
Hari ini, Edward mengajak Elli, Papa William, dan Alika untuk ikut ke perusahaan. Kepala bodyguard, Victor hari ini tak bisa menjaga langsung ketiga orang itu membuat Edward harus membawanya ke perusahaan. Alasannya adalah ia belum bisa mempercayai anak buah Victor kecuali ada laki-laki itu yang ikut mengawasi. Ada beberapa orang bodyguard yang terpantau bekerjasama dengan Mama Amber dan Mama Nessa sewaktu mereka masih tinggal di mansion, hal ini membuat Edward harus extra berhati-hati.
Kali ini Edward mengendarai mobilnya sendiri dengan Papa William berada disampingnya sedangkan Alika dan Elli berada di kursi belakang. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil milik Edward memasuki jalan rahasia menuju tempat parkir khususnya. Edward turun dari mobil kemudian membantu Papa William duduk diatas kursi roda, sedangkan Elli terus menggenggam tangan Alika. Entah mengapa Elli merasa bahwa Alika sangat erat menggenggam tangannya, padahal disini tak ada sesuatu yang membuatnya tertekan. Bahkan mata Alika terlihat memancarkan kegelisahan dengan melihat sekitar area parkir.
"Ayo" ajak Edward pada semuanya.
Edward mendorong kursi roda milik papanya menuju sebuah jalan rahasia dengan Elli dan Alika yang mengikuti dari belakang. Tak berapa lama setelah mereka berjalan dan menaiki lift, keempatnya sampai di lantai tempat Edward bekerja. Papa William menatap seluruh ruangan yang ada di lantai itu, seketika ia mengingat tentang dirinya dulu saat masih bekerja ditempat ini. Tak banyak berubah, bahkan posisinya masih tampak sama membuatnya sedikit sedih terlebih kini ia sudah tidak bisa bekerja lagi. Mereka memasuki ruangan CEO yang terlihat sangat mewah dengan cat warna abu-abu membuat kesan misterius seseorang yang menempati ruangan tersebut.
"Papa jadi ingat kalau dulu pernah bekerja disini" ucap Papa William.
Mata Papa William mengitari seluruh sudut ruangan kerja milik Edward yang rapi, bahkan disana ada banyak foto Alika dan dirinya yang terpajang dengan sempurna.
"Suatu saat nanti, papa pasti bisa kembali lagi bekerja di perusahaan ini" ucap Edward.
Perkembangan kesehatan kaki Papa William sudah lebih membaik bahkan beliau sudah bisa berdiri cukup lama walaupun belum bisa melangkahkan kakinya secara intens kalau tidak ada yang memegangi. Ini semua berkat Elli yang setiap harinya selalu melatih kaki Papa William untuk berdiri dan berjalan bahkan selalu memijit tepat pada saraf-sarafnya. Elli belajar disebuah tempat terapi pijat tradisional khusus menangani orang-orang yang lumpuh.
"Ed, Papa tak menginginkan untuk kembali ke dunia bisnis lagi. Papa sudah terlalu tua untuk memikirkan tender dan kerjasama. Untuk saat ini papa hanya ingin berkumpul bersama kalian dan cucu-cucu papa kelak" ucap Papa William sambil tersenyum.
Edward hanya menganggukkan kepala mendengar keputusan yang diambil oleh Papa William. Ia tak keberatan jika selamanya harus bekerja demi kehidupan keluarganya. Mengingat tentang cucu, Edward sedang merencanakan itu setelah ia berani mengungkapkan perasaannya kepada sang istri. Edward berjalan menuju kursi kebesarannya meninggalkan Papa William, Elli, dan Alika yang berada diseberang mejanya.
"Oh ya Ed, kau tak berniat menemui ayah kandungmu?" tanyanya.
__ADS_1
Edward yang mendengar hal itu tentu saja baru mengingat sesuatu dan itu tentang ayah kandungnya. Sedangkan Elli dan Alika yang tak mengetahui apa-apa hanya terdiam. Edward terdiam sebentar seperti memikirkan suatu hal.
"Dia orang baik, Ed. Jangan membencinya, sebenarnya ayahmu itu ingin bertanggungjawab hanya saja mamamu yang menolaknya. Terakhir kali papa mencari tahu tentangnya, dia bekerja sebagai buruh tani di suatu desa X" ucap Papa William.
"Nanti Edward pikirkan lagi, pa" ucap Edward.
Untuk saat ini Edward belum mau memikirkan tentang ayah kandungnya karena dia harus segera menyelesaikan permasalahan keluarganya dan keluarga Elli terlebih dahulu. Edward segera mengalihkan fokusnya pada beberapa pekerjaan yang telah menumpuk dihadapannya. Papa William hanya menganggukkan kepalanya mengerti, ia yakin kalau Edward pasti sedang memikirkan banyak hal sehingga tidak dapat memutuskan hal ini secara gegabah.
Setelah pembicaraan itu, Elli mengantarkan Alika dan Papa William ke kamar pribadi milik suaminya. Setelah mengantar papa dan adik iparnya, Elli segera berjalan mendekat kearah meja kerja Edward dan langsung duduk dikursi depan meja kerja suaminya.
"Kamu bukan anak kandung Papa William?" tanya Elli.
Edward yang tadinya fokus dengan berkas-berkas pekerjaannya seketika mengalihkan perhatiannya kearah Elli. Edward menatap wajah Elli yang tampak penasaran dengan apa yang ditanyakannya.
"Tidak, aku menerima kau apa adanya. Entah dari keturunan mana, aku tak mau tahu. Aku hanya tahu kalau aku menyayangi seorang Edward dan keluarganya siapapun itu" ucap Elli.
Edward yang mendengar hal itu menampilkan senyum tipisnya dan melambaikan tangannya pertanda menyuruh Elli mendekat kearahnya. Elli yang melihat kode itu segera berdiri kemudian berjalan mendekat kearah Edward. Tanpa aba-aba, Edward menarik pergelangan tangan Elli hingga gadis itu terduduk diatas pangkuannya.
"Ihhh... Ngagetin" kesal Elli.
Elli mengerucutkan bibirnya sambil memukul tangan Edward karena telah membuatnya kaget.
__ADS_1
"Hahaha lucunya" goda Edward sambil tertawa.
Edward yang melihat Elli cemberut seperti itu tertawa lepas terlebih raut mukanya benar-benar lucu dan menggemaskan menurutnya. Setelah tertawa, Edward segera menghentikan tawanya itu kemudian menatap Elli dengan serius.
"Elli, aku mencintaimu" ucap Edward tiba-tiba.
Elli yang mendengar ungkapan Edward tentunya sangat terkejut, apalagi pikirannya pagi tadi benar-benar menjadi kenyataan. Elli menatap kearah mata Edward yang memancarkan ketulusan dan kejujuran.
"Hueeeee... Kenapa ngungkapinnya nggak ada romantis-romantisnya? Makan malam dipinggir pantai pakai bunga-bunga dan lampu kerlap kerlip gitu kek, masa iya ini di ruangan CEO" gerutu Elli.
Edward yang mendengar itu hanya terkekeh pelan, terutama saat melihat wajah Elli yang cemberut. Dia memang bukan laki-laki romantis seperti yang ada di sinetron atau film-film, baginya cukup dengan membuktikan sudah cukup sebagai ungkapan perasaannya.
"Yang penting ungkapannya benar-benar tulus. Percuma makan malam romantis gitu, tapi pada akhirnya nggak bisa nunjukkin kalau dia setia untuk selamanya" ucap Edward.
Elli yang mendengar itu seketika saja menghentikan gerutuannya lalu memeluk Edward dengan eratnya.
"Aku juga mencintaimu" seru Elli.
Edward yang mendengar ungkapan cinta balik dari istrinya seketika tersenyum. Cintanya pada sang istri tak bertepuk sebelah tangan, Edward pun segera membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Awalnya ia ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaan asing yang tiba-tiba masuk kedalam relung hatinya karena takut kalau Elli hanya menganggapnya sebagai seorang kakak atau saudara. Namun saat mendengar jawaban Elli mengenai dirinya bukan anak kandung dari Papa William, ia semakin yakin kalau istrinya itu akan menerimanya apapun keadaannya.
"Terimakasih, terimakasih sudah hadir dihidupku" ucap Edward dengan suara seraknya.
__ADS_1
Edward menitikkan air matanya, ia bahagia bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Ia bahagia karena kedepannya akan ada orang yang selalu berada disampingnya saat ia terjatuh dan tersenyum. Edward yakin kalau mereka berdua bisa melewati semua cobaan yang siap menghadang kedepannya.