Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Bertemu Paman


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Elli pergi ke pasar untuk membeli beberapa buah dan sayuran segar demi keperluan dapurnya. Bahkan ia berenana untuk membuat kue kering hari ini bersama Alika. Kondisi Alika yang sudah lebih tenang membuat Elli mencoba untuk melakukan aktifitas harian bersama kembali.


Selama ini Elli selalu mendapatkan uang jatah bulanan untuk berbelanja kebutuhan pribadi dan dapur yang cukup besar dari suaminya. Namun Elli tak pernah menerima uang dalam bentuk ATM karena dia selalu memintanya dalam bentuk cash tunai. Hal itu sempat mendapatkan protes dari Reno, pasalnya setiap bulannya dia harus ke ATM atau Bank hanya untuk mengambil uang tunai atas perintah Edward. Dan menurut Reno itu sangat menyusahkan dirinya.


"Aku belanja seringnya ke pasar atau ke abang tukang sayur jadi nggak mungkin kalau pakai ATM buat bayarnya" ucap Elli waktu itu saat ia diberikan sebuah kartu ATM oleh Edward.


Sontak saja Edward sedikit terkejut dengan permintaan Elli, bahkan yang membuatnya tak percaya adalah uang tunai yang diberikannya masih diberikan kembalian jika tersisa setiap akhir bulannya. Edward benar-benar gelen-geleng kepala dengan hal itu, sampai dia bingung nanti siapa yang akan menghabiskan uangnya karena istrinya saja hanya menggunakan uang itu untuk keperluan dapur yang tak seberapa.


***


Elli terlihat bingung ketika pasar yang tadinya ramai medadak menjadi sepi, bahkan disana hanya terlihat adanya beberapa penjual saja. Ia segera mengalihkan perhatiannya ke sekelilingnya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Terlihatlah orang-orang berbaju hitam dan berbadan besar hampir memenuhi pasar itu.


"Pantas saja nih pasar mendadak sepi begini. Tapi kok tuh orang-orang pada ngeliatin Elli terus ya?" batin Elli bertanya-tanya.


Dua kawanan orang berbaju hitam itu tengah berjalan menuju ke arah Elli. Elli yang melihat itu sontak membulatkan matanya karena dugaannya benar kalau mereka menargetkan dirinya. Ia juga tahu kalau itu bukan anak buah dari suaminya.


Elli segera saja berlari dengan sekuat tenaganya untuk menhindari tangkapan dari orang-orang berbaju hitam itu. Ia menyusup-nyusup area gang kecil di daerah pasar saat melihat ke arah belakang kalau dirinya dikejar oleh mereka. Namun sialnya dia, setelah berlari dengan cepat malah tertahan di sebuah gang buntu. Hal itu membuatnya terpojok karena orang-orang berbaju hitam itu kini tengah mengepungnya. Bodohnya lagi, Elli lupa membawa ponselnya sehingga tak bisa menghubungi suaminya.


"Tolong... Tolong..." seru Elli dengan sedikit panik.


"Mohon maaf nona. Kami kesini tidak berniat untuk menyakiti atau membuat takut nona. Kami disini hanya akan membawa nona untuk menemui bos kami. Beliau ingin bersilaturahmi dengan anda" ucap salah satu dari orang-orang berbaju hitam itu.


"Siapa bos kalian?" tanya Elli dengan tenang.

__ADS_1


"Nanti anda juga akan tahu, nona. Yang pasti dia tidak berniat jahat kepada anda. Mari ikuti saya" jawabnya dengan bernegosiasi,


Elli yang sudah terpojok pun akhirnya pasrah dibawa oleh mereka karena kalaupun dia lari pastinya akan terkejar juga terlebih dirinya kini belum sarapan sehingga tenaganya belum terkumpul. Elli berjalan mengikuti seseorang yang berjalan didepannya diikuti puluhan orang berbaju hitam lainnya yang berada dibelakangnya.


***


Setelah melewati perjalanan sekitar 1 jam, Elli dan orang-orang berbaju hitam itu sampai di sebuah rumah mewah berlantai dua dengan halaman yang sangat luas. Elli menampilkan wajah yang tenang walaupun di dalam pikirannya kini ia sedang memikirkan orang-orang di rumahnya yang pasti belum sarapan.


"Silahkan nona" ucap salah satu dari mereka yang membukakan pintu mobil untuknya.


Tanpa mengucapkan apapun, Elli segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah itu mengikuti orang itu. Elli diarahkan untuk menunggu sebentar di ruang tamu, sementara sang empu akan memanggil bosnya.


Tak... Tak... Tak...


"Selamat datang di rumahku, keponakanku tersayang" ucap pria paruh baya itu dengan senyumannya.


Seseorang itu adalah Dendi Abigael Niclow, yang tak lain adalah Paman atau kakak kandung dari mamanya Elli. Elli begitu terkejut melihat seseorang yang sudah lama tak bertemu dengannya. Bahkan hubungan kekeluargaan di antara mereka pun selama ini tak terjalin baik. Selama hidupnya mungkin dia baru 4 kali bertemu dengan paman dan keluarganya itu. Pertemuan itupun terjadi saat dirinya masih kecil.


"Ada tujuan apa sampai paman menyuruh orang-orang itu untuk membawaku kemari?" tanya Elli dengan sinis.


Tak ada alasan bagi Elli untuk bersikap ramah kepada paman dan keluarganya itu karena dulu kedua orangtuanya sudah menceritakan bagaimana susahnya mereka bangkit tanpa keluarganya sendiri. Bahkan paman dan keluarganya yang lain seakan tak ada yang mau tahu. Elli merasa saat ini pamannya sedang membutuhkan dirinya untuk melakukan sesuatu.


"ahahaha Jika kau seperti itu, kau sangat terlihat mirip dengan ibumu" ucap Paman Dendi dengan terkekeh.

__ADS_1


"Memang aku anaknya jadi mirip. Masa iya saya mirip Bibi Rere" ketus Elli.


"Aku tak ingin basa-basi disini. Silahkan katakan tujuan anda membawa saya kemari" lanjutnya.


"Baiklah... Baiklah... Jadi Elli, bisakah kau membantuku untuk mendapatkan proyek kerjasama dengan Perusahaan Serant Group? Bukankah kau bekerja disana? Kau bisa mencari kelemahan perusahaan itu lalu aku yang akan mengeksekusinya sendiri" ucap Dendi dengan santai.


Elli yang mendengar itu menganga tak percaya dengan permintaan dari pamannya itu. Sebenarnya dia bingung darimana pamannya itu tahu kalau dia bekerja di Perusahaan Serant Group, namun mengingat pamannya itu termasuk orang berkuasa tentunya bukan hal sulit untuk mendapatkan informasi tentangnya. Namun beruntungnya, sepertinya pamannya itu tak tahu kalau dia sudah menikah dengan salah satu anggota keluarga Serant.


"Apa ini yang dimaksud Edward waktu itu?" batin Elli bertanya-tanya.


"Jadi paman menyuruhku untuk menjadi pengkhianat di tempat kerjaku sendiri, begitu?" ucap Elli dengan sinis.


"Aku akan memberikan hadiah yang setimpal untuk itu. Aku akan memberikan 5% saham perusahaan keluarga kita untukmu jika kau mau bekerjasama denganku" tawar Paman Dendi.


"Mohon maaf Tuan Dendi. Harta saya jauh lebih banyak dari saham yang anda berikan itu, jadi saya menolak bekerjasama dengan anda" ucap Elli dengan nada sombongnya.


"Cih... Kau disana bahkan hanya bekerja sebagai koki amatir di bagian konsumsi. Gajimu yang tak seberapa itu takkan sebanding dengan harga saham yang ku berikan" ucap Paman Dendi mulai terpancing emosi.


"Bodo amat. Kalau memang mau mengajukan proyek kerjasama, gunakan cara cerdas bukan cara licik" ucap Elli ketus.


Elli yang sudah malas berurusan dengan pamannya itu pun segera saja berdiri kemudian berlalu pergi dari ruang tamu menuju pintu utama rumah. Semua bodyguard yang melihat kepergian Elli segera saja menghadang kepergiannya, namun mereka segera menghentikannya saat melihat kode yang diberikan oleh Paman Dendi untuk membiarkannya.


"Lihat ayah, cucumu bukanlah seorang wanita yang mudah disuruh, ditindas, maupun diintimidasi. Suatu saat nanti, dia yang akan menghancurkan kesombongan dan kekuasaan yang kamu bangga-banggakan itu" gumam Paman Dendi saat melihat punggung keponakannya yang mulai menjauh.

__ADS_1


__ADS_2