Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Janji


__ADS_3

Perjalanan Edward dan Reno pulang dari Perusahaan ke rumah Elli berjalan dengan lancar dan selamat. Bahkan tak ada satupun penguntit dari media yang mampu mengendus kepergian dua orang penting Perusahaan Serant Group itu terlebih jalan yang mereka lalui adalah jalan rahasia yang hanya mereka dan Victor saja yang mengetahuinya. Mereka juga selalu membawa bodyguard yang selalu siap siaga menyingkirkan siapapun apabila ada yang mengetahui kehadiran mereka.


"Sore..." seru Reno saat memasuki rumah Elli yang tampak sepi.


"Kemana tuh orang-orang?" tanyanya entah kepada siapa karena Edward hanya diam saja tak menggubris apapun ucapan Reno.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya semua penghuni rumah yang mereka cari memunculkan batang hidungnya. Ternyata mereka baru saja dari halaman belakang untuk memanen beberapa sayuran yang sudah waktunya di panen. Dengan membawa 2 keranjang besar berisi sayuran, Elli segera saja masuk ke dapur untuk membersihkan semua sayuran yang dibawanya. Sedangkan Alika membawa papanya masuk ke dalam kamar seperti perintah dari Elli.


"Sepertinya perkembangan Alika ketika tinggal disini menunjukkan perubahan yang sangat positif. Buktinya sekarang Alika sudah bisa merespons apa yang disuruh oleh oranglain ya walaupun hanya Elli yang bisa menyuruhnya. Dia juga sudah bisa tersenyum dan tertawa lepas, bahkan fokusnya terhadap sesuatu sudah lebih baik dan tak ada lagi tatapan kosong. Walaupun pola pikirnya masih sedikit lambat, namun apapun informasi yang ia terima pasti bisa sampai" ucap Reno setelah melihat Alika mendorong kursi roda papanya sambil tersenyum ceria.


"Kau benar, Ren. Rencananya aku akan membawa Alika kembali ke psikiater untuk konsultasi langkah terapi apa yang bisa membantu mempercepat kesembuhan Alika. Ditambah aku ingin papa melakukan terapi untuk menghilangkan semua racun-racun di dalam tubuhnya" ucap Edward dan diangguki setuju oleh Reno.


"Gimana kalau besok?" tanya Reno dengan antusias.


"Atur jadwal dengan profesor yang kemarin dan cek agenda pekerjaan kita di kantor. Jangan sampai jadwal kita bertabrakan nantinya. Jangan lupa hubungi Victor untuk memperketat pengamanan dua profesor itu karena aku tak ingin mereka terintimidasi oleh pihak-pihak tertentu" titah Edward sambil memejamkan matanya sejenak dengan menyandarkan kepalanya ke kursi sofa.


"Oke siap" patuh Reno yang kemudian memegang ponselnya untuk cek jadwal pekerjaan dan membuat janji dengan dua orang profesor yang kemarin mengecek kesehatan Alika dan Papa William.


Dua orang yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing itu membuat ruang tamu dilanda keheningan. Namun tak berapa lama keheningan itu berubah menjadi adegan uwu-uwu yang membuat Reno rasanya ingin pergi ke Planet Mars saja.

__ADS_1


"Bapak suami pasti lagi capek ya" ucap Elli yang baru saja datang lalu tiba-tiba berdiri di belakang Edward sambil tangannya memijit pelipis suaminya itu.


Edward yang mendapatkan perlakuan itu tentunya langsung membuka matanya karena kaget dengan apa yang dilakukan oleh Elli terlebih istrinya itu datang tiba-tiba tanpa suara, sedangkan Reno hanya menatap julid ke arah Elli. Edward sangat menikmati pijatan tangan halus istrinya itu sampai memejamkan matanya kembali.


"Pasti ada maunya itu, Ed. Jangan percaya sama perlakuan manis dan lembut tuh manusia jadi-jadian" ucap Reno dengan nada julidnya.


"Anda mau apa? Uang? Saham? Mobil? Rumah baru? Tas branded?" lanjutnya dengan bertanya.


"Dih apaan sih, ngaco. Wajar kan kalau seorang istri mijitin kepala suaminya sehabis suaminya pulang kerja. Iri ya nggak ada yang nyambut dan mijitin sehabis pulang kerja? Makanya nikah" seru Elli dengan julidnya membuat Reno sebal.


"Nikah karena paksaan dari Pak RT aja bangga" ucap Reno dengan kalimat pedasnya membuat gerakan Elli memijat seketika saja berhenti.


Edward yang merasakan gerakan pijatan Elli di pelipisnya terhenti pun seketika langsung membuka matanya dan melihat ke arah Elli yang terdiam dengan tatapan sedih. Edward yang tahu kalau Elli sedang memikirkan ucapan Reno pun seketika menatap tajam Reno.


Reno yang ditatap tajam oleh Edward pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil tersenyum kikuk. Niatnya tadi ia hanya ingin bercanda dengan Elli, namun entah kenapa malah suasana jadi tidak mendukung seperti ini. Melihat tatapan tajam Edward, Reno segera saja pergi dari ruang tamu menuju ke kamar.


Edward kemudian menarik lembut pergelangan tangan Elli hingga membuat sang empu tersadar dari lamunannya. Edward menariknya sampai ia terduduk di pangkuannya membuat Elli salah tingkah karena posisi mereka yang sangat intim.


"Tak perlu mendengarkan ucapan Reno. Kita kan sudah berjanji untuk berusaha menjadikan pernikahan ini seperti pernikahan pada umumnya. Kita tak perlu risau dengan omongan oranglain karena kita yang menjalani pernikahan ini. Aku merasa nyaman ketika berada didekat kamu, itu sepertinya lebih dari cukup. Untuk selanjutnya mengenai perasaan cinta, kita bisa untuk saling belajar mencintai. Kamu juga jangan khawatir kalau aku akan meninggalkanmu karena itu takkan pernah terjadi" ucap Edward dengan lembut.

__ADS_1


Elli yang mendengar semua ucapan Edward pun akhirnya tersadar dari ketakutannya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia menjadi lebih sensitif dan tersinggung padahal biasanya dia akan selalu cuek dengan apa yang dikatakan oleh oranglain.


"Maafkan aku kalau akhir-akhir ini aku terlalu mudah tersinggung atas ucapan oranglain. Entah kenapa aku seperti ini, aku juga nggak paham. Padahal waktu itu kamu sudah berjanji padaku kalau kita akan selalu berusaha menjadikan pernikahan ini satu kali seumur hidup" ucap Elli yang tanpa sadar merebahkan kepalanya di dada bidang Edward.


Edward yang melihat kepala Elli disandarkan ke dada bidangnya pun dengan refleks mengelus rambut Elli dengan lembut. Bahkan sesekali Edward mengecup pucuk kepala istrinya itu.


"Mungkin kamu sedang hamil" ucap Edward asal.


"Mana mungkin aku bisa hamil? Orang aku belum di itu sama kamu" seru Elli yang kemudian bangun dari posisi tidurannya dan menatap ke arah Edward tajam.


"Itu apa?" tanya Edward pura-pura tak tahu.


"Jangan pura-pura tak tahu deh" kesal Elli dengan mengerucutkan bibirnya.


"Emang udah siap kalau aku itu in kamu?" goda Edward membuat pipi Elli seketika memerah mendengar godaan suaminya itu.


"Ih apa sih, bapak suami mesum" seru Elli kemudian bangkit dari pangkuan Edward dan berlari masuk ke kamar.


Sedangkan Edward yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah Elli yang lucu saat malu-malu seperti ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Elli sampai maut memisahkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2