
Seno ketakutan setengah mati, sedangkan Edward dan Elli terus menekan laki-laki paruh baya itu dengan memainkan pistol yang ada ditangannya sambil mendekat kearahnya. Keduanya bak malaikat maut yang siap mencabut nyawa Seno, bahkan Mama Amber dan Noura yang melihatnya seketika bergidik ngeri.
"Kamu bagian atas atau bawah, sayang?" tanya Edward.
"Hmm... Aku atas saja deh" jawab Elli dengan semangat.
Edward menganggukkan kepalanya mengerti akan ucapan istrinya itu. Namun Mama Amber dan Noura sepertinya terlihat penasaran mengapa Edward dan Elli begitu mengincar Seno. Kalau bukan karena penyekapan keduanya, apa yang membuat mereka berdua marah seperti ini. Pasti Seno melakukan sesuatu yang membuat keduanya naik pitam.
"Ah... Mama mertua pasti penasaran ya kenapa kita langsung mencerca Tuan Seno yang terhormat ini?" tanya Elli.
Elli sedari tadi melirik kearah Mama Amber yang terlihat menampakkan raut muka penasaran dengan masalah yang terjadi. Tanpa sadar Mama Amber menganggukkan kepalanya membuat Elli sedikit tersenyum tipis.
"Jadi Tuan Seno dan Bibi Nessa ini adalah dalang utama dari penculikan mama mertua dan Alika" jawab Elli.
Mama Amber dan Noura yang mengetahui fakta ini benar-benar terkejut bahkan menggelengkan kepalanya tak percaya. Pasalnya Bunda Nessa bercerita bahwa penyebab penculikan ini karena kecerobohan dari suaminya sendiri.
"Nggak, kejadian penculikan itu murni karena musuh bisnis William" seru Mama Amber.
"Ya musuh bisnisnya itu adalah Tuan Seno ini dibantu dengan Bibi Nessa. Sekarang saja Bibi Nessa sudah mendapatkan hukumannya dari Kak Reno" ucap Elli.
Keduanya menatap tak percaya dengan ucapan Elli. Mereka tidak menyangka kalau orang terdekatnya adalah penyebab kehancuran keluarga Serant.
Brakkk...
Pintu gudang tiba-tiba saja terbuka kembali dan ternyata yang baru saja masuk adalah Reno. Reno langsung mendekat kearah Edward dan Elli kemudian menatap tajam kearah Seno. Reno datang setelah dihubungi oleh Victor mengenai kejadian di mansion. Bunda Nessa kini dijaga oleh Victor, sedangkan Bibi Hen berada di rumah Elli.
__ADS_1
"Kata-kata terakhir apa yang ingin anda ucapkan?" tanya Reno dengan nada datarnya.
"Tidak ada" ucap Seno dengan acuh tak acuh.
Rasanya akan percuma memberikan kata-kata terakhir karena memang sudah dipastikan kalau dirinya akan habis ditangan ketiga orang didepannya ini.
Dor... Dor... Dor... Dor...
Arrghhhh....
Aaaaaaaa....
Tanpa aba-aba, Edward menembak kedua kaki dan paha Seno membuat tubuhnya ambruk ke lantai. Bahkan Seno memegangi kedua kakinya yang terasa sakit akibat tembakan itu sambil terus mengerang kesakitan. Sedangkan Mama Amber dan Noura menutup matanya sambil berteriak karena melihat adegan penembakan itu. Baru kali ini mereka melihat adegan seperti ini langsung didepan mata.
Dor... Dor... Dor... Dor...
Elli menembaknya tanpa ampun seakan-akan dia tengah melampiaskan semua emosinya selama ini. Elli ingin membalas segala penderitaan yang telah Alika selama ini alami akibat kejadian itu. Edward segera memeluk Elli dari belakang untuk menenangkan istrinya yang terlihat sangat emosi dan kalap itu.
Edward tahu kalau istrinya itu sangat menyayangi Alika sehingga ketika melihat dalang dari penculikan itu membuatnya benar-benar ingin menghancurkannya. Walaupun orang itu sudah tiada, Elli bahkan menembak bagian kepala mayat itu.
"Tenang ya, orang yang sudah melukai dan membuat trauma Alika sudah nggak ada. Sekarang tugas kita untuk menjaga Alika dan papa" bisik Edward.
Elli memejamkan matanya untuk menetralkan emosinya kemudian membalikkan badannya dan memeluk Edward dengan erat. Edward hanya mengelus punggung istrinya dengan lembut. Sedangkan Reno yang melihat adegan itu tersenyum tipis, ia bahagia karena saudaranya telah menemukan seseorang yang tepat untuk mendampinginya.
Sedangkan Mama Amber dan Noura tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca melihat kekuatan kasih sayang dan cinta yang terpancar diantara keduanya. Kini setelah mereka tahu kebenarannya, keduanya merasa bersalah karena berbuat jahat kepada Alika dan Papa William. Semua perlakuan kejamnya kepada anak dan suaminya seketika saja masuk kedalam ingatannya. Kini Mama Amber sungguh menyesal telah melukai hati kedua keluarganya. Dia masih berpikir apakah jika dia meminta maaf, mereka akan memaafkannya setelah apa yang dia lakukan selama ini.
__ADS_1
Reno segera mendekat kearah Noura dan Mama Amber kemudian melepaskan ikatan tali pada tangan dan kaki keduanya. Mama Amber segera berdiri kemudian memeluk Edward dan Elli secara tiba-tiba.
"Maaf... Maafkan mama. Mama yang salah, maaf" ucap Mama Amber sambil menangis histeris.
Edward hanya diam sambil terus memeluk istrinya, sedangkan Elli segera saja melepaskan pelukan suaminya. Ia membalikkan badannya kemudian memeluk Mama Amber. Mereka berdua menangis tersedu-sedu mengingat tentang kondisi Alika dan Papa William pasca penculikan waktu itu. Mama Amber dengan rasa bersalahnya pada anak dan suaminya itu, ia tersadar setelah apa yang diucapkan oleh Elli tadi. Setelah ini dia ingin memohon maaf pada anak dan suaminya kemudian memperbaiki semuanya.
Sedangkan Noura, ia segera memeluk kakaknya walaupun laki-laki itu tak membalas pelukannya. Sebenarnya Noura ini seorang anak perempuan yang baik dan lembut hanya saja karena pengaruh dari didikan Bunda Nessa membuatnya menjadi seperti seorang wanita penghibur.
"Ayo kita keluar dari sini" ajak Reno memecahkan keheningan disana.
Edward menganggukkan kepalanya kemudian memisahkan pelukan antara Elli dengan Mama Amber. Ia segera menggandeng tangan istrinya itu kemudian menariknya agar segera keluar dari gudang itu. Mama Amber hanya tersenyum miris melihat anaknya yang masih terlihat acuh dan belum memaafkan dirinya.
Mama Amber menggandeng tangan Noura dan berjalan keluar gudang diikuti oleh Reno dibelakangnya. Semuanya masuk kedalam mansion dan terlihatlah ruang tamu yang sudah bersih dari darah. Sedangkan para maid yang berkumpul disana terlihat bercucuran keringat karena harus cepat melaksanakan perintah Elli.
"Kerja yang bagus. Sekarang tugas kalian adalah membersihkan gudang belakang" titah Elli dengan wajah datarnya.
Semua maid meneguk salivanya kasar karena mereka pasti akan melihat keadaan yang jauh lebih buruk dari ruang tamu. Semuanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan gontai menuju gudang. Elli hanya menahan tawanya saat melihat wajah maid yang tersiksa.
"Jahil" ucap Edward yang kemudian menyentil hidung Elli.
Elli hanya cengengesan saja kemudian memeluk Edward dengan eratnya. Entah mengapa berada dipelukan suaminya ini membuatnya nyaman dan tenang.
"Terimakasih sudah membantu dan mendampingiku menyelesaikan masalah dalam keluargaku. Setelah ini kita selesaikan masalah keluargamu secara bersama-sama" bisik Edward.
Elli hanya menganggukkan kepalanya dan menikmati pelukan suaminya tanpa mempedulikan kehadiran Reno, Noura, dan Mama Amber yang masih berada disana. Namun ketiganya tersenyum melihat adegan itu, mereka ikut berbahagia.
__ADS_1