
Elli berjalan menuju mobil milik Edward dengan langkah santai dan langsung memasukinya saat sudah berada tepat disamping mobil. Ia melihat Edward yang tadinya fokus menatap layar handphone segera saja mengalihkan pandangannya ke arah Elli yang baru saja datang. Setelah Elli duduk di kursi sampingnya dan memasang seatbealt, Edward segera menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Hanya ada keheningan di dalam mobil itu, Elli dengan pikirannya tentang kejadian tadi sembari mencuri-curi pandang ke arah suaminya dan Edward yang tengah fokus dengan kemudinya.
Edward yang tahu kalau Elli tengah mencuri-curi pandang pun hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh walaupun sebenarnya ia sangat penasaran.
"Kamu kenapa sedari tadi lirik-lirik saya? Apa ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Edward dengan nada datarnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Eh... Enggak" kaget Elli dengan sedikit gugup karena ketahuan telah mencuri-curi pandang padanya.
Edwrad yang mendengar jawaban Elli hanya diam saja tanpa merespons apapun lagi karena ia hanya ingin memberikan waktu kepada Elli untuk terbuka padanya. Kalaupun nanti ia sangat penasaran, pasti ia akan mencari informasinya sendiri.
***
Elli dan Reno telah sampai di rumah, Alika bahkan menunggu dengan tak sabaran di ruang tamu bersama dengan Papa William. Saat kedua kakaknya pulang, Alika segera saja berlari menuju ke arah keduanya lalu memeluk Elli dengan erat.
"Lho ini cuma kak Elli aja yang dipeluk? Kak Edward nggak dipeluk nih?" tanya Edward dengan wajah dibuat sedikit cemberut membuat Elli terkekeh geli, pasalnya wajah Edward menurutnya sama sekali tak cocok menunjukkan ekspresi seperti itu.
Alika yang mendengar hal itu seketika saja menatap Edward dengan tatapan polosnya membuat Edward gemas sendiri dengan adiknya itu. Karena tak tahan melihat kegemasan sang adik, ia pun menarik tangan Alika kemudian mencium pipi kirinya bertubi-tubi diikuti oleh Elli memberikan ciuman di pipi kanan Alika. Hal itu sontak saja membuat Alika tertawa lepas karena geli mendapatkan dua serangan bertubi-tubi dari kedua kakaknya.
Cup... Cup... Cup... Cup... Cup... Cup...
__ADS_1
"Hahahaha"
Sungguh pemandangan yang membahagiakan di mata Papa William yang melihatnya. Ia bersyukur mempunyai dua anak yang rukun, bahkan Edward sebagai seorang kakak sudah berhasil dalam menjaga adiknya dan memberikan kasih sayang yang banyak pada Alika. Ditambah dengan kehadiran Elli yang semakin membuat suasana dalam keluarga kecil ini semakin hidup walaupun tanpa seorang ibu yang mendampingi.
***
Elli kini tengah pergi ke taman bersama Alika yang tentunya diikuti oleh beberapa bodyguard yang menjaga mereka dari jauh, sedangkan Reno masih berada di kantor. Edward memilih untuk tidak ikut ke taman karena ingin menemani Papa William. Papa William untuk saat ini tak bisa dengan bebas keluar karena dulu sewaktu masih memimpin Perusahaan Serant Group, wajahnya pernah tersorot media walaupun hanya satu kali. Jadi untuk menghindari kemungkinan adanya media yang tahu mengenai kondisi Papa William akhirnya Edward memutuskan untuk tidak mengijinkan papanya itu keluar rumah. Bagaimanapun juga keadaan itu bisa saja dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab diluar sana.
Saat ini Edward dan Papa William tengah duduk di kursi teras rumah sambil menikmati suasana sore hari yang terasa tenang dan sejuk.
"Pa, ada yang ingin aku sampaikan" ucap Edward dengan sedikit hati-hati.
"Huft... Kemarin aku dan Reno ke mansion. Kami menemui mama" ucap Edward dengan sedikit ragu-ragu untuk mengatakan fakta yang sebenarnya.
"Mama bilang kalau Edward bukanlah anak kandung papa" lanjutnya dengan sedikit melirik ke arah papanya untuk melihat ekspresi wajahnya.
Namun melihat ekspresi wajah Papa William yang terlihat santai dan biasa-biasa saja, membuat Edward sedikit was-was.
"Ed, papa sudah tahu mengenai hal itu. Bahkan dulunya papa sempat melakukan test DNA antara papa dan kamu untuk membuktikan semuanya dan memang benar kamu bukan anak kandung papa. Papa sudah menyelidiki semuanya bahkan papa tahu siapa ayah kandungmu" ucap Papa Edward dengan menerawang jauh ke masa lalu.
__ADS_1
"Awal mula papa curiga kalau kamu bukan anak kandung papa karena melihat sebuah pesan masuk di handphone mamamu kalau mama meminta uang nafkah untuk membesarkan anaknya pada seorang laki-laki. Karena waktu itu anak kami baru kamu, makanya papa berinisiatif untuk melakukan test DNA" lanjutnya.
Edward yang mendengar hal itu tentu saja kaget dan tak percaya, bahkan dirinya sungguh tak menyangka dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Papa William yang kini tetap terlihat biasa saja.
"Papa nggak marah sama mama karena udah bohongin papa?" tanya Edward.
"Awalnya papa kecewa dan marah tetapi nasi sudah menjadi bubur. Papa mencintai mama kamu. Sempat papa berpikir untuk membenci kamu, namun melihat tatapan binar dan polos waktu kamu berumur 3 tahun waktu itu membuat papa menurunkan ego untuk menerima kamu sebagai anak papa. Kamu tak bersalah disini, yang salah adalah orang dewasa tapi tak bisa berpikir dewasa dalam menyelesaikan masalah. Bahkan papa tahu kalau mama menjebak papa untuk mendapatkan apa yang dia mau. Lagipula papa sudah berjanji kepada sahabat papa untuk menjaga mamamu. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah setelah kamu mengetahui kalau kamu bukan anak kandung papa, apakah kamu masih mau mengurusi orangtua cacat sepertiku dan juga adik tirimu itu?" tanya Papa William sambil menatap ke arah Edward dengan senyum lembutnya.
"Mau papa itu papa angkat ataupun papa tiri tapi bagi Edward, papa adalah papa kandung Edward karena selama ini papa yang selalu memberikan kasih sayang dan kehidupan yang layak bagi Edward. Papa sama sekali nggak pernah main tangan dan tak pernah membeda-bedakan antara aku dan Alika. Apapun yang terjadi Edward akan merawat dan menjagaa papa dan juga Alika untuk selamanya" ucap Edward dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih pa sudah menerima Edward dan merawat Edward selama ini. Edward sayang papa" lanjutnya yang kemudian memeluk papanya yang berada disampingnya duduk.
Papa William pun dengan segera membalas pelukan Edward tak kalah eratnya sambil menepuk-nepuk bahu Edward dengan lembut saat merasakan kala bahu Edward bergetar.
"Wah... Ada yang pelukan tapi nggak ngajak-ngajak nih" seru seseorang yang baru saja datang membuat suasana haru itu seketika hancur.
Edward dan Papa William segera saja melepaskan pelukan mereka kemudian melihat siapa orang yang mengganggu moment mereka berdua. Ternyata oh ternyata... Dia dalah Elli dan Alika yang saling bergandengan tangan sambil tersenyum dengan lebarnya setelah pulang dari taman. Benar-benar cocok sebagai kakak adik.
Tanpa aba-aba, Elli dan Alika segera masuk ke dalam pelukan Papa William yang kemudian Edward ditarik masuk juga dalam pelukan itu oleh Elli. Sungguh itu adalah pelukan yang sangat menghangatkan dan menyamankan hati keempatnya.
__ADS_1