
Elli terbangun dari tidurnya saat menjelang jam makan siang, dirinya mencoba untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku dan pegal-pegal. Namun saat menggerakkan badannya, perutnya terlilit oleh tangan milik suaminya dengan begitu eratnya sehingga ia tak bisa bergerak leluasa. Bagian bawahnya juga masih terganjal sesuatu sehingga membuatnya tak nyaman dan ingin segera beranjak dari ranjangnya.
"Sayang..." panggil Elli.
Elli menepuk-nepuk pelan pipi suaminya agar segera bangun, namun Edward hanya bergumam kemudian mengeratkan pelukannya. Elli yang melihat hal itu hanya mendengus kesal. Dengan kekuatan penuhnya, Elli memindahkan tangan suaminya dan akhirnya berhasil juga. Karena sesuatu yang masih berada dibawah sana mengisi goanya, Elli dengan jahilnya menggoyangkannya sehingga Edward terbangun dan memelototkan matanya.
"Jangan membangunkan singa yang sedang tidur, sayang" ucap Edward dengan suara seraknya.
"Habisnya kamu nggak bangun-bangun sih, aku lapar" rengek Elli.
"Emang ini jam berapa sih?" tanya Edward.
Elli segera mengalihkan pandangannya kearah jam dinding yang menempel di kamar itu, matanya melebar saat melihat angka jam menunjukkan pukul 11.25. Elli dengan gerakan cepatnya segera terduduk dari baringannya membuat sesuatu dibawah sana terlepas dengan tiba-tiba.
Ahhh...
"Astaga... Kau telah membangunkan nagaku kembali" keluh Edward.
"Aish... Kamu mah mesum. Lihat ini sudah jam setengah 12, bagaimana dengan Alika dan lainnya bisa makan siang? Aku belum membeli stock bahan makanan untuk siang ini" panik Elli.
Tanpa mempedulikan kepanikan Elli, Edward segera menghubungi Victor untuk membelikan semua keperluan untuk keluarganya terutama kebutuhan pokok. Setelah selesai menghubungi Victor, Edward segera terbangun dari berbaringnya.
"Kamu tak perlu khawatir, aku sudah meminta Victor untuk membeli beras dan yang lainnya" ucap Edward.
Elli yang mendengar itu akhirnya sedikit lebih tenang. Kemudian dia segera saja turun dari kasur dengan membawa baju yang ada dibawahnya. Dengan langkah tertatih, dia membelitkan baju dan celananya di tubuhnya agar tak berjalan polos. Sedangkan Edward yang melihat istrinya masuk kamar mandipun segera menyusulnya.
Aaaaaaaa... Mesum...
__ADS_1
Elli berteriak saat tahu kala suaminya itu ikut masuk ke dalam kamar mandi. Entah apa yang dilakukan keduanya, namun mereka keluar dari kamar mandi itu setelah 2 jam berada didalam. Bahkan Elli terlihat menggerutu saat keluar dari kamar mandi dan wajahnya tampak kesal.
Sedangkan Edward melangkahkan kakinya keluar walk in closetnya dengan langkah riang, bahkan wajahnya terlihat sumringah dan riang gembira. Elli yang melihat suaminya sudah berpakaian rapi pun hanya menatapnya dengan sinis.
Hahahaha
Edward tertawa melihat wajah sinis dan masam dari istrinya itu, kemudian ia mendekatkan dirinya kearah Elli. Edward memberikan ciuman bertubu-tubi di pucuk kepala istrinya yang saat ini sedang memakai skincare didepan kaca.
"Cantiknya istriku..." puji Edward membuat pipi Elli bersemu merah.
"Jangan gombal kalau ada sesuatu yang diinginkan setelahnya" ucap Elli dengan sinis saat sdah sadar.
"Hahahaha Enggak sayang, ini bukan gombal. Terimakasih sudah memberikan sesuatu yang berharga hanya untukku, semoga saja didalam perut kamu ini nanti tumbuh bibit Serant junior" ucap Edward sambil mengelus perut istrinya.
Elli tak menjawab ucapan suaminya namun tangannya kini berada diatas tangan Edward sambil terus mengelus perutnya sesuai dengan gerakan laki-laki itu. Elli hanya mengaminkan ucapan Edward didalam hatinya semoga dia bisa segera cepat diberikan momongan.
Elli segera berganti pakaian kemudian bersama dengan suaminya keluar dari kamar. Keduanya saling bergandengan tangan menuruni tangga dengan senyum bahagianya. Bbeberapa orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga tersenyum melihat kedua pasangan itu yang terlihat saling mencintai.
Seruan Alika yang begitu keras membuat kedua sejoli yang sedang berjalan itu mengalihkan pandangannya kearah ruang keluarga yang berada tepat didekat tangga. Elli dan Edward terkejut melihat semuanya tengah berkumpul disana bahkan ada juga Mama Amber dan Noura. Sepertinya mereka berdua sudah ketinggalan moment berharga.
Elli dan Edward segera menuju ruang keluarga kemudian duduk disana bersama dengan yang lainnya. Mama Amber segera mendekat kearah Edward kemudian memeluk anaknya itu smabil terus membisikkan kata maaf. Sedangkan Edward yang tiba-tiba dipeluk oleh ibunya pun badannya membeku.
"Maafin mama, Ed. Mama bersalah atas semua kehancuran keluarga kita. Mama berjanji akan menebus semua waktu yang terbuang kemarin dengan lebih memperhatikan dan menyayangi anak-anak mama" ucap Mama Amber.
Edward terdiam kemudian menatap kearah istrinya yang menganggukkan kepalanya. Edward pun menganggukkan kepalanya kemudian membalas pelukan ibunya dengan erat. Mama Amber seketika menangis saat anaknya mau memaafkannya sedangkan Edward matanya terlihat berkaca-kaca.
Mama Amber melepaskan pelukannya pada sang anak kemudian memeluk menantunya dengan erat. Moment itu berlanjut dengan Noura yang juga meminta maaf kepada kakak sepupunya itu. Semuanya kini tampak bercengkerama dengan tersenyum dalam kehangatan sebuah keluarga.
__ADS_1
"Sayang, aku lapar" bisik Elli pada suaminya yang berada disampingnya.
Edward yang mendengar bisikan dari istrinya seketika menepukkan dahinya pelan. Akibat mereka yang terlalu penasaran dengan apa yang terjadi membuatnya lupa tujuan keduanya turun dari kamar.
"Kami permisi mau makan dulu karena istriku ini sudah lapar" pamit Edward dengan tersenyum tipis.
"Astaga... Mama sampai lupa menawarkan kalian makan. Pasti kalian sudah lapar apalagi tadi pagi nggak sarapan. Makanan yang tadi masih ada, mau mama panaskan?" ucap Mama Amber.
"Nggak usah, ma. Biar Elli aja" tolak Elli.
Mama Amber menganggukkan kepalanya, kemudian kedua sejoli itu berdiri untuk segera pergi ke ruang makan.
"Makanya Ed, kalau adu naga tuh kira-kira. Jangan sampai istrimu kelelahan dan dibiarkan nggak sarapan sampai makan siang pun lewat" ejek Papa William.
"Habisnya kecanduan adu naga, ternyata seenak itu. Agak nyesel kenapa baru sekarang" ucap Edward asal.
"Kayanya papa juga harus adu naga lagi deh sama mama biar tahu rasanya seenak apa. Lagi pula papa udah lama kan nggak adu naga sama mama" lanjutnya dengan meledek.
Awwwww....
Elli yang mendengar ucapan Edward asal pun segera mencubit pinggang suaminya itu sedangkan Papa William merasa puas dengan apa yang dilakukan oleh menantunya. Salahnya siapa meledek dirinya hingga sang istri yang tahu maksud ucapan anaknya itu, kedua pipinya memerah karena malu.
"Rasain, makanya jangan ngeledekin papa" ejek Papa William.
Ketika ingin membalas ejekan dari papanya, Edward mengurungkan niatnya saat melihat Elli sudah memelototkan matanya setelah mencubit dirinya. Akhirnya Elli menarik tangan suaminya untuk segera ke ruang makan karena jika dibiarkan pasti akan sangat lama perdebatan itu terjadi. Bahkan mungkin pembahasannya akan semakin asal. Papa William tertawa melihat kedua pasangan itu yang pergi, sedangkan Alika dan Noura hanya terdiam sambil berpikir tentang adu naga.
"Papa, adu naga itu apa? Emang kak Edward dan kak Elli habis adu naga?" tanya Alika dengan polosnya.
__ADS_1
*********
Nah lho... Papa William tanggung jawab hahahaha