Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Pembalasan


__ADS_3

Edward segera saja menghubungi Reno untuk memberikan surat pemecatan kepada pimpinan rumah sakit yang berada dibawah naungan keluarga Serant, berikut juga dengan para petugas administrasi. Edward benar-benar marah ada oknum-oknum tertentu yang ingin merusak citra rumah sakit yang dibangunnya. Sedari dulu,dia sudah menekankan untuk tidak bermain-main dengan nyawa manusia. Tujuan dibangunnya rumah sakit ini bukan hanya untuk melayani para pengusaha atau orang kalangan atas saja, melainkan demi warga sekitar yang memang kurang mampu.


Bahkan area dibangunnya rumah sakit itu didekat lingkungan perkampungan kumuh sehingga sudah dipastikan akan banyak warga didaerah sana yang menggunakan fasilitas kesehatan ini. Edward juga sudah menggelontorkan banyak dana bantuan untuk operasional rumah sakit agar para warga tidak mampu dapat pengobatan gratis.


"Gue dipecat..." seru salah satu petugas administrasi dengan panik.


Mendengar hal itu, semua rekannya membelalakkan matanya kaget. Kemudian mereka juga melihat email dalam ponsel karena rekannya itu mendapatkan surat pemecatan dari email. Benar saja, semua mendapatkan surat pemecatan di email mereka. Kedua tangan mereka gemetaran saat membaca surat itu, bahkan disana terdapat point yang benar-benar membuat terkejut.


Dalam email tersebut tertulis beberapa point yaitu dipecat dan diblacklist dari seluruh rumah sakit serta perusahaan yang bernaung dibawah Perusahaan Serant Group dengan rekan bisnisnya. Mereka juga diminta membayar denda sejumlah total biaya 5 orang pasien tidak mampu yang menjalani pengobatan di rumah sakit.


Lima orang petugas administrasi itu begitu lemas setelah mendapatkan email dari pihak HRD rumah sakit. Namun mereka masih bertanya-tanya tentang alasan pemecatan semua petugas administrasi. Di email hanya disebutkan kalau mereka tidak profesional dalam bekerja. Sepertinya mereka telah lupa dengan kejadian yang baru saja dilakukan kelimanya.


Saat pihak managemen rumah sakit melewati ruangan khusus administrasi, kelimanya segera menghentikan langkahnya.


"Permisi, Bu. Mohon maaf kami mau menanyakan perihal surat pemecatan yang dikirim melalui email" ucap salah satu mewakili.


"Apa yang mau kalian tanyakan? Bukankah disana sudah tertulis jelas alasan pemecatan dan denda yang harus kalian bayar?" ucap Kepala pihak managemen rumah sakit, Ibu Dina.

__ADS_1


"Ini mengenai alasan pemecatan kami, Bu. Pasalnya kami tak mengetahui yang dimaksud bekerja tidak profesional itu bagian mananya" ucap salah satu dari mereka.


"Jadi kalian sampai sekarang tidak menyadari apa kesalahan kalian?" tanya Ibu Dina heran.


Dengan polos, kelimanya menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Ibu Dina geram bukan main, pasalnya akibat ulah mereka berlima membuat semua petinggi rumah sakit ini kalang kabut. Apalagi informasi mengenai pemilik Serant Group ada di rumah sakit ini membuat mereka harus berhati-hati memperlakukan orang.


"Kalian masih ingat kejadian tadi saat menolak pasien tidak mampu? Itu kesalahan kalian sehingga dipecat. Asal kalian tahu bahwa pemilik Perusahaan Serant Group dikabarkan berada disini dan melihat kejadian itu. Tak hanya kalian yang dipecat, bahkan pimpinan rumah sakit ini juga. Sekarang semua pegawai disini di periksa dan akan diseleksi ulang, ini semua gara-gara kecerobohan kalian" kesal Ibu Dina.


Kelimanya terdiam membeku mendengar penjelasan dari Ibu Dina. Bahkan saat kejadian itu terjadi, mereka tak melihat pemilik dari Perusahaan Serant Group. Semua yang hadir disana rata-rata adalah pengusaha biasa yang mereka kenali. Mereka mulai menduga-duga tentang seseorang yang tiba-tiba saja hadir dan membayar biaya pengobatan keluarga tak mampu itu. Mereka belum pernah melihat dan berurusan dengan orang itu jadi dapat diambil kesimpulan bahwa dia adalah CEO Perusahaan Serant Group.


Ibu Dina yang melihat keterdiaman kelimanya hanya bisa geleng-geleng kepala dan berlalu meninggalkan mereka. Dia harus segera mengurus semua berkas-berkas yang diminta oleh Reno. Saat ini kelimanya tengah menyesali apa yang diperbuatnya, kesombongan mereka dibalas tunai oleh pemilik rumah sakit ini.


Kakek Ronald keluar dari ruang medical check up dengan wajah datarnya. Dia sangat kesal melakukan pemeriksaan selama berjam-jam lamanya karena cucunya itu. Untuk hasil pemeriksaan akan selesai esok hari, jadi bisa ditinggal oleh pasien.


"Ayo pulang" ajaknya.


Elli dan Edward yang masih setia dengan kemesraannya pun menganggukkan kepalanya kemudian berdiri dan berjalan berdampingan dengan gadis itu berada ditengah. Semua orang menatap mereka terutama kearah wanita yang berada ditengah, pasalnya Elli sudah seperti simpanan om-om dan kakek-kakek. Elli yang ditatap seperti itu hanya acuh tak acuh saja. Walaupun dia tahu kalau itu adalah tatapan merendahkan dirinya.

__ADS_1


Ketiganya terus berjalan dengan santai. Namun saat tiba didepan pintu keluar rumah sakit, ketiganya dihadang oleh lima perempuan yang tadi dipecat oleh pihak rumah sakit. Ketiganya mengernyit heran saat melihat kelima orang itu menatap mereka dengan sinis.


"Gara-gara kalian, kami dipecat dari pekerjaan" sentak salah satu dari kelimanya.


"Bukan urusan kami, itu urusan kalian dengan rumah sakit ini. Lagian rumah sakit sebesar ini kok bisa sebodoh ini sih dalam merekrut karyawannya" ucap Elli menanggapi dengan pedas.


"Udah nggak punya hati, nggak punya sopan santun lagi" lanjutnya.


Mereka berlima geram dengan ucapan pedas yang keluar dari mulut Elli. Tanpa diduga dua orang wanita itu menarik tangan Elli sehingga istri Edward itu tertarik kearah mereka. Elli yang memang sedang kurang fokus pun tak menyadari aksi mereka, sedangkan Kakek Ronald dan Edward begitu terkejut dengan apa yang dilakukan kelimanya.


"Ini urusan perempuan, jangan ikut campur" sentak salah satunya.


Sepertinya mereka berlima melupakan kalau orang-orang yang ada dihadapannya itu adalah penguasa dalam dunia bisnis. Sedangkan Elli hanya bisa menghela nafasnya sabar menghadapi kelimanya yang bersifat kekanak-kanakan.


Dua orang perempuan memegangi kedua tangan Elli, sedangkan tiga orang lainnya tengah menghadap kearah istri Edward itu. Tanpa aba-aba, ketiganya mengangkat tangannya dan ingin menampar pipi Elli. Namun gerakan mereka terhenti karena Edward segera menendang ketiga tubuh wanita itu dengan gerakan cepat. Ketiganya terjatuh dan berlutut didepan Elli dan kedua rekannya.


"Jangan pernah berani-beraninya kalian mengangkat tangan untuk melukai pipi mulus istriku" sentak Edward.

__ADS_1


Dengan tanpa perasaannya, Edward segera menginjak telapak tangan ketiganya secara bergantian membuat mereka berteriak histeris. Teriakan itu seketika mengundang perhatian banyak orang, bahkan kedua rekannya yang masih memegangi Elli sontak saja melepaskan pegangannya itu. Elli yang melihat tangannya dilepaskan pun dengan sigap menendang perut kedua wanita itu dengan keras. Langsung saja keduanya terpental dan terjatuh dengan posisi terduduk.


Kakek Ronald yang melihat bagaimana Edward dan cucunya membalas perlakuan tak terpuji kelima wanita itu hanya menggelengkan kepalanya takjub. Dalam hatinya, ia memuji kekompakan dan kepiawaian keduanya dalam menyelesaikan orang-orang yang mengganggu mereka.


__ADS_2