
.
.
.
.
"Selamat pagi nenek, ibu." Sapa Aditya sambil duduk di atas meja makan.
"Selamat pagi sayang" Jawab nenek Sekar dan mama Inara bersamaan.
"Makan yang banyak ya, nanti nenek yang akan menemani Aditya di sekolah." Kata ibu Inara.
"Ibu tidak ikut mengantar Aditya?"
"Hari ini Aditya berangkat sama nenek ya, ada urusan yang harus ibu kerjakan. Besok ibu akan menemani Aditya."
"Janji ya bu?"
"Janji."
Setelah selesai sarapan Aditya meraih tasnya di atas sofa ruang tamu, yang sebelumnya sudah disiapkan oleh ibunya.
Aditya kecil berlari menghampiri ibu Inara, entah mengapa didalam hatinya enggan untuk berangkat sekolah tanpa ibunya.
"Kenapa sayang?" Tanya ibu Inara pada Aditya yang tidak juga melepaskan pelukannya.
"Bu, Aditya mau sama ibu saja."
Mendengar ucapan Aditya yang seakan paham apa yang hendak dia lakukan, Inara hanya terdiam tanpa mengucapkan satu katapun.
"Aditya, ayo berangkat sudah jam segini sayang nanti kamu telat." Sahut nenek Sekar.
"Tapi nek..."
Belum sampai kalimat Aditya selesai, ibu Inara melepas pelukan Aditya dan mengusap pelan kepala Aditya.
"Sayang berangkat ya sama nenek, nurut kata ibu Aditya anak baik kan?"
"Iya Aditya anak baik bu."
"Bagus, sekarang Aditya berangkat ya. Nanti telat lo masuk sekolahnya."
"Aditya berangkat bu." Kata Aditya dengan nada lemas.
"Ibu berangkat dulu, kamu hati-hati kerjanya."
"Iya bu hati-hati ya, Inara nitip Aditya."
Nenek Sekar menjawab ucapan ibu Inara dengan anggukan.
*Maafin aku bu, aku harus berbohong sama ibu dan Aditya. Aku hanya tidak ingin kalian khawatir dengan keadaanku.* batin ibu Inara.
......................
Ibu Inara tengah sibuk mengunci pintu rumahnya, dan berjalan keluar dari gang depan rumah untuk menuju jalan raya.
Jalanan terlihat ramai saat jam masuk kerja dan sekolah, dari dalam mobil yang terletak tidak jauh dari tempat berdirinya ibu Inara ada seseorang yang tengah sibuk melihat ke arah ibu Inara dengan tatapan tajam.
"Ah itu dia angkotnya, sebaiknya aku segera menyebrang jalan." Kata ibu Inara dengan mata melihat ke arah angkot yang melaku di sebelah sisi lain jalan raya.
__ADS_1
Kendaraan yang melaju terlihat masih jauh dari tempat berdirinya ibu Inara, dengan bergegas dan hati-hati dia menyebrang jalan. Saat dirinya tepat ditengah jalan, terlihat mobil yang tadinya berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri melaju dengan sangat kencang.
"Aaaaa"
Brak...
"Hei berhenti."
"Berhenti!"
"Tolong tolong"
"Ya Tuhan, tolong ibu itu."
Banyak orang disekitar situ menyaksikan langsung, mobil itu menghantam tubuh ibu Inara hingga terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Bu bangun bu, tolong panggil ambulance."
"Bertahanlah bu."
Setelah menunggu beberapa menit terdengar sirine ambulance semakin dekat dengan tempat kejadian.
Ibu Inara dibawa ke rumah sakit dekat dengan pusat kota, yang terletak tidak jauh dari daerah kampungnya.
-Di sekolah Aditya-
*Kenapa aku sangat ingin bertemu ibu.* batin Aditya.
*Ada apa ini ya Tuhan, perasaanku tidak enak. Inara...* batin nenek Sekar.
Lamunan nenek Sekar pecah, saat ponselnya berbunyi.
Dalam panggilan
_________
^^^"Apa benar ini dengan keluarga dari^^^
^^^ibu Inara Rahdian?"^^^
"Iya benar, ada apa ya?"
^^^"Kami dari rumah sakit Sejahtera, ingin mengabarkan pada anda jika ibu Inara^^^
^^^ terlah mengalami kecelakaan dan kini kondisinya sedang kritis."^^^
...(Saat mendengar kabar yang tidak mengenakan itu, nenek Sekar tidak mampu mengucapkan apapun bahkan jari-jari tangannya mulai lemas. Hingga ponsel yang awalnya dia genggam jatuh ke tanah.)...
__________
Air mata nenek Sekar tidak dapat terbendung lagi, dengan kaki yang tidak mampu menumpu badannya. Nenek Sekar berjalan begitu pelan menuju kelas Aditya dengan tatapan kosong dan penuh linangan air mata.
"Permisi" Kata nenek Sekar sambil membuka pintu ruang kelas Aditya.
Seketika itu guru dan seluruh murid melihat ke arah pintu termasuk Aditya, dengan cepat dia berlari menghampiri nenek Sekar dan memeluknya dengan erat.
"Nenek kenapa?" Tanya Aditya.
Nenek Sekar tidak menjawab pertanyaan Aditya, dan langsung memberitahu serta meminta izin kepada guru Aditya untuk membawa Aditya pulang lebih awal.
Aditya menangis mendengar penjelasan nenek Sekar pada gurunya, dengan bantuan ibu guru beberapa buku dan alat tulis Aditya dimasukan ke dalam tas agar bisa segera pulang.
__ADS_1
"Semoga ibu Aditya cepat pulih bu." Ucap guru kelas Aditya.
"Aditya jangan sedih ya, doakan semoga ibu Aditya cepat sehat lagi." Sambung ibu guru sambil duduk jongkok didepan Aditya untuk sedikit menenangkan muridnya itu.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, terima kasih bu guru." Kata nenek Sekar sambil menggandeng Aditya.
"Hati-hati di jalan bu."
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aditya hanya menangis dan terus memanggil ibunya.
......................
Setelah menunggu hampir sejam lamanya, dokter keluar dari ruang IGD dan menghampiri Aditya serta nenek Sekar yang duduk di ruang tunggu depan ruangan IGD.
"Keluarga ibu Inara?"
"Kami dokter" Sahut nenek Sekar yang bangun dari duduknya.
"Ada yang perlu saya bicarakan kepada anda mengenai kondisi ibu Inara, mari ke ruangan saya."
-Di ruangan dokter-
"Begini bu, apa sebelumnya anda mengetahui jika ibu Inara mengidap kanker paru-paru dan sudah memasuki stadium 4?"
"Kanker paru-paru?" Tanya nenek Sekar dengan raut wajah terkejut bercampur dengan sedih.
"Iya bu, ibu Inara mengidap penyakit kanker paru-paru. Yang mana kondisi tubuhnya sudah tidak sehat lagi ditambah dengan beberapa luka dalam di bagian tubuhnya akibat kecelakaan. Dan kini ibu Inara sedang dalam kondisi koma, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesehatan ibu Inara. Hanya doa dari pihak keluarga yang mampu memberikan kekuatan untuk ibu Inara, mengingat kondisi ibu Inara yang terbilang tipis untuk sembuh seperti sediakala."
"Tolong berikan perawatan terbaik untuk anak saya dok, lalukan segala hal untuk kesembuhan anak saya."
"Kami berusaha semaksimal mungkin bu, sekarang ibu Inara sedang dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut."
"Nenek, ibu akan sembuh kan nek?" Tanya Aditya memeluk tangan neneknya yang menangis tersedu-sedu.
Setelah sedikit menenangkan diri, nenek Sekar mengajak Aditya untuk melihat kondisi ibunya yang masih koma dari balik jendela kaca ruang ICU.
"Ibu? Ibu kenapa? Bangun bu ini Aditya." Ucap Aditya dengan terus menangis.
"Inara, ibu tahu kamu wanita kuat. Bertahanlah demi Aditya, dia masih membutuhkanmu." Gumam nenek Sekar.
"Nek, ibu kenapa tidak bangun. Apa ibu baik-baik saja? Ibu sudah janji akan mengantarku sekolah besok nek."
"Berdoa ya sayang buat ibu, semoga ibu cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan kita lagi."
Tangisan Aditya semakin menjadi-jadi saat neneknya memeluk erat tubuhnya, Aditya paham betul jika kondisi ibunya tidak baik-baik saja hingga membuat neneknya menangis dengan waktu yang cukup lama. Mengingat nenek Sekar tidak pernah terlihat sedih, sekalipun ada masalah.
*Aditya disini untuk ibu, ibu cepat sembuh ya. Aditya sayang sekali dengan ibu.* batin Aditya.
Dari jauh terlihat seorang wanita sedang tersenyum penuh dengan kemenangan menyaksikan Aditya dan nenek Sekar menangisi keadaan ibu Inara.
.
.
.
.
...Jangan lupa terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian🤗❤...
...Dan author ingin meminta maaf karena keterlambatan update chapter baru dikarenakan beberapa sebab yang tidak bisa author katakan🙏🏻🙏🏻...
__ADS_1
...Ditunggu vote, like, dan komen nya xoxo❤❤...