
Jdarrrrrrrr....
Bagaikan ribuan pisau yang menancap di jantung Mama Nessa, jantungnya terasa berdetak kencangnya bahkan wajahnya kini pucat pasi seperti kehilangan pasokan udara di tubuhnya. Rahasia terbesar miliknya ternyata ada yang mengetahuinya, apalagi kini lawannya bukan orang sembarangan yang dengan mudah ia suruh untuk tutup mulut. Ia hanya diam mematung dengan tatapan kosongnya menghadap ke arah Edward.
Mereka semua yang ada disana terutama Reno sangat penasaran dengan apa yang dibisikkan oleh Edward sehingga membuat Mama Nessa itu terdiam dan berwajah pucat pasi. Edward tak mempedulikan respons Mama Nessa dan semua orang yang ada disana, tetapi ia malah berjalan santai ke hadapan Mama Amber.
"Reno, bawa dokter dan perawat yang kemarin merawat papa dan Alika kesini" titah Edward yang membuyarkan kebingungan Reno atas apa yang dibisikkan oleh Edward kepada mamanya.
"Siap, Ed" jawab Reno kemudian pergi bersama Victor ke tempat dokter dan perawat itu tinggal.
Dokter pribadi dan perawat yang kemarin mengurus semua pengobatan Papa William dan Alika tinggal di sebuah pavilliun yang ada di belakang mansion agar bisa standby jika dibutuhkan. Reno dan Victor dibantu beberapa bodyguard sedari kemarin sudah mengamankan pavilliun belakang agar dokter dan perawat itu tak meninggalkan tempat sampai kejadian hari ini terjadi.
Setelah beberapa menit menunggu di keheningan ruang tamu, akhirnya dokter dan perawat itu datang untuk menghadap Edward yang kini tengah duduk di single sofa yang berada di pojok ruang tamu. Sedangkan orang-orang yang menjadi tersangka atas terjadinya pesta hari itu tengah berdiri dengan kaku seperti siap menunggu hukuman apa yang akan mereka terima sebagai konsekuensi dari perbuatannya.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya dokter itu dengan mengernyit heran karena tak biasanya ia dipanggil menghadap Edward secara langsung.
Selama ini dokter dan perawat itu hanya akan diperintahkan untuk menghadap Mama Amber dan Mama Nessa. Mereka hanya akan bekerja jika mendapatkan panggilan dari kedua orang itu, namun tak ada angin tak ada hujan mereka dipanggil oleh orang yang membayar gaji mereka.
"Obat apa yang kau berikan pada papa dan adikku?" tanya Edward to the point dengan tatapan tajamnya membuat sang dokter sedikit gemetaran.
"Obat penyembuh syaraf kaki untuk tuan William" jawab dokter itu dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"Ya memang benar, obat syaraf" ucap Edward dengan mengangguk-anggukkan kepala namun malah terlihat mengerikan bagi seorang dokter itu.
Sang dokter itu memiliki firasat buruk bahwa Edward sudah mengetahui apa yang telah ia perbuat hingga semuanya dikumpulkan di ruang tamu seperti ini.
"Tapi bukan untuk menyembuhkan papa saya melainkan untuk mematikan seluruh syaraf dalam tubuhnya" bentaknya yang langsung berdiri tepat dihadapan dokter itu.
Semua orang yang ada disana seketika saja kaget dengan fakta yang diucapkan oleh Edward kecuali Reno. Semua orang terlihat takut dan gemetaran saat melihat Edward marah bahkan ini baru pertama kalinya mereka melihat Edward seperti ini. Sang dokter hanya terdiam sembari menundukkan kepalanya karena bingung harus melakukan pembelaan seperti apa.
"Siapa yang menyuruhmu?" bentaknya lagi dengan tangan yang mencengkeram erat dagu dokter itu seperti mencekik sampai tubuhnya terangkat dan kakinya tak menapak.
"Tuan hah... Lepaskan, saya hah" ucap sang dokter itu dengan nafas yang tersengal-sengal memohon kepada Edward untuk dilepaskan.
Edward sudah seperti orang yang kerasukan, matanya memerah dan otot-otot lehernya terlihat menonjol karena amarah yang ingin meledak dari dalam dirinya. Semua orang disana hanya melihat hal itu tanpa ada yang berani menolong.
"Baru hari ini dia merasakan kesakitan. Kesakitan sedikit seperti ini saja dia sudah mengeluh dan protes, bagaimana dengan papa saya yang dia berikan obat pembunuh syaraf yang membuat papa setiap harinya harus merasakan kesakitan karena satu per satu syaraf dalam tubuhnya tak berfungsi? Selama 5 tahun papa saya merasakan kesakitan, tetapi kenapa anda tak mempedulikannya? Apakah pernah anda merasa khwatir pada papa saya yang setiap harinya kesakitan? Apa pernah, ha? Sedangkan melihat dokter ini yang baru kesakitan beberapa menit saja kau sudah mengkhawatirkannya" ucap Edward dengan mata yang memerah tanpa melepaskan cengkeramannya.
Mendengar segala ungkapan yang diucapkan oleh Edward membuat Mama Amber seketika terdiam dan terhanyut daam pikirannya. Selama ini ia tak pernah melakukan apa yang seorang istri lakukan terutama mengkhawatirkan keadaan suaminya sendiri. Bahkan ia sendiri juga yang menambahkan luka pada suaminya yang sudah tak berdaya itu.
"JUJUR" bentaknya lagi pada sang dokter agar segera mengakui semuanya.
"Nyo... Nyonya Amber dan Nyonya Nessa yang menyuruh kami, tuan" jawab dokter itu dengan cepat karena merasa nyawanya tak akan selamat jika ia tak jujur sekarang apalagi nafasnya tinggal setengah-setengah.
__ADS_1
"Bagus" ucap Edward menanggapi jawaban dari dokter itu.
"Bohong Ed, bukan kami yang menyuruh mereka. Bahkan kami tak paham dengan jenis-jenis obat" seru Mama Amber tak terima.
"Iya Ed. Jangan percaya pada dokter itu, kami bersumpah kalau bukan kami yang menyuruh mereka memberikan obat itu" ucap Mama Nessa membela diri.
Tanpa mempedulikan protes dan seruan pembelaan diri Mama Amber dan Mama Nessa, Edward memukul tengkuk kepala dokter itu dengan tangan sebelah kirinya kemudian melepaskan cengkeramannya dan membanting tubuh dokter itu dengan kerasnya ke lantai hingga pingsan.
Semua orang yang ada disana seketika saja terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Edward apalagi sampai membanting tubuh seseorang. Mereka sampai menutup mulut mereka tak percaya kalau Edward berani melakukan kekerasan di depan keluarganya sendiri.
"Victor, bereskan dia. Reno, hancurkan karirnya dan pastikan dia menjadi gembel karena dia tak pantas menjalankan profesi mulia seorang dokter" titah Edward dengan tegas pada Victor dan Reno.
Reno dan Victor segera melaksanakan tugasnya. Reno yang berkutat dengan handphone ditangannya sedangkan Victor segera menyeret dokter itu dibantu anak buahnya. Dua perawat yang ada disana bergetar ketakutan melihat kengerian Edward membalas orang-orang yang mmenyakiti orang-orang yang disayanginya.
"Untuk kalian berdua, siapkan diri kalian untuk menjadi pengangguran karena sertifikat kompetensi dan surat ijin kerja kalian sudah dicabut. Dan saya pastikan kalian berdua takkan pernah mendapatkan pekerjaan dimanapun di negara ini" ucap Edward kemudian kedua perawat itu diseret paksa keluar mansion oleh anak buah Victor.
Walaupun sudah memasang wajah memelas, tetap saja Edward takkan pernah terpengaruh terlebih pada orang-orang yang menyakiti kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia akan membalasnya hingga mereka takkan pernah bisa terbangun lagi.
"Nyonya Amber dan Nyonya Nessa... Kira-kira hukuman apa yang cocok untuk dua orang yang telah merencanakan pembunuhan papa dan adik saya?" tanya Edward pada kedua wanita paruh baya itu dengan tatapan tajamnya.
*****
__ADS_1
Kira-kira hukuman apa yang cocok untuk keduanya ya?
Next?...