
Keesokan harinya, rumah Elli nampak ramai dengan keseruan-keseruan yang terjadi di pagi hari. Elli membangunkan semua orang yang ada di rumahnya dengan teriakan maha dahsyatnya. Bahkan Alika dengan cerdasnya menirukan semua tingkah laku Elli.
Teng... Teng... Teng...
"Bangun... Bangun... Ayo bangun, sholat shubuh dulu, sebelum nanti kamu disholatkan" seru Elli sambil memukul-mukul spatula dengan panci yang dibawanya.
Teng... Teng... Teng...
"Bangun" seru Alika sambil memukul pancinya dengan centong nasi mengikuti arahan dari Elli sambil tertawa ceria.
Memang kedua bersaudara itu dengan kompaknya bangun pagi untuk membangunkan seisi rumah, tentunya dengan Elli yang menjadi pengusungnya sedangkan Alika hanya menurut saja.
"Bapak Edward, Bapak Reno... Ayo bangun" seru Elli dengan menggedor-gedor pintu kamar yang ditempati oleh Edward.
Dugh... Dugh... Dugh...
Sedangkan Edward berada di kamar dan Reno berada di ruang tamu yang mendengar suara gaduh itu segera saja terbangun dengan keadaan linglung. Biasanya mereka akan bangun jam 7 pagi setiap harinya. Ini merupakan rekor terbaru mereka yaitu bangun jam setengah 5 pagi.
"Astaga... Bisa gila jika aku tidur serumah dengan manusia jadi-jadian itu" gumam Reno mendengar suara gaduh dari bunyi pukulan dan teriakan.
"Bapak Edward... Ayo bangun buruan" seru Elli yang masih terus menerus menggedor pintu kamar karena orang yang dibangunkan belum juga menampakkan batang hidungnya.
Ceklek...
Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu sedari tadi membuka pintu juga dengan menampakkan wajah sehabis bangun tidurnya yang terlihat sangat seksi di mata Elli.
"Woowwww... You are so sexy, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan pagi-pagi gini udah dapat pemandangan yang indah" ucap Elli yang masih terpukau dengan pemandangan di depannya bahkan sampai melongo. Edward hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Elli.
"Kakak..." seru Alika seketika mengagetkan Elli yang masih saja terpaku dengan wajah Edward.
Alika langsung saja berlari ke arah Edward dan memeluknya erat. Edward terkejut saat mendengar seruan itu hingga ia tak sadar kalau Alika tengah memeluknya. Matanya berkaca-kaca, akhirnya setelah sekian lama tak ada kemajuan kini Alika sedikit demi sedikit membaik kesehatannya.
Semalam sebelum tidur, Elli mengajarkan Alika dengan mengenalkan semua keluarganya, ini dilakukan Elli agar Alika bisa mewaspadai mana orang baik dan mana orang jahat yang mengaku keluarganya.
__ADS_1
Flashback on...
"Alika, dengerin kakak ya. Kamu harus ingat ini kalau yang ada di rumah ini adalah keluarga Alika. Yang tadi badannya tinggi dan berjalan disamping kakak itu namanya kakak Edward, kakak Alika jadi Alika harus memanggilnya kakak. Dan yang selalu sama Alika, yang selalu duduk itu kamu bisa memanggilnya papa. Kalau yang satunya lagi yang selalu sama kakak Edward itu namanya Kakek Reno" ucap Elli yang memberi tahu pelan-pelan kepada Alika.
"Coba sekarang Alika bilang papa" lanjutnya dengan tersenyum lembut.
"Papa" seru Alika dengan bertepuk tangan ceria karena berhasil mengucapkan kata itu.
"Lalu yang tadi disamping kakak siapa ya?" tanya Elli dengan berpura-pura berpikir untuk memancing ingatan Alika.
"Emmm... Ka-kak" ucap Alika dengan ragu-ragu.
"Yeayyyyy... Alika pinter. Lalu yang selalu sama kakak itu siapa?" tanya Elli dengan senyum cerianya.
"Kakek" seru Alika dengan bertepuk tangan ceria membuat Elli seketika tertawa terbahak-bahak.
Elli sungguh ingin segera menantikan esok hari untuk melihat ekspresi dari Papa William, Edward, dan terutama Reno. Pasti mereka semua akan shock terutama Reno karena mendengar Alika menyebut panggilan untuk mereka. Hal sederhana yang sangat mereka nantikan selama ini. Hanya membayangkannya saja Elli sudah ingin tersenyum bahagia.
Flashback off...
Edward seketika saja memeluk balik Alika dengan eratnya dan mencium pucuk kepala adiknya, bahkan matanya berkaca-kaca. Ia begitu terharu ketika Alika mengenali dirinya sebagai kakak kandungnya, pasalnya selama ini Alika hanya terdiam saja jika melihat Edward.
"Terimakasih" ucap Edward sambil menatap Elli dengan lembut.
"Sama-sama" ucap Elli dengan tersenyum ceria.
"Ayo kita sholat shubuh" ajak Elli memecahkan adegan harus diantara kakak beradik itu dan diangguki oleh Edward.
Edward segera melepaskan pelukan Alika kemudian menuju ke kamar papanya untuk membantu mempersiapkan papanya agar ikut sholat shubuh berjamaah. Sedangkan Elli menarik tangan Alika untuk membantunya juga.
Semuanya berkumpul di sebuah ruangan yang cukup untuk mereka berlima sholat berjamaah. Mereka melaksanakan sholat berjamaah dengan khusuknya, bahkan Alika juga terdiam mengikuti gerakan sholat walaupun ia mungkin tak paham dengan apa yang dilakukannya.
Setelah sholat berjamaah, Alika dibantu dengan Elli melipat mukenanya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Papa William dan Reno.
__ADS_1
"Papa" seru Alika kemudian memeluk papanya yang terdiam di kursi roda.
"Pa-pa" ucap Papa William terbata-bata dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah ya Allah" syukurnya saat anak perempuannya bisa memanggilnya dengan sebutan yang sama seperti 5 tahun yang lalu.
Papa William memeluk erat Alika bahkan menciumi pipinya dengan bertubi-tubi membuat sang empu terkekeh geli.
"Sepertinya memang benar, Ed. Seperti kata dokter kalau lingkungan yang nyaman akan membantu mempercepat kesembuhan Alika. Dan rumah ini adalah tempat yang tepat untuk itu" ucap Papa William dan diangguki setuju oleh Edward.
"Kalau itu siapa, Alika?" tanya Elli sambil menunjuk ke arah Reno.
Alika yang masih memeluk papanya pun melepaskan pelukan mereka dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Elli.
"Emm... Kakek" seru Alika setelah berpikir cukup lama.
Mendengar seruan Alika seketika saja membuat Edward dan Papa William tertawa sedangkan Reno memberengut kesal.
"Bukan kakek, tapi kakak" ucap Reno dengan kesal.
"Kakek" ucap Alika lagi dengan mata mengarah ke Elli seperti meminta persetujuan.
Elli yang ditatap oleh Alika pun pura-pura tak tahu dan mengalihkan pandangannya. Reno yang melihat respons Alika seperti itu tentu saja menyimpulkan bahwa ini memang ajaran dari Elli untuk memanggilnya seperti itu. Reno seketika saja tak terima dan ingin membalas Elli.
Seperti mendapat sebuah alarm bahaya, Elli segera saja berlari menjauh dari mereka semua. Benar saja, Reno mengejar Elli dengan membawa sebuah sapu yang terdapat dalam ruangan sholat.
"Sini kamu, jangan lari" seru Reno mengejar Elli.
"Bukan... Bukan Elli yang ngajarin, kayanya Alika yang belibet lidahnya itu" seru Elli yang terus menghindar dari kejaran Reno.
"Nggak mungkin. Pasti ini ulahmu yang mengajari adikku seperti itu, akan ku balas kau nanti kalau ketangkap" seru Reno dengan terus mengejar Elli.
"Kaburrrr..." seru Elli dengan mencoba berkilah dari Reno.
__ADS_1
Sedangkan Alika yang melihat Elli dikejar oleh Reno seketika tertawa sambil bertepuk tangan ceria. Edward dan Papa William hanya geleng-geleng kepala melihat kejahilan Elli, namun itu membuat suasana pagi hari itu benar-benar hidup.