
Pertemuan Dendi dengan Elli sampai ke telinga Kakek Ronald membuat ia sangat penasaran dengan kesepakatan yang telah mereka sepakati. Dia begitu yakin kalau anak sulungnya itu mampu meyakinkan keponakannya untuk membantu perusahaan keluarga. Kakek Ronald segera saja pergi dari kediamannya menuju rumah milik anak laki-lakinya dengan semangat. Malam hari yang begitu dingin tapi tak membuat Kakek Ronald mengurungkan niatnya. Hari ini dirinya tak datang ke perusahaan membuat ia tak bisa bertanya langsung kepada anaknya itu.
Setelah 15 menit dalam perjalanan, mobil yang dikendarai oleh bodyguard dan Kakek Ronald tiba di sebuah rumah mewah yang ditempati oleh anak sulungnya. Kakek Ronald turun dengan dibukakan pintu mobil oleh bodyguardnya. Ia segera berjalan masuk ke dalam rumah Dendi dengan semangat 45.
"Selamat malam anakku" sapa Kakek Ronald.
Terlihatlah di ruang makan ada sebuah keluarga kecil tengah melakukan rutinitas makan malam bersama. Mendengar ada yang menyapa mereka, ah lebih tepatnya kepada Dendi membuat semuanya mengalihkan perhatiannya kearah suara tersebut.
***
Dendi Abigael Niclow mempunyai satu istri yang bernama Restya Anggraini atau biasa dipanggil Bunda Tya. Mereka mempunyai tiga anak yaitu Yulia Ardinda Niclow, Fadli Argantara Niclow, dan Aninda Sisilia Niclow. Kedua anak mereka telah lulus kuliah dan kini bekerja di perusahaan lain, sedangkan si bungsu Anin masih bersekolah SMA. Entah mengapa mereka berdua tak suka jika bekerja di bawah perusahaan keluarga.
Yuli dan Fadli tidak terlalu dekat dengan keluarga tantenya karena jarangnya mereka bertemu. Terlebih ada larangan dari kakeknya untuk tak terlalu berurusan dengan keluarga tantenya itu. Bunda Tya, Yuli, dan Fadli sebenarnya sedikit tidak suka dengan Kakek Ronald yang selalu menekan ayahnya, namun mereka juga belum bisa berbuat apa-apa karena kakeknya itu adalah seorang yang sangat licik dan nekat. Si bungsu Anin tinggal bersama dengan Mama Elli di rumahnya karena paksaan dari Kakek Ronald.
***
Melihat kedatangan kakek Ronald seketika mood makan mereka langsung saja anjlok, bahkan wajah mereka terlihat menatap aneh kakeknya itu. Kakek Ronald menyadari itu, namun dia tak peduli karena keinginannya kesini hanya untuk bertemu anaknya.
"Apa orangtua ini tak dipersilahkan untuk duduk dan ditawari ikut makan malam bersama?" tanya Kakek Ronald dengan menyindir keluarga itu.
"Ah... Maaf ayah, kami terlalu terkejut karena kedatanganmu yang malam-malam begini ke gubuk kami. Kalau begitu silahkan duduk dan makan malamlah bersama kami" ucap Bunda Tya dengan tersenyum paksa.
Bunda Tya dengan sigap mengambilkan makanan untuk mertuanya itu setelah Kakek Ronald duduk disamping suaminya. Dengan telaten Bunda Tya melayani mertuanya itu dengan baik saat makan malam. Mereka pun akhirnya makan malam bersama dengan suasana hening dan sedikit tegang. Keluarga Dendi yakin kalau kakek Ronald datang kemari karena ada tujuan tertentu, terlebih ini malam hari yang tak biasanya beliau akan datang ke rumah.
***
__ADS_1
Setelah makan malam berakhir, semuanya berpindah tempat ke ruang keluarga untuk bersantai sebentar. Namun sepertinya kegiatan itu hanya akan berakhir dengan ketegangan karena adanya Kakek Ronald.
"Ada apa ayah datang kemari?" tanya Dendi secara langsung.
"Memangnya ayah tak boleh mengunjungi rumah anak sendiri?" tanya Kakek Ronald dengan sedikit menyindir.
"Aku tahu kalau tujuan ayah kemari bukan karena ingin mengunjungi kami" ucap Dendi sarkas.
"Hahahaha Kau tau saja. Kau memang benar-benar mengenal karakter ayahmu ini, Dendi" ucap Kakek Ronald dengan terkekeh.
"Aku kesini ingin tahu tentang keputusan cucu bungsu perempuanku" lanjutnya dengan nada serius.
Paman Dendi sudah menduga kalau ayahnya ini sudah mengetahui tentang pertemuannya dengan Elli. Dia hanya bisa menghela nafas kasarnya karena harus bersiap menerima cacian dan makian dari ayahnya lagi.
"Dia tidak setuju untuk membantu kita" ucap Dendi.
Keluarga Paman Dendi sudah terbiasa dengan cacian dan makian yang terdengar dari mulut Kakek Ronald. Terlebih jika Paman Dendi melakukan kesalahan.
"Aku sudah membujuknya, yah. Bahkan aku menjanjikan saham dan pekerjaan di perusahaan kita namun dia menolaknya. Dia lebih memilih untuk setia mempertahankan pekerjaannya di perusahaan itu" ucap Dendi membela diri.
"Sombong sekali gadis itu" sentak Kakek Ronald dengan amarah yang begitu menggebu-gebu.
Kedua tangan Kakek Ronald mengepal kuat karena mengetahui penolakan yang dilakukan cucu perempuannya itu. Amarah di dalam tubuhnya terasa ingin meledak.
"Aku yang akan turun tangan untuk masalah dia. Kau kerjakan saja proyek lain" putus Kakek Ronald.
__ADS_1
Kakek Ronald berdiri kemudian pergi dari rumah Paman Dendi tanpa berpamitan dengan penghuni rumah. Paman Dendi yang melihat ayahnya pergi hanya bisa mendengus kasar.
"Sabar yah, nanti hipertensi kamu bisa kumat" ucap Bunda Tya sambil mengelus bahu suaminya.
Paman Dendi tak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya itu, sudah tua masih saja memikirkan tentang bagaimana mempunyai kekuasaan dengan cara licik. Dia sampai memijit pelipisnya karena kepalanya terasa pusing, terlebih ia yakin kalau ayahnya akan menggunakan cara licik untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kasian Elli, bund. Dia sudah menderita sejak bersekolah di luar negeri dan harus terusir dari rumahnya karena perbuatan ayah. Lalu kini? Apa iya ayah akan kembali mengusik kehidupan keponakanku yang sudah terlihat bahagia itu?" ucap Paman Dendi dengan menundukkan kepalanya.
Bunda Tya hanya bisa mengelus bahu suaminya yang bergetar, ia juga bingung harus membantu dengan cara apa. Yulia dan Fadli yang duduk disana hanya bisa terdiam dengan pikirannya masing-masing.
***
Setelah kejadian pagi tadi Elli diculik, kini Edward memberikan satu bodyguard oerempuan untuk menjaga istrinya itu saat kemanapun dia akan pergi. Sebenarnya Elli sudah protes, namun tetap saja tak dipedulikan oleh Edward. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan menurut saja dengan ucapan Edward.
"Aku yakin kalau si tua itu akan segera menemuiku setelah anaknya tak berhasil membuatku berpihak pada mereka" ucap Elli.
Elli dan Edward tengah berdua duduk di teras rumah dengan melihat langit malam yang begitu indahnya. Mendengar ucapan Elli seketika saja Edward mengalihkan pandangannya ke arah istrinya itu.
"Kau tenang saja karena aku akan tetap berpihak padamu. Orang baik memang pantas untuk dipertahankan. Si tua itu kan orangnya licik jadi nggak pantas buat dapat bantuan dari aku" lanjutnya sambil menatap Edward dengan senyuman manisnya.
Edward yang mendengar itu tentunya tersenyum lega kemudian menjawil hidung kecil milik istrinya itu.
"Istri siapa sih ini kok baik banget?" goda Edward dengan nada datarnya.
"Istrinya Edward Lion Serant dong" ucap Elli dengan bangganya.
__ADS_1
Edward hanya tersenyum melihat kepolosan dan keceriaan istrinya itu. Hidupnya kini sudah lengkap dengan kehadiran Elli, sebisa mungkin ia akan mempertahankan istrinya itu apapun yang akan terjadi ke depannya nanti.