
Sekembalinya mereka dari rumah sakit beberapa hari lalu, entah mengapa Alika terlihat menjadi sosok yang pendiam dan sering berbicara sendiri serta pandangannya terlihat kosong seperti saat awal mereka bertemu. Padahal sebelumnya keadaannya sudah membaik. Semua yang melihatnya merasa sangat khawatir terlebih ketika diajak untuk makan dan periksa ke rumah sakit maka Alika akan merengek dan memberontak.
Edward, Elli, Reno, dan Papa William kini ada di ruang tamu sedangkan Alika berada di kamarnya sedang tidur. Kini mereka sedang membahas tentang perubahan Alika yang mendadak.
"Ku rasa pertemuan dengan ketiga nenek sihir itu berpengaruh pada kesehatan mentalnya Alika. Mentalnya belum siap untuk menghadapi orang-orang yang dulu berlaku buruk padanya" ucap Elli dengan nada lirihnya.
"Maksud kalian apa? Sedari tadi aku bingung diajak kesini tapi tak tahu apa yang akan dibahas" ucap Reno dengan tatapan penasaran.
Reno sama sekali tak mengetahui tentang kejadian sewaktu pulang dari ruangan Profesor Andi waktu itu karena ia sedang ke bagian Farmasi dan setelahnya ia pergi ke Perusahaan untuk mengurus semua pekerjaan bersama Edward. Edward pun sepertinya juga melupakan kejadian di rumah sakit itu dan tak menganggapnya penting. Edward tak menyangka kalau kejadian kemarin berdampak pada kesehatan Alika.
"Jadi sewaktu kami masih di rumah sakit dan berjalan pulang menuju lobby, kami bertemu dengan Amber, Nessa, dan Noura. Kami sempat berdebat waktu itu karena mereka menghina kami kecuali Edward" cerita Papa William sambil mata melihat keatas menerawang kejadian itu.
"Cihhh... Ketiga wanita itu" ucap Reno dengan nada geramnya.
Sedari dulu dia tak menyukai kehadiran Noura yang waktu itu dibawa ibunya sewaktu ia berumur 3 tahun. Ia masih sangat ingat bagaimana ibunya membawa bayi perempuan itu dengan wajah yang begitu sumringah, bahkan ia tak begitu menyukai kehamilan ibunya waktu itu. Terlebih semenjak lahirnya Noura, ia dan kakaknya tak pernah diperhatikan lagi oleh ibunya membuat sang kakak lebih memilih untuk bersekolah di luar negeri mengikuti Papa Reno. Semenjak hari itu, ia hanya dekat dengan Edward sebagai teman bermainnya dan pamannya yang selalu ada untuk dirinya.
"Saat kejadian kemarin, bahkan tangan Alika begitu kuat memegang tangan Elli. Elli pun hanya sadar sebentar kemudian membiarkannya karena terlalu fokus untuk membalas hinaan mereka" ucap Elli dengan nada menyesal.
"Sudah tak apa, itu bukan salah kamu. Ini memang gara-gara tiga wanita itu" ucap Edward dengan nada datarnya untuk menenangkan Elli.
"Kemarin Elli dan papa sudah mencoba untuk membujuk Alika agar kerumah sakit agar di periksa, namun Alika mengamuk dan membuang-buang barang di sekitarnya. Makanya kami memutuskan untuk sementara ini tidak akan memaksanya untuk ke rumah sakit" cerita Elli menggambarkan kejadian kemarin siang.
"Kita tak mungkin memaksanya karena akan membuat mentalnya semakin down. Untuk sementara waktu, aku takkan membiarkan Alika untuk keluar dari rumah dan bertemu dengan orang banyak" lanjutnya.
__ADS_1
Edward, Reno, dan Papa William pun setuju dengan ide yang diucapkan oleh Elli, ini semua mereka lakukan untuk kesehatan mental Alika.
"Ren, panggil Profesor Rini untuk memeriksa Alika kesini" ucap Edward dan diangguki oleh Reno setuju.
***
Setelah pembicaraan serius tadi, mereka berempat masih duduk di ruang tamu dengan kesibukannya masing-masing. Reno dengan laptop yang ada di depannya dan Papa William sibuk memakan cemilan yang dibuat Elli. Sedangkan Elli sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Edward yang terlihat serius bermain dengan ponselnya.
"Ada apa sampai kau mencuri-curi lihat kepadaku?" tanya Edward tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Reno dan Papa William seketika saja mengalihkan pandangannya ke arah Edward dan Elli, kemudian geleng-geleng kepala sambil terkekeh geli melihat pasangan suami istri itu. Sedangkan Elli terlihat salah tingkah karena kegiatannya diketahui oleh Edward.
"Kemari" titah Edward kepada Elli sambil melambaikan sebelah tangannya memberi kode agar istrinya itu mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Edward dengan nada sedikit lembut sambil mengarahkan pandangannya ke arah Elli yang terlihat menunduk.
"Jangan menunduk, nanti mahkota Permaisuri hatinya Edward jatuh" lanjutnya dengan sedikit menggombal tetapi dengan waut wajah datar.
Hahaha
Reno dan Papa William seketika tertawa dengan aksi menggombal Edward yang benar-benar tak cocok dengan raut wajahnya. Bagaimana bisa menggombali istrinya namun raut wajahnya tak menampakkan ekspresi apa-apa. Edward benar-benar sungguh definisi laki-laki tak punya ekspresi.
Mengabaikan tertawaan dari Reno dan papanya, Edward tetap memusatkan perhatiannya ke arah Elli yang kini wajahnya sudah memerah karena gombalan dari Edward ditambah ketawaan dari yang lainnya. Elli yang sudah tak bisa menahan senyumnya dengan refleks memeluk lengan Edward untuk menutupi wajahnya yang memerah.
__ADS_1
"Ren, lebih baik kita masuk ke kamar saja daripada mengganggu kemesraan mereka berdua" ajak Papa William sambil terkekeh dan diangguki oleh Reno.
Reno segera saja berdiri dan menyimpan laptopnya di tangan sebelah kirinya kemudian mendorong kursi roda milik Papa William dengan tangan kanannya meninggalkan pasangan suami istri itu sambil terkekeh geli.
"Mereka sudah pergi" ucap Edward memberitahu Elli yang masih menyembunyikan wajahnya.
Elli pun dengan segera melepaskan pelukannya dari lengan Edward kemudian manatap mata hitam legam suaminya dengan tatapan dalam. Ada ketenangan di hati Elli saat menatap mata itu, bahkan ia merasa aman bila berada di dekat suaminya itu.
"Jika nanti ada pihak keluargamu yang datang dan memintamu untuk menghancurkan keluarga suamimu, apakah kamu akan menurutinya?" tanya Edward tiba-tiba sambil menatap dalam mata Elli.
Elli yang mendengar ucapan itu tentunya merasa kaget dan menatap bingung ke arah Edward seakan menuntut penjelasan lebih.
"Jawab saja" lanjutnya tanpa mempedulikan tatapan bingung istrinya.
"Tidak akan pernah aku menuruti mereka. Buat apa aku menuruti orang yang akan menghancurkan orang-orang yang selalu ada untukku? Prioritasku saat ini adalah suamiku, Alika, dan papa. Aku takkan pernah rela jika oranglain menghancurkan kalian sekalipun itu adalah keluargaku sendiri. Aku adalah wanita kuat yang akan selalu berpendirian teguh dan tak mudah diintimidasi atau disuruh orang" ucap Elli dengan menggebu-gebu.
Bahkan bisa dilihat dari matanya kalau Elli sangat tulus dan jujur ketika mengucapkan hal itu. Edward sungguh beruntung mendapatkan Elli yang selalu mendukungnya dan tulus kepadanya walaupun belum ada perasaan cinta diantara mereka.
Edward pun seketika menarik tangan Elli untuk menariknya ke dalam pelukan hangatnya, namun sebelum itu...
"Huaaaa.... Enggak... Ampun..."
Sebuah teriakan yang berasal dari seorang gadis yang ada di kamar Elli membuat Edward mengurungkan niatnya untuk memeluk Elli. Reno dan Papa William yang mendengar teriakan itu pun juga segera keluar dari kamar dan melihat kearah Elli dan Edward yang masih terkejut. Mereka pun saling menatap kemudian...
__ADS_1
"Alika..." seru semuanya.