
Di ruang keluarga mansion terjadi ketegangan diantara Mama Amber, Noura, Alika, dan Papa William bahkan disana ada juga Victor. Tadi saat sarapan telah selesai, Mama Amber meminta kepada Papa William dan Alika untuk ke ruang keluarga. Dan disinilah mereka, kelima orang itu terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Bahkan Alika tak mau jauh dari kursi roda papanya sambil memegang erat tangan papanya. Ia masih ketakutan saat melihat dua orang wanita itu. Sedangkan Victor berada dibelakang Alika dan Papa William untuk menjaga keduanya. Mama Amber yang melihat itu masih memandang sendu kearah suaminya, ada tatapan kerinduan dan rasa bersalah yang terpancar didalam matanya.
"Ada apa kau sampai meminta kami untuk ke ruang keluarga?" tanya Papa William dengan nada datarnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Papa William, Mama Amber mendekat kearah suaminya itu kemudian berlutut didepannya. Bahkan Mama Amber mencium kedua kaki suaminya itu sambil menangis, hal itu membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terkejut.
"Maaf... Maafin mama, pa. Mama mohon ampun atas semua kesalahan mama. Papa dan Alika boleh hukum mama apapun itu. Ayo pa balas semua perlakuan mama dulu ke papa dan Alika..." ucap Mama Amber.
"Ayo pa, pukul mama hiksĀ Biar mama juga merasakan apa yang kalian rasakan dulu" lanjutnya sambil menangis.
Papa William terdiam dengan pikirannya sedangkan Alika sudah menahan tangisnya. Hatinya begitu lembut, walaupun sudah disakiti fisik dan batinnya namun saat melihat adegan kedua orangtuanya seperti membuat hatinya terenyuh.
"Bangun" titah Papa William dengan nada seraknya.
"Enggak... Sebelum papa maafin mama, mama aan terus seperti ini" kekeh Mama Amber.
"Bangun" sentak Papa William dengan nada tingginya membuat Alika yang berada disampingnya terkejut.
Karena terlalu terkejut, Alika sampai memundurkan langkahnya kemudian memeluk Victor dengan erat. Victor yang dipeluk pun segera mengelus punggung Alika dengan lembut, gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
__ADS_1
Mendengar nada tinggi suaminya, akhirnya Mama Amber bangun dari berlututnya kemudian berdiri sambil menundukkan kepalanya. Mama Amber tak berani untuk menatap kearah suaminya itu. Tanpa diduga-duga, Papa William menarik tangan istrinya sehingga Mama Amber memekik dan terduduk diatas pangkuannya. Mama Amber tersipu malu saat semua orang menatap kearahnya saat sedang dalam posisi intim seperti ini.
Sudah lama dirinya tak merasakan kenyamanan dan perlakuan seperti ini. Mama Amber segera merebahkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Walaupun sudah lama tak berolahraga, namun tubuh Papa William masih dalam kondisi ideal dan atletis.
"Ada satu syarat jika mama ingin dimaafin papa dan Alika" ucap Papa William.
"Apa, pa?" tanya Mama Amber dengan mendongakkan wajahnya menatap suaminya itu.
"Berubahlah menjadi pribadi yang lembut dan baik hati seperti dulu. Jagalah Alika dan Edward, kedua anak kita dengan sepenuh hati. Begitu juga rawatlah suamimu yang tak berguna ini" ucap Papa William dengan menatap istrinya.
Dengan cepat Mama Amber menganggukkan kepalanya dengan tegas. Syarat yang diberikan Papa William memang akan ia lakukan setelah mendapatkan maaf dari suami dan anaknya itu. Namun ia juga tak setuju saat suaminya mengatakan kalau dia tak berguna.
"Itu sudah berlalu, kita mulai semuanya dari awal" ucap Papa William dengan serius.
Keduanya berpelukan dengan eratnya, Papa William segera memberi kode kepada Alika untuk mendekatinya dengan melambaikan sebelah tangannya. Victor yang melihat itu segera menarik tangan Alika agar bisa mendekat kearah kedua orangtuanya. Setelah sampai didekat kedua orangtuanya, Papa William segera menarik tangan Alika untuk memeluk mereka. Dengan ragu-ragu, Alika memeluk kedua orangtuanya bahkan Mama Amber menangis saat anaknya itu masuk kedalam pelukannya.
Pelukan nan hangat dan erat itu benar-benar menjadi sebuah pemandangan yang mengharukan. Noura yang melihat kejadian itu dari awal hingga akhir merasa sangat terharu dan sedih. Sedih karena dia sudah tak bisa merasakan lagi pelukan kedua orangtuanya, bahkan disini ia hanya memiliki Mama Amber yang masih mau menerimanya.
"Noura..." panggil Mama Amber dengan lembut.
Noura yang sedari tadi menundukkan kepalanya pun akhirnya menegakkannya. Matanya melihat Mama Amber yang kini tersenyum kepadanya. Tangan Mama Amber memberi kode kepada Noura untuk mendekat kearahnya. Noura pun dengan perlahan mendekat kearah ketiga orang yang masih berpelukan.
__ADS_1
"Kau juga anakku, ikutlah berpelukan dengan papa dan adikmu ini" ucap Mama Amber.
Noura menangis haru kemudian memeluk Mama Amber, Alika, dan Papa William. Dia meminta maaf kepada paman dan juga adik sepupunya sampai berjanji untuk tidak akan pernah berbuat jahat lagi. Alika dan Papa William pun menganggukkan kepalanya, keduanya sudah ikhlas dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Bahkan kini perasaannya sudah lega karena pada akhirnya keluarganya bisa kembali utuh lagi.
Papa William pun menarik Victor yang masih berada didekat kursi rodanya untuk masuk kedalam pelukan semua keluarganya. Laki-laki kaku itu teramat canggung diperlakukan seperti ini oleh keluarga Serant. Namun untuk kali ini dirinya ingin egois dengan merasakan kehangatan sebuah keluarga.
***
Setelah adegan berpelukan itu, mereka semua kini duduk di ruang keluarga sambil melihat acara TV sambil ditemani cemilan yang tersisa di mansion itu. Elli memang belum banyak berbelanja untuk kebutuhan mansion, hanya kemarin saja dirinya membawa dari rumahnya untuk makan malam dan sarapan pagi ini.
"Kak Edward dan Kak Elli kemana sih? Kok jam segini belum kelihatan" gerutu Alika.
Semua orang yang mendengar ucapan Alika pun seketika mengernyitkan dahinya heran, ternyata mereka baru sadar kalau sedari sarapan tadi sepasang suami istri itu belum kelihatan. Namun Papa William dan Mama Amber hanya menahan senyumnya karena mereka berpikir bahwa di mansion mewah ini akan segera hadir penerus keluarga Serant.
"Udah biarin aja. Kedua kakakmu itu masih mencetak keponakan untuk kamu dan Noura" jawab Papa William dengan terkekeh pelan.
"Mencetak? Kok Kaya kue aja dicetak" ucap Alika dengan mengernyitkan dahinya heran.
Semua yang ada disana hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Alika. Tak ada yang menanggapi ucapan itu pasalnya nanti akan merembet kemana-mana pembahasan itu.
Sedangkan di sisi lain, kedua pasangan suami istri yang tengah dibicarakan itu masih menikmati tidurnya tanpa terganggu dengan cahaya yang masuk dari sela-sela korden kamar mereka. Keduanya masih saling memeluk erat satu sama lain bahkan menjelajah di alam mimpi dengan indahnya.
__ADS_1