
Hari ini tepat satu minggu sudah Reno berada diluar negeri untuk menemui ayah dan kakak laki-lakinya. Dan hari ini pula Reno sudah berada di Bandara negara kelahirannya, Indonesia. Reno kembali memenuhi janjinya untuk pulang tepat satu minggu. Ia telah menyelesaikan semua masalahnya dengan ayah dan juga kakaknya. Ternyata memang benar adanya kalau hanya keluarga Papa William yang peduli terhadapnya. Sewaktu di luar negeri, ia mencoba meminta untuk tinggal bersama ayah dan kakaknya namun mereka dengan tegas menolaknya. Hal ini dikarenakan ayahnya sudah mempunyai keluarga baru disana. Bahkan keluarga dari istrinya hanya menerima kakaknya, Andika sebagai anaknya tidak dengan yang lain. Pantas saja ayahnya tak mau kembali ke negara kelahirannya, dia sudah bahagia dengan pilihannya.
Ayahnya menikan istri barunya ini baru berjalan 3 tahun dan sudah dikaruniai anak perempuan berusia 1 tahun. Alhasil setelah ia tahu seluk beluk tentang permasaahan keluarganya beserta perceraian kedua orangtuanya dari ayahnya langsung, Reno segera kembali ke tanah kelahirannya.
Ia tak sedih, hanya merasakan kecewa saja karena dirinya seperti anak yang tak diinginkan siapapun. Ayahnya yang selalu lebih mementingkan kakaknya sedangkan bundanya lebih peduli pada adiknya. Hanya Papa William dan Edward yang dengan tangan terbuka menerimanya dan selalu mengulurkan tangannya saat ia terjatuh. Keputusannnya saat ini benar, rumah untuknya kembali adalah keluarga Papa William.
Selama seminggu ini pula dirinya menutup komunikasi dengan Edward karena tak ingin fokusnya terbagi-bagi. Bahkan kepulangannya kini, Edward dan yang lainnya tak tahu. Reno segera saja menaiki taksi online yang telah dipesannya untuk menuju ke rumah Elli. Rencananya ia akan menemui ibunya setelah ini, namun rencana itu tertunda karena tadi bodyguard yang berada di mansion mengabari kalau ibunya itu sudah beberapa hari menghilang. Bahkan Noura juga menghubunginya untuk meminta bantuan menemukan ibunya.
"Mungkin dia sedang bersama selingkuhannya" pikir Reno.
Reno seakan tak peduli dengan hilangnya sang bunda karena ia berpikir kalau bundanya itu tengah bersenang-senang bersama selingkuhannya dulu. Setelah beberapa menit melamun, ternyata taksi yang ia tumpangi sudah sampai tepat didepan rumah Elli. Reno segera saja membayar jasa taksi itu kemudian mengambil kopernya yang sudah dibantu untuk diturunkan oleh sopir taksi. Setelah mengucapkan terimakasih, ia segera masuk kedalam rumah Elli dengan menarik kopernya.
"Assalamu'alaikum..." salam Reno saat hendak memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam" salam balik semuanya.
Semuanya yang ada di ruang tamu menatap kearah pintu rumah dan terlihatlah Reno dengan masih menggunakan kacamata hitamnya tengah berdiri didepan pintu.
"Maaf pak, disini tidak memanggil tukang pijat" ucap Elli.
__ADS_1
Semua orang yang mendengarnya seketika tertawa, kecuali Reno yang mencebikkan bibirnya kesal. Memang penampilan Reno juga yang pakai kacamata hitam siang-siang membuatnya seperti tukang pijat. Namun suasana candaan dan godaan seperti inilah yang sangat ia rindukan selama di luar negeri. Saat melihat pamannya, tiba-tiba saja Reno berlari kearah Papa William dengan meninggalkan kopernya didepan pintu rumah. Reno memeluk Papa William dengan erat bahkan sambil menangis hal itu membuat semuanya terheran-heran.
"Kenapa, Ren?" tanya Papa William sambil menepuk-nepuk punggung Reno.
"Pungut aku, paman. Ajak aku tinggal dimanapun paman tinggal. Hanya paman dan keluarga ini yang mau menerima Reno dengan tangan terbuka" ucap Reno lirih.
Mereka hanya bisa terdiam mendengarkan cerita Reno. Setelah beberapa menit menangis dipelukan Papa William, Reno melepas pelukannya kemudian menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.
"Ayah sudah menikah lagi dan punya keluarga baru. Ketika aku berada disana, keluarga barunya tak menerimaku. Bahkan aku harus tinggal di hotel selama hampir satu minggu. Ini adalah alasan kenapa ayah tak mau kembali kesini selain karena sudah bercerai dengan bunda. Ayah dan kakak sudah bahagia dengan keluarga barunya" ucap Reno dengan mengepalkan kedua tangannya.
Edward terlihat terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar, sedangkan Elli dan Papa William memang sudah tahu mengenai hal ini.
"Aku akan menjalani kehidupanku bersama dengan orang-orang yang menerima dan menyayangiku, paman" ucap Reno dengan tegas.
Papa William tersenyum puas dengan apa yang diputuskan oleh Reno. Dia memang sudah tahu mengenai kakaknya yang telah mempunyai keluarga baru, makanya sebelum berangkat ia berpesan agar Reno harus pulang dengan keadaan yang lebih kuat lagi. Edward hanya terdiam saja tak ingin membahas tentang keluarga Reno agar sepupunya itu tak terlalu memikirkannya lagi.
"Tukang pijit, mana oleh-olehnya?" tanya Elli sambil menjulurkan kedua tangannya dihadapan Reno.
"Ini orang kagak tahu suasana lagi sedih ya. Tuh di koper" ucap Reno dengan kesal.
__ADS_1
Bagaimana tidak kesal, ia sedang berbicara dengan serius bersama pamannya namun dengan tanpa berdosanya gadis itu menjulurkan kedua tangannya untuk meminta oleh-oleh.
"Yang sedih kan situ, bukan kita. Kalau kita mah hanya butuh oleh-oleh, iya kan Alika?" ucap Elli.
"Betul" seru Alika.
Elli dan Alika segera saja berlari kecil menuju kearah koper Reno yang berada di pintu masuk. Sedangkan Reno tengah memikirkan sesuatu yang berubah pada keluarganya ini selama ia pergi. Perubahan Alika yang menatap dirinya biasa saja dan terlihat normal tak seperti seminggu yang lalu.
"Alika sudah sembuh, Ren. Mungkin hanya tinggal membantunya menghilangkan rasa takut dan traumanya saja" ucap Papa William.
Papa William yang tahu kalau Reno tengah memikirkan perubahan adik sepupunya itu pun akhirnya menjelaskan keadaan Alika. Mendengar hal itu Reno sangat terkejut bahkan kini menatap Alika dengan tatapan tak percaya. Ia sungguh bahagia jika memang adik sepupunya telah dinyatakan sembuh.
"Bagaimana ceritanya paman saat Alika bisa sembuh?" tanya Reno dengan tatapan penasaran.
"Besok aku jelaskan di kantor, Ren. Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan juga padamu" ucap Edward.
Edward mengatakan sesuatu yang penuh teka-teki membuat Reno semakin penasaran dibuatnya. Akhirnya dengan pasrah dirinya menganggukkan kepala menunggu esok hari demi mendapatkan jawaban dari segala rasa penasarannya.
Akhirnya para laki-laki hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Elli dan Alika tengah mengacak-acak isi koper Reno. Mereka sangat antusias dengan oleh-oleh yang dibawa Reno, terlebih hampir semuanya adalah makanan. Mengingat Elli yang tak suka barang branded seperti tas, dompet, dan sepatu seperti kebanyakan istri pengusaha lainnya membuat Reno memutuskan untuk membelikan makanan snack dan coklat.
__ADS_1
Hari itu semuanya berkumpul di rumah, dengan ditemani canda dan tawa sebelum esok mereka akan menghadapi kerasnya dunia luar lagi. Suasana yang begitu hangat dan rasa kekeluargaan yang sangat kental membuat semuanya nyaman berada dirumah daripada diluar.