Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Alika Sembuh


__ADS_3

Brakkk... Brakkk...


Saat Edward tengah fokus dengan pekerjaannya dan Elli masih duduk dipangkuan sang suami, tiba-tiba saja terdengar suara gedoran di pintu ruangan sebelah ruang kerja CEO. Ruangan yang digedor itu adalah ruang kerja milik Reno. Semua karyawan di perusahaan sudah diberitahu kalau dalam seminggu kedepan, Reno tak berada di kantor. Jadi jika ada keperluan diminta untuk dikirimkan ke emailnya secara langsung. Terlebih tak mungkin juga kalau ada karyawan yang berani masuk ke lantai ini kecuali jika ada permintaan khusus dari CEO. Jadi kemungkinan besar orang yang menggedor pintu ruangan Reno adalah salah satu anggota dari keluarga Serant.


Edward yang mendengar itu segera saja menurunkan Elli dari pangkuannya kemudian berjalan kearah pintu ruangannya diikuti Elli dari belakang. Suara gedoran yang begitu keras juga membuat Papa William dan Alika penasaran. Papa William dengan sekuat tenaganya duduk dengan dibantu Alika yang memegang erat kursi roda papanya itu. Setelah berhasil duduk di kursi roda, Alika mendorongnya hingga keduanya berada dibelakang Edward dan Elli yang tengah mengintip.


Ruangan Edward ini kedap suara, namun jika ada suara dari luar maka orang yang berada di ruangan itu tetap bisa mendengarnya.


"Siapa Ed?" tanya Papa William tiba-tiba.


Edward dan Elli yang tak menyadari kedatangan Alika dan Papa William pun berjengit kaget saat mendengar suara yang berasal dari belakang mereka. Mereka berdua dengan kompaknya membalikkan badannya dan melihat Papa William dengan tatapan penasaran sedangkan Alika menatap mereka dengan kosong. Sepertinya Elli nanti harus membahas keadaan Alika pada Edward.


"Astaga, papa ngagetin aja" ucap Edward sembari mengelus dadanya pelan.


"Itu pa, bundanya Reno" lanjutnya.


"Kenapa lagi tuh orang?" tanya Papa William.

__ADS_1


"Mungkin mau minta uang sama Reno. Uang yang diberikan Paman Nino kan nggak cukup untuk kebutuhan sosialitanya. Ditambah lagi Reno sudah menghentikan semua jatah bulanan untuk ibunya itu" jawab Edward.


Brakkk... Brakkk...


"Reno, keluar kamu" seru Bunda Nessa.


Bunda Nessa terus menerus menggedor pintu ruang kerja Reno. Ia memang tak mengetahui kalau anaknya itu sekarang tengah menyusul ayah dan kakaknya ke luar negeri. Lagi pula Bunda Nessa takkan bisa masuk kedalam ruangan Reno karena tempat itu hanya bisa dimasuki oleh pemiliknya dan Edward saja. Saat akan masuk maka untuk membukanya harus dengan sidik jari Reno dan Edward, begitu juga dengan ruangan CEO.


"Mending kita keluar, kasihan itu pintunya nanti rusak kalau digedor-gedor terus" ucap Elli.


Edward dan Papa William mengalihkan pandangannya kearah Elli yang tersenyum polos seperti tak berdosa telah mengatakan hal itu. Bagaimana bisa Elli lebih mementingkan pintu daripada tangan dari Bunda Nessa. Alika sedari tadi hanya diam dan tambah menundukkan kepalanya, hal itu membuat Elli semakin curiga.


"Ed, berikan bibimu ini uang untuk makan sehari-hari. Saudaramu Reno itu jahat sekali tak mempedulikan ibunya yang sedang kelaparan ini dengan menghentikan semua jatah uang bulanan" ucap Bunda Nessa dengan nada memelas yang dibuat-buat.


"Percuma Reno memberikan anda uang jatah bulanan kalau setiap hari anda meminta lagi dan lagi" jawab Edward dengan sinis.


Bunda Nessa terkejut saat Edward mengatakan itu, hal itu pertanda bahwa selama ini ulahnya yang selalu meminta uang Reno diketahui oleh keponakannya itu. Percuma juga dia akting memelas seperti itu karena ia yakin kalau usahanya akan gagal. Bunda Nessa berpikir keras dengan memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang dari Edward atau Reno.

__ADS_1


Bunda Nessa mendekat kearah Papa William dan hendak memeluknya, namun dengan sigap Elli menghalanginya sehingga yang dipeluk adalah gadis itu sendiri. Bunda Nessa yang tahu kalau ia memeluk Elli pun dengan kasarnya mendorong gadis itu hingga mundur beberapa langkah. Enak saja wanita paruh baya ini akan menggoda Papa William demi mendapatkan uang, Elli takkan membiarkan itu terjadi.


"Aduh... Habis ini aku harus mandi kembang tujuh rupa" ucap Elli.


Elli berucap sambil mengibaskan bajunya seperti ada debu yang menempel akibat dipeluk oleh Bunda Nessa. Saat semua orang tengah fokus pada Elli, tiba-tiba saja Alika berteriak dengan histeris membuat semua orang mengalihkan pandangannya.


"Kamu jahat... Kamu yang ada dimobil sama penculik itu. Kamu jahat...


Kak Elli, Kak Edward, papa... Ayo pergi... Dia jahat yang udah culik Alika dan mama" seru Alika.


Sewaktu para penculik itu membawa Alika yang sedang tertidur, sebenarnya gadis itu sudah terbangun dan pura-pura tidur. Saat ia membuka sedikit matanya, Alika melihat siapa saja orang-orang yang membawanya. Awalnya ia sedikit lega karena ada orang yang dikenalnya di mobil itu yaitu bibinya sendiri, namun saat tahu kalau dirinya diculik oleh salah satu keluarganya membuatnya ketakutan hingga memutuskan untuk terus pura-pura tidur.


"Arrrghhh.... Alika ingat kalau dia ada di mobil penculik itu. Kak Edward, jangan dekat-dekat dengannya" seru Alika.


Alika memegang kepalanya seraya menjambak rambutnya dan terus berteriak histeris dengan menunjuk kearah Bunda Nessa. Elli yang melihat itu segera saja mendekat kearah Alika kemudian memeluknya erat sambil membisikkan kalimat-kalimat penenang. Sedangkan Edward yang sudah tahu mengenai dalang penculikan itu hanya melirik sinis Bunda Nessa yang terlihat panik, sedangkan Papa William masih shock dengan apa yang diucapkan oleh Alika.


"Tenang ya... Ada papa, kak Edward, dan kak Elli disini. Nggak ada yang bisa nyakitin kami atau Alika lagi" ucap Elli sambil mengelus punggung adik iparnya dengan lembut.

__ADS_1


Bagaikan sebuah sihir, Alika tenang didalam pelukan Elli bahkan tangannya yang menjambak rambut akhirnya terlepas. Alika melepaskan pelukannya kemudian menatap kearah Elli dengan senyum sumringahnya. Bahkan kini matanya berbinar cerah tak seperti beberapa saat lalu. Alika kembali dari dunianya sendiri dan ia mengingat semua hal yang terjadi dalam hidupnya.


Bunda Nessa yang melihat perubahan raut wajah Alika menatap tak percaya, bahkan tatapan Alika yang sejak tadi kosong dan menundukkan kepala kini sudah hilang entah kemana. Wajahnya kini pucat pasi apalagi Alika kini sudah bisa menceritakan peristiwa sebenarnya. Alika segera berlari kecil kearah Edward dan memeluk kakaknya itu. Setelah memeluk kakaknya, ia membalikkan badannya menatap Bunda Nessa kemudian menatap tajam kearah wanita paruh baya itu.


__ADS_2