Istri Sempurna Untuk CEO Kejam

Istri Sempurna Untuk CEO Kejam
First


__ADS_3

Semua orang yang tinggal di mansion ini sedang beristirahat setelah tadi melaksanakan makan malam bersama. Tadi di meja makan suasananya sangat canggung dan mencekam, terlebih Edward dan Papa William yang menampilkan wajah datarnya. Bahkan Alika yang biasanya ceria pun tiba-tiba menjadi pendiam. Hanya Elli yang berusaha mencairkan suasana malam itu dengan guyonan recehnya.


Ketika Mama Amber dan Noura ingin meminta maaf dengan Papa William dan Alika, Elli mencegahnya karena menurutnya malam itu belum tepat. Elli meminta keduanya untuk meminta maaf keesokan harinya agar Papa William dan Alika bisa istirahat dulu untuk malam ini. Keduanya pun menyetujui apa yang diucapkan oleh Elli.


Kini Elli tengah berdiri sambil memandang langit malam yang bertaburan bintang di balkon kamar Edward. Edward tengah berada di kamar mandi. Sampai saat ini Elli masih tidak menyangka berada di titik seperti ini, dulunya yang hanya anak terbuang tapi sekarang mendapatkan keluarga yang menyayanginya. Bonusnya lagi mendapatkan suami seperti Edward di umur yang masih menginjak 21 tahun.


"Terimakasih Tuhan, dibalik kepahitan hidupku ternyata Kau masih baik padaku" gumamnya sambil tersenyum.


Karena terlalu asyik memandangi langit malam, Elli sampai tak sadar kalau ada suaminya yang tengah berada di belakangnya. Edward tiba-tiba saja memeluk istrinya itu dari belakang dengan erat membuat Elli terkejut. Namun saat mencium bau badan orang yang dikenalinya, Elli segera mengenali siapa yang memeluknya kini.


"Kenapa tidak masuk ke dalam? Disini dingin" tanya Edward.


"Enggak kok soalnya ini udah diangetin sama pelukan suami" ucap Elli dengan terkikik geli.


"Mau tahu nggak biar malam ini bisa tambah anget?" tanya Edward.


"Apa itu?" tanya Elli dengan tatapan polosnya.


Entah ini Elli yang pura-pura tidak tahu atau polos beneran karena tatapan mata istrinya itu benar-benar menyiratkan rasa penasaran. Padahal biasanya dia selalu menggoda suaminya itu mengenai hal seperti ini.


"Sini deh..." ucap Edward.


Edward melepaskan pelukannya kemudian menggandeng tangan istrinya untuk masuk kedalam kamar. Edward bergegas untuk mengunci pintu balkon kemudian menarik istrinya ke ranjang tempat tidur. Elli yang melihat ini hanya mengernyitkan dahinya heran.


"Maksudnya diangetin tuh diselimutin?" tanya Elli dengan mata menatap kearah Edward.


"Berbaringlah" titah Edward.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Elli, Edward menyuruh istrinya itu berbaring diatas tempat tidur. Dengan patuhnya, Elli berbaring diatas tempat tidur bagian tengah kemudian gadis itu menatap suaminya yang kini tengah menahan tawa. Elli menyipitkan matanya dengan tatapan menyelidik kearah Edward.


"Kamu mau ngerjain aku ya?" tuduh Elli.


Edward segera saja menyusul Elli keatas tempat tidur. Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Edward segera menindih tubuh Elli sehingga kini posisinya berada diatas.


Deg...


Kini jantung Elli berdegup begitu kencangnya saat suaminya berada diatas tubuhnya. Kini ia paham dengan maksud perkataan suaminya tentang kata anget. Ternyata yang dimaksud adalah hubungan intim suami istri. Wajahnya kini merona dengan degup jantung yang berdebar begitu gilanya.


"Sekarang udah tahu kan tentang maksud diangetin itu apa?" goda Edward sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Tanpa menjawab apapun, wajah merona kemerahan Elli sudah menggambarkan jawaban dari gadis itu. Bahkan kini Elli hanya bisa memalingkan wajahnya dari Edward karena malu ditatap begitu intens oleh suaminya. Tangan kanan Edward seketika berada di pipi istrinya itu kemudian mengalihkannya agar bisa fokus menatapnya.


"Malam ini, aku meminta kepada istriku yang tercinta ini untuk memberikan hakku yang seharusnya aku ambil di malam pertama pernikahan. Bolehkah, sayang?" tanya Edward dengan penuh harapan.


"Pelan-pelan ya, kata orang kalau pertama kali melakukan itu bakalan sakit" ucap Elli dengan pipi yang merona.


"Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan karena aku pun tak tega melihat istriku kesakitan" jawab Edward dengan lembut.


Perkataan lembut Edward ini membuat Elli seketika saja terpana, namun dengan tiba-tiba ia memicingkan matanya kearah suaminya itu.


"Kamu berkata lembut kaya gini bukan karena akan dapat hak kan? Awas aja ya kalau setelah aku kasih apa yang aku punya, kamu ninggalin dan berpaling ke perempuan lain. Aku potong-potong tuh sosis kamu lalu aku buang ke penangkaran buaya" ancam Elli.


Edward yang mendengar hal itu segera saja menutup area pribadinya dengan satu tangannya sambil bergidik ngeri. Istrinya ini kalau sudah mengancam membuat sekujur tubuhnya jadi merinding dan ngilu.


"Nggak akan, sayang. Cintaku dan seluruh tubuhku hanya milik istriku yang cantik ini" goda Edward membuat Elli tersenyum malu.

__ADS_1


Saat Elli masih fokus dengan pikirannya, Edward seketika saja mendekatkan wajahnya kearah muka istrinya. Edward menempelkan dahinya ke dahi istrinya kemudian perlahan mendekatkan bibirnya. Kedua bibir itu menempel kemudian Edward memagut bibir istrinya dengan lembut membuat Elli memejamkan matanya. Edward terus menyesap dan ******* bibir istrinya seperti sedang menikmati sebuah permen. Begitupun Elli yang mencoba untuk mengimbangi gerakan bibir Edward. Walaupun begitu kaku, namun gadis itu mencoba sesuai nalurinya saja agar Edward juga nyaman.


Elli membuka mulutnya agar suaminya itu bisa mengeksplor yang ada didalamnya. Keduanya saling bertukar saliva dan membelit lidah, mengabsen setiap buah gigi dengan begitu lama sampai akhirnya mereka melepaskan pagutan itu setelah hampir kehabisan nafas.


Hah... Hah... Hah...


Keduanya terengah-engah kemudian meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk melegakan nafas yang ada di paru-parunya. Mereka berdua merasakan sensasi yang begitu berbeda karena keduanya baru merasakan hal ini untuk pertama kalinya.


"Ternyata beradu bibir itu enak apalagi sama istri sendiri" ucap Edward dengan masih terengah-engah.


Elli yang mendengar ucapan Edward itu hanya bisa merona malu, apalagi ini juga merupakan pengalaman pertamanya dan diberikannya pada suaminya sendiri.


"Jangan malu-malu seperti itu karena kita akan melakukan adu bibir setiap hari dan setiap jamnya" ucap Edward.


Elli yang mendengar hal itu seketika saja mencubit perut Edward dan memelototkan matanya. Bagaimana bisa adu bibir setiap jam, ada-ada saja ulah suaminya ini.


"Awww... Sakit, sayang" ucap Edward dengan manja.


"Rasain" ucap Elli dengan acuh tak acuh.


"Sekarang waktunya hidangan sesi selanjutnya, sayang" ucap Edward dengan menggoda.


Elli yang mendengar itu segera saja memalingkan wajahnya dan menutup matanya. Bahkan kini kedua tangannya memegang erat lengan Edward. Melihat tingkah Elli seperti itu tak membuat Edward berhenti.


"Rileks, sayang" bisik Edward dengan suara serak basahnya.


Kemudian Edward mengecup kedua mata istrinya dan...

__ADS_1


__ADS_2