
"Kau..." sentak Kakek Ronald dengan menggertakkan giginya.
Aura kemarahan benar-benar mendominasi area tubuh dari Kakek Ronald, sedangkan Elli hanya menatap santai saja. Elli pun tak berniat untuk meminta maaf kepada kakeknya itu karena tujuannya kesini untuk memberitahu Kakek Ronald bahwa dirinya bukan orang yang lemah. Dia akan melawan siapapun yang dengan beraninya mencoba menghancurkan keluarga suaminya. Dia juga akan mencoba untuk menyadarkan kakeknya itu tentang sikapnya terhadap keluarga kandungnya.
"Apa?" seru Elli sambil berkacak pinggang.
Elli benar-benar menantang kakeknya kali ini. Sepertinya kakeknya ini butuh bogeman mentah darinya agar segera sadar.
"Kakek itu ingat umur tidak? Sudah tua bukannya beramal dan baik hati ke semua orang malah sampai sekarang berbuat jahat terus terutama sama keluarga sendiri. Mama itu juga anak kakek, apa kakek nggak takut kalau almarhumah nenek menghantuimu karena menelantarkan anaknya? Bahkan mama selama ini juga nggak pernah meminta uang sepeserpun dari kakek. Mama nggak butuh perusahaan dan uang kakek, hidup sederhana jauh lebih membahagiakan daripada banyak harta tetapi setiap hari dikejar ketidakpuasan" ceramah Elli.
Kakek Ronald hanya terdiam saat mendengar ucapan Elli. Memang benar dirinya sangat jahat terutama kepada anak-anaknya. Anak sulungnya yang selalu ia tekan dan anak bungsunya yang selalu ia abaikan. Selama hidupnya bergelimang harta seperti ini, hatinya terasa kosong karena tinggal sendiri bahkan tak ada yang memberikan perhatian.
"Harusnya di umur kakek yang sudah segini, kakek bisa hidup tenang tanpa memikirkan pekerjaan dan duniawi. Kakek harusnya tinggal duduk manis sambil menikmati hasil kerja keras kakek selama ini dan bermain bersama cucu serta cicit" lanjutnya.
Elli mendekat kearah Kakek Ronald dengan perlahan diikuti oleh Edward dibelakangnya. Sedangkan Kakek Ronald terus saja melamun dengan tatapan kosongnya. Ada satu sisi di hatinya yang membenarkan ucapan Elli namun disisi lain ada sesuatu yang membuatnya harus menolak kenyataan itu.
Tiba-tiba saja Elli memeluk kakeknya itu membuat Kakek Ronald terdiam membisu. Bahkan dia merasa ada suatu kehangatan yang menjalar di hatinya saat mendapatkan pelukan dari cucu perempuan yang selama ini diabaikannya. Elli adalah cucunya yang banyak ia korbankan demi kepentingan bisnisnya, bahkan ia dengan percaya dirinya mempercayai ucapan rekan bisnisnya yang mengatakan bahwa mempunyai anak perempuan dan keturunannya akan membuatnya sial.
Edward pun mengikuti apa yang dilakukan oleh istrinya, tiba-tiba saja Kakek Ronald menitikkan air matanya. Mereka berdua adalah orang yang disakitinya dengan otak liciknya namun dengan hati yang tulus, keduanya mau memeluk orang yang menghancurkan kehidupannya.
"Maaf" ucap Kakek Ronald tiba-tiba.
Setelah sekian lama, akhirnya Kakek Ronald mengucapkan kata maaf yang bahkan sudah puluhan tahun tidak ia ucapkan. Bibirnya terasa kelu dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Papa maid dan bodyguard yang melihat itu seketika menjatuhkan rahangnya. Majikan mereka yang keras kepala bisa-bisanya mengucapkan kata maaf kepada cucu perempuannya, sungguh luar biasa.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja Kakek Ronald memegang dadanya bahkan nafasnya tersengal-sengal, Elli dan Edward segera memapahnya untuk duduk di kursi. Elli panik pasalnya dia tidak mengetahui tentang penyakit dari sang kakek yang bisa menimbulkan seperti ini.
"Sayang, jangan-jangan kakek diguna-guna lagi jadi langsung kaya gini" panik Elli.
"Jangan ngada-ngada, sayang. Nggak ada kaya gitu" ucap Edward.
Para maid dan bodyguard dengan sigap mengambilkan minum beserta obat yang biasa dikonsumsi oleh tuannya. Elli menerima obat yang diberikan oleh salah satu bodyguard kemudian menelitinya dengan seksama. Namun dengan cepat Kakek Ronald merebut hal itu dari tangan cucunya dan langsung meminumnya dengan sekali teguk.
"Akhirnya" gumam Kakek Ronald lega setelah meminum obat itu.
"Obat apa itu? Kenapa kakek tak membiarkanku melihatnya? Bagaimana kalau itu ternyata racun?" cerocos Elli.
"Cerewet sekali kau. Itu obat biar nggak cepat mati" kesal Kakek Ronald.
Para maid dan bodyguard hanya menganga tak percaya mendengar ucapan Elli yang begitu asal ceplos saja didepan majikannya. Dan ini pula majikannya itu selalu menanggapi ucapan Elli, pasalnya Kakek Ronald adalah tipe berbicara jika menyangkut hal penting saja.
"Dasar cucu sialan, mendo'akan kakeknya mati cepat" gerutu Kakek Ronald.
Tanpa mempedulikan ucapan Kakek Ronald, Elli dengan santainya memakan buah yang tersedia di meja makan. Bahkan terus menyuapi suaminya didepan kakeknya itu.
"Hei... Kalian ini kalau mau mesra-mesraan jangan didepan kakek" kesalnya.
"Lho kenapa? Kakek iri ya? Pengen ya, sana susul nenek ke alam baka" ucap Elli sarkas.
__ADS_1
Kakek Ronald hanya bisa mengelus dadanya sabar mendengar ucapan cucunya yang begitu sarkas dan asal ceplos terhadapnya. Karena terlalu kesal, akhirnya Kakek Ronald membiarkan saja cucunya itu melakukan apa.
"Ayo kita antar si tua bangka ini ke rumah sakit" ajak Elli pada suaminya setelah selesai memakan buah yang tersedia.
"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Kakek Ronald dengan tatapan bertanya.
Padahal dia sebenarnya agak kesal dengan cucunya ini yang memanggilnya dengan tua bangka, walaupun pada kenyataannya adalah benar.
"Mau suntik mati kakek" ucap Elli pedas.
Para maid dan bodyguard yang masih berada disana seketika saja menahan tawanya, pasalnya Kakek Ronald sama sekali tak bisa berkutik dengan ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh cucunya itu.
"Silahkan sana suntik mati mulutmu itu biar kalau bicara di filter dulu" kesal Kakek Ronald.
"Cieee... Ngambek nih yee. Gitu aja ngambek, kaya ABG aja deh" goda Elli yang kemudian berdiri dan menggandeng lengan kakeknya.
Edward yang sedari terdiam melihat kelakuan istrinya pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Darimana istrinya itu belajar sehingga bisa pintar sekali membuat lawannya tak berkutik hanya dengan ucapan yang ia lontarkan. Sedangkan Kakek Ronald kini hanya pasrah saja dibawa oleh Elli ke rumah sakit walaupun nantinya akan di suntik mati beneran.
Kakek Ronald memasuki mobil milik Edward dan Elli dan duduk di kursi penumpang sendirian. Tak ada bodyguard yang menemaninya karena itu adalah larangan dari Elli. Namun ia sudah berpesan pada para bodyguard dan maidnya jika dirinya tak kembali ke rumah.
"Kalau sampai besok pagi aku tak kembali ke rumah ini, datangilah mansion keluarga Serant. Pasti aku berada disana karena disekap oleh cucu sialanku ini" pesannya tadi.
Elli yang disebut cucu sialan pun tampak tak tersinggung bahkan dengan terang-terangan menatap sinis kearah kakeknya. Mobil milik Edward melaju dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat yang diinginkan oleh Elli.
__ADS_1