Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Terapi


__ADS_3

Kini Elli, Edward, dan Reno tengah berada di rumah sakit untuk menemani Alika dan Papa William menjalankan pengobatan terapi. Tadi Elli berangkat terlebih dahulu ke rumah sakit menggunakan mobil yang baru saja dibeli Edward. Edward dan Reno berangkat bersama dengan Elli untuk menghindari adanya media yang masih terus memburu Reno. Itu akan sangat berbahaya untuk keselamatan Papa William dan Alika nantinya, begitupun keamanan Elli.


"Semuanya aman?" tanya Edward dengan nada datarnya namun masih terdengar lembut di telinga Elli saat dirnya telah sampai di depan sang istri.


"Iya, aman. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Papa sudah didalam, sedang diperiksa" ucap Elli dengan senyum lembutnya.


Elli kini tengah duduk di kursi tunggu depan ruangan Papa William yang tengah diperiksa bersama Alika. Kemudian Edward dan Reno segera saja masuk ke dalam ruangan itu meninggalkan Elli dan Alika yang ditemani oleh beberapa bodyguard setelah mendengarkan jawaban Elli.


Alika selalu saja bersikap manja dan tak mau jauh dari Elli karena menurutnya orang yang paling tulus selain ketiga orang di dalam keluarganya hanyalah Elli. Setelah beberapa menit menunggu, Elli dan Alika pun disuruh masuk ke dalam ruangan itu.


"Kita bisa langsung mulai untuk terapi jalan Tuan William karena sepertinya beliau sudah siap" ucap Profesor Andi dan diangguki setuju oleh semuanya.


Edward turun langsung untuk membantu papanya dalam hal ini. Dibantu dengan sebuah tiang besi, Papa William diminta untuk mencoba berdiri. Ini dimaksudkan agar otot-otot yang ada pada kakinya lebih lemas karena otot-otot yang sudah lama tak digerakkan tentunya akan terasa kaku dan sakit. Edward pun mendampingi dan siap siaga untuk membantu papanya ketika beliau akan terjatuh.


"Ayo papa, semangat" seru Elli membuat ruangan yang tadi hening seketika saja menjadi lebih hidup dan ramai.


"Papa... Ayo" seru Alika dengan bertepuk tangan kecil sembari memberikan senyum cerianya.


Selama 15 menit terapi dilakukan, Elli dan Alika terus memberikan semangat pada Papa William. Papa William yang mendapatkan semangat tentu saja terus berusaha maksimal walaupun sedari tadi ia sering jatuh karena kakinya memang belum terlalu kuat untuk menahan beban tubuhnya.


"Untuk saat ini kita hanya akan melakukan terapi pertama selama 15 menit dulu untuk penyesuaian otot-otot kaki Tuan William. Untuk terapi selanjutnya kita lakukan minggu depan" ucap Profesor Andi dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


"Dan ini untuk resep obat yang harus diminum oleh Tuan William, mohon untuk dipastikan kalau obat yang diberikan adalah yang ini" lanjutnya dengan memperingati mengingat kejadian yang waktu itu kalau obat yang diberikan salah.


"Baik prof. Terimakasih" ucap Reno dengan sedikit membungkukkan kepalanya.


"Oh ya, menyela sebentar. Untuk nona Alika perlu saya ingatkan untuk terus mengajaknya bicara dan beraktifitas seperti pada orang normal. Agar ia terbiasa dengan lingkungan dan orang-orang baru maka akan mempercepat kesembuhannya" ucap Profesor Rini yang juga ada disana.


"Baik, terimakasih" ucap Reno dan diangguki oleh Profesor Rini.


Edward segera mengambil alih dorongan kursi roda papanya yang sedari tadi dipegang oleh Elli kemudian mereka keluar dari ruangan Profesor Andi dan Profesor Rini. Elli dan Alika saling berpegangan tangan berjalan di belakang Edward dan Papa William. Sedangkan Reno sedang menebus obatnya ke bagian farmasi, ini adalah perintah Edward untuk tidak menyuruh oranglain dalam urusan obat papanya.


Saat berjalan menuju lobby, tak sengaja mereka bertemu dengan tiga orang wanita yang sangat dihindari oleh Edward, Papa William, dan Alika. Alika yang melihat tiga orang yang dulu sering membentak dan menyakiti dirinya pun seketika tubuhnya bergetar hebat bahkan genggaman tangannya pada Elli mengerat. Ketiga orang itu adalah Mama Amber, Mama Nessa, dan Noura.


"Eh... Kita ketemu sama orang nggak waras dan nggak bisa jalan" ucap Mama Nessa dengan tatapan sinisnya.


Edward dan Elli yang awalnya tak ingin menghentikan jalannya pun seketika berhenti akibat ucapan dua orang wanita beda usia itu.


"Ya jelas itu pengasuhnya lah, lalu siapa lagi kalau bukan pembantunya? Masa iya istrinya" ucap Mama Amber dengan sinis.


"Dia bukan pembantu atau pengasuhnya papa dan adikku. Dia adalah istri saya" ucap Edward dengan tatapan tajamnya.


Mama Amber, Mama Nessa, dan Noura yang mendengarnya pun seketika terkejut dan menatap tak percaya pada ucapan Edward. Bahkan dengan tidak tahu malunya, Noura segera saja mendekat ke arah Edward untuk mengkonfirmasi apa yang diucapkan olehnya.

__ADS_1


"Ini nggak bener kan, kak? Nggak mungkinlah kak Edward nikah sama cewek yang nggak jelas asal usulnya kaya dia. Lihat saja penampilannya kaya orang udik kaya gini, nggak cocok sama sekali sama kak Edwrad yang berada di kalangan orang kaya" ucap Noura dengan tatapan melihat ke arah Elli sinis.


"Jangan keterlaluan kamu, Noura. Elli bahkan lebih terhormat daripada orang kaya yang tidak punya moral dan sopan santun seperti kau" ucap Papa William yang sedari tadi hanya diam kini membela menantunya itu.


"Wah... Wah... Wah... Sudah bisa berbicara dan membalas ucapan kita nih. Baru beberapa hari pergi sudah berani dengan kita. Biasanya hanya bisa diam dan memeluk anaknya yang kurang waras itu" ucap Mama Nessa dengan sarkas.


"Sepertinya mulut anda itu perlu saya jahit agar tak bisa menghina oranglain dengan seenaknya" ucap Edward dengan nada datarnya.


Seketika saja Mama Nessa terdiam karena sedikit takut dengan ancaman Edward. Bahkan Noura sedikit mudnur dari hadapan Edward.


"Hmm... Mohon maaf nih ibu-ibu yang terhormat. Daripada kalian nyinyirin hidup orang, lebih baik kalian bertobat sebelum nanti Tuhan menegur kalian dengan cara yang tidak terduga-duga. Masih ingatkan kalimat ini, do'a orang yang didzalimi atau teraniaya itu pasti dikabulkan. Kalian berdo'a saja semoga Papa William dan Alika tak mendo'akan kalian yang tidak baik sehingga kalian bisa terhindar dari balasan menyakitkan" ucap Elli dengan santai.


"Jangan sok menceramahi kami. Orang udik kaya kamu nggak pantas menceramahi orang kaya seperti kami" ucap Noura dengan ketus.


"Masih mending saya udik penampilannya tapi kaya hati daripada kalian orang kaya, baju branded tapi otak dan hati kalian miskin dan murahan" ucap Elli sarkas.


Edward yang melihat Elli berani membalas ucapan dari ketiga wanita itu tentu saja sangat terharu karena istrinya itu membela keluarganya yang sedang dihina.


"Ed, ibumu dihina murahan seperti ini dan kau tak membela ibu?" tanya Mama Amber dengan tatapan memelas ke Edward.


"Buat apa membela orang yang salah, lagipula yang diucapkan istriku benar. Kalian memang tak punya hati" ucap Edward dengan datar kemudian berlalu pergi meninggalkan ketiga wanita yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Sepertinya saingan kita untuk mendapatkan harta dari William akan semakin sulit karena istri dari Edward tak mudah untuk dipengaruhi" ucap Mama Nessa yang masih menatap kepergian empat orang yang mulai menjauh.


"Kita bahas ini di rumah" putus Mama Amber yang kemudian mengajak mereka pergi dari rumah sakit itu.


__ADS_2