
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di sebuah rumah sakit terbesar yang ada di kota itu. Dua orang laki-laki dan satu wanita turun dari mobil itu. Mereka adalah Edward, Elli, dan Kakek Ronald. Elli memutuskan untuk membawa kakeknya itu ke rumah sakit agar bisa diperiksa keadaan seluruhnya. Terlebih dari informasi yang didaptkan dari maid tadi bahwa Kakek Ronald tak pernah mau diperiksa oleh dokter, hanya mau minum obatnya saja.
Padahal kondisi pasca minum obat apakah bereaksi dengan baik atau tidak harus diperiksa secara keseluruhan. Memang dasarnya sudah tua dan jauh dari semua anaknya membuat dia hanya seenaknya saja dalam mengurus dirinya sendiri. Salahnya juga yang menyakiti anak-anak dan cucu-cucunya sehingga ditinggalkan oleh semuanya.
"Hei... Kau tak ingin menggandeng laki-laki tua ini?" seru Kakek Ronald.
Pasalnya Elli menggandeng tangan suaminya kemudian berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Kakek Ronald. Mendengar hal itu, Elli berhenti sejenak kemudian menengok kearah belakang dan melihat kakeknya tengah memberengut kesal. Elli yang melihat kakeknya seperti itu langsung menampakkan wajah julidnya.
"Ngapain juga gandeng kakek kalau suamiku sendiri nganggur tangannya. Lagi pula nih kakek, sandal aja ada gandengannya lho masa kakek nggak ada" ucap Elli dengan tengilnya.
Tanpa mempedulikan kakeknya yang terus mengumpatinya dibelakangnya, Elli segera menarik Edward memasuki area rumah sakit. Banyak orang yang menundukkan kepalanya saat mereka berjalan, ah lebih tepatnya kearah Kakek Ronald. Siapa yang tak mengenal pria paruh baya yang usianya sudah menginjak diatas 60 tahun namun masih mempunyai badan bugar dan tegap seperti itu? Semua orang bertanya-tanya mengapa pebisnis sukses itu berada di rumah sakit ini bersama dua orang yang tak dikenal.
"Kalau suatu saat kamu menampakkan wajahmu didepan publik, aku tak mau jika kamu sering keluar rumah" ucap Elli dengan sinis.
"Kenapa, sayang?" tanya Edward dengan heran.
"Aku tak mau kau jadi pusat perhatian semua orang. Lihat tuh... Mereka saja melihat kakek yang sudah tua dengan tatapan lapar karena tahu kalau yang lewat adalah pengusaha kaya, apalagi kamu yang masih muda" kesal Elli.
"Mau berapapun banyak orang yang memandangku atau terpesona denganku, yang penting adalah hatiku hanya untukmu" ucap Edward dengan senyuman tipisnya.
Kedua pipi Elli begitu merona merah saat mendengar ucapan dari suaminya. Mereka berdua terus mengobrol tanpa menghiraukan Kakek Ronald dan area sekitar.
"Dasar tidak tahu malu, mesra-mesraan di rumah sakit" gerutu Kakek Ronald.
__ADS_1
Ketiganya terus berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang menyapa Kakek Ronald. Setelah lumayan jauh berjalan, sampailah mereka di depan sebuah ruang medical check up. Edward tadi sudah menghubungi pihak rumah sakit terlebih dahulu sebelum datang sehingga mereka tak perlu mengantri.
"Silahkan Tuan Ronald" ucap salah satu petugas mempersilahkan Kakek Ronald untuk masuk.
Edward dan Elli duduk didepan ruangan itu menunggu selesai Kakek Ronald melakukan pemeriksaan kesehatan. Mereka berdua saling bermanja-manjaan tanpa melihat situasi disana yang membuat siapapun iri.
"Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan dengan keluargamu?" tanya Edward sambil memainkan rambut istrinya itu.
"Aku akan menyatukan mereka semua. Setelahnya aku ingin hidup bahagia bersamamu" ucap Elli dengan senyuman manis.
"Ya, dengan anak-anak kita juga nantinya" ucap Edward.
Elli menganggukkan kepalanya antusias, dia sudah tak sabar bisa bermain dengan anak-anaknya nanti. Namun mengingat hal itu, Elli masih menunggu datangnya keajaiban yaitu segera diberikan bayi kecil didalam rahimnya. Saat keduanya masih bermanja-manja ria, tiba-tiba saja tak jauh dari mereka ada sebuah keributan. Elli dan Edward yang awalnya tak mempedulikan kejadian itu akhirnya segera saja mendekat kearah keributan itu karena nama pemilik rumah sakit ini disebut. Rumah sakit ini adalah milik Keluarga Serant.
"Mohon maaf, ibu. Kami hanya bisa melakukan penanganan dengan adanya uang pemeriksaan dokter" ucap salah satu petugas administrasi.
"Tapi saya belum punya uang, saya saja kesini hanya bawa badan dan anak saya" ucap ibu itu sambil menangis.
"Makanya kalau nggak punya uang, bawa saja anaknya ke puskesmas. Jangan kesini" ketus petugas administrasi itu.
"Dimana pemilik rumah sakit ini? Saya mau bertemu untuk meminta keringanan" seru ibu-ibu itu.
Banyak orang yang berkerumun menyaksikan perdebatan itu. Tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menolong sepasang suami istri itu agar anaknya segera mendapatkan pelayanan karena memang rata-rata pengunjung rumah sakit itu adalah pengusaha. Namun dari dulu Edward selalu memerintahkan Reno untuk menginformasikan bahwa rumah sakit ini dibangun untuk umum dan melayani seluruh kalangan masyarakat tanpa dibeda-bedakan.
__ADS_1
Edward dan Elli benar-benar kesal dengan ucapan dari petugas administrasi tersebut. Sepertinya Edward harus merobek mulut pegawainya agar tak bisa berbicara sembarangan.
"Ada apa ini?" tanya Edward dengan suara rendahnya.
Semua orang segera memberikan jalan untuk Edward dan Elli untuk memasuki kerumunan itu karena aura yang mereka keluarkan begitu membuat semua orang bergidik ngeri.
"Ini tuan, nona... Ibu dan bapak ini ingin anaknya diberikan penanganan tanpa memberikan biaya pemeriksaan" ucap petugas administrasi dengan angkuhnya.
Elli dan Edward yang melihat hal itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap datar semua petugas administrasi yang memasang wajah angkuhnya. Sedangkan orangtua dari pasien anak itu tengah menangis karena tak bisa memberikan penanganan terbaik untuk anaknya.
"Setahu saya, rumah sakit ini mengedepankan rasa kemanusiaan dalam penanganannya. Ternyata pada praktiknya tak seperti itu" sindir Elli dengan geleng-geleng kepala.
"Cepat lakukan penanganan pada anak ini, semua biayanya saya akan tanggung" sentak Edward.
Mendengar sentakan Edward tentunya membuat semua orang yang ada disana terkejut bukan main. Salah satu petugas yang ada disana segera memanggil perawat untuk memasukkan pasien ke ruang UGD. Waaupun mereka tak tahu siapa orang yang menyuruhnya, namun dilihat dari pakaiannya saja semua orang tahu kalau dia orang berpengaruh.
"Terimakasih tuan, sudah membantu kami" ucap ibu itu dengan mata berkaca-kaca.
Edward menganggukkan kepalanya kemudian mereka pergi ke ruang UGD mengikuti brankar pasien. Sedangkan orang-orang yang berkerumun tadi sudah membubarkan diri karena takut dengan wajah Edward.
"Apa yang akan kamu lakukan pada orang-orang itu? Kamu takkan membiarkan hal itu begitu saja kan?" tanya Elli penasaran.
"Tentunya sebuah hadiah yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup" ucap Edward sambil tersenyum smirk.
__ADS_1