Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Sandiwara


__ADS_3

Suasana di mobil saat pulang dari sebuah tempat perbelanjaan sangatlah menegangkan. Elli tampak menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang mengepal erat, sedangkan Mama Amber sedang berpikir tentang banyak hal mengenai keluarga Elli. Sedangkan Noura dan Alika hanya diam dan saling pandang karena tak tahu menahu mengenai apa yang terjadi.


Sesampainya di mansion, keempatnya turun dari mobil dengan Elli yang sudah berlari masuk karena ingin segera bertemu dengan suaminya. Saat melihat suaminya ada di ruang keluarga, Elli segera saja menarik tangan Edward agar segera berdiri. Edward yang tiba-tiba ditarik pun seketika saja terkejut kemudian mengikuti langkah istrinya yang menarik dirinya memasuki sebuah lift, Sedangkan Papa William dan Victor saling pandang seakan mereka saling bertanya dengan apa yang terjadi.


Setelah Elli dan Edward pergi, Mama Amber dan yang lainnya memasuki ruang keluarga kemudian duduk disana.


"Apa terjadi sesuatu saat kalian berbelanja?" tanya Papa William.


"Kami nggak tahu, pa. Mungkin mama yang bisa menjelaskannya karena tadi aku dan Noura sedang membeli es krim jadi tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Lagi pula selama kami berbelanja memang tak ada kejadian apa-apa kecuali saat mama dan kak Elli menunggu kami" ucap Alika.


"Mama?" panggil Papa William dengan tatapan menuntut.


Bukannya Papa William belum mempercayai istrinya yang sudah berubah, namun dia harus tetap waspada dengan tingkah Mama Amber yang bisa saja melukai sang menantu.


"Tadi saat kami menunggu Alika dan Noura, ada seorang pria paruh baya mendatangi kami. Ternyata pria itu adalah Tuan besar dari keluarga Niclow, Tuan Ronald. Awalnya mama tak paham mengapa beliau sampai mendatangi kami, ternyata dia adalah kakek dari Elli. Mama terkejut bahkan tak bisa berkata-kata lagi, lawan bisnis perusahaan kita ternyata adalah kakek dari menantu keluarga Serant. Namun mama heran karena sepertinya hubungan mereka kurang baik" ucap Mama Amber yang masih sedikit shock.


Papa William dan Victor terdiam saat mendengar apa yang diucapkan oleh Mama Amber. Mereka hanya sedikit terkejut karena memang sudah tahu Elli berasal dari keluarga mana.


"Kita nggak usah ikut campur, biarkan masalah ini menjadi urusannya Edward dan Elli. Kalaupun mereka kesulitan, pasti akan bilang ke kita" ucap Papa William.


"Tapi mama masih penasaran dengan apa yang terjadi. Elli bukan mata-mata yang masuk ke keluarga kita kan, pa?" tanya Mama Amber.


"Mama jangan menuduh sembarangan, kalau Elli dan Edward dengar bisa tersinggung mereka" ucap Papa William.

__ADS_1


Akhirnya setelah diberi ancaman oleh Papa William, Mama Amber, Alika, dan Noura segera saja berlalu dari ruang keluarga menuju dapur untuk menata barang belanjaan yang tadi dibelinya.


***


Sedangkan di kamar...


Elli masih menarik suaminya itu menuju kearah balkon kamarnya. Setelah sampai di balkon, Elli segera memeluk Edward dengan eratnya. Tanpa bertanya apa-apa, Edward segera saja membalas pelukan istrinya itu tak kalah erat. Walaupun dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi.


Setelah beberapa menit mengalami keheningan, akhirnya Elli melepaskan pelukannya dari Edward. Tetapi yang aneh menurut laki-laki itu adalah wajah Elli tampak biasa saja, dia kira istrinya itu saat memeluk dirinya akan menangis.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Edward dengan tatapan penasaran.


"Tadi aku ketemu sama si tua bangka" jawab Elli dengan menggebu-gebu.


Edward mengernyitkan dahinya heran saat mendengar jawaban Elli. Edward penasaran dengan siapa orang yang dimaksud oleh istrinya itu.


Edward begitu terkejut dengan apa yang didengarnya, sungguh ia tak menyangka kalau kakek dari istrinya itu sudah berani menampakkan wajahnya didepan Elli. Pasalnya selama ini hanya pamannya saja yang dengan terang-terangan mengganggu istrinya.


"Sayang, ada yang sebenarnya ingin ku tanyakan sejak kemarin" ucap Edward tiba-tiba.


"Saat kita bertemu di taman waktu itu kamu terlihat sendu saat kedua orangtuamu mengasuh sepupumu. Saat mereka cuek dan tak mempedulikanmu, kamu terlihat sangat sedih. Kamu juga mempunyai kelebihan dalam IT, bukankah berarti kamu tahu apa maksud dari kedua orangtuamu memperlakukanmu seperti itu selama ini? Aku saja yang kemampuannya dibawahmu bisa mencari data-data penting itu, apalagi kamu" ucap Edward.


"Astaga... Jadi sampai saat ini kamu belum tahu dan sadar?" tanya Elli sambil menepukkan dahinya pelan.

__ADS_1


Edward dengan polosnya menggelengkan kepalanya membuat Elli menatap suaminya itu dengan gemas. Elli pikir bahwa suaminya itu sudah tahu maksud dari dirinya memasang wajah sendu, sedih, dan merasa teraniaya didepan kedua orangtuanya dan saudaranya. Sedangkan untuk didepan Paman Dendi dan Kakek Ronald, Elli sudah menunjukkan taringnya.


"Selama ini aku hanya bersandiwara demi mengelabuhi kakek dan pamanku agar mereka yakin kalau hubunganku dengan kedua orangtuaku renggang. Padahal aslinya aku biasa saja karena sudah tahu dengan apa yang terjadi hahahaha Berarti aktingku keren dong bisa mengelabuhi kamu" ucap Elli sambil tertawa.


Edward hanya bisa menjatuhkan rahangnya ketika tahu jika selama ini istrinya itu sedang bersandiwara. Edward sungguh kesal bukan main, harusnya dia sadar setelah tahu istrinya itu pintar dalam dunia IT.


"Lalu kedua orangtuamu tahu kalau kau sedang bersandiwara?" tanya Edward.


"Tidak, kalau mereka tahu pasti bodyguard milik kakek yang memata-matai keluargaku juga akan tahu" jawab Elli.


Luar biasa... Hanya kata itu yang mampu mewakili apa yang dirasakan oleh Edward. Pintar sekali istrinya itu sampai suaminya saja sendiri tertipu dengan sandiwara yang ia buat.


"Tapi kamu lagi nggak bersandiwara dalam mencintai aku kan?" tanya Edward dengan tatapan menyelidik.


"Soal perasaan aku nggak pernah bersandiwara" ucap Elli dengan tegas.


Edward menghela nafasnya lega saat melihat jawaban Elli yang cepat dan tegas saat mendengar pertanyaannya. Edward menatap lembut netra istrinya kemudian kedua tangannya memegang tengkuk istrinya itu. Edward segera memajukan wajahnya kemudian mencium lembut bibir istrinya yang sudah menjadi candu. Elli yang diperlakukan seperti itu hanya pasrah saja dan memejamkan matanya, menikmati sapuan lembut yang ada dibibirnya.


Setelah beradu saliva selama beberapa menit, akhirnya Edward melepaskan ciuman itu dari bibir istrinya. Keduanya dilanda keheningan dengan dua nafas yang saling beradu. Setelah selesai menetralkan nafasnya, Edward dan Elli memandang langit sore hari yang sudah menampakkan senjanya.


"Setelah ini apa yang akan kamu lakukan pada kakekmu?" tanya Edward.


"Yang jelas aku akan membuat kakekku merasakan apa yang aku rasakan dulu saat diasingkan gara-gara dia" ucap Elli dengan tersenyum smirk.

__ADS_1


"Dan aku takkan pernah membiarkanmu sendiri untuk mengatasi hal ini" lanjut Edward.


Elli dan Edward saling menatap kemudian tersenyum smirk bahkan matanya terlihat memerah dengan sorot tajamnya. Kedua orang yang saling bahu membahu demi mendapatkan kebahagiaan itu akan segera menyelesaikan masalah yang dihadapi keluarga istrinya.


__ADS_2