
Keesokan harinya...
Elli terbangun terlebih dahulu sebelum suaminya. Saat tersadar dan ingin duduk, ia merasakan kalau perutnya terlilit sebuah tangan besar yang membuatnya kaget hingga mau berteriak. Namun setelah melihat siapa pemilik tangan itu, Elli menjadi teringat kalau semalam dirinya tidur bersama sang suami. Alhasil bukannya berteriak, Elli malah senyum-senyum sendiri terlebih dirinya yang awalnya menolak ajakan Edward tidur bersama tetapi malah tertidur duluan akibat elusan tangan suaminya. Huh... Dasar wanita malu-malu tapi mau.
Elli segera melepaskan tangan Edward secara perlahan lalu dia segera bangun dari ranjang tempat tidur. Setelahnya ia keluar dari kamar Edward menuju kamarnya meninggalkan suaminya yang masih tertidur dengan lelapnya. Saat sampai di kamar, ia melihat bahwa Alika masih tertidur dengan nyenyaknya. Elli mendekat kearah Alika kemudian memeriksa dahi dan nadinya. Ini bertujuan agar ia bisa mengetahui apakah adik iparnya itu dalam kondisi sehat atau tidak.
Setelah semuanya aman, Nadia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi dirinya pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Pagi ini, dirinya akan memasak sayur soup dan ayam goreng. Saat ditengah-tengah memasak, dirinya dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh pun Elli sudah tahu kalau itu adalah tangan suaminya. Bahkan aroma tubuh Edward masih menguar masuk kedalam hidungnya walaupun suaminya itu belum mandi.
"Selamat pagi" sapa Edward dengan suara serak basahnya.
Suara serak nan seksi milik suaminya itu seketika membuat bulu kuduk Elli merinding apalagi nafas Edward yang menyapu lembut tengkuk lehernya. Sebenarnya Elli sedikit terkejut dengan perlakuan Edward pagi ini yang terlihat sangat mesra kepadanya, ia merasa kalau suaminya itu sudah mulai mencintainya sejak kejadian di rumah pohon itu. Namun ia juga tak ingin terlalu percaya diri sebelum Edward mengungkapkan perasaan kepadanya melalui mulutnya sendiri.
"Selamat pagi juga, bapak suami" sapa balik Elli.
Elli sedikit menatap kearah Edward sambil menyunggingkan senyuman manis kepada suaminya.
"Bisakah kau ubah panggilanmu itu?" protes Edward.
"Baiklah, mas" ucap Elli dengan pasrah.
Dirinya juga sudah geli sendiri dengan panggilan yang ia sematkan pada suaminya itu jadi ia memutuskan untuk mengubahnya saat Edward protes. Ia mengubah dengan panggilan yang sudah umum dipanggil orang-orang yang sudah menikah. Edward yang mendengar perubahan panggilan itu hanya tersenyum tipis. Sebenarnya ia kurang nyaman dengan panggilan yang disematkan istrinya maka ia sekarang lebih memilih untuk protes.
__ADS_1
"Menyingkirlah, aku akan memindahkan semua ini keatas meja makan" usir Elli.
Dengan terpaksa Edward melepaskan pelukannya dari Elli kemudian berjalan mengikuti istrinya itu ke meja makan. Elli membawa beberapa makanan yang telah selesai ia masak. Edward duduk dikursi sambil menunggu Elli yang akan membuatkan minuman untuknya. Edward mengernyitkan dahinya bingung saat istrinya itu membawa sebuah gelas berisikan susu putih, pasalnya tadi dia meminta untuk dibuatkan kopi.
"Ini minumlah" ucap Elli.
Elli meletakkan gelas berisi susu itu di meja yang ada dihadapan Edward. Edward hanya menatap gelas susu itu tanpa berniat mengambilnya sama sekali padahal sudah disodorkan didepan matanya.
"Jangan terlalu banyak minum kopi, tak baik untukmu. Mulai sekarang, setiap pagi kau harus meminum susu" ucap Elli.
Edward yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya kasar, pasalnya selama ini dirinya tak terlalu menyukai susu. Apalagi susu putih, hanya melihatnya saja dia sudah mual.
"Aku tak suka dengan susu" tolak Edward.
Edward hanya memalingkan wajahnya yang berarti ia menolak dengan tegas perintah Elli untuk meminum susu itu. Elli yang keras kepala masih terus membujuk Edward.
"Ayolah... Jika kau tak suka dengan rasanya, kau bisa langsung meneguknya seperti meminum obat" bujuk Elli.
"Aku tak suka minum susu itu, aku sukanya susu lain" ucap Edward.
Elli yang mendengar hal itu seketika berpikir sejenak untuk memahami apa ucapan dari Edward. Namun sesaat setelah dia terdiam, dia tak menemukan jawaban apapun.
__ADS_1
"Kamu suka susu merk apa?" tanya Elli.
"Susu itu nggak dijual dan nggak bermerk" ucap Edward.
"Ha? Mana ada susu tidak dijual? Tidak bermerk? Apa susu yang langsung diperah dari sapinya?" tanya Elli penasaran.
Edward menggelengkan kepalanya pertanda kalau jawaban Elli salah. Akhirnya Elli mengangkat kedua tangannya pertanda kalau ia menyerah dengan teka-teki yang Edward ajukan. Namun ia masih terus menatap Edward seakan menuntuk jawaban dari teka-teki itu.
"Hahaha kau tak perlu jauh-jauh mencari jawaban. Jawabannya ya susu punya kamu" ucap Edward dengan mengerlingkan sebelah matanya.
Edward tertawa begitu lepasnya karena berhasil menggoda Elli. Bahkan setelah Elli tahu tentang jawabannya, wajahnya seketika memerah seperti kepiting rebus namun disisi lain ia juga terpana dengan tawa Edward yang begitu lepas. Baru kali ini dirinya melihat suaminya itu tertawa begitu lepasnya, bahkan aura ketampanannya semakain terpancar.
"Dasar mesum" seru Elli.
Setelah tersadar dari pesona tawa yang begitu lepas dari Edward, Elli segera saja menutup area dadanya yang memang sedari tadi menjadi pusat perhatian dari suaminya itu. Kemudian Elli segera saja menggelitiki suaminya itu hingga Edward berdiri dan menghindari istrinya. Mereka sampai kejar-kejaran mengelilingi meja makan dengan tawa yang begitu menggelegar.
Hahahaha
Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka itu tak luput dari pandangan dua orang yang akan memasuki ruang makan. Kedua orang itu adalah Papa William dan Alika. Papa William memandang kegiatan itu sebagai hiburan namun disisi lain ia merasa terharu karena bisa melihat anaknya tertawa begitu lepas untuk pertama kalinya sejak kejadian penculikan itu. Sedangkan Alika yang melihat itu tentu saja cemberut karena merasa tak diajak bermain kejar-kejaran.
Tanpa basa-basi, Alika segera berlari kecil dan mendekat ke arah Edward meninggalkan Papa William dan kursi rodanya didekat pintu masuk ruang makan. Ia segera memeluk tubuh Edward dari belakang membuat kakaknya itu seketika menghentikan larinya dan melihat kearah seseorang yang tengah memeluknya. Elli yang melihat suaminya berhenti berlari, segera saja ikut memeluk Edward kemudian menggelitiki perutnya. Tak mau kalah dari Elli, Alika ikut menggelitiki kakaknya itu membuat suasana di ruang makan itu seketika ramai dengan tawa menggelegar dari ketiga orang itu. Terlebih Edward yang mukanya sudah memerah karena kebanyakan tertawa akibat kegelian.
__ADS_1
Sedangkan Papa William yang melihat itu benar-benar hidupnya merasa bahagia. Ia rela hidup sederhana seperti ini asalkan semua anaknya rukun dan saling melindungi. Ia sangat bersyukur dengan kebahagiaan yang telah Tuhan berikan kepadanya.