudah lebih baik atau sempurna daripada orang yang ibu julidin" ucap sang penjual sayur pada ibu-ibu yang sedari tadi julid pada adik ipar Elli.
Ibu-ibu yang mendengar ucapan penjual sayur itu pun hanya tersenyum canggung kemudian segera membayar sayuran yang mereka ambil dan segera pergi dari sana karena malu.
***
"Ini apa?" tanya Edward sambil menunjuk ke arah plecing kangkung.
"Plecing kangkung" jawab Elli.
"Piercing Kangkung" lirih Edward saat mendengar nama sayuran yang disebutkan oleh Elli.
"Bukan piercing kangkung, tapi plecing kangkung. Coba deh, ini enak lho. Pasti suamiku ini nanti bakalan ketagihan kalau udah nyoba" ucap Elli dengan percaya dirinya.
"Hmm" jawab Edward dengan deheman kemudian memakan makanan yang ada di piringnya.
Reno dan Papa William pun juga segera memakan makanannya, sedangkan Alika masih harus dibantu oleh Elli.
"Enak" ucap Reno dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jelas, Elli yang masak gitu lho" ucap Elli dengan nada sombongnya.
Tanpa menggubris kesombongan Elli, Reno segera saja melanjutkan acara makannya. Bahkan Edward dan Papa William sampai menambah sayurnya hingga 3 kali.
"Besok bikin ini lagi, nanti uangnya aku transfer buat belanja. Biasanya habis berapa kalau bikin segini? 1 juta atau 2 juta?" tanya Edward dengan memerintah.
"Mohon maaf Bapak Edward yang terhormat dan suamiku yang paling tampan, ini mah dikasih uang 10 ribu juga udah jadi plecing kangkung. Kalau dikasih 1 juta bisa buat makan orang satu pulau kali" ucap Elli.
"Apa? Makanan enak seperti ini 10 ribu? Yang benar saja kau" seru Reno yang tak terima.
"Kalau nggak percaya, anda bisa ikut saya berbelanja besok pagi di tukang sayur keliling. Bahkan semua makanan kita berempat ini aku membelinya hanya dengan harga 55 ribu" kesal Elli yang tak dipercayai.
"Wah... Ed, kau beruntung punyai istri seperti Elli. Uangmu takkan berkurang banyak karena setiap harinya untuk makan tidak sampai 100 ribu. Bisa-bisa brankas penyimpanan uangmu takkan muat karena jarang kau ambil" ucap Reno dengan mengacungkan jempolnya ke arah Edward.
Edward hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, namun dalam hati Edward mensyukuri semuanya karena mendapatkan wanita yang sederhana walaupun sang istri tahu kalau suaminya bahkan mampu untuk memberikan kemewahan.
***
Setelah selesai makan, Edward dan Reno berpamitan untuk pergi ke suatu tempat namun tak memberitahukan kemana mereka akan pergi. Yang jelas kepergian mereka kali ini adalah untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang yang telah menyakiti papa dan adiknya. Edward duduk di samping Reno yang berada di balik kemudi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa menit berkendara. Edward dan Reno sampai di sebuah mansion mewah yang tak lain adalah mansion keluarganya. Mereka berdua keluar dari mobil dengan aura dingin yang menguar dari tubuh mereka, tak ada lagi senyum yang menghiasi bibir keduanya.
Ceklek...
"Wow... Ternyata disini sedang ada pesta" ucap Edward dengan sedikit menyindir.
Bersambung....
************
Double update guys...
__ADS_1