Janda Hanyalah Statusku

Janda Hanyalah Statusku
JHS - DEKAPAN YANG SAMA


__ADS_3

Rasanya memang sulit menjalani hari-hari tanpa seorang terkasih...


Barry memang sangat menyayangi Amel terlebih Amel memang memiliki sifat yang tak baik...


Amel terlalu arogan, pemarah, serta selalu meminta banyak hal dari Barry berupa materi...


Karena adanya rasa Sayang namun itu tak menjadi persoalan besar untuk nya, hanya Saja Ibu Erna memang tak menyukai hal itu sama sekali, berkali-kali Ibu Erna ingin menjodohkan Barry dengan anak temannya namun ujungnya hanyalah perdebatan antara ibu dan anak...


Pagi ini di perusahaan


"kenapa lo pikirin banget bar, bukannya yang kaya bgini udah sering banget terjadi?" kata Fardhan pada Barry yang sedari tadi merasakan frustasi akan perdebatan antar dia dan orang tuanya...


"iyaa,, tapi gue selalu mikir, sampe kapan gue nentang mama, sampe kapan hubungan gue sama dia berjalan kaya gini, gue sayang sama Amel tapi gue lebih sayang mama"


Kata Barry masih dengan muka lesuhnya...


"ah saran gue si lo denger kata mama Bar, entar yang ada lo makin tua loh belom nikah" kata Fardhan meledek...


"sial lo! Udah balik kerja sana... Dan inget ini kantor bukan rumah, enak aja lo manggil gue Bar!" kata Barry


"oh iya.. Sorry yaa bos.. Saya permisi," kata Fardhan sambil berdecak kesal meninggalkan rungan Barry...


Dasar setress, tadi dia yang manggil gue, dia juga yang ngomong pake bahasa rumah, aneh kan? Ckckck!


****


Jam pulang kantor..


"keningnya udah membaik?" tanya Barry pada Tiara yang justru mengagetkan Tiara yang sedang bersama Syifa di depan lift


Tiara menoleh ke arah Barry


"udah gappa pak" kata Tiara Sopan


"Ada yang saya mau bicarakan sama kamu, bisa?" kata Barry To The poin


"soal apa ya pak,, jam kantor udah habis pak?" kata Tiara heran


"ya di luar kantor" kata Barry singkat


"Tiara dan Syifa saling pandang penuh arti, disisi lain Syifa khawatir Dengan Tiara yang akan menghadapi masalah baru dengan Bosnya...


"tapi saya mau pulang bareng Syifa pak, saya ga bawa kendaraan" kata Tiara berharap ia akab segera lolos dari situasi itu...


"Syifa, kamu ga keberatan kan pulang sendiri? Biar Tiara saya yang antar!" kat Barry dengan sedikit tegas


DENG!!!!


"tapi pa-----" kata Tiara sedikit kesal


"eh iya gapap pak, kalo gitu saya permisi" kata Syifa memotong pembicaraan Tiara dan langsung mesuk ke dalam Lift yang pintunya baru saja terbuka


"eh syiff kok kamu tega" kata Tiara melepas kepergian Syifa dengan mimik ketakutan nya..


Barry tersenyum melihat mimik wajah ketakutan Tiara yang nampak jelas...


"ayo!" kata Barry


Mereka pun melangkah masuk ke Lift, Tiara hanya mengekor kala itu...


"eeeeeehh Tunggu" kata Fardhan sedikit berlari dan berhasil masuk ke Lift

__ADS_1


"huhhhh, eh Tiara.. Mau pulang ya?" kata Fardhan


"iya pak" kata Tiara sopan


"bawa kendaraan ga?"


Tiara hanya menggeleng


"nah pas banget, saya bawa motor, saya bisa anter kamu" kata Fardan


"ehhh gabisa!!!!!" celetuk Barry Cepat


"kenapa bos?" kata Fardan heran


"Dia ada urusan sama saya, pulang lah.. Kabari mama kalo gue pulang telat" kata Barry kemudian menggandeng taangan Tiara keluar...


"eehhh barr maksud lo urusan apaan" kata Fardan yang mengekor di belakang Barry dan Tiara


Barry hanya diam tak menjawab...


Tiara sangat Syok kala tanganya di pengang dan sedikit di tarik seolah orang menuntun...


Tak sedikit pasang mata yang menyaksikan hal itu langsung berdecak kesal dan ada yang penasaran akan hubungan Barry dan Tiara


Tiara yang menyadari itu langsung berusaha melepas tangannya


"pak maaf lepaskan"kata Tiara..


"sorry" kata Barry segera melepas gengaman nya...


Tiara tetap mengekor Barry menuju mobil hitam mewah miliknya..


Mereka pun hanya diam membisu selama perjalanan...


Barry membawa tiara ke sebuah kawasan yang ramai banyak makanan pinggir jalan..


"ayo turun" kata Barry pada Tiara


"bapak suka kesini?" tanya Tiara heran


Barrypun mengangguk


"jangan panggil bapak, saya gak mau di sangka bapak kamu disini" kata Barry sambil melepas seatbelt nya...


"saya bingung harus panggil apa" kata Tiara polos.


"Barry aja" kata Barry singkat...


Merekapun keluar mobil, Barry mengajak Tiara duduk di sebuah taman yang berada di kawasan tersebut...


Dikirain mau ngajak makan, eh cuma duduk disini doang.. Irit apa pelit nii orang...


"kenapa ngajak saya kesini?" kata Tiara heran


"saya mau sekedar sharing aja sama kmu" kata Barry


"tentang apa?" kata Tiara


"banyak hal..." kata Barry


Tiara merasa bingung akhirnya memilih untuk diam... Di lihat nya wajah Barry memang seperti orang terlilit hutang... Kusut, tak bersemangat, dan sedikit ada rasa kecemasan...

__ADS_1


"tiara....."


"iya bar,,"


"sekuat apa kamu melepas kekasih mu itu" kata Barry tanpa basa-basi membuat hati Tiara seperti di hantam benda keras


Tiara hanya diam, tak bergeming.. Ia menundukan kepalanya


"apa maksud kamu bar" kata Tiara yang suaranya sudah bergetar itu...


Barry menatap Tiara, sudah ada genangan cairan di matanya


Bodoh! Kenapa gue nanyain hal bodoh itu ke dia!!!


"Tiara maaf, saya gak ada maksud membuka lagi lukamu... Maaf tiara" kata Barry menatap wajah Tiara yang tertunduk...


Air mata Tiara berlinang....


"tiara maafin aku" kata Barry sedikit panik


Tiara mengusap air matanya, lalu menarik nafasnya...


"gapapa Barr, yang pasti kamu tau, perpisahan itu menyakitkan sekali, apalagi perpisahan dua alam.. Mungkin aku orang pilihan Tuhan yang Ia yakin aku mampu menjalani semua ini" kata Tiara berusaha tegar


"Sedalam itu rasamu untuknya Tiara?" kata Barry


Tiara menganguk


"dia cinta pertamaku, buka kah cinta pertama akan menumbuhkan rasa yang luar biasa sampai sulit di lupakan? Tapi aku udah ga mau menyiksa diriku karena berdampak sama keadaan Ibu dan Ayahku juga... Aku masih mencoba ikhlas bar, meskipun belum sepenuhnya tapi tak henti aku mencobanya....." kata Tiara sambil menitihkan air matanya


Barry yang merasa haru reflek memluk tiara dari sampingnya...


Tidak ada penolakan Juga dari Tiara Kala itu...


Yaa Tuhan kenapa jantung ini berdebar kencang sekali, Apa aku grogi memeluk tiara.. Tapi ini bukan hanya sekedar grogi..


Batin Barry


Kenapa ini nyaman sekali, seperti dekapan kak Adam.... Tuhan akankah aku kembali menemukan sadaran yang nyaman seperti kak Adam....


batin Tiara


Tak ingin terlena dalan dekapan yang Sama dengan Adam, Tiara segera melepas pelukan itu..


"maaf Tiara" kata Barry menyadari apa yang baru ia lakukan


"gapapa Bar" kata Tiara sambil tersenyum


"Tiara apakah cinta pertana harus saling memiliki?" kata Barry


"bisa iya bisa enggak, tergantung takdir.. setiap orang kan berbeda takdirnya" kata Tiara tersenyum pada Barry


Barry pun membalas senyumn tiara itu...


cantik! batin Barry.....


******


****


**

__ADS_1


__ADS_2