
Kakek Ronald bertanya-tanya mengenai Elli dan Edward yang membawanya ke rumah anak perempuannya. Pasalnya dia belum menyiapkan kalimat apa yang akan dia ucapkan jika bertemu dengan anak yang sudah lama tak ia temui dan pedulikan itu. Namun kini dia sudah tak bisa lagi berkilah karena Edward dan Elli pasti takkan membiarkan dirinya kabur.
Dengan pasrah, Kakek Ronald berjalan mengikuti Edward dan Elli yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu. Mereka berdua ini tidak ada peka-pekanya sama sekali dengan dirinya yang tengah gugup.
"Mama, papa, kakak..." seru Elli.
Elli mengetahui bahwa kedua orangtuanya dan kakaknya tengah berada dirumah karena memang hari sudah sore dan dapat dipastikan mereka sudah pulang dari kantor. Pintu terbuka dengan kerasnya saat mendengar suara seseorang yang sudah lama tak mereka temui.
Brakkk...
Orang-orang yang berada diluar rumah seketika saja mengelus dadanya karena terkejut dengan pintu yang dibuka dengan keras bahkan ada empat orang yang berebutan ingin keluar dari pintu duluan.
"Mama dulu..." seru Mama Elli, Mama Dinda.
"Enggak, Regan dulu" seru kakak sulung Elli, Regan.
"Erga duluan" seru Erga.
"Udah... Udah... Biar papa duluan yang keluar" putus Papa Elli, Papa Reza.
Alhasil karena istri dan kedua anaknya yang berdebat sampai ribut terus membuat Papa Reza yang melihat kelengahan itu segera menyingkirkan ketiganya dari depan pintu. Papa Reza segera memeluk anak perempuannya yang kini ada dihadapannya. Ia sangat rindu dengan anak perempuannya yang sudah lama tak ia temui.
__ADS_1
Sedangkan ketiga orang yang disingkirkan begitu saja oleh kepala keluarganya itu mendengus sebal. Kemudian mereka mendekat kearah Elli yang ada disana. Namun keempat orang itu belum menyadari adanya Kakek Ronald yang juga berada disana karena tubuhnya yang tertutup dengan tubuh Edward dan Elli.
"Ayo masuk kedalam, jangan disini. Nanti kalau diluar bisa kelihatan bodyguard yang dikirim oleh kakekmu, bisa-bisa dia kesini dan mengacaukan kebersamaan kita" ajak Mama Dinda.
Mama Dinda takkan berpura-pura untuk ketus atau bersandiwara didepan anak perempuannya karena dia sudah terlalu rindu. Dibenci dan dijauhi oleh anak perempuannya merupakan siksaan yang begitu berat untuknya. Sedangkan Kakek Ronald yang mendengar ucapan itu kesal bukan main, dirinya dibicarakan didepan orangnya langsung. Edward dan Elli hanya menahan tawanya mendengar apa yang dikatakan oleh Mama Dinda.
"Kakek, gimana nih diomongin didepan mukanya langsung?" seru Elli sambil menahan tawanya.
"Siapa yang kamu panggil kakek?" tanya Papa Reza dengan heran.
Mama Dinda, Regan, dan Erga juga mengernyitkan dahinya bingung sambil bertanya-tanya tentang siapa yang dipanggil oleh Elli. Tanpa menjawab pertanyaan Papa Reza, Elli dan Edward menjauhkan diri kekanan dan kekiri membuat ada celah begitu lebar ditengah keduanya. Terlihatlah sosok pria paruh baya yang tengah menatap datar semuanya.
Deg...
"Jangan dekat-dekat dengan anakku, kau boleh sakiti kami atau lukai kami tapi jangan pernah kau menyentuh Elli" sentak Papa Reza tanpa sopan santun.
Papa Reza berusaha melindungi anak perempuannya dari mertuanya yang sangat gila harta itu. Sedangkan Kakek Ronald hanya memandang datar kearah semua orang disana. Sungguh pemandangan yang membuat muak Elli terlebih melihat tatapan permusuhan diantara semua keluarganya.
"Lebih baik kita masuk ke rumah, ada yang ingin Elli bicarakan disini" ucap Elli kesal.
Edward segera mendekat kearah istrinya kemudian menariknya masuk kedalam rumah meninggalkan semua orang tengah adu tatapan permusuhan. Kakek Ronald yang ditinggalkan begitu saja pun akhirnya hanya menghela nafasnya pasrah kemudian menurunkan egonya untuk ikut masuk dalam rumah anak perempuannya. Sedangkan Papa Reza, Mama Dinda, Regan, dan Erga segera saja mengikuti langkah Kakek Ronald.
__ADS_1
Tujuh orang tengah duduk di ruang tamu tanpa ada pembicaraan apapun. Ruangan itu benar-benar dilanda keheningan karena semua orang hanya terdiam dan saling menatap.
"Aku ingin keluarga kita bersatu dan berkumpul kembali. Lihatlah pak tua itu yang sangat kesepian karena tak ada yang menemani. Takutnya jika nanti dia sekarat dan dead, nggak ada yang tahu" ucap Elli dengan sarkas.
Keluarga Elli menatap tak percaya dengan anak perempuannya itu yang dengan mudahnya menerima kehadiran Kakek Ronald. Bahkan menginginkan mereka semua untuk berkumpul kembali. Elli juga tampak tak takut mengucapkan kalimat kasar yang ditujukan untuk kakeknya itu.
"Mama nggak setuju. Walaupun dia orangtuaku, tapi dia sudah menjauhkanku dengan anak perempuanku selama bertahun-tahun" kesal Mama Dinda tak terima.
"Bodohnya mama dan keluarga ini adalah tidak mau membantah ucapan kakek. Faktanya saja Elli bisa kok menaklukkan kekejaman si tua bangka itu, tetapi kalian seperti hanya pasrah pada keadaan saja" sinis Elli.
Kedua orangtua Elli hanya bisa menundukkan kepalanya, mereka merasa bersalah karena sedari awal masalah ini ada keduanya tak tegas dalam bertindak dan bersikap. Hal ini akhirnya membuat anak perempuan satu-satunya itu yang harus menjadi korbannya.
"Maaf..." lirih kedua orangtua Elli.
"Tak perlu minta maaf karena semuanya sudah terlambat dan tak ada yang perlu disesali. Aku cuma minta keluarga kita bersatu lagi. Saling membantu, menghargai, dan menghormati satu sama lain layaknya sebuah keluarga" ucap Elli.
Papa Reza, Mama Dinda, Regan, dan Erga terdiam dengan pikirannya masing-masing. Mereka tengah menimbang-nimbang tentang hal ini karena sebenarnya semua masih takut dengan kekejaman dari Kakek Ronald itu. Mereka juga tak yakin kalau Kakek Ronald sudah berubah.
"Hmm.... Aku minta maaf pada kalian semua, terutama anakku Dinda. Maafin papa karena sudah tak pernah mempedulikanmu, bahkan aku tak pernah ada disaat terburuk dan bahagiamu. Kalau diijinkan, papa akan memberikan semua kasih sayang pria tua ini kepada anak, menantu, dan cucu-cucu sampai nafas terakhir dialam hidupku ini" ucap Kakek Ronald dengan tatapan bersalahnya.
Melihat ketulusan yang terpancar dari mata Kakek Ronald, Mama Dinda langsung saja berlari memeluk papanya. Ia menangis tersedu-sedu dipelukan orangtua satu-satunya yang masih ia punya. Walaupun selama ini dirinya terlihat benci pada papanya itu, namun dalam hatinya ia selalu khawatir dengan papanya yang tinggal sendirian di rumah besar itu. Namun apa boleh buat, pikiran dan visi kedepan yang berbeda dengan sang ayah membuat Mama Dinda memilih untuk menjauh.
__ADS_1
Kakek Ronald yang dipeluk tiba-tiba pun memeluk dengan erat anak perempuannya itu. Ia begitu terharu, diumurnya yang sudah setua ini masih diberikan kesempatan untuk memeluk anaknya yang dulu diasingkannya. Ia berjanji dalam hatinya untuk tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberi oleh anak dan cucu-cucunya untuk berubah.