
Edward dan Elli segera saja berlari setelah sadar dari keterkejutannya disusul oleh Reno yang mendorong kursi roda milik Papa William. Saat sampai di depan kamar, mereka segera saja masuk ke dalam dan terlihat keadaan kamar yang sudah sangat berantakan. Buku-buku berserakan, bantal dan guling jatuh dilantai bahkan ada pecahan gelas disana sedangkan Alika terduduk diatas kasur sambil menangis dan menjambak rambutnya sendiri.
"Alika" seru Elli yang kemudian mendekat ke arah sang adik ipar dengan hati-hati agar tidak terkena pecahan gelas.
"Jangan mendekat... Tolong... Ampun..." seru Alika yang terus menjambak rambutnya hingga beberapa helainya terlepas saat ia mengetahui kalau ada orang yang akan mendekatinya.
"Jangan dijambak rambutnya, dek" ucap Elli dengan lembut seraya menarik Alika masuk dalam pelukannya.
Edward dan Reno yang ada disana segera membantu melepaskan jambakan tangan Alika dari rambutnya. Begitu susah, karena Alika begitu erat menjambak rambutnya hingga mereka benar-benar harus hati-hati agar tak menyakiti sang empu.
"Lepas ya, dek. Nanti rambut kamu botak kaya upin ipin lho" ucap Elli sambil mengucapkan kata-kata penenang dengan sedikit bercanda.
"Jangan sakiti Alika..." lirih Alika di dalam pelukan Elli.
"Nggak akan ada yang nyakitin Alika. Ada kak Edward, kak Reno, Papa, dan kak Elli yang akan selalu jadi superheronya Alika" ucap Elli sambil terus mengelus punggung adik iparnya dengan lembut.
Dengan perlahan Alika mulai tenang karena pelukan dan elusan tangan Elli di punggungnya yang begitu nyaman membuat tangan yang digunakan untuk menjambak rambutnya melemah. Edward dan Reno memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan tangan Alika dari rambutnya. Papa William yang sedari tadi melihat kejadian kambuhnya trauma Alika seperti ini sungguh sangat sedih. Ia merasa gagal melindungi anaknya sampai saat ini pun ia merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa untuk anaknya itu. Papa William seketika saja mengingat kejadian dulu saat dirinya mengalami kecelakaan hingga lumpuh seperti saat ini.
Flashback On...
3 tahun yang lalu...
Perusahaan keluarga Serant yang dikelola keluarganya masih saja tak mengalami peningkatan yang begitu signifikan sehingga banyak penerusnya yang memilih membangun usahanya sendiri dibandingkan harus membangkitkan perusahaan keluarga. Namun pilihan berbeda di ambil oleh anak kedua dari penerus keluarga Serant yaitu William Adiguna Serant, William saat itu berhasil menjadi seorang pebisnis sukses bahkan namanya tengah melambung karena gebrakan barunya yang membangun bisnis properti secara bersamaan di 8 negara besar. Pembangunan hotel dan villa besar-besaran itu tak menggunakan manusia sebagai pekerjanya melainkan menggunakan sebuah teknologi robot manusia yang berhasil diciptakannya. Hanya dalam kurun waktu 2 tahun saja perusahaan itu sudah menguasai seluruh pasar Asia dan Eropa.
__ADS_1
Melihat kesuksesan dari seorang pebisnis tentunya membuat pebisnis lain iri dan ingin menjatuhkan seorang William yang saat itu sedang diatas angin. Semua orang berbondong-bondong ingin melakukan kerjasama dengan Perusahaan Serant Group, namun William tentunya sangat selektif dalam memilih partner kerja. Banyak pebisnis yang ingin dan bahkan terang-terangan mengajak William berbisnis kotor, namun William tetap pada pendiriannya untuk menolak. Bahkan ia tak segan-segan memblacklist nama perusahaan yang pemimpinnya melakukan hal-hal licik.
Akibat sikapnya itulah membuat para pebisnis lain marah dan ingin menghancurkan William dengan mencari kelemahannya. Komplotan pebisnis kotor itu melakukan rencana penculikan pada istri William yang sangat dicintainya yaitu Mama Amber.
***
Malam itu di tengah derasnya hujan, Mama Amber pulang dari kediaman orangtuanya dengan melajukan mobilnya sendirian tanpa adanya bodyguard yang mendampingi. Saat itu juga ditengah malam, mobilnya diikuti oleh beberapa mobil hitam dan saat menuju jalanan yang terlihat sepi mobilnya dihadang oleh mereka.
"Astaga... Ada apa ini? Mana jalanan juga sepi lagi" panik Mama Amber saat melihat orang-orang berbaju hitam turun begitu banyaknya dari dalam mobil.
Mama Amber yang panik pun seketika menghubungi suaminya namun sedari tadi tak diangkat begitupula dengan anaknya Edward.
"Ini orang-orang pada kemana sih?" panik Mama Amber sambil mengunci semua pintu dan jendela mobil.
Brakkk... Brakkk...
"Turun" bentak salah satu dari kawanan orang berbaju hitam itu.
Mama Amber melihat ke sekeliling luar mobilnya yang ternyata sudah dikepung oleh banyak orang-orang berbaju hitam membuatnya benar-benar ketakutan.
Brakkk... Brakkk...
Orang-orang berbaju hitam itu mencoba untuk memecahkan kaca jendela depan dan samping agar orang yang di dalam mobil mau keluar. Karena sudah terdesak, akhirnya dengan pasrah Mama Amber keluar dari mobil kemudian dibawa oleh orang-orang berbaju hitam itu. Beruntungnya sebelum turun Mama Amber sempat menyembunyikan sebuah chip di dalam saku celananya agar suami dan anaknya mudah untuk melacak keberadaannya.
__ADS_1
***
Sedangkan di mansion...
Alika yang sedang demam menjadi perhatian Papa William dan Edward untuk menjaganya sehingga tak sempat mengecek ponsel mereka. Setelah Alika tidur, akhirnya Papa William dan Edward baru sadar kalau istri atau mama mereka kini tengah diculik orang tak dikenal setelah membuka ponselnya.
Edward yang saat itu berumur 20 tahun dengan sigap meretas keberadaan mamanya, sedangkan Papa William menyuruh beberapa bodyguard untuk bersiap. Malam itu juga mereka akan pergi untuk menyelamatkan Mama Amber dengan lokasi yang sudah didapatkan oleh Edward.
Edward bersama Reno dan beberapa bodyguard berangkat terlebih dahulu karena saat tadi Papa William akan berangkat ternyata Alika terbangun dan tak mau lepas darinya bahkan demamnya semakin tinggi. Akhirnya mau tak mau Papa William memutuskan untuk membawa anaknya ke rumah sakit dulu.
"Ed, kalian berangkatlah dulu. Papa akan membawa Alika ke rumah sakit karena demamnya bukannya menurun malah semakin tinggi" panik Papa William.
"Bawa beberapa bodyguard, pa" saran Edward.
"Nggak usah, Ed. Mending semua bodyguard ikut bersama kalian karena pasti disana banyak sekali orang yang harus mereka lawan" tolak Papa William.
Edward yang mendengar itu pun hanya pasrah walaupun didalam hatinya ada perasaan tidak tenang.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tanpa diduga ada beberapa mobil yang mengikuti mobil yang dikendarai Papa William. Hingga akhirnya di malam yang dingin sehabis hujan itu, Papa William melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran beberapa mobil yang mengikutinya. Namun naas, mobil yang ditumpanginya hilang kendali karena jalanan yang licin kemudian menabrak pohon besar.
Saat mobilnya berhenti karena bertabrakan dengan pohon, kakinya ternyata terjepit dengan bagian depan mobil. Beruntungnya kondisi anaknya baik-baik saja karena di saat sebelum mobil menabrak pohon, Papa William sempat memeluk Alika yang tidur di samping ia mengemudi agar tubuhnya tak terkena pecahan kaca. Di tengah-tengah kesadarannya, Papa William melihat ada beberapa orang berbaju hitam yang mendekati mobilnya lalu membuka pintu mobil. Ia juga melihat Alika dibawa, setelahnya kesadarannya menipis dan ia pingsan.
Saat dirinya terbangun, Papa William sudah berada di rumah sakit dengan keadaan linglung dan divonis dokter kalau kakinya mengalami kelumpuhan. Tak hanya itu saja, saham perusahaannya turun akibat berita mengenai dirinya cacat dan tak bisa mengurus perusahaan lagi.
__ADS_1
Flashback Off...