
Setelah menempuh perjalanan hampir 8 jam lamanya karena mereka berdua selalu berhenti untuk istirahat, akhirnya Edward dan Elli sampai juga di sebuah desa. Desa yang masih asri karena belum terlalu banyak kendaraan dan pabrik yang dibangun disini sehingga udaranya masih murni.
Banyaknya pepohonan di sekitar juga menambah kesejukan desa itu. Walaupun hari masih menunjukkan pukul 4 dini hari menjelang subuh, namun sudah ada beberapa warga sekitar yang sudah melalukan aktifitasnya.
"Sayang, jam segini aja udah banyak yang mau ke pasar dan sawah ya" ucap Elli takjub.
Banyaknya sawah disana membuat Elli tahu kalau mereka akan pergi kesana. Apalagi dengan alat-alat menanam padi yang dipanggul mereka. Elli begitu antusias melihat kearah sekitar begitu pula dengan Edward yang tersenyum walaupun dalam hatinya tengah gugup dan takut. Ia takut jika kehadirannya tak diinginkan oleh ayahnya nanti.
Sesuai petunjuk yang diberikan oleh Papa William dan Mama Amber, akhirnya Edward menemukan sebuah rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari kayu seperti yang ada di foto pada ponselnya. Inilah rumah ayah kandung Edward yang terlihat sederhana namun menyejukkan bahkan dari luar pun sudah terlihat banyaknya pepohonan rindang.
Keduanya turun dari mobil kemudian berjalan menuju rumah itu. Dengan ragu Edward mengetuk pintu kayu itu dengan pelan. Sedangkan Elli terus memegang telapak tangan suaminya yang terasa dingin.
"Jangan takut, ada aku disini" ucap Elli sambil tersenyum lembut untuk menenangkan suaminya.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengetuk pintu kayu itu kembali. Tak lama mereka menunggu didepan pintu, ada suara langkah kaki dan seruan dari dalam rumah itu.
"Iya sebentar" ucap seorang wanita dari dalam rumah.
Ceklek...
Tak berapa lama, pintu kayu itu terbuka dan terlihatlah seorang wanita tua dengan badan sedikit membungkuk tersenyum pada tamu yang datang.
Wanita tua itu mengernyitkan dahinya heran saat tak mengenal siapa tamu yang datang. Bahkan wajahnya sangat asing di matanya karena belum pernah melihatnya di desa ini sama sekali. Dia juga menelisik penampilan kedua tamunya yang tampak rapi seperti orang yang mau ke kondangan, bagaimana tidak? Edward dan Elli belum mengganti pakaiannya sama sekali dari konferensi pers tadi.
"Mau cari siapa ya nak?" tanya wanita tua itu dengan ramah.
__ADS_1
"Apa benar ini rumahnya Bapak Lutfi Andriansyah?" tanya Elli dengan tersenyum.
"Benar, itu anak laki-laki saya. Ada apa ya? Apa anak saya punya hutang sama kalian?" tanya Ibu Lutfi dengan panik.
Edward menyunggingkan senyum hangatnya saat melihat orang yang ada didepannya ini adalah neneknya. Bahkan dia ingin menahan tawa melihat kepanikan neneknya itu, namun dirinya juga kesal karena dikira mau menagih hutang.
"Eh... Bukan nek, Bapak Lutfi nggak punya hutang dengan kami. Kami kesini hanya mau bersilaturahmi saja, bisakah saya menemuinya?" tanya Elli dengan menggelengkan kepala.
"Iya, bisa. Kalian masuklah dulu, aku panggilkan dulu anakku. Kebetulan dia sedang menyiapkan alat-alat untuk ke sawah di belakang" ucap Ibu Lutfi.
Mereka berdua pun masuk mengikuti Ibu Lutfi. Mereka duduk di sebuah kursi kayu yang sudah agak reyot sehingga membuat Edward awalnya ragu untuk mendudukinya.
"Ini kursinya kalau ku duduki ambruk nggak ya, sayang?" bisik Edward tadi.
"Aman" ucap Elli yang duduk terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Edward.
Edward yang melihat kedatangan ayah kandungnya pun matanya berkaca-kaca. Bahkan ia melihat penampilan ayahnya yang sangat sederhana dengan kaos dan celana pendeknya membuatnya merasa sedikit merasa bersalah.
Dirinya tinggal di rumah mewah, berpakaian bagus, dan makan makanan mewah sedangkan ayah kandungnya hidup sederhana bersama ibunya yang masih hidup. Dalam hatinya, Edward berjanji untuk membawa ayah dan neneknya menuju kebahagiaan bersama dengan dirinya.
"Ayah..." seru Edward tak bisa membendung kerinduannya.
Ayah Lutfi yang memang tak mengenal Edward pun hanya bisa terdiam dengan kebingungannya saat laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan ayah. Bahkan Edward kini sudah berdiri kemudian mendekat kearah ayahnya. Ia tak segan-segan untuk memeluk ayahnya itu dengan erat.
"Aku adalah anak Mama Amber. Anak kandung ayah" bisik Edward tepat ditelinga ayahnya.
__ADS_1
Ayah Lutfi pun seketika terdiam membeku mendengar ucapan Edward. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan janin yang dikandung oleh kekasihnya dulu. Matanya kini berkaca-kaca dan langsung memeluk anaknya dengan erat.
"Maaf... Maafkan ayah karena kamu tak bisa merasakan kehangatan pelukan dari ayah kandungmu ini. Maaf karena ayah tak berusaha mempertahankan ibumu agar tak pergi" ucap Ayah Lutfi menangis tersedu-sedu.
Sedangkan Ibu Lutfi yang mendengar ucapan bisik-bisik kedua laki-laki yang sedang berpelukan itu pun matanya juga ikut berkaca-kaca. Dia memang sudah tahu mengenai permasalahan anaknya di masa lalu sehingga tak heran kalau dirinya sudah mempunyai cucu.
Yang dia tak sangka adalah kehadiran cucunya yang kini berada dihadapannya. Ia masih berpikir bahwa ini adalah mimpi. Elli yang melihat Ibu Lutfi mau menangis pun segera mendekat kearahnya kemudian memeluknya dengan erat.
Alhasil keempat orang itu saling berpelukan dan menangis. Moment haru pertemuan anak dengan ayah kandungnya yang begitu mengharukan.
"Ternyata kamu sudah besar, ayah masih merasa ini seperti mimpi karena dipertemukan oleh anak kandungku" ucap Ayah Lutfi yang kemudian melepaskan pelukannya dari Edward.
Keempatnya segera duduk di kursi itu kemudian saling berbincang santai. Bahkan mereka semua sampai tak sadar kalau matahari sudah menampakkan wujudnya. Mereka juga sudah berkenalan satu sama lain. Bahkan Ibu Lutfi pun belum sempat memasak karena keasyukan mengobrol.
"Astaga... Udah jam segini dan kita belum sarapan" panik Ibu Lutfi saat melihat jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi.
"Iya, harusnya aku juga ke sawah. Ini kok malah asyik ngobrol" panik Ayah Lutfi.
Elli dan Edward yang melihat kepanikan sepasang anak dengan ibunya itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
"Gimana kalau kita beli sarapan diluar saja, nek? Ayah juga hari ini mending libur dulu ke sawahnya" ucap Edward menenangkan.
"Kalau bapak nggak ke sawah, kita nggak bisa makan" ucap Ayah Lutfi masih panik.
"Udah itu urusan Edward" ucap Edward menenangkan.
__ADS_1
Mereka berempat pun akhirnya keluar dari rumah kemudian mencari makan di sekitar desa itu. Sambil melihat jalanan yang tampak sejuk karena banyaknya pepohonan, mereka menikmati suasa kebersamaan itu.