
Barry terlihat sangat panik, kini jas nya telah ia buka dan ia lempar ke sembarang arah.
"Bagaimana?" Tanya nya kepada petugas berseragam biru
"Kita masih berusaha pak, Lift masih menggantung, kita berusaha agar lift tidak lepas" ucapnya pada Barry
"Sayang.. denger akuu.... apa kamu baik-baik saja?" Ucap Barry sambil menampakkan wajahnya di depan pintu lift
Tak ada jawaban dari Tiara menbuat Barry semakin panik
"Tanang pak, Suara orang di dalam hanya bisa di dengar di ruang kontrol pak" kata Seseorang petugas
"Cek, bagaimana keadaan nya di dalam" Kata Barry sangat panik
Petugas ME menghubungi rekannya lewat HT. ia mengatakan bahwa Tiara masih bisa di ajak komunikasi..
Salah satu petugas datang membawa laptop yang terhubung dengan cctv di dalam lift, juga mengakses perekam suara di dalam lift..
"Bisa aku berkomunikasi dengan nya? Tanya Barry penuh antusias, beberapa karyawan yang memiliki keberanian sedikit mendekat, memasang wajah penasaran
"tentu pak, gunakan ini" seorang petugas memberikan sebuah headset...
"Sayang, kamu dengar aku?" kata Barry dengan panik
Tiara mendengar suara kekasihnya sedikit mendapat amunisi ketenangan..
"Pak suruh Nona pencet tombol telfon lalu berbicara" kata seorang petugas ME
Barry pun mengangguk
"Sayang dengar aku kan? kamu pencet tombol yang berlogo telfon, lalu kamu bicara" Ucap Barry kemudian di dengar Tiara
"sayang aku takut hiks hiks hiks, disini mulai panas, sirkulasi udara mulai terbatas" Suara Tiara terdengar sangat lirih bahkan dia sudah menangis ketakutan
Barry semakin panik mendengar keluhan Tiara...
"Bagaimana kerja kalian???!" kata Barry dengan nada sangat ketus pada para petugas
"Team di Pusat kontrol kesulitan pak, jika mereka memutus semua aliran maka Lift akan terjatuh, sistem kita ada yang sabotase pak, di temukan goresan curter di beberapa anak kabel" kata Seorang petugas
Barry terlihat makin geram, rahangnya semakin mengeras. ia menatap Fardhan lalu Fardhan mengerti akan situasi itu...
Fardhan meninggalkan lokasi menuju Ruang pusat kontrol yang semua berpusat di area basemen...
Sementara Itu..
Di meja Resepsionis terlihat seorang Ibu Paruh Baya datang..
kedua Resepsionis serta satpam tentu mebgetahui apa yang trngah terjadi di lantai 5 ...
"Nyonya..." Sapa salah seorang Resepsionis
"kenapa terlihat gaduh sekali, ada apa?" Kata Ibu Erna sambil membawa bungkusan berisi jus dan makanan
"anu nyonya.. hemm"bkata Resepsionis yang tengah tertunduk...
"Ada apa?!" Kata Ibu Erna dengan sedikit membentak
"Anu Nyonya, Tiars terjebak di Lift" kata Resepsionis penuh ketakutan
"Apah????? dimana? Antar aku!" kata Ibu Erna dengan penuh ketakutan..
Yaa Tuhan, jaga anakku...
Tiara sayang bertahanlah..
Ibu Erna berjalan sangat tergesah-gesah.. wajahnya sangat panik namun terselip rasa amarah...
"Barry!!" panggil Ibu Erna sedikit membentak
__ADS_1
"mama" sshut Barry
"mamah" ucap Syifa yang juga berada di lokasi
"Apa gak ada cara yang cepat untuk menyelamatkan Tiara???? Apa kalian semua hanya bisa menonton??" kata Ibu Erna membentak
Syifa yang sejak tadi sudah menitihkan air mata manju menghampiri Ibu Erna
"mama, sabar kita sedang berusaha.. aku juga panik mah"bkata Sfia sambil merangkul erat Ibu Erna
"Dimana Fardhan?" Tanya Ibu Erna masih dengan nada ketus
"Di bawha mah lagi pantau pekerja di pusat kontrol" kata Syifa..
Pintu Lift berhasil terbuka, nampak tabung Lift masih menggantung di lantai 6 nenuju lantai 5..
sedikit celah membuat kaki Tiara nampak dari lantai 5..
"Paling tidak nona bisa mendapat sirkulasi udara yang lebih baik pak" Kata Seorang petugas lalu di anggukan oleh Barry
"Sayang ini mama, kamu denger mama nak?" kata Ibu Erna sedikit berteriak sambil menoleh ke atas lift
"Hati-hati bu" kata Seorang petugas agar Ibu Erna memperhatikan dirinya mengibgat lorong lift kebawah begitu menyeramkan
"mamaaaa??" sahut Tiara yang tengah berjongkok
"iya mahh Tiara denger mama, Tiara baik-baik aja mah" Ucap Tiara meski nada tangisnya tak bisa ia sembuyikan..
"Syukurlah, bertahanlah sayang" tambah Ibu Erna
"Kalian cepat lah cari cara atau kalian saya terjunkan kebawah sini mau?" Kata Ibu Erna menujuk lorong lift ke arah bawah
Para petugas dan beberapa orang yang mendengarnya bergidik ngeri, hingga terasa sangat sulit menelan air liurnya...
Lima menit berkutik...
"Pak aliran listrik kembali normal, kita akan mencobanya, tapi jika gagal lift akan terjatuh... bagaimana ini pak?" kata Seorang petugas
"Coba lah sayang, aku tak apa, aku yakin aku baik-baik saja" ucap Tiara yang mendengar samar percakapan tersebut
"Sayang apa kamu yakin?" kata Barry lirih sambil menoleh ke atas
"yakin.. lakukan lah aku ga tahan kepalaku mulai pusing" kata Tiara Lirih
Barry diam sejenak, pikirannya kembali memberikan rekaman buruk tentang tiara saat koma..
"Baik lakukanlah... "Kata Barry dengan wajah dingin...
Para Pekerja pun memberi kode dari balik HT yang ia pegang...
Pintu Lift sengaja di biarkan Terbuka...
debar jantung seluruh orang yang menyaksikan terpacu sangat cepat..
Syifa dan Ibu Erna saling memeluk, Terlihat Barry menyiapkan tubuhnya di depan pintu lift..
Namun Tiba-tiba Lift tidak berhenti , Lift terus terperosok kebawah dengan kecepatan cukup kencang..
Tiara Berteriak ketakutan, Barry membulatkan matanya menyaksikan hal tersebut..Ibu Erna dan semua yang menyaksikan berteriak histeris..
"yaa Tuhan"
"Astagfirullah"
"Bodoh" ucap Barrry Frustasi
Para pekerja sibuk memainkan HT nya..
"Pak Lift tergantung antara Basemnt dan Lantai dasar.. " kata petugas membuat mereka dan Barry berlarian kebawah menggunakan anak Tangga..
__ADS_1
Sementara Itu, Fardhan yang sejak tadi standby di ruang monitoring pusat sistem berlari ke arah Lift bersama petugas..
Lift di buka paksa, beruntung saja Lift menggantung tepat di tengah, membuat Tiara masih bisa di efakuasi meski ia harus menrayap demi keluar dari Lift..
"Dhan kaki ku sakit, karena hentakan tadi kaku ku jadi nyeri" keluh Tiara merasa nyeri pada pergelangan kakinya
"bagaimana ini" Decak Fardhan kebingungan
"Nona, bisa ga kalo Nona tengkurap dan merayap, nona mengeluarkan kepala lebih dulu... Karena kita ga mungkin menyalahkan sistem lagi, saya takut malah Lift terjatuh kebawah dan membuat nona celaka" Ucao Salah satu petugas
"Akan Aku coba" ucap Tiara menahan rasa sakitnya
"jarak sekitar setengah meter dari celah tersebut sedikit membuat Tiara tidak terlalu yakin untuk bisa lolos, namun mengingat badannya langsing para petugas yakin ia bisa lolos...
Tiara mengeluarkan satu tangannya, ia mengeluarkan dirinya dengan posisi Tiarap..
"Pak ayo Tangkap Nona, bantu tarik... gak mungkin saya, saya masih mau bekerja disini"
Terus lo pikir gue udah bosen kerja sama abang gue sendiri hah? - Batin Fardhan kesal
Terpaksa Fardhan menujurkan tangganya hendak meraih tubuh tiara tepat di ketiaknya..
Namun Tiba-tiba..
Plak!
"Jangan macem-macem lo! " kata Barry yang baru datang menepak tangan kanan Fardhan
"Awwwww"
Sial, gue niat nolong aja di keplak.
"Sayang ayo" Kata Barry meraih lengan Tiara membantu menariknya, lalu tanggan Barry meraih Tiara meletakan dua tanggannya di bawah ketiak Tiara lalu menariknya perlahan...
Tiara berhasil keluar, ia langsung mengalungkan Tangannya di leher Barry, dengan haru ia memeluk Tubuh Barry..
Barry memeluk Tiara Erat, sangat erat.. bebrapa kecupan di kepala Tiara Barry layangkan tanpa rasa malu...
"Allhamdulillah... Aku hampir mati sayang" Kata Barry mengecup kening Tiara
"kaki ku sakit" keluh Tiara yang tak mampu berdiri sempurnya
"Kita ke rumah sakit yaa" kata Barry sambil membenahi rambut Tiara menyelipkannya di balik telinga Tiara..
"engga aku mau pulang aja" Kata Tiara Lirih
"kerumah Mama ya sayang" Kata Ibu Erna yang Tiba-tiba datang bersama Syifa, Anwar, Sarah dan Pras
"Ibu peri gapapa? celetuk Pras
"iyaa Tii gue hampir pingsan tau lo kejebak di dalem" Sahut Syifa
"Tenang sayang, kamu pingsan aku gendong" kata Fardhan terkekeh
Syifs langsung memicingkan matanya
"aku gapapa kok, makasih udah khawatirin aku" kata Tiara masih dalam rangkulan Barry
"makasih udah bikin kita panik, syukur lo gapapa" sahut Syifa kembali...
"Yasudah ayo sayang pulang, Nanti di urut kakinya" kata Ibu Erna mengajak
Barry memapah Tiara menuju mobil ibu Erna yang sudsh standby seorang supir disana..
"kamu duluan sama mama, aku akan pulang secepat nya menyusl kalian" kata Barry setelah mendudukan Tiara di kursi penumpang
Tiara memegang tangan Barry seolah menahannya..
"Jika ini unsur kesengajaan, jangan pakai amarah untuk menyelesaikannya yaa" kata Tiara Lirih
__ADS_1
Barry tersenyum dan mengangguk lalu mengecup mesra dan cukup lama kening Tiara..
"Mah aku titip Tiara, aku akan pulang secepat nya" kata Barry lalu di iyakan oleh Ibu Erna..