
.
.
.
.
-Pukul 22.00-
Aditya bersiap untuk pulang, setelah mengganti seragamnya. Aditya mengecek ponselnya yang begitu banyak notifikasi dari Rosa dan Dion, tanpa membukanya Aditya sudah tahu pasti karena masalah tadi.
Sebelum pulang Aditya menghampiri kepala pelayan di restoran untuk meminta nomer pak Gunawan.
"Permisi bu, saya mau meminta nomer pak Gunawan atau asisten pak Gunawan."
"Ini mas, kamu bisa langsung menghubungi pak Gunawan. Waktu itu beliau menitip pesan pada saya untuk memberimu kontaknya agar bisa menghubunginya jika ada sesuatu."
"Terima kasih bu, saya pamit pulang."
"Iya hati-hati, cepat obati lukamu lagi biar tidak infeksi."
Aditya menjawab dengan anggukan .
Aditya kembali memasukan ponselnya dalam saku setelah mencatat nomer pak Gunawan, dan berjalan sambil sempoyongan untuk mengambil sepedanya.
Aditya hanya menahan sakit di badannya, dia hanya ingin segera pulang ke rumah dan istirahat.
-Di kediaman keluarga Gunawan-
Keysa terduduk melamun di balkon kamarnya, dia teringat ucapan Aditya yang membuatnya sakit hati.
Entah apa yang harus dia lakukan, bahkan untuk mundur dia tidak bisa rasanya pada Aditya sudah terlanjur dalam.
"Apa yang harus aku lakukan Dit?" Tanya Keysa sambil menatap langit
..............
Aditya menaruh sepedanya di teras rumah, waktu yang dia tempuh lebih lama dari biasanya hampir 1 jam Aditya menahan sakit diperjalanan.
Aditya mencari kunci pintu rumahnya di dalam tas, dan berusaha membuat pintu. Belum sampai dia masuk ke dalam rumah. Tubuh Aditya sudah tidak bisa menahan sakit, dan ambruk di lantai.
................
"Dimana Aditya ini? Apa dia baik-baik saja? Sudah jam segini jalanan sepi." Gumam Dion yang mengendari motornya menuju rumah Aditya untuk melihat keadaan Aditya
(Dion mendapat telfon dari Rosa jika Ivan telah menelfon nya dan marah padanya karena hanya Aditya yang mengantarkan hadiah, Ivan juga spontan menceritakan kalau Aditya sempat berkelahi dengannya. Membuat Rosa khawatir, sudah beberapa kali Rosa mengirim pesan bahkan menelfon Aditya tapi tidak ada jawaban. Dion yang mendengar cerita dari Rosa juga mengirimkan beberapa pesan dan menelfon nya tapi hasil yang dia dapat sama dengan Rosa membuat, dia bergegas ke rumah Aditya untuk mengecek keadaannya.)
Sesampainya Dion di depan rumah Aditya betapa terkejutnya dia melihat Aditya tengkurap di didepan pintu. Dion mencoba membangunkan Aditya namun Aditya tidak sadarkan diri bahkan dia bingung harus berbuat apa, karena keadaan kampung rumah Aditya berada sangat sepi karena sudah masuk tengah malam.
Dion mencoba membawa Aditya masuk ke dalam rumah dengan memeluk badan Aditya dan membawanya pelan-pelan walaupun terpaksa sedikit menyeret tubuh Aditya.
Dion mengambil baskom berisi air, di percikannya air itu ke wajah Aditya berharap Aditya segera sadar. Selang beberapa menit, Aditya sadar dan Dion bernafas lega.
"Dit kamu tidak apa-apa? Maafin aku dan Rosa, ini semua karena kamu." Ucap Dion sambil sedikit berkaca-kaca
"Jangan jadi laki-laki lemah!" Bentak Aditya sambil memukul pelan kepala Dion
Dion hanya meringis, dia lega Aditya cepat sadar dan bisa berbicara padanya. Dion mengambil kotak obat yang ada di meja televisi Aditya dan berniat untuk mengobati luka Aditya.
"Saya mau mandi dulu, badan saya lengket." Ucap Aditya dengan berusaha berdiri dari posisi tidurnya.
"Aku bantu sampai di depan kamar mandi, kalau ada apa-apa panggil aku." Kata Dion sambil memapah Aditya ke kamar mandi
Sambil menunggu Aditya mandi, dion mengirimkan pesan pada Rosa...
(Chatting)
-----------
^^^"Ros, Aditya bersamaku kamu tidak perlu khawatir. Tenanglah."^^^
(Selang 1 menit)
"Syukurlah, tolong jaga Aditya. Apa lukanya parah?"
^^^"Lumayan, sesampainya aku di rumahnya^^^
^^^dia sudah tergeletak didepan pintu. Dan sekarang sudah sadar bahkan sedang^^^
^^^mandi."^^^
^^^"Besok pagi, biar aku bawa dia ke klinik^^^
^^^dekat rumahnya untuk periksa."^^^
"Iya Yon, tolong ya sampaikan maaf ku juga padanya"
"Setelah aku pulang dari rumah nenekku,
aku akan menemuinya."
-----------
Aditya sudah selesai mandi, Dion membantunya untuk ke kamar. Dion membiarkan Aditya mengganti pakaian nya, dan dia menuju ruang tv untuk mengambil kotak obat tadi.
"Yon..." Panggil Aditya
"Iya Dit, tunggu." Jawab Dion sambil berlari
Dion membuka pintu kamar Aditya dan melihat punggung Aditya lebam, Dion khawatir terjadi luka dalam. Dion segera menyuruh Aditya duduk dan mengobati nya, setelah selesai mengobati Dion menyuruh Aditya rebahan di atas kasur.
"Dit, kamu sudah makan?" Tanya Dion
"Belum."
__ADS_1
"Aku belikan nasi goreng di perempatan lampu merah ya tunggu."
"Oke."
"Kamu tidur sini?" Sambung Aditya
"Iya aku nemenin kamu disini, tadi aku sudah izin bapak ku tenang." Jawab Dion
"Nanti masukkan motormu ke garasi samping rumah. Sekalian dengan sepedaku. Lalu kunci pintu." Jelas Aditya
"Siap bos tunggu sebentar."
Dion keluar dari rumah Aditya dan mengendarai motornya untuk ke perempatan lampu merah membeli nasi goreng.
"Pak nasi gorengnya dua ya, yang satu pedas pak." Kata Dion sambil duduk di dekat gerobak nasi goreng
"Baik mas." Jawab penjual nasi goreng
Sambil menunggu pesanannya siap, Dion memainkan ponselnya. Setelah beberapa saat...
"Mas sudah, semua 40 Ribu mas yang pedas pakai karet warna merah." Jelas penjual nasi goreng sambil memberikan kantong plastik berisi nasi goreng.
"Ini ya pak, mari." Jawab Dion sambil memberikan beberapa lembar uang
"Matur nuwun mas." Jawab penjual nasi goreng
Dion menjalankan motornya menuju rumah Aditya, setelah sampai di rumah Aditya. Dion memasukkan motor dan sepeda Aditya ke dalam bagasi samping rumah, yang sedikit agak sempit sekitar 1,5 meter.
Dion yang hendak memasuki kamar Aditya, mendengar Aditya tengah berbicara.
"Sepertinya dia sedang menerima telfon, aku tunggu di luar dulu saja lah." Ucap Dion sambil menuju ke ruang televisi.
-Kamar Aditya-
Aditya menerima telfon dari Reyna yang meminta maaf karena ulah Ivan, Aditya jadi babak belur.
________
"Maaf ya Di, aku tidak tau kalau akan jadi seperti ini."
^^^"Tidak apa."^^^
"Aku benar-benar minta maaf Adi, aku baru tau ketika terbangun dan melihat ponselku. Rosa memberi tahuku."
^^^"Aku tidak apa-apa, disini juga ada Dion."^^^
"Aku merasa bersalah denganmu."
^^^"Ini semua bukan salahmu."^^^
^^^"Tenanglah."^^^
"Yasudah, sekarang kamu istirahat sekarang, lusa aku dan Rosa akan ke sana."
^^^"Iya."^^^
Panggilan terputus.
"Dion kemana? Dari tadi beli nasi goreng tidak kembali." Gumam Aditya sambil turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.
Aditya berjalan menuju ruang depan rumahnya, dilihatnya Dion tengah menonton televisi dengan bungkusan nasi yang tergeletak di meja.
"Kamu tidak mau makan? Kenapa disini? Tanya Aditya membuat Dion terkejut.
"Tadi aku mau masuk ke kamarmu dan mendengar kamu bicara, sepertinya kamu menerima telfon yasudah aku tunggu disini." Jawab Dion santai
Aditya tidak menjawab lagi ucapan Dion, dan berjalan menuju dapur untuk makan. Diikuti Dion yang membawa bungkusan makanan.
Mereka berdua makan dalam diam, setelah makan Aditya kembali ke kamar dan menyuruh Dion untuk istirahat di kamar sebelah.
"Aku tidur denganmu saja, bagaimana kalau ada apa-apa denganmu?" Protes Dion
"Terserah." Jawab Aditya singkat
Aditya tidak bisa tidur merasa badannya sakit semua, dia melihat ke arah Dion yang tertidur pulas. Aditya berusaha memejamkan matanya tapi tidak bisa, setelah sekian lama berusaha Aditya tertidur pulas.
-Pukul 4.30-
"Yon bangun, sholat subuh." Kata Aditya membangunkan Dion
"Mm? Iya Dit." Jawab Dion sambil mengusap-usap matanya.
Aditya dan Dion sholat bersama, setelah sholat Dion menyuruh Aditya untuk mandi dan bersiap-siap ke klinik.
"Sebelum ke klinik sarapan dulu, aku masakin khusus buatmu. Ada sayuran?" Kata Dion
"Ada di kulkas, aku mandi dulu."
Setelah Aditya selesai mandi dan mengganti pakaian, dilihatnya Dion tengah menyiapkan makanan di meja makan kecil milik Aditya.
"Duduk dan makanlah, walaupun masakan ku tak seenak buatan mu tapi lumayanlah masih bisa kemakan." Jelas Dion dengan membanggakan diri
"Makasih." Jawab Aditya singkat sambil menyuapi mulutnya dengan sesendok nasi.
"Makanlah dan habis kan, aku mandi bentar."
"Kamu tidak makan?" Tanya Aditya
"Makanlah dulu habis ini aku nyusul." Jawab Dion
"Ambil bajuku di almari dan pakailah, bajumu sudah kotor." Sahut Aditya sambil makan tanpa melihat ke arah Dion
Setelah bersiap-siap Aditya dan Dion yang hendak keluar rumah untuk pergi ke klinik, langkah mereka terhenti melihat Keysa dan pak Gunawan ada didepan rumah Aditya.
*Ada apa ini? Separah ini efeknya* batin Dion sambil mengelus dadanya
__ADS_1
"Selamat pagi pak, silahkan masuk." Kata Aditya sambil meminta Dion membuka pintu rumahnya lagi.
"Ada apa sebenarnya Aditya?" Tanya pak Gunawan dengan nada serius
Aditya meminta Dion untuk masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu menunggu dirinya selesai bicara dengan pak Gunawan.
Aditya tidak mau Dion terseret ke dalam masalahnya, bahkan kedalam masalahnya dengan Keysa maupun pak Gunawan.
Pak Gunawan menatap tajam ke arah Aditya membuat Aditya sedikit gelisah.
"Saya sudah dengar apa yang terjadi denganmu." Kata pak Gunawan
"Saya mohon maaf pak, semua ini hanya salah faham. Saya tidak bermaksud menyakiti hat..."
Belum sampai Aditya menyelesaikan kalimatnya, Keysa memotong ucapan Aditya.
"Lo sudah ke rumah sakit, untuk periksa?" Tanya Keysa
"Belum." Jawab Aditya
"Saya harap kedepannya jika terjadi sesuatu, kamu mengabari saya ataupun Keysa. Tidak diam seperti ini terus, saya tidak akan tau apa yang terjadi padamu jika kamu tidak bilang." Ucap pak Gunawan sambil menepuk pundak Aditya pelan.
"Saya minta maaf pak, saya tidak apa-apa seperti yang bapak lihat. Saya tidak mau merepotkan anda terus menerus." Jelas Aditya
"Saya paham kamu, beri saya nomer ponselmu biar kalau ada apa-apa saya mudah menghubungimu." Kata pak Gunawan sambil memberikan ponselnya pada Aditya
Aditya menerima ponsel pak Gunawan dan mengetikan nomernya pada ponsel pak Gunawan.
"Saya mau ke luar negeri karena urusan perusahaan mungkin akan memakan waktu lama, Keysa akan disini nemenin kamu dan membawamu ke rumah sakit. Istirahatlah dulu jangan masuk kerja sampai lukamu benar-benar sembuh"
"Baik pak, hati-hati di jalan pak." Jawab Aditya sambil bersalaman dengan pa Gunawan
"Kamu jaga Aditya baik-baik, papa berangkat dulu, saya titip Reyna ya Dit."
"Iya pa, hati-hati." Jawab Keysa sambil memeluk papanya.
Setelah pak Gunawan berjalan keluar gang rumah Aditya dengan asistennya, Aditya menyuruh Dion untuk keluar.
"Yon, keluarlah." Kata Aditya sambil duduk lagi karena kesakitan.
Aditya berpura-pura baik saja didepan pak Gunawan, padahal bagian dalam tubuhnya terasa seperti diremukkan.
"Kita berangkat ke klinik sekarang?" Tanya Dion
Aditya menjawab ucapan Dion dengan anggukan.
"Kamu di sini saja." Kata Aditya sambil menatap Keysa
"Tapi gue mau tau keadaan lo Dit, gue ikut ya?" Jawab Keysa
"Tidak perlu." Kata Aditya sambil mengajak Dion keluar.
Aditya meninggalkan Keysa sendirian di rumahnya, setelah sampai di klinik Aditya dan Dion antre untuk menunggu giliran periksa.
-Di Klinik-
Saat perawat memanggil nama Aditya, Aditya dan Dion masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter menanyakan keluhan Aditya dan memeriksa tubuhnya.
"Bagaimana dengan keadaan teman saya, dok?" Tanya Dion
"Saya rasa ini akan sedikit lama memakan waktu untuk sembuh, karena akibat benturan yang mengenai tubuh teman anda cukup keras terjadi luka dalam. Tapi anda tidak perlu khawatir, luka ini tidak begitu mengkhawatirkan. Dan jangan sampai jatuh atau terkena benturan lagi di bagian luka, itu akan membuat luka bisa terinfeksi dan semakin parah. Saya akan memberi resep untuk anda tebus di apotik depan." Jelas dokter
Setelah mendapatkan resep, Aditya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar biaya pemeriksaan. Kemudian mereka menuju apotik depan klinik untuk menebus obat yang sudah dokter tuliskan dalam resep.
Dalam perjalanan Dion melihat tukang bakso keliling, dan mengajak Aditya untuk berhenti terlebih dahulu.
"Dit, kita beli bakso dulu ya." Kata Dion sambil mematikan mesin motornya
"Oke." Sahut Aditya
"Mang, bungkus bakso 3 dipisah ya saos sambalnya." Kata Dion
"Oke siap, tunggu ya mas." Sahut penjual bakso
Setelah beberapa saat pesanan mereka siap, Aditya dan Dion melanjutkan perjalananya.
Sesampainya di rumah Aditya, Keysa masih tetap di sana dan duduk di teras rumah Aditya.
"Masih di sini?" Tanya Aditya dengan melepas sendalnya untuk masuk ke rumah
Keysa yang melihat Aditya masih menahan sakit, berusaha membantu Aditya. Namun, Aditya menolak dan melepaskan tangan Keysa yang memegangi lengannya.
Dion yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala, Dion paham betul sikap Aditya.
Dion segera masuk ke dapur untuk mengambil beberapa mangkok dan sendok, setelah kembali dari dapur betapa terkejutnya melihat Keysa memohon kepada Aditya sambil duduk di bawah Aditya.
Aditya hanya diam dan melihat kearah lain tanpa memperdulikan Keysa.
"Dit, maaf bukannya aku mau ikut campur urusanmu dengan Keysa. Tapi kamu terlalu kaku dengannya, mau bagaimanapun dia pacarmu." Kata Dion sambil meletakkan mangkok dan sendok di meja.
Aditya masih diam tidak menanggapi ucapan Dion, dan sibuk membuka bungkus bakso.
"Duduklah, ayo makan." Kata Aditya sambil memberikan bakso yang sudah dia pindahkan dalam mangkok untuk Keysa.
Keysa yang mendengar dan melihat perlakuan Aditya padanya membuat hatinya sedikit lega, Keysa tidak perduli Aditya hanya berpura-pura didepan Dion atau tulus.
Mereka bertiga makan tanpa bersuara sama sekali, bahkan tidak ada yang berniat memulai pembicaraan. Dion sendiri merasa canggung karena sebelumnya tidak pernah berkumpul dengan Keysa, walaupun mereka teman satu kelas selama 6 tahun sekolah.
Melihat perilaku Keysa yang banyak berubah membuat Dion merasa yakin kalau dia benar-benar mencintai Aditya dengan tulus.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa vote, like, dan komen :)