Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Alika Sembuh 2


__ADS_3

Bunda Nessa terlihat panik dan ketakutan dengan tatapan yang dilayangkan oleh Alika saat ini. Dipancaran mata Alika tak ada binar hangat dan kosong lagi, melainkan hanya ada tatapan marah. Sedangkan Edward, Elli, dan Papa William masih terpaku dengan apa yang mereka saksikan. Mereka semua menatap Alika dengan tatapan yang sulit diartikan. Pancaran haru dan tak percaya menjadi satu, melihat sosok Alika yang sangat berbeda dari biasanya.


Kejadian yang begitu cepat membuat mereka benar-benar tak sadar dengan apa yang dilakukan oleh Alika. Alika kini berubah bak monster dengan kedua tangannya mengepal erat dan raut wajah yang terlihat memerah.


"Papa, kak Edward... Dia adalah dalang penculikan mama dulu. Dia dulu duduk dikursi samping sopir" ucap Alika.


Alika mengadu semua hal yang terjadi padanya malam penculikan itu dan langsung menunjuk kearah Bunda Nessa sebagai pelakunya.


"Kamu jangan bicara sembarangan, Alika. Oh lupa... Kamu kan nggak waras jadi kamu pasti asal ngucap, saya bisa tuntut kamu dengan pasal pencemaran nama baik" ucap Bunda Nessa.


"Aku tidak berbicara sembarangan, bahkan aku masih mengingat bagian tubuh mana saja yang disentuh oleh anak buahmu itu" sentak Alika.


Mendengar sentakan dari Alika, Elli dan yang lainnya tersadar dari rasa terkejutnya. Papa William memandang anak perempuannya dengan berkaca-kaca apalagi setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Alika. Ia yakin walaupun anaknya itu sudah keluar dari dunianya sendiri, Alika masih mempunyai rasa takut dan trauma didalam dirinya. Ini terlihat dari tangan Alika yang gemetaran saat menunjuk kearah Bunda Nessa. Sedangkan Edward tangannya mengepal sempurna mendengar kalimat yang diucapkan oleh adiknya itu. Bunda Nessa gelagapan sendiri kala ia ditatap tajam oleh Edward, Alika, dan Elli.


"Atas dasar apa kau menculik istri dan anakku? Harta, iya? Jika memang harta yang anda inginkan dulu, akan aku berikan asal anak dan istriku masih bisa bersamaku. Sekarang keluarga kecilku hancur akibat dari peristiwa itu dan kau harus bertanggungjawab atas ini" seru Papa William.


Papa William terlihat marah dan kecewa terhadap apa yang dilakukan Bunda Nessa. Dia terkejut ternyata penyebab dari kehancuran keluarga kecilnya adalah orang terdekatnya sendiri. Edward berjalan mendekat kearah Bunda Nessa kemudian mengitari wanita paruh baya itu dan tanpa aba-aba dia memukul tengkuk Bunda Neesa dengan pergelangan tangannya.


Bugh...

__ADS_1


Arrrghhhh....


Bunda Nessa jatuh tersungkur ke lantai setelah memekik kesakitan, bahkan kini wanita paruh baya itu pingsan. Tanpa disuruh, Elli dan Alika segera mendekat kearah Bunda Nessa kemudian menarik kedua tangan wanita paruh baya itu hingga tubuhnya terseret kearah gudang yang ada di lantai ruang kerja CEO. Edward segera mengikuti langkah Elli dan Alika yang terlihat sedang ingin bermain.


Edward mengambil kursi dan tali kemudian membantu kedua gadis itu mengikat Bunda Nessa. Setelah beberapa menit, mereka menatap puas pemandangan didepannya yaitu Bunda Nessa yang terikat tali dalam posisi duduk di kursinya. Entah apa yang akan mereka perbuat, tetapi yang jelas mereka akan menyekap wanita paruh baya itu di gudang ini sampai Reno kembali ke Indonesia dan mengetahui segala perbuatan ibunya.


Edward, Elli, dan Alika meninggalkan Bunda Nessa di gudang tanpa pencahayaan itu, mereka segera menemui Papa William yang masih terdiam di pintu ruang CEO. Edward mendorong masuk kursi roda papanya diikuti Elli dan Alika. Kini semua duduk di kursi sofa yang ada diruangan Edward.


"Kamu udah ingat semuanya? Tentang keluarga kamu dan peristiwa itu?" tanya Elli dengan hati-hati.


Semua menatap Alika dengan tatapan intens dan penasaran. Alika menganggukkan kepalanya antusias, bahkan kini wajahnya berbinar cerah. Papa William yang melihat hal itu benar-benar terharu dan matanya kini berkaca-kaca. Anaknya telah kembali ke dalam dunia yang sebenarnya.


"Papa jangan menangis, sekarang Alika udah sembuh. Walaupun sebenarnya Alika masih sedikit takut ketika mendengar suara bibi atau orang baru tetapi aku akan mencoba melawan ketakutan itu. Bantu Alika untuk keluar dari rasa takut dan trauma ini" ucap Alika.


"Sebenarnya Alika bingung kenapa tadi saat mendengar suara bibi dan melihat wajahnya secara intens, seketika ada memori acak yang masuk dalam pikiran Alika. Rasanya pusing dan sakit di kepala Alika. Saat Alika mencoba menenangkan diri dengan menundukkan kepala, tiba-tiba saja ingatan tentang kejadian itu masuk membuat Alika sangat ketakutan. Saat Alika ingin pergi dari keadaan itu, tiba-tiba saja ada cahaya putih yang menuntun Alika untuk pergi bersama. Setelahnya Alika sadar dan mengingat semua hal yang terjadi selama beberapa tahun ini" ucap Alika.


Mendengar penjelasan Alika, Edward segera menarik adiknya itu masuk kedalam pelukannya. Ia memeluk erat Alika sambil terus menciumi pucuk kepala adiknya dengan lembut.


"Terimakasih sudah kembali, terimakasih sudah berjuang untuk sembuh. Kami pasti akan membantumu agar bisa keluar dari rasa takut dan trauma kamu sepenuhnya" ucap Edward.

__ADS_1


Alika membalas pelukan kakaknya dengan begitu erat. Ia sangat bahagia, keajaiban benar-benar menghampiri dirinya. Ia juga bersyukur banyak orang yang mendukung dan menantinya untuk sembuh.


"Akhirnya... Alika udah sembuh, sebentar lagi papa pasti juga bisa jalan lagi" seru Elli.


Tiba-tiba saja Elli berseru bahagia dengan keadaan Alika yang sudah lebih membaik. Setelahnya ia dan Edward harus memeriksa ke rumah sakit demi mengecek keseluruhan kesehatan Alika. Apakah memang benar Alika sudah sembuh atau belum.


"Benar... Pasti papa sebentar lagi juga sembuh dan bisa jalan lagi. Sebentar lagi papa akan bisa main bola sama cucunya" ucap Alika.


Alika melepaskan pelukannya dari Edward kemudian membalas seruan Elli dengan ucapan asalnya.


"Cucu dari siapa, Alika?" tanya Papa William heran.


"Ya dari Kak Elli dan Kak Edward dong" seru Alika.


Elli yang mendengar ceplosan dari Alika seketika memalingkan mukanya karena kini wajahnya tengah memerah malu. Sedangkan Edward hanya bisa tersenyum misterius saat mendengar ucapan Alika.


"Coming soon... Bakalan rilis" ucap Edward asal.


Bukannya membantu atau menenangkan Elli, Edward malah menambahi ucapan Alika dengan sebuah kalimat ambigu dan asal. Hal itu membuat wajah Elli kian memerah karena malu dan salah tingkah.

__ADS_1


"Sudah... Kasihan tuh wajah menantu papa sudah sangat merah karena malu" ucap Papa William sembari terkekeh pelan.


Alika dan Edward yang melihat raut wajah Elli hanya bisa tertawa karena jarang sekali bisa melihat gadis yang selalu cuek itu kini memerah dan terlihat salah tingkah.


__ADS_2