
Saat ini Nenek Arni dan Ayah Lutfi tengah berpamitan dengan warga sekitar karena akan ikut dengan Edward kembali ke kota. Banyak warga yang sedih karena harus berpisah dengan salah satu keluarga yang sangat baik kepada para tetangganya. Bahkan walaupun hidup dalam kondisi kekurangan, Nenek Arni selalu membagi-bagikan apa yang dia punya untuk oranglain yang kurang mampu.
"Sering-sering tengokin kami disini ya nek" ucap Bu Farida sambil memeluk Nenek Arni.
"Pasti, nanti kami akan sering menengok kalian. Biar nanti Edward atau yang lainnya yang mengantarkan kami kesini" ucap Nenek Arni membalas pelukan Bu Farida.
Selama seminggu ini tak ada tatapan lapar para wanita yang dilayangkan pada Edward seperti awal bertemu. Semuanya sudah terbiasa dengan kehadiran Edward, bahkan mereka sangat akrab dengan Elli. Semuanya sudah menyatu dalam kekeluargaan di desa itu.
Edward juga akan terus memantau perkembangan desa tempat tinggal nenek dan ayahnya ini. Bahkan ia tak segan-segan menggelontorkan dana untuk memperbaiki jalanan yang sudah banyak berlubang di desa itu. Para warga disana sangat berterimakasih kepada Edward yang sudah berbaik hati membantu mereka.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, dan semuanya yang ada disini, saya mewakili keluarga Ayah Lutfi mengucapkan terimakasih karena sudah menerima saya dan suami dengan baik. Kami akan sering-sering main kesini kalau sedang ada jatah libur kerja" ucap Elli sambil tersenyum.
Semua warga disana menganggukkan kepalanya dan ikut membalas dengan tersenyum. Ayah Lutfi dan Nenek Arni segera menjabat tangan semua warga disana begitu pula dengan Elli dan Edward. Setelahnya mereka berempat segera memasuki mobil mewah milik Edward.
Mobil hitam mewah itu segera melaju meninggalkan desa itu dengan para warga yang masih melambaikan tangannya. Setelah mobil itu tak terlihat lagi, semua warga segera membubarkan diri dan melakukan aktifitas sesuai dengan pekerjaannya masing-masing.
***
Dalam perjalanan itu hanya ada celotehan dari Elli dan Nenek Arni yang duduk dikursi penumpang. Elli selalu mengajak Nenek Arni berbincang agar perempuan tua itu melupakan pikirannya tentang mabuk perjalanan yang sering ia alami. Terlebih selama ini Nenek Arni memang jarang berpergian menggunakan mobil atau kendaraan mesin seperti ini.
"Nenek, nanti di kota kita jalan-jalan ke mall dan kebun binatang yuk" ajak Elli dengan antusias.
__ADS_1
"Wah... Sudah lama sekali nenek ingin melihat bagaimana rupa kebun binatang itu" ucap Nenek Arni dengan antusias.
"Disana ada hewan apa aja, nak" lanjutnya dengan penasaran.
"Banyak. Ada singa, macan, burung, ular, buaya, dan banyak lainnya" ucap Elli dengan senyum cerianya.
"Wah... Tapi masuk kebun binatang mahal lho, nak. Nggak jadi ah, besok nunggu Lutfi dapat kerjaan dulu baru kita kesana" ucap Nenek Arni.
"Ish... Tenang, ada cucu nenek yang siap membeli itu kebun binatangnya menjadi milik kita sekalian kalau nenek mau" ucap Elli dengan bangganya.
Nenek Arni menganga tak percaya dengan ucapan Elli yang begitu membanggakan suaminya itu. Sebenarnya Nenek Arni dan Ayah Lutfi sangat penasaran dengan seberapa banyak kekayaan Edward yang bahkan tak pernah mengeluh harus menggelontorkan banyak dana demi memajukan desa tempat tinggalnya.
"Buat apa kebun binatang dibeli?" tanya Nenek Arni heran dengan ucapan Elli.
Ayah Lutfi dan Nenek Arni seketika saja panik dan terkejut mendengar ucapan Elli itu, sedangkan Edward masih mencerna apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Pasalnya di mansionnya itu tak ada buaya sama sekali dan dirinya juga tak memelihara hewan apapun disana.
"Sayang, kita kan di mansion nggak pelihara hewan" tanya Edward dengan heran.
"Buayanya itu kan kamu, Kak Reno, Kak Victir, Kak Regan, dan Kak Erga. Banyak kan jadinya" goda Elli.
Ayah Lutfi dan Nenek Arni hanya tertawa saat tahu yang disebut sebagai buaya adalah Edward dan laki-laki lainnya penghuni mansion. Sedangkan Edward hanya mencebikkan bibirnya kesal karena ucapan istrinya itu. Elli ikut terkekeh pelan melihat raut muka suaminya yang begitu lucu dihadapannya.
__ADS_1
***
Setelah mengendarai mobil selama berjam-jam, akhirnya Edward menghentikan mobilnya tepat di sebuah mansion milik Keluarga Serant. Mereka sampai di mansion itu tepat pukul 5 sore. Awalnya Ayah Lutfi minta untuk dicarikan kontrakan saja, namun Edward menolaknya dengan tegas. Ia ingin Ayah Lutfi dan neneknya tinggal bersama dengan dirinya.
Ayah Lutfi sebenarnya canggung jika harus tinggal bersama dengan Mama Amber dan keluarga papa tiri Edward lainnya karena ia tak punya hubungan darah dengan mereka kecuali Edward. Namun Edward ingin tinggal bersama dengan ayah dan ibunya sehingga Ayah Lutfi yang melihat tatapan permohonan anaknya waktu itu menjadi tak tega.
Mereka berempat turun dari mobil setelah sampai didepan pintu utama mansion itu. Ayah Lutfi dan Nenek Arni begitu takjub dengan mansion mewah yang ada didepannya ini. Seumur hidup keduanya, baru kali ini melihat sebuah rumah besar dan bagus seperti ini.
"Ini rumah kamu, Ed?" tanya Ayah Lutfi takjub.
"Rumah kita, yah" jawab Edward sambil tersenyum.
Ayah Lutfi dan Nenek Arni hanya menanggapi ucapan Edward itu dengan senyumannya saja. Mereka berdua tak menyangka akan tinggal di rumah sebesar itu. Keduanya segera digiring masuk oleh Edward dan Elli memasuki mansion itu. Sepanjang perjalanan, kedua orang itu hanya bisa menatap takjub pemandangan yang begitu luar biasa itu.
"Selamat datang di mansion" seru Alika dan Noura bersamaan menyambut kedatangan kedua kakaknya.
Bahkan Mama Amber, Papa William, Reno, Victor, dan Bibi Hen berada dibelakang kedua gadis yang berseru itu. Tampak sekali bahwa Ayah Lutfi dan Nenek Arni sangat terkejut melihat Mama Amber ada disana. Mama Amber segera mendekat kearah Nenek Arni kemudian mencium tangannya.
"Maafkan Amber telah meninggalkan Mas Lutfi dulu bahkan menghina ibu dan keluarga" ucap Mama Amber dengan tatapan bersalah.
"Sudah tak apa, memang ini sudah jalan dari Tuhan. Lupakanlah masa lalu, kamu dan Lutfi memang ditakdirkan menjadi saudara bukan sepasang suami istri. Yang terpenting sekarang kalian sudah berkumpul dengan Edward walaupun bukan sebagai pasangan suami istri namun kalian adalah partner untuk memberikan kasih sayang pada cucu nenek itu" ucap Nenek Arni dengan bijak.
__ADS_1
Mama Amber menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan ucapan Nenek Arni untuk menjadikan dirinya dan Lutfi sebagai partner dalam memberikan kasih sayang pada Edward. Mama Amber pun juga langsung menghadap Ayah Lutfi untuk meminta maaf. Ayah Lutfi juga memaafkan apa yang sudah diperbuat Mama Amber padanya dan keluarganya dulu.
Akhirnya semua memutuskan untuk membersihkan diri di kamar dan istirahat sebentar sebelum makan malam dimulai. Karena ini adalah hari spesial, Reno telah memesan makanan dari sebuah restorant ternama atas perintah Edward.