Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Keputusan


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Edward dan Elli berada di desa tempat tinggal Ayah Lutfi. Banyak juga perubahan yang sudah mereka lakukan demi memajukan desa itu. Dimulai dari pembangunan tower jaringan internet yang berhasil dibangun bersama dengan warga bergotong royong. Semua mendukung pembangunan tower itu terlebih mereka juga digaji jika membantu dalam proses pembuatannya.


Awal akan adanya pembangunan tower itu, perijinan sempat dipersulit oleh pemerintahan desa. Apalagi ada beberapa oknum yang memanfaatkan Edward saat itu. Saat tahu kalau yang meminta ijin adalah orang kaya, mereka meminta uang diluar biaya yang sebenarnya.


"Total untuk biaya perijinan pembangunan tower sebesar 35 juta rupiah" ucap salah satu oknum yang bekerja di pemerintahan.


Edward yang memang sudah terbiasa dengan masalah perijinan seperti ini tentunya tahu kalau besaran harganya tak sebesar itu. Sedangkan Ayah Lutfi hanya geleng-geleng kepala saat pemerintahan desa tempat tinggalnya menaikkan biayanya, padahal biasanya hanya 2 juta rupiah.


"Saya mampu membayar sebesar itu, namun setelah pembayaran itu diterima maka saya akan meratakan rumah anda menjadi tanah. Begitu pula dengan kantor ini. Saya tidak takut jika anda melaporkan tindakan saya ini ke kepolisian, karena saya juga akan melapor tentang kejadian pemerasan ini" ucap Edward dengan santai.


Oknum itu tak berkutik setelah mendengar ucapan dari Edward. Ia mengira kalau Edward adalah orang yang mudah dibodohi dan terima beres seperti pengusaha lainnya, namun perkiraannya itu salah besar. Akhirnya Edward membayar sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan pada pengumuman. Dia juga meminta untuk surat ijin itu segera diterbitkan dalam dua hari saja.


Benar saja, setelah dua hari kejadian itu segera saja surat yang dibutuhkan oleh Edward terbit. Edward segera saja meminta pada warga sekitar untuk membantu pembangunan tower itu. Karena dikerjakan hampir oleh seluruh warga desa membuat pengerjaannya hanya butuh waktu singkat. Terlebih semua konsumsi benar-benar diperhatikan oleh Elli dan ibu-ibu sekitar.


Dibalik kesuksesan pembangunan tower jaringan penangkap sinyal komunikasi itu, tentunya ada kasak kusuk dari orang-orang desa sebelah yang iri atas kemajuan desa rivalnya itu. Didesa sebelah memang sudah ada tower namun masih skala kecil jadi belum menjangkau keseluruhan warga disekitarnya.


"Wah... Desa sebelah towernya tinggi sekali. Bahkan signalnya pun sampai sini lho, disana juga ada jaringan internet gratis khusus warga. Tapi sayang sekali, kita nggak tahu password WiFinya" keluh warga disana.


"Coba tanya sama Bu Farida aja" ucap warga lainnya.

__ADS_1


"Udah, kemarin aku tanya eh dia jawab nggak mau kasih tahu karena hanya khusus untuk warga desa sana saja" ucap ibu-ibu itu.


Bukan hanya warga yang kesal, namun beberapa oknum di pemerintahan desa juga sama. Bahkan mereka kini diperiksa oleh pemerintah pusat gara-gara Edward melaporkan tentang pungutan liar dan bantuan sosial yang tak merata. Bagi mereka, kedatangan Edward adalah ancaman bagi keberlangsungan masa depan semua yang terlibat.


Namun mereka juga tak dapat melakukan pembalasan apa-apa karena sekali saja berurusan dengan Edward pastinya jabatan akan menjadi taruhannya. Mereka juga tahu kalau Edward mengetahui kecurangan oknum-oknum itu sehingga bisa kapan saja menyeret semuanya ke penjara.


***


Edward kini tengah duduk di dalam rumah ayah dan neneknya ditemani oleh Ayah Lutfi, sedangkan Elli dan Nenek Arni sedang membantu warga sekitar untuk menyiapkan makanan bagi orang-orang yang sedang bergotong royong.


"Kamu sedah dengar gosip mengenai pembangunan tower itu?" tanya Ayah Lutfi.


"Kamu tak risih mendengar hal itu?" tanya Ayah Lutfi dengan tatapan heran.


"Edward nggak peduli tentang omongan orang, yah. Selagi yang kita lakukan itu untuk kebaikan dan tidak mengganggu orang lain, biarkan saja mereka berbicara. Mereka berbicara toh karena iri dengan pencapaian desa ini" ucap Edward.


Ayah Lutfi menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan anaknya itu. Ia yakin kalau tak ada Edward disini, sudah pasti desa mereka selalu tertinggal dari yang lainnya. Selama satu minggu ini juga ibu-ibu diberikan pengetahuan tentang penjualan secara online oleh Elli. Hal itu sangat berguna sekali terutama para ibu-ibu yang menjual produk kreasi masyarakat sekitar.


"Oh ya... Yah, Elli dan Edward lusa harus pulang ke kota lagi. Edward sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan di kantor. Jadi bagaimana dengan ayah dan nenek? Edward harap kalian mau untuk ikut dengan kami ke kota" ucap Edward dengan penuh harap.

__ADS_1


"Ayah masih memikirkan masalah pekerjaan, Ed. Ayah belum bisa tenang tinggal di kota kalau belum mendapatkan pekerjaan tetap demi membiayai nenek" ucap Ayah Lutfi.


"Kalau memang ayah ingin bekerja, kerjalah di kantor Edward saja. Sudah pasti Edward terima dan jadi karyawan tetap" ucap Edward.


"Mana bisa ayah kerja di perusahaan kamu yang besar itu. Ayah kan hanya lulusan SMP, jadi office boy saja minimal pendidikan harus SMA" ucap Ayah Lutfi terkekeh pelan.


Ayah Lutfi tak ingin menyusahkan Edward dengan kedatangan dirinya dan Nenek Arni di kota. Jadi jika memang dia akan ikut ke kota, Ayah Lutfi ingin mendapatkan pekerjaan tetap dulu agar tak terlalu merepotkan Edward dan keluarganya yang lain.


"Ayah, perusahaan milik Edward itu juga miik ayah dan nenek lho. Disana ada hak kalian juga, jadi mulai sekarang jangan pernah sungkan untuk meminta pekerjaan atau bantuan ke Edward. Edward nggak suka kalau ayah masih menganggapku oranglain yang datang untuk membantu. Aku ini anak ayah lho" ucap Edward dengan serius.


Melihat tatapan serius dan terlihat ada kesedihan disana membuat Ayah Lutfi merasa bersalah karena selama ini masih sungkan jika berhadapan dengan anaknya itu. Bahkan untuk menunjukkan kasih sayang seorang ayah pada anakpun dirinya masih canggung.


"Kalau begitu ayah ikut bagaimana kamu saja, nak. Ayah akan ikut kalian ke kota bersama nenek dan disana kami ikut kamu saja tentang bagaimananya" putus Ayah Lutfi.


Ia tak tega melihat tatapan anaknya yang begitu berharap kalau dia dan neneknya bisa ikut ke kota. Dia juga ingin selalu berada didekat anaknya itu dan menggantikan momen yang dulunya tak pernah Edward rasakan. Edward yang mendengar keputusan ayahnya pun segera beranjak dari duduknya kemudian mendekat kearah pria paruh baya itu. Edward segera memeluknya dengan erat sambil mengucapkan terima kasih.


"Terimakasih ayah. Kita bangun moment indah kebersamaan kita di kota ya" ucap Edward.


Ayah Lutfi hanya menganggukkan kepalanya sembari menepuk punggung anaknya yang sudah lebih besar dan gagah dibandingkan dengan dirinya. Anak yang dulu tak pernah dilihatnya, kini kembali bersamanya disaat ia sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang tampan dan mapan. Ayah Lutfi bangga dengan anaknya itu yang masih mau memperlakukan ayahnya yang miskin itu dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2