
Sudah satu bulan lamanya Ayah Lutfi dan Nenek Arni tinggal bersama dengan keluarga Serant yang lain di mansion mewah itu. Awal mulanya mereka ada rasa canggung namun kelamaan suasana disana tampak hangat. Mereka juga sudah melupakan masalalu dengan memulai semuanya dari awal kembali tanpa ada rasa benci dan dendam di hati. Semua ini mereka lakukan demi kebahagiaan orang-orang yang ada didekatnya.
Ayah Lutfi kini juga bekerja mengelola restorant dibantu dengan Elli. Awalnya Edward ingin Ayah Lutfi bekerja di perusahaannya saja, namun laki-laki paruh baya itu menolaknya karena tak suka jika berada di tempat yang terlalu formal seperti itu.
Sedangkan Nenek Arni duduk santai-santai saja di mansion ditemani oleh Mama Amber dan Bibi Hen. Ketiganya selalu berekperimen di dapur demi membuatkan makanan-makanan enak untuk semua anggota keluarganya. Ketiganya sangat menikmati peran sebagai ibu rumah tangga.
Hubungan Reno, Bunda Nessa, dan Noura juga semakin membaik bahkan kini wanita paruh baya itu sudah banyak berubah. Reno dan Noura masih sering menjenguk Bunda Nessa di desa tempat tinggalnya. Melihat perubahan Bunda Nessa membuat Reno ingin membawa bundanya itu kembali ke kota. Namun Mama Amber menolaknya karena ingin berada didekat kedua orangtuanya yang sudah tua. Lagi pula dia sudah nyaman untuk tinggal di desa.
Membaiknya hubungan anak dan ibu berbanding terbalik dengan hubungannya dengan ayah dan kakaknya. Ayah dan kakaknya Reno sudah memutuskan segala akses komunikasi dengan semua anggota keluarga Serant terutama dirinya. Reno sudah pasrah saja jika ayah dan kakaknya itu sudah tak peduli lagi dengannya atau sang ibu.
Victor kini sudah merekrut beberapa maid dan bodyguard yang akan bekerja di mansion keluarga Serant. Sesuai dengan usul Elli waktu itu yang merekrut orang-orang yang memang membutuhkan pekerjaan. Dibantu Elli dan Bibi Hen, sudah ada 10 maid dan 30 bodyguard yang telah lolos seleksi dari ketiganya.
***
Hari ini Elli tengah disibukkan dengan kegiatan memasak menu baru yang akan dijadikan makanan untuk restorantnya. Tentunya Ayah Lutfi dan beberapa chef disana yang akan menjadi jurinya. Namun saat dirinya hendak memotong bawang merah, tiba-tiba saja perutnya serasa diaduk dan seperti ingin memuntahkan sesuatu.
Tanpa basa-basi, Elli segera saja berlari kearah toilet meninggalkan bawang merah yang akan dipotongnya itu. Beberapa chef disana dan Ayah Lutfi menatap khawatir kearah Elli yang tengah memuntahkan isi didalam perutnya disebuah wastafel. Tak ada yang berani masuk karena kebanyakan karyawan yang bekerja di restorant itu adalah laki-laki.
Hoekkk.... Hoekkkk....
Elli masih terus memuntahkan isi didalam perutnya setelah 10 menit berlalu, hal itu membuat Ayah Lutfi segera menghubungi Edward.
"Nak, kamu tak apa? Butuh sesuatu? Ini di luar sudah ada teh hangat untuk mengurangi mual kamu" seru Ayah Lutfi dari arah luar toilet setelah selesai menghubungi Edward.
Tak ada jawaban dari dalam kamar mandi, hanya ada suara Elli yang masih terus muntah. Tak berapa lama, Elli keluar dari toilet dengan wajah pucat pasi dan mata sembabnya. Dia berjalan gontai sambil menopang tubuhnya dengan berpegangan tembok. Ayah Lutfi yang melihat hal itu segera saja mendekat kearah Elli kemudian memapahnya untuk duduk di kursi.
Ayah Lutfi segera membantu Elli untuk minum teh hangat dan membalurkan minyak anggin di tengkuk dan pelipisnya. Wajah Elli sangat pucat membuat Ayah Lutfi sangat khawatir.
__ADS_1
"Sudah mendingan, nak? Kita ke rumah sakit saja yuk" ajak Ayah Lutfi.
"Nggak usah, yah. Elli baik-baik saja kok" lirih Elli sambil memejamkan matanya.
Ayah Lutfi pun menuruti kemauan menantunya itu karena ia berpikir bahwa Elli sedang masuk angin karena kelelahan. Tak berapa lama, Edward datang dengan raut wajah datarnya, namun dalam matanya sangat terlihat kalau dia tengah khawatir. Ayah Lutfi segera menyingkir dari samping Elli kemudian Edward duduk disamping istrinya itu.
"Ayo pulang" ucap Edward.
Elli yang masih memejamkan matanya segera saja membuka matanya dan melihat Edward ada didepannya. Elli hanya menggelengkan kepalanya saja kemudian memejamkan matanya lagi.
"Jangan bandel" lanjutnya.
Elli tak lagi merespons ucapan Edward karena ternyata perempuan itu pingsan. Mengetahui istrinya pingsan, segera saja dirinya menggendong istrinya kemudian membawanya keluar dari restorant diikuti oleh Ayah Lutfi. Edward segera saja memasukkan istrinya kedalam mobil dengan ayahnya berada disamping Elli. Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena sangat khawatir dengan keadaan istrinya.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Edward sampai juga disebuah rumah sakit miliknya. Edward segera turun dari mobil kemudian menggendong istrinya itu ala bridalstyle. Edward berlari masuk kedalam rumah sakit diikuti oleh Ayah Lutfi.
***
Setelah beberapa menit diperiksa, dokter keluar dari ruang IGD dengan seyum ramahnya. Edward dan Ayah Lutfi segera saja mendekat kearah dokter itu.
"Bagaimana dok dengan keadaan istri saya?" tanya Edward dengan cepat.
"Istri tuan baik-baik saja" ucap dokter itu masih dengan senyumnya.
"Bagaimana bisa baik-baik saja? Tadi istri saya sampai pingsan kaya gitu" sela Edward kesal.
"Istri tuan memang baik-baik saja. Dia pingsan karena dehidrasi dan kelelahan. Istri tuan saat ini juga tengah hamil muda" ucap dokter itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Edward yang mendengar ucapan dokter itu benar-benar terkejut. Dia sangat bahagia jika memang benar adanya bahwa istrinya tengah mengandung calon buah hatinya.
"Benar dok? Istri saya hamil?" tanya Edward lagi untuk meyakinkan dirinya.
"Iya, tuan. Tadi sudah ada dokter kandungan yang memeriksa dan menyatakan bahwa istri anda memang tengah hamil" ucap dokter itu dengan yakin.
Tanpa mempedulikan ucapan sang dokter lagi, Edward segera menerobos masuk kedalam ruang IGD untuk menemui istrinya. Dengan mata berkaca-kaca, dia menatap istrinya yang tengah tersenyum lemah diatas brankar menghadap kearahnya.
"Sayang..." seru Edward langsung menghambur ke pelukan istrinya.
Ia memeluk dan mencium kening istrinya sangat lama. Ia sangat bahagia karena diberikan kepercayaan secepat ini untuk menimang momongan.
"Terimakasih atas semua kebahagiaan yang sudah kamu berikan padaku. Dimulai dari bersatunya seluruh keluarga kita dan sekarang hadirnya penerus keluarga didalam perutmu" ucap Edward dengan serak karena sehabis menangis.
"Terimakasih juga sudah mendampingiku menyelesaikan segala masalah yang ada didalam hidupku. Terimakasih telah menjadikanku ratu selama menjadi istrimu. Terimakasih untuk segala kebahagiaan yang kamu usahakan untukku" ucap Elli dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya saling memeluk dengan erat, meresapi kebahagiaan yang kini telah mereka raih dalam hidup keduanya. Mereka hanya berharap kedepannya takkan pernah ada sesuatu yang meruntuhkan kebahagiaan keduanya.
END.
***********
Akan ada extra chapter tapi aku belum tahu kapan akan updatenya....
Terimakasih sudah menemaniku menulis sampai hari ini, bahkan sampai cerita ini selesai.
Baca juga karyaku yang masih ON GOING lainnya dengan judul "BABYSITTER MILIK SANG DUDA".
__ADS_1
Terimakasih