
.
.
.
.
"Begini kak..."
-Flashback on-
"Aditya?"
Aditya kecil berlari menghampiri seorang wanita cantik yang tengah sibuk mencarinya dengan memegang sepiring makanan.
"Ibu!" Teriak Aditya hingga mengejutkan ibunya.
"Bandel ya kamu, ibu mencari mu dari tadi Aditya."
"Hehehe maaf bu."
"Duduk sini kita makan kue dulu." Kata Inara sambil mengangkat tubuh Aditya kecil di pangkuannya.
"Ibu, nenek dimana?"
"Nenek panen sayur di belakang rumah bersama mbok Ijah."
"Aditya mau bantu nenek bu." Sahut Aditya yang langsung meloncat turun dari pangkuan ibunya dan berlari menuju halaman belakang rumah.
......................
"Nenek, mbok Jah Aditya mau bantu."
"Wah siapa ini? Jagoan kecil nenek mau bantu?"
"Iya mau nek" Jawab Aditya semangat.
"Lihat, dia sangat semangat sekali jika urusan membantu nyonya." Sahut mbok Ijah menghentikan tangannya yang sibuk memanen cabe.
"Dia cucuku, sifatnya mewarisi sifat ku." Canda nenek Sekar (Nenek Aditya).
Mereka berdua saling tertawa melihat tingkah lucu Aditya.
Dari kejauhan terlihat ibu Aditya tengah memperhatikan keseruan antara Aditya, neneknya, dan mbok Ijah yang sedang memanen sayuran.
*Kamu cepat sekali tumbuh sayang, tidak terasa umurmu hampir menginjak 4 tahun.* batin Inara.
Uhuk...Uhuk...
Inara menutup mulutnya yang tidak henti-hentinya batuk, saat dia berniat ingin masuk dan melepaskan telapak tangannya di bibirnya. Cairan berwarna merah segar terlihat jelas dari matanya, dia sempat terkejut. Namun dengan segera mungkin dia langsung membersihkan telapak tangannya dan kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Sementara itu, Aditya masih sibuk dengan nenek dan asisten rumah tangganya memanen sayur, tanpa mengetahui keadaan ibunya.
-1 tahun kemudian-
"Ibu bangun bu bangun, ibu." Teriak Aditya sambil mengguncang tubuh ibunya.
"Ada apa sayang?" Jawab ibunya dengan nada lemas.
"Ibu kenapa? Apa ibu sakit? Mau Aditya ambilkan makan dan obat?"
"Tidak sayang, ibu hanya kelelahan. Aditya mau berangkat sekolah? Sekolah yang pintar ya, jangan bandel." Sambil mengelus rambut Aditya.
"Iya Aditya mau berangkat sekolah, mbok Ijah yang mau mengantarkan. Ibu istirahat ya, Aditya berangkat dulu." Kata Aditya sambil mencium tangan dan pipi ibunya bergantian.
"Hati-hati sayang, jangan lupa makan bekalmu ya."
"Iya bu, Aditya berangkat sekolah dulu. Dada ibu, Aditya sayang sekali dengan ibu." Ucap Aditya yang berjalan mundur untuk keluar kamar sambil melambaikan tangannya.
......................
"Masuk dulu nak, mbok tunggu disini. Belajar yang pintar ya."
"Siap mbok."
Selama hampir 3 jam Aditya mengikuti hingga waktu istirahat tiba, mbok Ijah yang menunggu di luar tidak juga melihat sosok Aditya kecil. Bahkan hampir semua temannya sudah keluar dari ruang kelas.
Mbok Ijah yang penasaran, mendekati ruang kelas Aditya dan melihat Aditya yang masih tengah duduk di bangkunya dengan kesibukan yang dia lakukan. Tanpa menunggu lama mbok Ijah menghampiri Aditya, terlihat Aditya tengah menggambar sesuatu.
"Le cah ganteng, sedang apa? Ayo makan dulu keburu waktu istirahat habis." Kata mbok Ijah sambil membelai rambut Aditya.
Mbok Ijah melihat gambar yang tengah diwarnai oleh Aditya, bibirnya tersenyum lebar melihat keseriusan Aditya.
*Tuan, putra anda sudah besar. Dia anak yang sangat baik, apa anda tahu jika anda memiliki putra sebaik Aditya?* batin mbok Ijah.
Setelah hampir 3 menit Aditya menyelesaikan gambarannya dan menyimpan kembali perlengkapan menggambarnya, tidak lupa dia juga menunjukkan gambar itu pada mbok Ijah.
"Gambar yang sangat bagus cah ganteng, ayo sekarang makan dulu."
"Ayo mbok."
-Pukul 10.55-
Aditya dan mbok Ijah sudah kembali ke rumah, saat di teras rumah langkah mbok Ijah terhenti saat melihat anak beserta cucunya tengah menunggunya.
"Loh, kok disini Nduk? Ada apa?" Tanya mbok Ijah pada anaknya.
"Gini bu, aku kemari berencana menjemput ibu."
"Ada apa?"
Belum sempat anak mbok Ijah menjawab, Inara dan nenek Sekar keluar dari rumah dan menemui mereka.
__ADS_1
"Mbok, tadi anak mbok dan saya sudah mengobrol. Sudah waktunya mbok istirahat dan kumpul bersama keluarga mbok, mengingat usia mbok sudah hampir sama dengan mama saya. Mbok tidak perlu khawatirkan kami, saya, Aditya, dan mama bisa menjaga diri. Selama ini mbok sudah banyak sekali membantu kami, bahkan setelah kejadian itu mbok masih mau bersama kami. Mbok sudah seperti keluarga kami, mau bagaimanapun keputusan ini sangat sulit. Tapi keluarga mbok juga menginginkan mbok berkumpul dengan mereka."
"Ada apa ini nona?"
"Kita pulang bu, ibu sudah ndak harus bekerja. Biar aku yang bekerja, ibu cukup di rumah dan bermain dengan cucu ibu. Aku sudah dapat pekerjaan bu, dan sebentar lagi aku akan melahirkan siapa yang akan membantuku menjaga anakku kalau ibu tidak bersamaku."
"Tapi..."
"Mbok tidak perlu khawatir kami akan baik-baik saja." Sahut Inara.
"Ibu? Mbok Jah mau kemana?" Tanya Aditya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang? Mbok Ijah harus pulang, keluarga mbok Ijah merindukan mbok Ijah."
"Mbok Jah akan kembali kesini lagi kan bu?"
"Tidak nak, tapi Aditya tidak perlu sedih jika ada kesempatan kita main ke rumah mbok Ijah."
Seketika air mata Aditya mengalir dari mata indahnya, setelah mendengar ucapan dari ibunya. Dan saat itu juga Aditya langsung memeluk erat mbok Ijah yang tepat berada disebelahnya.
"Cah ganteng, jangan nangis. Aditya masih bisa bertemu dan main sama mbok Jah lagi, bahkan Aditya bisa main dengan cucu mbok. Jangan sedih ya Le, lain kali kita bertemu." Kata mbok Ijah sambil memeluk Aditya.
Bagi Aditya mbok Ijah bukan sekedar asisten rumah tangga, dari dia kecil hingga masuk sekolah mbok Ijah yang menemaninya selain ibu dan neneknya. Bahkan Aditya sudah sangat terbiasa dengan kehadiran mbok Ijah dalam hidupnya, mengingat dia tidak tahu siapa ayahnya. Baginya 3 perempuan yang selalu ada untuknya sudah lebih dari cukup untuk pengganti ayahnya.
Hampir 1 jam Aditya tidak ingin melepaskan mbok Ijah, hingga matanya merasa lelah menangis terus-terusnya dan mulai mengantuk. Selang beberapa menit saja Aditya sudah tertidur pulas di pelukan mbok Ijah.
Dengan pelan-pelan mbok Ijah menidurkan Aditya di atas sofa, yang terletak di ruang tamu.
"Jaga diri baik-baik ya Le, lindungi ibu dan nenekmu dari orang-orang jahat. Jangan pernah biarkan mereka kenapa-kenapa, mbok tahu kamu anak yang kuat. Mbok pamit dulu ya cah ganteng." Gumam mbok Ijah dengan air mata berlinang serta tangan yang terus mengelus lembut kepala Aditya yang tengah tertidur pulas.
"Nona, nyonya. Saya pamit dulu, jaga diri baik-baik, jaga kesehatan, makan yang teratur, jangan banyak beban pikiran. Aditya anak yang pintar, saya yakin dia akan melindungi kalian." Kata mbok Ijah yang langsung mendapat pelukan dari Inara.
"Kamu juga jaga diri baik-baik Ijah, saya sangat berterima kasih selama ini karena sudah bersama kami. Jika ada apa-apa segera hubungi kami jangan sungkan-sungkan, kamu sudah seperti keluarga bagi kami." Sahut nenek Sekar.
"Walaupun berat, tapi ini yang terbaik buat mbok. Mbok jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan mbok." Kata Inara sambil melepas pelukannya.
"Baik nyonya, nona. Saya pamit dulu."
Anak mbok Ijah membantu mbok Ijah membawa tas yang berisi baju milik mbok Ijah, kepergian mbok Ijah dari rumah meninggalkan kesedihan bagi keluarga kecil Aditya.
Mbok Ijah yang mengerti jalan dan lika-likunya keluarga Aditya selama ini, bahkan dia sudah bersama keluarga Aditya hampir 20 tahun lamanya dari sebelum ayah dan ibu Aditya menikah hingga mereka berpisah dan terlahir nya Aditya kecil tanpa sosok seorang ayah.
.
.
.
.
Jangan lupa support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian. Tetap jaga kesehatan dan semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa🤗❤
__ADS_1
Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk author🙏🏻🤗
Ditunggu vote, like, dan komen xoxo❤❤❤