
Pukul 12 Malam.. Barry masih belum terlihat kehadirannya dirumah tersebut.. Tiara sudah sangat lelah karena acara pagi tadi hingga kejadian di sore hari yang benar-benar menguras energinya.. Ingin sekali ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, namun apalah daya, rasa khawatirnya lebih besar dari rasa lelahnya..
Berkali-kali Tiara menghubungi Barry dan Fardhan namun hasilnya nihil.. Satu dari mereka tidak ada yang memberi kabar...
Sekuat Apapun Menahan Tiara akhirnya terlelap dengan sendirinya dalam posisi duduk dengan memegangi ponselnya..
Waktu terus berjalan, hingga pukul 3 dini hari Barry dan Fardhan tiba di rumah..Pintu rumah tidak terkunci, lampu juga masih dengan terangnya menyalah..
"Bini lu noh" kata Fardhan menujuk ke arah sofa karena Barry mengekor di Belakang Fardhan
"Pasti dia nungguin kita" kata Fardhan
"yaudah, gendong Sono.. gue duluan" kata Fardhan kemunikah dengan santai ia melangkah menaiki tangga...
Barry berjalan menuju isterinya, nampak wajah yang terlihat sangat lelah, Barry menyelipkan kedua tangannya seraya membopong isterinya ke kamar, namuan karena sentuhan itu justru membuat Tiara terbangun dari tidurnya..
"Mass... udah pulang yaa?" Kata Tiara dengan paniknya, dan berusaha membuat dirinya terlihat tegar
Barry tersenyum sambil merapihkan rambut isterinya..
"Udah sayang, Maaf gak bisa respon chat dan telfon kamu, aku di kantor polisi dan sedang di mintai keterangan..."
"Yaa Allah mas, pasti kamu capek ya, belum makan ya? mau makan ga? Aku buatin sesuatu ya?" kata Tiara dengan paniknya
Barry terkekeh..
"Aku ngantuk sayang, tadi sempetdi beliin roti sama Roy, kita tidur yu" kata Barry yang terlihat sangat lesuh itu..
Tiara mengangguk lalu berdiri dan mereka menuju kamarnya..
Tiara ingin sekali bertanya agar melepas rasa penasarannya akan hal yang terjadi, namun melihat wajah lelah dan lusuh suaminya sepertinya lebih baik ia urungkan niatnya tersebut..
__ADS_1
Barry membersihkan dirinya alakadarnya, karena tubuhnya sangat lelah dan ngantuk..
Barry merebahkan tubuhnya menghadap ke arah Isterinya, ia genggam tangan isterinya hingga tidak membutuhkan waktu yang lama ia sudah terlelap...
Apa karena aku kamu jadi mendapatkan masalah ini??! Kenapa bisa Tari menyimpan rasanya untukmu, sebesar itu obsesinya ...
Aku penasaran, bagaimana sikapnya jika di panti.. Hem... Tapi Mas Barry pasti ga setuju kalo kita ke panti mengingat kejadian ini..
Aku juga gak mau ambil pusing soal ini, lebih baik aku fokus pada kesahatanku ..
****
Ibu Erna mondar mandir menunggu Barry dan Fardhan bangun dari tidurnya..
"Nyonyaaa...." ucap Bibi mengagetkan
"Astagfirullah bii... biii, bibi gapapa bii??"
"Astagfirullah, yaudah kita ke dokter yaa?" ucap Ibu Erna
"gak usah Nyah saya baru aja minum obat dan makan roti.."
"Kalo boleh saya izin Nyah ga bekerja dulu" ucap Bibi
"iya iyaa, yaudah bibi istirahat, karena masih banyak hal yang harus bibi jelaskan nanti" kata Ibu Erna sambil memapah bibi menuju kamarnya
Tak lama bel rumah berbunyi..
Bu Erna merasa sedikit pening di kepalany..
"lama-lama cepet tua kalo begini, Anak-anak tidur kaya orang pingsan, Bibi pake kepusingan, sekarang lagi, mecet bel kaya mencet jerawat, napsu banget"
__ADS_1
Gerutu ibu Erna
Ibu Erna menarik handle pintu tersebut..
"Assalamualaikum mah..."
"Syifaaa" kata Ibu Erna terkejut
"Maaf mah ganggu pagi-pagi" katanya sambil mencium tangan Ibu Erna
"Ifa khawatir sama Fardhan maag, dari semalam gak bisa di hubungi, dia juga ga kabari ayah lagi soal semalam" kata Ifa to the Poin
"Pas banget kamu datang... Ayo masuk" kata Ibu Erna menarik tangan calon menantunya
"oh iya mau, ini Lontong Opor dari Bunda" ucap Syifa meski satu tangannya tengah di genggam Ibu Erna
Ibu Erna diam dan membawa Syifa ke meja makan...
"Yaa Allah terima kasih, Kamu pas banget sayang, mama belum sarapan sementara sudah jam 8.30 mama laper banget, Bibi sakit, Tiara masih eklonan, Fardhan masih ngorok, Risa masih asik ngilerr, bener-bener mama hampir stres" Ucap Ibu Erna sambil membuka rantang ukuran besar itu, Syifa merasa bingung dengan sikap Ibu Erna ketika lapar...
Lapar bisa bikin orang berubah yaa-
Kata Syifa sambil berlari kecil kedapur mengambil pirirng juga sendok..
"memang semalam Fardhan pulang jam berapa mah?" Tanya Syifa
Ibu Erna menarik turunkan bahunya..
"mama aja syif, belum denger penjelasan mereka!!! kesel mama tuh, sampe laper" kata Ibu Erna mengambil beberapa potong lontong juga satu potong ayam dan kuahnya, tak lupa sambal merah ia berikan...
Mama ganas juga ya kalo lagi laper gitu- Batin Syifa sambil terheran-heran melihat begitu lahapnya sang calon mertua melahap makanan...
__ADS_1