
Tiara berjalan mencoba menyetabilkan dirinya, ia tidak ingin Barry terlihat panik apalagi berlebihan..
bukan pusing tapi sakit... kenapa ya ini?!
Batin Tiara sambil memegangi kepalanya
Tiara berada di bibir ruang berkaca yang hanya setengah badan terlapisi stiker agar tak tembus pandang..
Dari sebuah selah stiket yang cukup besar Tiara melihat Sosok Barry yang duduk membelakangi posisi Tiara menghadap..
Mata Tiara membulat, jantungnya berdebar..
itu kan wanita dan pria tadi..
lalu itu kan temannya Barry yang pernah ke perusahaan..
Wanita itu terlihat tengah bergelendotan di lengan Barry dan Barry hanya tertaaa bersama ke dua teman laki-laki lainnya..
kok Barry begitu yaa.. kata Tiara lalu memundurkan Tubuhnya,
ia duduk di sembarang kursi..
"siang nona.. ada yang bisa saya bantu atau mau pesan?" Tanya seorang pelayan wanita
"mau air mineral satu mba"!Kata Tiara memegangi kepalanya yang semakin nyeri
"Baik, ada lagi?"
Tiara menggeleng
"baik mohon di tunggua" kata Pelayan tersebut..
Tidak terlalu lama pelayan datang membawa satu botol air mineral, gelas dan sedotan..
Tiara membukanya dan meminumnya..
kenapa makin sakit, yaa Allah sepertinya aku harus ke rumah sakit segera...
Tiara tengah memijat kepalanya..
Syifa dan Fardhan yang baru datang langsung melihat sosok Tiara, syifa sedikit berlari menghampiri Tiara
"Ti.. lo kenapa? Barry mana?" Tanya Syifa dengan panik
Tiara menggeleng..
"Antar aku ke Rumah sakit Syif" kata Tiara yang di dengar juga oleh Fardhan
"Barry mana?" Tanya Fardhan celingukan
"jangan ganggu dia, ayo antar aku, sakit banget dhan" Kata Tiara yang semakin pucat
"Iya ayoo, Fardhan dan Syifa berusaha memapah Tiara..."
Tak lupa Tiara meninggalkan Uang pecahan 50 ribu di mejanya..
ia juga mematikan ponselnya, ia merasa kecewa dengan sikap Barry...
Sementara itu...
kemana Tiara, selama itukah di toilet?
Batin Barry celingukan
"kenapa Lo Barr?" Tanya Kevin sahabat Barry
"Tiara, gue nunggu dia.. tadi dia bilang ke toilet bentar"ucap Barry sambil celingukan
"Ini Fardhan juga kemana ni belom nonggol" Kata Roy
__ADS_1
"Tunggu, Tiara siapa?" Tanya Seorang wanita bernama Vita..
"Loh lo belum tau ya?" kata Kevin
"wah kudet lo emang" ledek Roy
"Ni orang udah punya pacar" tambah Roy
"Calon isteri malah" tambah Kevin
"Lo liat donk, profil Wa sampai story nya, mesra banget, ga mikirin yang liat ada yang jomblo" Ucap Kevin meledek Barry
Vita tersentak kaget mendengar ucapan Roy dan Kevin..
seolah tak percaya akan ucapa. kedua sahabatnya,, setau Vita Barry memiliki kekasih yaitu Amel... dan Amel sangat di benci oleh Ibu Erna..
"Bar serius kamu punya pacar? Amel bukan?"
tanya Vita penasaran
"Bukanlah" Kata Barry beranjak keluar ruangan mencari Tiara
"Namanya Tiara Vit, Aseli tuh cewek cantik Natural bangett loh..boddynya juga aduhai meski dia gak perpakaian sexy" Kata Kevin tanpa sengaja menyingung Vita yang gemar berpakaian sexy
"lo pernah ketemu?" Tanya Roy penasaran
"Pernah waktu mereka belum pacaran sih, cantik banget gue mau pepet tapi ga enak kan ama Barry" Kata Kevin terkekeh
"Mana mau dia ama lelaki macem lo, celup sana celup sini" Kata Roy terkekeh meledek Kevin
"berisik kalian, Tuh Barry kemana?" Kata Vita celingukan ke arah pintu
"Yaelah biarin aja si, gak bakal ilang" ledek Kevin
"Fardhan juga kemane nii, gue telfon ga di angkat" Kata Kevin memainkan ponselnya
Sementara Itu..
"Mba lihat perempuan ke toilet pakai baju kemeja pink rok hitam, rambut segini, warnanya agak coklat" kata Barry sambl berlegok menggerakan tubuhnya
"Maaf pak pengunjung dari tadi ramai sekali, saya tidak memperhatikan satu persatu" Kata Seorang pelayan pada Barry
Barry melangkah ke pintu masuk restoran, di lihatnya kana dan kiri nampak sepi..
Barry memutuskan kembali keruangan makan, tak lama ia duduk ponselnya berbunyi tanda pesan masuk yang ternyata dari Ibu Sulis..
Asslmkm... Nak barry, ibu minta maaf sepertinya tidak bisa menemari Tiara cekup karena Nenek Tiara akan tiba dari Solo dan Ibu harus menjemputnya... Ibu sudah hubungi Tiara tapi ponselnya di luar jangkauan..
Barry membacanya semakin panik, ia teringat jadwal Tiara kontrol sore ini...
apa dia ke rumah sakit?
Batin Barry...
Sstelah Barry membalas pesan Ibu Sulis,, pesan Baru masuk.. yang Tak lain dari Fardhan..
Gue ke Rs bawa Tiara, kepalanya sakit! lo susul sekarang!
Mata Barry membulat, jantungnya berdebar kencang, belum sempat Barry duduk di kursi makan ia segera membalikan tubuhnya berlari keluar ...
"Barr woy kemana lo? Barr" Teriak Kevin
"kenapa si dia? pembahasan inti aja belum" Kata Roy
"Entahlah, besok kita ke kantornya aja" Kata Kevin sambil melanjutkan makannya.
Sementara Vita masih memasang muka datarnya, ada amarah terpendam mengetahui Barry memiliki kekasih...
**********
__ADS_1
Mobil Fardhan Tiba di Rumah Sakit, Tiara langsung di bawa ke IGD beruntung kala itu dokter Martin sudah tiba di Rumah Sakit..
Tiara diminta datangbke ruangannya, menggunakan kursi roda yang di dorong Syifa.. sementara Fardhan menunggu Barry sambil mengurus proses pendaftaran pasien...
Barry menghentikan mobilnya di lobby ia memakai jasa valet agar mempesingkat waktu.. Ia menghanpiri Fardhan dan Fardhan segera memberi kode ke arah atas (Ruangan dokter Martin) Barry mengerti pun lngsung berlari menuju ruangan dokter martin...
Barry melihat Syifa tengah mendorong Kursi roda yang hendak masuk ke ruangan dokter, dengan cepat Barry menepuk bahu Syifa memberi kode agar ia mundur dan Barry menggantikan posisinya..
Mereka masuk dan di sambut oleh dokter Martin..
"Ahh My Favorite Couple..." Kata dokter yang usianya sekitar 50 tahun itu...
mendengar ucapan Dokter Martin, Tiara menoleh ke arah belakang...
Barry -- Batinnya
"Siang dok" Ucap Barry ramah
"Siang juga.... kenapa cantik, ada dua kabar seertinya, bukan begitu??" Tanya dokter gaul itu menatap Tiara
Tiara mengangguk
"baik kabar baiknya kau sudah ingat semua?" Tebak dokter martin
"dokrer bagai peramal saja" Ucap Barry
"haha tapi benar kan?"
"iya benar dok, tempo hari aku sudah mampu ingat semuanya, termaksud kecelakaan itu" Ucap Tiara
"Syukurlah, lalu laporan buruknya? tanya sokter Martin sambil mencatat sesuatu
"kepala ku Sakit dok, bukan seperti pusing tapi nyeri" kata Tiara lirih
"Sebelumnya kenapa? mandi air terlalu panas kah? atau kebentur?"
"Iya dok kebentur tapi ga kencang" Kata Tiara jujur
"Apah? Dimana sayang? kok ga bilang aku?"
kata Barry panik
"Diam lah!" ucap Tiara kesal
"tahan, tahan... gak boleh ada amarah ya disini..." kata Dokter Martin tertawa
"Jadi begini Cantik, Saya senang mendapatkan kabar kamu telah mengingat semuanya itu karena obat-obatan terbaik, dan soal pusing itu wajar, maklum saja operasi baru tiga bulan lama nya.. pasien melahirkan caesar pun akan merasakan nyeri seumur hidup jika kelelahan, begitu juga kamu"
"Tapi tenanglah, calon mertua mu begitu menyayangi mu sampai-samapai aku harus order obat dari luar negeri untuk mu" Ucap Dokter martin..
"Apa? maksud dokter apa?" Tanya Tiara
"Maksud dokter mama saya?" tanya Barry penasaran
"Tolong kelaskan!" Pinta Barry dengan sedikit tegas
"Baik-baik seertinya saat ini saya harus cerita.... Jadi Nyonya Erna adalah sahabat dari pemilik Rumah Sakit ini, yang notabennya adalah Sahabat saya juga..."
"Sejak awal Tiara masuk Nyonya Erna telah meminta semua pelayanan, tindakan bahkan obat-obatan terbaik... Bahkan kita harus menunda operasi kamu satu jam sambil menunggu lem terbaik untuk menutup luka operasi di kepala mu... Beruntung di Indonesia ada suplayer yang memiliki obat-obat terbaik untuk orang2 seperti kalian... Obat yang di berikan hampir sebagian kita ambil semua dari Singapura dan Amerika sesuai permintaan Nyonya Erna... Setiap Hari saya selalu di Teror beliau menanyakan kabar mu, sudah visit atau belum, awal-awal saya risih tapi semakin lama saya semakin terbiasa dan mengerti Arti dari sikap Nyonya Erna... Nyonya juga memberikan kamu Vitamin otak terbaik demi pemulihan daya ingat mu, Tidak terlalu mahal baginya hanya lima puluh juta sebanyak enam butir, -Bahkan ia order dalam jumlah Banyak dan akan di kirim setiap bulannya sesuai waktu produksi..."
Dokter Martin menjelaskan panjang lebar, Tiara hanya diam dan ingin sekali meneteskan air matanya..
Sementara Barry tidak menyangka jika Ibunya melakukan hal sejauh itu, bahkan Barry pun tidak terpikir untuk memeberikan obat dari luar negeri...
"Saat saya sudah menyerah akan kesadaran mu, Nyonya Erna datang menemui ku, dia memaki ku.. huh Bagai tak punya harga diri aku sebagai dokter! Tapi aku memaklumi sikapnya itu karena ia sangat mencintai mu" Ucap Dokter Martin
Air mata Tiara pun menetes, ingin sekali ia memeluk erat Ibu Erna, bahkan jika harus bersujud pun Tiara akan lakukan...
**********
__ADS_1