
Petugas keamanan yang melihat adanya kerumunan dan keributan didepan halaman rumah sakit pun akhirnya mendatangi mereka. Terlihatlah lima orang perempuan yang tengah terduduk di aspal dengan tiga diantaranya berlutut didepan seorang wanita. Elli berdiri dengan angkuhnya dan menatap sinis kearah tiga orang wanita yang hendak memberikan tamparan ke pipi mulusnya. Beruntungnya sang suami dengan segera menangkisnya.
Kelima wanita itu meringis kesakitan akibat dari tendangan maut dari Elli dan Edward. Para petugas keamanan yang baru saja datang dan melihat hal itupun segera melerai semuanya karena bagaimanapun itu adalah lingkungan rumah sakit yang harus dijauhkan dari segala bentuk keributan.
"Jangan membuat keributan disini. Kami tidak tahu siapa yang salah dan memulai semuanya disini, tetapi saya minta untuk tidak membuat keributan di rumah sakit. Hal ini bisa mengganggu pasien yang sedang sakit" tegur salah satu petugas keamanan itu.
Petugas keamanan itu tak mau menuduh siapapun karena mereka tak melihat kejadiannya dari awal. Elli dan Edward menyingkir dari kelima perempuan itu kemudian memandang mereka sinis.
"Dia yang sudah membuat keributan lebih dahulu, pak. Kami ditendang bahkan diinjak tangannya" seru salah satu perempuan itu mengadu kepada petugas keamanan.
"Saya bukan tipe orang yang akan menyerang kalau dia tak memercikkan api kemarahan terlebih dahulu. Apalagi suamiku, dia adalah sosok pemimpin perusahaan yang takkan membalas perbuatan seseorang tanpa ada masalah terlebih dahulu" ucap Elli dengan sinis.
"Pemimpin perusahaan apa yang dengan tidak sopannya menginjak tangan seorang perempuan" ucap salah seorang wanita bernama Anin itu dengan menantang.
Memang sedari tadi diantara kelima perempuan itu, hanya Anin itulah yang berbicara dengan berani dan menantang bahkan terkesan merendahkan. Para penjaga keamanan yang sedari tadi melihatnya hanya bisa menghela nafasnya kasar saat keributan itu tak kunjung usai.
"Tunjukkanlah sayang, siapa dirimu itu sebenarnya" ucap Elli dengan nada manjanya.
Elli memang sengaja menyuruh Edward menunjukkan siapa jati dirinya sebenarnya agar semua orang tahu siapa yang lebih berkuasa disini. Terlebih disini ada jajaran petinggi rumah sakit yang juga ikut menyaksikan keributan itu. Edward juga sebenarnya dalam waktu beberapa minggu ke depan akan melaksanakan konferensi pers mengenai identitasnya dan juga keluarganya.
__ADS_1
"Sayang, aku malas jika nanti disini ada banyak penjilat yang tiba-tiba datang jika aku mengungkapkan identitasku disini" ucap Edward dengan acuh tak acuh.
"Sok banget sih, bilang aja kalau nggak punya kekuasaan. Pasti identitasnya juga hanya sebagai seorang gembel" ketus Anin.
Elli dan Edward benar-benar geram dengan mulut Anin yang tak punya etika dan sopan santun. Bukankah semua orang dihadapan Tuhannya itu derajatnya sama. Sepertinya memang benar apa kata istrinya kalau dirinya harus mengungkapkan identitas itu disini. Sedangkan semua orang yang melihat hal itu benar-benar penasaran dengan siapa orang yang ada dihadapan mereka yang berdiri dengan angkuhnya itu.
Edward mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan tulisan dari tinta emas. Semua orang yang melihat itu tentunya tercengang kaget, pasalnya hampir semua pengusaha tahu kalau yang mempunyai kartu itu hanyalah seorang pimpinan dari Perusahaan Serant Group.
Elli mengambil kartu itu dari tangan Edward kemudian menyerahkannya ke petugas keamanan untuk membacakannya. Elli dan Edward tak mau membacakan apa yang tertulis di kartu itu karena nanti pasti mereka berpikir hanya sebuah bualan saja.
"Kartu tanda pengenal pemimpin Perusahaan Serant Group. Edward Lion Serant dengan jabatan CEO Perusahaan" seru penjaga keamanan itu.
Kelima perempuan yang tadi membuat masalah dengan Edward dan Elli pun menunjukkan raut ketakutan terutama Anin. Sedangkan semua petinggi rumah sakit seketika terkejut karena pemilik Serant Group sekaligus rumah sakit ini benar ada disini. Baru kali ini semua orang melihat bagaimana rupa dari pemimpin tertinggi dari Perusahaan besar Serant Group itu. Elli yang melihat ekspresi semua orang hanya bisa terkekeh sinis.
"Cieeee... Yang katanya tulisan pekerjaan yang ada dikartunya sebagai gembel" sindir Elli.
Anin hanya bisa menundukkan kepalanya sembari merutuki kebodohannya karena telah berurusan dengan orang yang salah. Sedangkan keempat rekannya yang lain hanya bisa menyalahkan Anin didalam hati.
"Heiii... Kamu, lebih baik anda pulang ke rumah sebelum semua harta bendamu menjadi abu" ucap Edward dengan nada datarnya dengan menunjuk kearah Anin.
__ADS_1
Edward memperlihatkan layar ponselnya kearah semua orang. Terlihatlah sebuah video rumah terbakar dengan banyaknya warga yang berusaha memadamkan api yang sudah menjalar kemana-mana. Semua orang hanya terdiam dengan wajah bingungnya kecuali Anin. Anin benar-benar terkejut karena rumah yang mengalami kebakaran itu adalah rumah miliknya. Dia hanya bisa menangis karena rumah yang selama ini ia beli dengan hasil kerja kerasnya kini sudah hangus terbakar.
"Huuaaaaa rumahku. Dasar manusia tak berhati, iblis kalian. Aku tahu kalau dalang dari semua ini adalah kalian berdua. Saya akan melaporkannya ke polisi" seru Anin dengan menangis sambil menyalahkan Edward dan Elli.
"Silahkan saja laporkan kami ke polisi, toh anda juga tidak punya bukti. Nanti saya juga bisa melaporkan anda karena menyalahi aturan dari rumah sakit ini dengan menelantarkan pasien tidak mampu. Kita akan lihat siapa yang bakalan masuk penjara setelah ini. Makanya jangan suka menghina atau merendahkan oranglain" sinis Elli.
Elli segera menggandeng Edward dan Kakek Ronald untuk segera pergi dari area rumah sakit setelah mengambil kartu nama milik suaminya dari penjaga keamanan. Ketiganya berlalu menuju parkiran kemudian memasuki mobil hitam mewah itu. Sedangkan semua orang yang masih berkerumun itu hanya menatap kasihan kearah Anin yang masih terduduk sambil menangis.
Semua orang membubarkan diri tak terkecuali dari empat teman Anin. Anin masih menundukkan kepalanya dan merutuki kebodohannya karena sudah berani menantang pemimpin dari Perusahaan Serant Group. Kini dia sudah kehilangan pekerjaannya, bahkan rumahnya juga. Dia saat ini bingung harus melakukan apalagi demi masa depannya kelak.
***
Sedangkan didalam mobil hitam mewah yang kini melaju dijalan raya ini pun terjadi keheningan. Elli masih kesal karena suaminya dihina, sedangkan Edward tengah fokus dengan kemudinya.
"Kalian memang pasangan tak punya hati" sindir Kakek Ronald tiba-tiba.
"Bukankah itu menurun dari anda, pak tua? Bahkan anda jauh lebih kejam dari apa yang kami lakukan" sindir Elli.
Kakek Ronald hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan cucunya yang memang benar faktanya. Bahkan Kakek Ronald akan jauh lebih kejam untuk membalas seseorang yang menghinanya. Setelahnya tak ada perbincangan lagi karena fokus dengan pikirannya masing-masing. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah yang sangat Kakek Ronald kenali. Rumah dari kedua orangtua Elli atau anak perempuannya.
__ADS_1