Janji M

Janji M
Pertemuan


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Aditya


Matahari belum juga terbit, Aditya disibukkan dengan pikiran nya sendiri. Kebingungan bercampur keresahan yang tidak bisa dia hentikan sejak pulang dari kantor. Atasan sekaligus pemilik perusahaan tempat dia bekerja, meminta nya untuk menjaga putri semata wayang nya. Bukan tanpa alasan, bos nya itu memintanya menjaga putrinya. Aditya tinggal sendirian, sejak usia 12 tahun semenjak neneknya meninggal dunia. Sejak itu Aditya bekerja untuk mencukupi kebutuhan nya, dan mulai putus sekolah sampai dengan saat ini diumur 15 tahun.


...****************...


Disaat Aditya merasakan beratnya hidup, dia bertemu dengan Pak Gunawan. Seorang pengusaha kaya yang sempat dia tolong saat hendak dicopet perampok. Karena keberanian dan niat baik Aditya untuk membantu nya, Pak Gunawan merasa sangat berterima kasih.


"Terima kasih atas bantuan mu, nak." Kata Pak Gunawan


"Sama-sama pak, Bapak baik-baik saja?" Sahut Aditya


Pak Gunawan menanggapi pertanyaan Aditya dengan senyum dan anggukan kepala. Pak Gunawan melihat penampilan Aditya yang tidak terawat, dengan rambut yang panjang dan baju yang lusuh serta kotor. Dengan sangat hati-hati pak Gunawan bertanya kepada Aditya tentang siapa dia, dan tinggal dimana. Setelah Aditya menceritakan sedikit tentang latar belakang nya, pak Gunawan merasa iba.


"Bagaimana kalau kamu ikut saya, saya akan membiayai kebutuhan dan pendidikan mu. Agar kamu bisa menyambung sekolah mu yang sempat terputus. Ini sebagai bentuk rasa terima kasih saya kepadamu, nak." Pak Gunawan berkata dengan menepuk pundak Aditya


"Tidak perlu pak, saya membantu bapak ikhlas. Terima kasih atas tawaran bapak." Sahut Aditya dengan sopan.


Pak Gunawan terus memaksa Aditya, tetapi Aditya masih kekeh dengan keputusannya dan menolak secara sopan. Pak Gunawan merasa kagum dengan Aditya, jarang sekali anak kecil seusia Aditya mau bekerja keras tanpa mengharapkan bantuan dari orang lain.


"Bagaimana kalau kamu kerja di tempat saya, sebagai gantinya saya akan membiayai kebutuhan dan pendidikan mu. Hingga kamu dewasa dan siap terjun ke dunia perkantoran, perusahaan saya membutuhkan orang seperti kamu." Pak Gunawan menawarkan pilihan kepada Aditya.


Aditya yang sedikit bingung dan bimbang, sedikit menyakinkan diri nya untuk menerima tawaran dari pak Gunawan.


*Aku memang butuh pekerjaan untuk membiayai kebutuhanku, aku juga harus melanjutkan sekolah ku untuk mewujudkan permintaan nenek* batin Aditya


"Baa..baik pak saya bersedia bekerja di tempat bapak". Jawab Aditya setelah lama berperang dengan batin dan pikirannya.


Pak Gunawan tersenyum lega, Aditya mau menerima tawarannya.


- Sesampai nya di kediaman pak Gunawan -


Aditya merasa sangat kaget, dia tidak menyangka orang yang ditolong nya adalah orang yang sangat kaya. Bahkan dia terpana melihat halaman dan rumah pak Gunawan yang luar, Aditya berperang lagi dengan pikirannya. Apa benar yang dia alami hanya mimpi atau kenyataan, bahkan dia tak berhenti-henti nya mengucap syukur dalam hati nya.


"Ayo turun, kita sudah sampai". Ucap pak Gunawan, yang memecahkan lamunan Aditya.


-Aditya POV-


Aku dan pak Gunawan melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah, belum sampai depan pintu. Keluar seorang gadis yang menghampiri pak Gunawan, dengan ekspresi yang kesal.


"Apa yang papa lakukan? Aku malu sama teman-temanku, papa sudah janji akan datang ke acara sekolah. Tapi sampai acara selesai papa tidak datang!!" Bentak gadis itu


"Maafkan papa sayang, papa ada sedikit masalah tadi. Maafin papa ya?" Sahut pak Gunawan dengan memegang pundak gadis itu.


"Aku benci sama papa, papa selalu saja ingkar janji. Bahkan sekarang papa membawa gembel ini ke rumah?!" Cetus gadis itu


"Keysa! Jaga bicara mu, papa tidak pernah mengajari mu berbicara seperti itu!" Bentak pak Gunawan pada gadis itu


Aku hanya bisa diam, gadis itu sangat kasar bahkan kepada ayah nya sendiri. Aku kira dia gadis yang baik, seperti papanya. Lamunan ku tersadar saat pak Gunawan memeluk pundak ku dan mengajak ku masuk ke rumah melewati gadis itu.


"Tidak usah dengarkan omongan Keysa, dia memang begitu mungkin saya terlalu memanjakan nya." Kata pak Gunawan memulai obrolan setelah lama aku memilih diam.


"Baik pak." Jawab ku singkat.


Setelah sampai di ruang utama rumah pak Gunawan, ada beberapa asisten rumah tangga yang menyapa pak Gunawan dan aku. Salah satu asisten rumah tangga itu, mengantarkan ku ke suatu ruangan setelah menerima perintah dari pak Gunawan. Aku merasa terkejut setelah masuk ruangan tersebut, luar dan mewah. Bahkan lebih luar dari rumah ku dan nenek dulu, asisten rumah tangga itu meminta ku untuk beristirahat dan berpesan jika ada yang aku butuhkan bisa memanggil nya.


*Dalam sekejap hidupku mulai berubah, bahkan apa yang aku lakukan tadi tidak dapat menebus semua kebaikan pak Gunawan. Beliau orang yang sangat baik hati* batin ku


Aku menghempaskan tubuh ku ke kasur yang sangat empuk, dan belum pernah aku rasakan sebelum nya. Dalam hitungan detik pun aku tertidur pulas.


-Aditya POV and-


Disisi lain lain ruangan Keysa, menangis dengan perasaan kesal dan kecewa. Dia bahkan tidak menyangka papa nya bisa membentak nya seperti tadi.

__ADS_1


"Semua ini pasti karena cowok kotor tadi, papa sampai membentak ku!!" Kata keysa dengan nada tinggi sambil menangis terisak.


*Siapa cowok tadi? kenapa papa membawa nya pulang ke rumah?* batin Keysa.


Tak lama kemudian pintu kamar Keysa diketuk, pak Gunawan masuk dengan membawa sesuatu di tangan nya. Keysa hanya bisa diam dan pura-pura tidak tahu jika papa nya masuk.


"Sayang, maaf kan papa. Papa hanya ingin kamu menjadi gadis yang baik dan bijaksana, mama mu berpesan kepada papa untuk menjadi kan mu wanita yang bermanfaat untuk semua orang. Mungkin cara papa yang salah karena terlalu memanjakan mu, papa hanya punya kamu sekarang. Papa hanya ingin yang terbaik buat kamu, papa tidak ingin membuat mu kesulitan, mengertilah sayang. Dan... Untuk anak laki-laki yang papa bawa ke rumah tadi, dia adalah anak yang sudah menolong papa saat papa dirampok. Papa membawa nya kesini untuk menawarkan pekerjaan dan membiayai kebutuhan nya sebagai ucapan rasa terima kasih papa. Dia anak yang baik, kamu bisa berteman dengan nya." Jelas pak Gunawan untuk menyakinkan putri nya


Keysa hanya terdiam mendengar penjelasan papa nya, kini dia hanya bisa merenungkan omongan papanya. Faham akan sifat putri kecil nya pak Gunawan meninggalkan kamar Keysa, berharap Keysa bisa lebih tenang terlebih dahulu. Melihat papa nya yang keluar dari kamar dengan perasaan sedih, Keysa merenungkan kembali ucapan papa nya. Di dalam hatinya hanya amarah yang terus menguasai diri nya. Bahkan setelah mendengar penjelasan dari pak Gunawan, Keysa tetap tidak mengerti kecelakaan yang menimpa pak Gunawan.


-Di taman bermain kota S-


"Ma, ayo kita main ayunan di sana. Ayo ma, cepat." Rengek seorang gadis cantik yang menarik-narik tangan ibu nya.


"Iya sayang, sabar jangan lari-lari ya." Sahut wanita cantik yang terlihat sangat bahagia, melihat putri kecil nya.


"Reyna sayang, jangan cepat-cepat oma tidak bisa berlari."


Terlihat senyum bahagia yang menghiasi keluarga tersebut, gadis kecil yang sangat aktif dan ceria untuk menggambarkan sifat Reyna.


Dari arah lain, terlihat anak laki-laki yang sedang duduk sendirian sambil memainkan mobil remote milik nya. Namun, tampak jelas raut wajah anak itu tidak sedang. Reyna yang menyadari akan hal itu saat bermain ayunan, menghentikan ayunan nya dan memandang mama nya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan mama nya.


"Ada apa nak?" Tanya mama Melati (Mama Reyna)


Tanpa menjawab pertanyaan mama nya, Reyna berlari ke arah anak laki-laki itu. Mama dan oma nya kaget dan berteriak karena melihat Reyna berlari tanpa berpamitan.


"Hai, nama mu siapa? Namaku Reyna, ayo main dengan ku." Seru Reyna yang sontak membuat anak laki-laki itu terkejut.


"Oh... Hai, nama ku Ivan. Tidak perlu aku bisa main sendiri." Sahut Ivan dengan membawa pergi mainan nya meninggalkan Reyna.


Reyna yang kesal dengan perilaku Ivan, menarik tangan Ivan berharap dia mau bermain dengan Reyna.


"Apa yang kamu lakukan? Sudah aku katakan aku tidak ingin bermain denganmu!" Bentak Ivan


"Saya tau kalau kamu kesepian, maka bermain lah dengan saya." Tegas Reyna


"Nah gitu dong, saya jamin kamu akan senang bisa bermain bersamaku." Seru Reyna dengan semangat


Mama Melati dan oma Kirana yang melihat hal tersebut hanya terkekeh, mereka tau bahwa Reyna sering kali memaksa seseorang untuk bermain dengan nya. Reyna dan Ivan bermain hingga waktu sudah mulai sore, mama Melati mengajak Reyna untuk pulang.


"Ivan, hari sudah sore kami mau pulang. Rumah Ivan dimana? Biar tante antar sekalian." Tanya mama Melati


"Tidak perlu tante, rumah Ivan didekat sini. Ivan bisa pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya." Jawab Ivan dengan sopan


Reyna dan keluarga nya meninggal kan Ivan sendiri di tengah Taman, hari ini sangat menyenangkan bagi Ivan. Karena sebelumnya dia belum pernah bermain dengan anak perempuan.


*Seru juga bisa bermain dengan gadis itu* batin Ivan


-Kediaman pak Gunawan-


"Sepertinya aku ketiduran." Kata Aditya sambil mengumpulkan kesadaran nya.


Aditya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah beberapa menit mandi. Tiba-tiba dia mendengar suara pintu kamar nya dibuka seseorang, Aditya bergegas keluar kamar mandi. Dan melihat pak Gunawan berdiri di depan pintu nya, sambil membawa makanan dan segelas air di tangan nya.


"Dit, makan dulu. Saat waktu makan malam bik Inah melihatmu masih tertidur jadi saya sengaja membawakan makanan ke sini." Kata pak Gunawan sambil menaruh makanan dan segelas air di atas meja.


"Terima kasih pak, tidak perlu repot-repot." Sahut Aditya


"Kalau begitu kamu makan dulu, kalau sudah selesai kamu panggil bik Inah saja untuk membereskan piring kotor nya. Saya ke kamar dulu." Sambil mengelus kepala Aditya


"Baik pak, sekali lagi terima kasih."


Pak Gunawan hanya menjawab dengan senyum dan anggukan, kemudian keluar dari kamar Aditya. Aditya yang merasa lapar, menyantap makanan nya dengan lahap hingga suapan terakhir. Aditya berencana membawa piring dan gelas kotor ke dapur, namun setelah menuruni tangga dia bingung harus ke arah mana. Bahkan dia hanya bisa celingukan mencari arah ke dapur.

__ADS_1


"Hei anak kotor, mau ngapain kamu? Mau mencuri ya?" Tanya Keysa yang datang tiba-tiba dengan menuduh Aditya


"Tidak nona, saya hanya mencari jalan ke dapur untuk mengembalikan piring kotor"


"Mana ada pencuri yang ngaku"


"Mohon maaf nona, saya tidak berbohong"


Mendengar ada keributan di ruang tengah, bik Inah menghampiri dan melihat Keysa yang terus menyudutkan Aditya.


"Maaf nona Keysa, Mas Aditya benar. Tadi saya yang dapat perintah dari tuan besar untuk mengambil piring kotor dari kamar mas Aditya." Jelas bik Inah


"Oh, aku kira kamu pencuri. Ternyata kamu jujur juga." Celetuk Keysa


Membuat amarah Aditya meluap, namun sadar akan posisi nya. Aditya berusaha menahan, dan meminta bik Inah mengantarnya ke dapur. Meninggalkan Keysa sendirian di ruang tengah.


"Jangan diambil hati ya mas, ucapan nona." Ucap bik Inah memecahkan keheningan


"Iya bik." Jawab Aditya singkat


"Setelah nyonya besar meninggal, sikap nona Keysa jadi seperti itu. Dia lebih sering marah-marah, tidak seperti dulu yang selalu ceria."


Aditya hanya mendengarkan penjelasan bik Inah dan mengangguk pelan. Bahkan Aditya tidak perduli dengan Keysa, mau bagaimanapun sikapnya sudah keterlaluan memperlakukan orang lain seperti itu.


"Bik saya kembali ke kamar dulu ya." Pamit Aditya sambil mengelap tangan nya yang basah


"Iya mas Aditya, terima kasih sudah membantu bibi."


*Apa aku sanggup bertahan di sini dan melihat sikap gadis itu setiap hari* batin Aditya


Aditya berjalan menuju kamarnya dengan pikiran yang mempertimbangkan niatnya untuk terus berada di kediaman pak Gunawan. Bukan karena sikap Keysa saja, dia juga tidak mau membuat pak Gunawan kerepotan karenanya. Aditya berfikir hingga tak sadar dirinya tertidur.


-Keesokan harinya-


Cit cit cit cuit....


Suara burung terdengar, dari balik tirai terlihat cahaya sudah mulai terang. Aditya terbangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, hari pertama Aditya bekerja di rumah pak Gunawan. Aditya juga menyakinkan diri untuk berbicara pada pak Gunawan, untuk mempertimbangkan lagi keputusan pak Gunawan mengenai dirinya.


"Selamat pagi pak" Sapa Aditya dengan melangkah mendekati pak Gunawan yang sedang duduk sarapan di meja tengah.


"Aditya, duduklah ayo kita sarapan bersama. Setelah sarapan ini kamu ikut bik Inah, hari ini kamu mulai sekolah." Sahut pak Gunawan


"Pak... ada yang ingin saya sampaikan pada bapak sebelumnya" Kata Aditya dengan sangat hati-hati


"Apa yang ingin kamu katakan? Duduklah terlebih dahulu"


"Begini pak, sebelumnya saya mohon maaf. Saya ingin kembali tinggal di rumah nenek saya saja pak, menurut saya fasilitas yang bapak berikan terlalu berlebihan. Saya akan kesini jika waktunya bekerja."


"Apakah kamu tidak nyaman dengan semua ini? Aku faham nak, kamu bisa tinggal di rumah nenekmu lagi. Kamu tidak perlu bekerja kepadaku selama kamu masih sekolah, setelah kamu lulus pendidikan kamu baru bekerja. Perusahaan ku membutuhkanmu. Sekarang belajarlah yang sungguh-sungguh, kamu tidak perlu khawatir biaya sekolah dan kebutuhanmu."


"Biarkan saya tetap bekerja pak, saya merasa tidak enak kalau biaya pendidikan dan kebutuhan saya. Bapak yang tanggung semua. Mau bagaimanapun saya ini orang luar pak." Pinta Aditya dengan harapan pak Gunawan mau memahaminya


"Baiklah, kamu bisa bekerja setiap pulang sekolah sampai malam. Kamu pergi ke restoran saya, untuk bersih-bersih dan mencuci piring kotor. Saya akan memberimu gaji setiap bulan untuk biaya kebutuhan dan pendidikan mu. Bagaimana?"


Tawaran pak Gunawan membuat Aditya lega, setelah perbincangan pak Gunawan dengan Aditya. Keysa turun dari kamarnya dan menatap sinis ke arah Aditya yang makan semeja dengan papanya, Aditya sadar akan hal itu dan mengalihkan matanya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa vote, like, dan komen :)


__ADS_2