
"Lho mereka ini siapa, nek? Kok kayanya kami baru lihat" tanya seorang warga yang juga sedang makan di warung itu.
Setelah tadi berjalan cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di sebuah warung nasi uduk dan nasi kuning. Sebenarnya Ibu Lutfi dan anaknya tak tega membiarkan Elli dan Edward makan di tempat seperti ini karena mereka berpikir bahwa keduanya tak terbiasa makan di pinggir jalan. Namun alangkah terkejutnya saat keduanya itu menyetujui saran dari nenek dan ayahnya untuk makan di tempat seperti itu.
"Makan disini juga nggak papa, nek. Yang penting tempatnya bersih" ucap Elli tadi saat ditanya.
Mereka pun akhirnya makan disana dengan Elli yang memesan nasi uduk, sedangkan yang lainnya memilih nasi kuning untuk menu sarapan pagi ini. Saat mereka tengah fokus makan, tiba-tiba saja ada seorang warga yang mendatangi keempatnya dan menanyakan mengenai siapa dua sosok yang asing baginya itu.
"Oh... Ini cucu saya, Bu Farida. Anaknya Lutfi dan Amber" ucap Ibu Lutfi sambil tersenyum.
"Lho... Udah besar ya sekarang. Wah dulunya waktu pergi dari desa masih didalam perut, eh sekarang datang-datang udah gede aja. Mana tampan pula" ucap Bu Farida dengan antusias.
Semua warga sekitar sudah tahu mengenai kisah percintaan Amber dan Lutfi yang dulunya menghebohkan satu desa. Namun mereka hanya tahu kalau keduanya hanya menikah siri dan kemudian hamil, padahal faktanya adalah Amber dan Lutfi tidak pernah menikah secara siri.
"Ya tampanlah, anak saya kan tampan tentunya menurun ke cucu saya dong" ucap bangga ibu Lutfi.
Beberapa warga disana yang mendengar pun dengan antusiasnya juga ikut mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ibu Lutfi yang biasa mereka panggil Nenek Arni. Bahkan beberapa gadis juga langsung membenahi penampilannya agar siapa tahu akan dilirik oleh cucu dari Nenek Arni.
"Namanya siapa cucu nenek? Lalu yang perempuan itu juga cucu nenek?" tanya Bu Farida.
"Nama cucuku Edwin, kalau yang perempuan itu istrinya. Namanya Elli" jawab Nenek Arni.
__ADS_1
"Edward, bu. Bukan Edwin" ucap Ayah Lutfi membenarkan.
"Nah itu... Habisnya susah diucapin tuh nama" elak Nenek Arni.
Sedangkan Elli yang mendengar ucapan Nenek Arni hanya menahan tawanya sembari menggoda Edward. Edward pun segera memelototkan matanya kearah istrinya itu karena merasa diledek namanya yang berganti. Sedangkan semua warga yang sedari tadi mendengar kalau perempuan yang ada disamping cucu Nenek Arni adalah istrinya hanya bisa mendengus kesal. Bahkan para wanita single yang sedari tadi menatap lapar kearah Edward pun menghela nafas kecewa. Sudah tak ada kesempatan bagi mereka untuk mendekati pria kota nan tampan itu.
Tak ada pembicaraan lagi diantara mereka semua karena sedang sibuk memakan makanan yang ada didepannya. Sedangkan para wanita single yang ada disana masih mencuri-curi pandang kearah Edward. Edward dan Elli yang mengetahui itu pun membiarkannya saja yang penting tidak mengganggu kenyamanan mereka.
Setelah selesai makan, Elli segera membayar semua makanan yang mereka pesan. Edward terkejut saat makanan yang mereka makan ditambah minumannya hanya habis 32 ribu saja padahal kalau di kota mungkin saja melebihi itu. Dompet miliknya segera dikembalikan oleh Elli kemudian ia simpan di sakunya. Beruntung dia mempunyai istri seperti Elli yang selalu mengingatkan untuk menyimpan uang tunai di dompetnya karena tak mungkin makan di tempat seperti ini menggunakan kartu.
"Mari ibu dan bapak-bapak, kami permisi duluan" ucap Nenek Arni dengan ramah.
"Cucu Nenek Arni ganteng banget. Itu mah kalau aku jadi istri keduanya, juga mau kali aku" ucap salah seorang perempuan.
"Istrinya aja cantik, masa mau jadiin istri kedua kaya loe yang burik gitu" ledek salah satu rekannya.
"Kayanya cucu Nenek Arni orang kaya deh. Lihat aja dia makan di tempat seperti ini aja pakai kemeja dan celana orang kantoran" ucap Bu Farida.
Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Bu Farida. Walaupun Edward menggunakan sandal murah yang dimiliki oleh ayahnya, namun tetap saja kemeja putih dan celana bahan yang melekat ditubuhnya itu membuatnya terlihat seperti orang yang akan bekerja.
"Udah... Udah... Bubar, jangan pada julid sama hidup oranglain. Urusin tuh hidup kalian sendiri, sudah saatnya kerja dan cari uang untuk isi perut" ucap pedagang nasi uduk itu menginterupsi.
__ADS_1
Semua bersorak mencemooh penjual nasi itu karena merasa bahwa mereka kini diusir dari warung itu. Ya bagaimana tak diusir, mereka sudah selesai makan sedari tadi. Bahkan sebelum keluarga Nenek Arni datang itu mereka sudah selesai dengan makanannya namun karena terlalu penasaran membuat semuanya berkumpul disana. Para warga yang telah selesai makan pun akhirnya pergi meninggalkan warung itu.
***
"Udara disini masih segar sekali, Nek. Bakalan betah nih kalau lama-lama tinggal disini" ucap Elli sambil melingkarkan tangannya di pergelangan tangan Nenek Arni.
Edward dan Ayah Lutfi berada dibelakang kedua perempuan itu. Setelah pulang dari warung untuk sarapan, keempatnya memutuskan untuk jalan-jalan di area sekitar desa. Elli terlihat sangat antusias dengan kegiatannya kali ini, apalagi disana jarang sekali adanya kendaraan bermotor yang lewat.
"Lebih enak di kota to, nak. Kemana-mana nggak jauh, kalau disini mah mau ke pasar aja harus jalan kaki 1 jam lamanya kalau nggak punya kendaraan bermotor" ucap Nenek Arni.
"Tetap enak di desa, nek. Udaranya masih murni, belum terkontaminasi polusi. Paling-paling polusi dari asap pembakaran sampah aja" ucap Elli.
Nenek Arni membenarkan ucapan Elli. Memang disana untuk pengelolaan sampah masih dengan dibakar karena tempat penampungannya pun sangat jauh jika harus membuangnya. Keempatnya pun melanjutkan perjalanannya kembali melewati sawah dan kebun.
"Bagaimana dengan kabar dari ibumu, Ed?" tanya Ayah Lutfi di sela-sela perjalanan itu.
"Baik, mama sehat. Ayah kok belum menikah? Apa jangan-jangan menunggu mama kembali ya?" goda Edward dengan tersenyum tipis.
"Enggak, lagi pula pasti ibumu itu sudah menikah disana. Belum ada yang cocok, sekalinya cocok eh istri orang" ucap Ayah Lutfi dengan bercanda.
Edward hanya terkekeh pelan dengan candaan yang dilontarkan oleh ayahnya itu. Sebenarnya banyak yang mengagumi dan menyukai Ayah Lutfi, namun kebanyakan dari mereka tak mau menerima ibunya. Padahal kalau mau menikah dengannya memang sudah sepaket dengan ibunya itu karena tak mungkin dia meninggalkan ibu kandungnya sendirian.
__ADS_1