
Setelah berjalan cukup jauh, keempatnya kini beristirahat di sebuah gubuk yang ada di tengah-tengah sawah. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan terlihat. Hamparan tanaman padi yang hijau, burung-burung yang berterbangan bebas, dan terlihat juga sebuah gunung dengan langit yang tampak cerah siang itu. Walaupun matahari tengah di puncaknya namun tak terasa panas menyengat karena udara sejuk dari banyaknya pepohonan.
Satu hal yang sangat disayangkan disana adalah jaringan internet dan signal komunikasi masih sangat sulit. Jika mereka ingin berkomunikasi atau mengakses internet, maka harus ke balai desa yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah Nenek Arni. Sejak sampai di desa, Edward dan Elli tak bisa menghubungi keluarganya yang ada di kota karena tak ada signal sama sekali.
"Selama ini jadinya ayah nggak punya ponsel?" tanya Edward.
"Nggak ada gunanya juga punya ponsel disini kalau mau ada jaringan saja kita harus jalan ke balai desa. Lebih baik uangnya buat makan juga daripada buat beli ponsel" jawab Ayah Lutfi terkekeh pelan.
Edward menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang diucapkan oleh ayahnya. Hanya buang-buang saja membeli sesuatu yang bahkan tak bisa digunakan sama sekali.
"Sayang, gimana kalau kamu pasang tower saja agar masyarakat disini bisa mendapatkan jaringan internet. Adakan juga internet gratis agar desa ini tak tertinggal dalam dunia digital" saran Elli dengan antusias.
"Sebentar... Bukannya ayah tak setuju, hanya saja disini kalau mau membuat seperti itu harus ada perijinan dari pemerintahan setempat. Lagi pula untuk lahan yang akan digunakan membangun tower dan biaya lain juga harus dipikirkan darimana" ucap Ayah Lutfi.
Edward dan Elli terdiam sebentar setelah mendengar kendala yang selama ini mungkin membertakan warga disini ketika akan membangun tower. Pemerintah desa juga terlalu acuh dengan desa yang pelosok dan lebih memajukan bagian lainnya yang dapat menguntungkan perekonomian tentunya sangat didukung.
Ini sangat terlihat saat tadi keempatnya melewati desa sebelah yang langsung berbatasan dengan desa tempat tinggal Ayah Lutfi. Bahkan disana sudah banyak dipasang lampu-lampu jalan sedangkan di desa sebelahnya belum ada sama sekali penerangan jalan.
__ADS_1
"Untuk masalah biaya tak usah dipikirkan, Yah. Lagi pula Edward juga lebih dari mampu untuk membangun semua fasilitas yang memadai tanpa bantuan dari mereka. Aku yakin kalau pemerintahan disini hanya memilih untuk memajukan desa yang punya kontribusi besar dalam majunya ekonomi desa tersebut" ucap Edward santai.
Ayah Lutfi dalam hati membenarkan ucapan Edward. Apalagi warga desa sebelah itu kebanyakan bekerja di pemerintahan desa, tentunya akan lebih disorot jika kawasannya tak ada kemajuan. Bahkan untuk seperti bantuan pun selalu disana yang mendapatkan lebih dahulu, sedangkan di desanya akan diberikan jika ada sisa.
"Tetap saja, nak. Harus minta ijin dulu, lagi pula kita mau pakai lahan dimana?" tanya Ayah Lutfi.
"Ayah punya lahan kosongkah? Atau ada warga disini yang punya lahan kosong dan luas. Biar nanti bisa Edward beli untuk pembangunan tower ini" tanya Edward.
Nenek Arni dan Ayah Lutfi yang sedari tadi terdiam pun kini memikirkan tentang ucapan Edward. Pasalnya mereka tak punya lahan atau sawah pribadi, hanya rumah sederhana itulah satu-satunya harta yang mereka punyai.
"Punya Pak Badri itu lho, Fi. Yang ada ditengah desa dekat lapangan itu kan luas banget apalagi nggak keurus. Daripada nggak diurusi mending dipakai buat bangun tower atau apa itu namanya. Mumpung Edward mau membiayai" ucap Nenek Arni mengusulkan.
"Baiklah, kita coba saja untuk tanya sama Pak Badri dulu, lahan itu akan dipakai dan dijual tidak" ucap Ayah Lutfi.
Edward menganggukkan kepalanya setuju kemudian mereka membicarakan hal lain dengan diselingi canda tawa. Namun tiba-tiba saja Edward menanyakan sesuatu yang membuat Ayah Lutfi dan Nenek Arni sangat terkejut.
"Nenek dan ayah mau ikut kami ke kota tidak? Karena kami kan tak mungkin berada disini terus. Semua pekerjaan Edward ada di kota soalnya" tanya Edward.
__ADS_1
Nenek Arni memandang anaknya yang tengah terdiam. Ia tahu pergolakan batin anaknya itu jika harus pergi ke kota. Sedari dulu memang Ayah Lutfi ingin mengadu nasib di kota agar bisa memajukan ekonomi keluarganya, namun tak bisa terwujudkan karena Nenek Arni tak ada yang mengurusi di desa. Kalau kini, Ayah Lutfi akan terganjal umur untuk mencari pekerjaan di kota walaupun nanti akan ikut menumpang tinggal pada Edward.
"Ayah dan nenekmu tinggal di desa saja, Ed. Lagi pula kalau di kota juga ayah bingung mau kerja apa di umur yang udah segini. Yang ada nanti malah ngrepotin kamu dan istrimu" ucap Ayah Lutfi.
"Ngapain ayah mikirin kerja? Uang Edward banyak, kita tinggal duduk ongkang-ongkang kaki pun takkan pernah habis itu uangnya. Sekarang sudah waktunya ayah dan nenek untuk istitahat menikmati masa tua" ucap Elli dengan sedikit bercanda.
Edward sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Elli, bahkan dia senang jika ada orang yang mau menghabiskan hasi kerja kerasnya itu terutama keluarganya. Saat ini pun keluarganya ikut-ikutan hidup sederhana dan irit semenjak ada Elli yang mengatur kebutuhan dapur. Dan itu membuatnya sedikit pusing karena pengeluaran mereka semua hanya 1 banding 10 dengan pendapatannya.
"Wah... Emang uang Edward banyak ya, nak?" tanya Nenek Arni dengan kagum.
"Saking banyaknya, sampai ada yang menjamur nek karena kelamaan disimpan" ucap Elli bercanda.
"Waduh... Kalau jamuran gitu harus dicuci lalu dijemur lagi, nak" ucap Nenek Arni dengan panik.
Semuanya hanya tertawa saat tahu bahwa Nenek Arni menganggap candaan Elli itu sesuatu yang serius. Elli pun berusaha menenangkannya dan bermaksud untuk menjelaskannya agar tak salah paham.
Keempatnya segera beranjak dari gubuk itu setelah mendekati jam makan siang. Keempatnya akan mencari lagi tempat kuliner yang katanya sangat wajib untuk dicoba jika berkunjung disana. Edward dan Elli pun hanya menurut saja, toh keduanya bukanlah orang yang pemilih dalam hal makanan.
__ADS_1
Didalam perjalanan, banyak sekali orang yang menyapa Nenek Arni dan Ayah Lutfi, ah lebih tepatnya kearah Edward. Mereka hanya basa basi saja menyapa dua orangtua itu padahal hanya ingin mencari perhatian pada Edward. Edward dan Elli mengetahui itu namun mereka benar-benar cuek dan hanya memberikan tatapn datarnya saja.