Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
Khawatir


__ADS_3

Alika dan Papa William tengah duduk di ruang tamu untuk menunggu Elli pulang dari pasar. Sudah sejak satu jam yang lalu keduanya menunggu disana, namun Elli tak juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan Alika sudah merengek lapar sedari tadi, namun Papa William yang tak memungkinkan untuk memasak pun hanya bisa menenangkan anaknya itu. Edward dan Reno masih berada di dalam kamar yang kemungkinan sedang bersiap-siap untuk ke kantor.


Elli sudah pergi sejak pukul 5 pagi sedangkan saat ini jam menunjukkan pukul 07:30. Tak biasanya Elli pergi selama lebih dari dua jam apalagi jarak pasar ke rumah mereka sangat dekat. Edward dan Reno yang baru saja keluar dari kamar mengernyitkan dahinya bingung ketika melihat Papa William yang sedari tadi menenangkan Alika yang merengek.


"Ada apa, pa?" tanya Edward.


"Huuaaa... Lapar" rengek Alika sembari mengelus perutnya.


"Sabar ya, sebentar lagi pasti kak Elli pulang" ucap Papa William dengan mengelus lembut rambut anaknya.


Edward dan Reno seketika saja paham kalau Alika kini tengah merengek kelaparan. Namun yang menjadi kebingungan keduanya adalah Elli tak mungkin belum menyediakan makanan untuk mereka semua.


"Lho... Emang Elli kemana, pa? Apa dia tidak memasak pagi ini?" tanya Edward.


"Elli sedari lepas shubuh tadi belum pulang dari pasar, Ed. Papa khawatir terjadi apa-apa dengannya" ucap Papa William.


Edward dan Reno tentu saja kaget dengan ucapan yang dilontarkan Papa William. Edward segera saja meraih ponselnya untuk menghubungi Elli dan Victor.


Tring... Tring... Tring...


Bunyi suara ponsel yang berada di atas kursi sofa ruang tamu seketika berbunyi dan ternyata ponsel itu adalah milik Elli yang tertinggal.


"Sial... Elli nggak bawa ponselnya" gumam Edward.


"Ren, beli makanan untuk sarapan Alika dan papa" titah Edward.


Reno segera saja keluar dari rumah Elli untuk mencari sarapan untuk semuanya. Sedangkan Edward kembali fokus dengan ponselnya untuk menghubungi kepala bodyguardnya yaitu Victor. Setelah berbicara dengan Victor, raut wajah Edward terlihat panik walaupun tak terlalu kentara karena dia menampilkan wajah datar tanpa ekspresinya. Victor sedang mencoba menyebar anak buahnya ke sekeliling pasar demi mencari Elli sesuai dengan perintah Edward.


"Jangan buat aku khawatir seperti ini" batin Edward.

__ADS_1


Edward terus saja memantau ponselnya untuk menunggu kabar dari Victor. Bukannya ia tak mau untuk turun tangan langsung mencari Elli, namun ia harus menjaga adik dan papanya karena ia khawatir kalau Elli hanya digunakan sebagai pancingan saja. Sedangkan target utamanya adalah adik dan papanya, itu yang sedari tadi dipikirkannya.


Mata Edward melotot tak percaya saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Victor yang menginformasikan bahwa Elli dibawa oleh anak buah dari Dendi Abigael Niclow. Dia sudah tahu siapa Dendi itu yang tak lain adalah paman dari istrinya itu. Walaupun Elli tak memakai marga keluarga dan belum menceritakan tentang keluarganya, namun itu bukanlah hal sulit bagi Edward untuk mengetahui semua tentang keluarga istrinya.


Ada pancaran khawatir dan takut di mata Edward saat Elli dibawa oleh pamannya itu karena sudah dipastikan akan menyangkut tentang kekuasaan kalau sudah berurusan dengan keluarga itu.


"Semoga Elli tetap berpihak padaku" batin Edward penuh harap.


***


Setelah Reno kembali dari membeli sarapan, Edward segera saja pergi untuk menyusul Elli karena Victor sudah menemukan dimana tempat tinggal paman dari istrinya itu. Sedangkan Reno akan tetap tinggal di rumah untuk menjaga Alika dan Papa William. Namun saat mobilnya hendak keluar dari halaman rumah, ada sebuah taksi yang berhenti tepat di depan rumah Elli. Edward segera saja melihat siapa yang datang dan ia sangat terkejut kala yang keluar dari taksi itu adalah istrinya, Elli. Edward mematikan mesin mobilĀ  kemudian bergegas keluar dari mobilnya untuk mendekat ke arah Elli.


"Bapak suami..." seru Elli.


Elli yang melihat Edward keluar dari mobilnya segera saja memanggil dan berlari ke arah suaminya. Dengan masih membawa tas belanja, Elli memeluk Edward dengan erat. Edward yang dipeluk pun memeluk balik istrinya itu dengan memberikan kecupan-kecupan kecil di pucuk kepala istrinya.


"Aku pikir nggak akan ketemu sama bapak suami lagi" gumam Elli lirih namun masih terdengar oeh Edward.


"Lain kali, ponsel jangan ditinggal entah kemanapun kamu akan pergi karena dengan ponsel itu aku akan dengan mudah melacak keberadaanmu" nasehat Edward.


Elli yang mendengar hal itu tentu saja menganggukkan kepalanya patuh kemudian melepaskan pelukannya dari Edward. Ia memandang dalam mata Edward yang terlihat kalau dia sangat khawatir dengannya.


"Maafkan aku sudah membuatmu dan yang lainnya khawatir. Oh ya... Alika dan papa udah sarapan belum? Aku tadi belum sempat berbelanja banyak tapi malah udah dibawa sama orang-orang itu" seru Elli dengan mengomel.


Bahkan Elli menunjukkan isi dari keranjang belanjanya yang baru ada bawang merah, bawang putih, dan cabai saja.


"Kamu tenang saja, mereka sudah sarapan. Sekarang ayo masuk, papa dan Alika sedari pagi menunggu kepulanganmu" ajak Edward dan diangguki oleh Elli.


Edward berjalan masuk ke dalam rumah dengan Elli yang menggandeng lengannya erat. Elli melangkah dengan cepat membuat Edward harus melangkahkan kakinya lebih lebar demi menyeimbangkan langkah kaki istrinya.

__ADS_1


"Alika... Papa..." seru Elli.


Alika dan Papa William yang tengah makan pun seketika saja menolehkan kepalanya ke arah suara seorang gadis yang sedang memanggilnya.


"Kakak..." seru Alika.


Alika berdiri kemudian berlari dan memeluk Elli dengan eratnya. Tak kalah antusiasnya, Elli juga memeluk Alika dengan erat. Setelah melepaskan pelukan keduanya, Elli mendekat ke arah Papa William untuk mencium punggung tangan sang papa.


"Kamu kemana saja, nak? Kami khawatir" tanya Papa William.


"Diculik om-om genit, papa" jawab Elli dengan asal.


Papa William yang tahu kalau Elli menjawab dengan asal pun hanya geleng-geleng kepala saja. Kemudian mereka sarapan bersama dengan menu yang sudah dibelikan Reno tadi. Edward dan Reno memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini.


***


Kini Edward dan Elli berada di ruang makan hanya berdua saja karena yang lainnya tengah beristirahat di kamar. Mereka ingin membicarakan tentang kejadian penculikan hari ini.


"Apa yang diminta pamanmu terhadapmu?" tanya Edward.


"Kamu tahu?" tanya Elli dengan tatapan penasaran.


"Ya, aku tahu kalau yang menculikmu adalah pamanmu sendiri" jawab Edward.


"Dia memintaku untuk mencari semua kelemahanmu dan memberikan informasi kepadanya" ucap Elli.


"Lalu?" tanya Edward menanti penjelasan lebih detail.


"Oh... Ya jelas, aku menolaknya dengan tegas" jawab Elli dengan bangga.

__ADS_1


Edward hanya tersenyum tipis saat mendengar jawaban Elli dan melihat tingkah Elli yang begitu sombongnya. Pikiran buruknya tentang Elli yang lebih memilih keluarganya ternyata sangat salah. Ia berharap Elli akan terus berada disampingnya.


__ADS_2