
.
.
.
.
"Jika anda berpikir saya seorang penipu, anda tidak salah tuan. Maaf atas kelancangan saya tuan."
"Aditya?!" Teriak Laura
"Tidak apa-apa kak, tuan Rai benar. Tidak hanya tuan Rai saja yang akan berpikir jika saya seorang penipu, sebesar ini mengaku jika saya anak tuan. Kakak yang terlalu percaya pada saya, seharusnya kakak jangan percaya pada saya. Saya pamit pulang terlebih dahulu kak, istri saya sedang di rumah sendirian. Saya permisi tuan Rai." Jelas Aditya.
Setelah mengucapkan hal yang membuat Laura menangis, Aditya menundukkan badannya lalu dengan cepat keluar dari ruang baca tuan Rai.
"Aditya?! Jangan pergi, tunggu kakak." Teriak Laura.
Saat Laura hendak mengejar Aditya, lengannya digenggam erat oleh tuan Rai agar tidak bisa mengejar Aditya.
"Mau apa kamu mengejarnya?"
"Papa tida tahu apapun, dia tidak berbohong pa. Dia adalah adikku, aku harus mengejarnya pa. Aku tidak bisa kehilangan adikku lagi, yang perlu papa tahu dulu saat papa meninggalkan mama, mama dalam keadaan hamil dan belum sempat bilang ke papa hingga pada akhirnya papa bercerai dengan mama dan menikah lagi."
Tuan Rai terdiam, tangannya dengan otomatis melepas lengan Laura. Tanpa menunggu jawaban papanya, Laura berlari keluar ruangan mengejar kemana Aditya pergi. Dan benar saat sudah di teras rumah, Laura melihat mobil Aditya telah menyala. Laura berteriak memanggil nama Aditya berulang kali, namun Aditya tidak meresponnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah keluarga Candra.
"Aditya, tunggu!" Teriak Laura dengan sangat keras hingga satpam di pintu gerbang dapat mendengar suaranya.
Aditya yang melihat Laura masih mengejar mobilnya sambil berteriak, hanya mampu menahan diri. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, melihat respon tuan Rai yang tidak akan pernah percaya dengan ucapan kakaknya.
*Maafin aku kak.* Batin Aditya
Saat mobil Aditya didepan gerbang, dan ingin meminta satpam untuk membuka pintu gerbang. Matanya tidak sengaja melirik ke arah spion mobilnya, hingga dia tidak mampu lagi menahan diri.
Laura jatuh hingga tersungkur saat mengejar mobil Aditya, satpam rumahnya yang melihat hal itu terkejut dan hendak menolongnya. Namun Aditya lebih duluan menghampiri kakaknya yang tengah menangis dengan tangan menahan cairan merah yang mengalir dari kakinya.
"Apa yang kakak lakukan?" Tanya Aditya sambil duduk jongkok depan Laura.
"Saya akan kembali dan bersama kakak, saya akan mencari bukti secepatnya agar tuan Rai percaya dengan saya. Saya janji, sebelum itu tolong jangan temui saya dulu." Sambung Aditya.
"Tapi kita bisa cari bukti bersama Dit."
"Tidak kak, ini urusan saya. Saya yang akan mencari buktinya." Kata Aditya sambil membopong tubuh Laura dan mendudukkannya di kursi taman dekat pos satpam.
"Segera obati luka kakak, saya harus pulang. Jaga diri baik-baik kak."
"Aditya?" Kata Laura dengan lirih.
"Tolong pahami keadaan saya kak." Jawab Aditya sambil berjalan meninggalkan Laura.
Aditya mendekati mobilnya dan meminta satpam untuk membantu Laura masuk ke dalam rumah agar lukanya segera terobati.
Dalam perjalan pulang Aditya hanya melamun tanpa fokus melihat ke arah jalan, lamunannya pecah saat ponselnya mulai berdering.
Aditya melirik ke arah ponselnya, dan menepi saat mengetahui seseorang menelponnya.
Dalam panggilan
_________
"Adi, tolong aku."
^^^"Ada apa?"^^^
"Agrrr...."
^^^"Apa kamu baik-baik saja?"^^^
"*Siapa yang kamu telpon? Siapa
menyuruhmu menelpon?! Hah!*"
"Jawab! Apa kamu tidak mendengarkan
ucapan suamimu! Dasar wanita
tidak berguna!"
"Plak*..."
...*Ada apa dengan Reyna?* batin Aditya....
__ADS_1
________
Tut...tutt...tuttt...
Tanpa berpikir panjang Aditya mencari nomer ibu Melati dan menelponnya, tidak lama terdengar suara ibu Melati yang menjawab telepon Aditya.
Dalam panggilan
_______
"Ada apa Aditya?"
^^^"Selamat malam bu, maaf saya^^^
^^^mengganggu waktu istirahat ibu. Saya^^^
^^^mau bertanya Reyna sekarang dimana?"^^^
"Reyna? Dia ada di rumah suaminya,
setelah menikah Reyna tidak lagi
serumah dengan ibu."
"Ada apa ya nak?"
^^^"Boleh saya minta alamat rumah Reyna^^^
^^^yang sekarang bu? Saya ingin^^^
^^^berkunjung."^^^
"Nanti ibu akan kirimkan alamatnya,
lama kita tidak berjumpa juga nak.
Mampir juga ke rumah ibu, ajak istrimu."
^^^"Baik bu pasti, ibu bisa lanjutkan^^^
^^^istirahat. Terima kasih, maaf^^^
^^^menggangu waktu ibu."^^^
begitu ibu tutup ya?"
^^^"Iya bu."^^^
_______
Setelah menerima alamat rumah Reyna yang baru dari ibu Melati, Aditya mengirimkan pesan pada Dion untuk menghampirinya di alamat yang telah diberikan ibu Melati.
Hampir 40 menit dalam perjalanan, mobil Aditya memasuki kawasan perumahan elit yang letaknya tidak jauh dari tepi kota.
Dengan mata yang sesekali membaca nomor yang menempel pada setiap pagar rumah, pada akhirnya dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah berwarna abu-abu dengan nomer 209.
Aditya turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri pintu gerbang yang terlihat sedikit terbuka.
Terdengar dengan samar suara orang berteriak dari dalam rumah, karena merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya Aditya meraih gagang pintu rumah itu dan hendak membukanya. Namun, tangannya terhenti saat Dion mencegahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Dion dengan sedikit nada berbisik.
"Kita tidak bisa membiarkan Ivan menyakiti Reyna, Reyna dalam bahaya didalam."
"Iya aku paham Dit, tapi ini rumah orang pakai akal mu. Kita tidak bisa masuk begitu saja, yang ada dikira maling kita."
Brak...
Aditya dan Dion yang awalnya sibuk berdebat, menoleh bersamaan ke arah pintu rumah Reyna. Mereka berdua mendengar dengan jelas suara barang jatuh atau apapun itu dari dalam rumah.
"Kita harus masuk!" Kata Dion, tanpa menunggu Aditya merespon dan mendorong pintu yang tidak terkunci dengan cepat.
Aditya yang melihat sikap Dion langsung mengikutinya dari belakang. Saat berada di dalam rumah Reyna mereka tidak melihat seorangpun hanya beberapa barang yang tergeletak diatas lantai.
"Dit?" Panggil Dion dengan mata mengarah ke satu ruangan di lantai 2 rumah Reyna.
Aditya menoleh ke arah yang sama dengan Dion dan mengerti apa maksud Dion.
Saat langkah mereka sudah mendekati pintu ruangan yang dimaksud Dion, langkah mereka terhenti lagi saat terdengar suara orang dari dalam ruangan itu.
*Kamu tidak berhak untuk mengatur hidupku! Dan perlu kamu tahu, aku menikahi mu karena terpaksa bukan karena mencintaimu. Tapi kamu malah ingin membongkar rahasiaku?!*
__ADS_1
*Aku hanya ingin melindungi ayah dari anakku, aku tidak ingin melihat kakak bersama wanita lain.*
*Beraninya kamu!*
Brak...
Dion menendang pintu ruangan yang ada didepannya, mata Dion dan Aditya melihat ke arah sahabatnya yang tengah terduduk tidak berdaya di atas lantai dengan wajah dan lengan yang penuh memar.
"Wah, kedua pahlawanmu sudah datang." Kata Ivan sambil bertepuk tangan untuk menyambut kedatangan Dion dan Aditya.
"Apa yang kamu sudah lakukan pada istrimu?!" Tanya Dion dengan nada tinggi.
"Ini rumah tanggaku, kalian orang luar tidak berhak ikut campur!"
Saat Dion dan Ivan saling beradu mulut hingga saling memukul, Aditya yang melihat keadaan Reyna berusaha membujuknya untuk ikut dengannya dan Dion.
"Aku tidak bisa ikut denganmu dan Dion, aku harus tetap bersama suamiku Dit."
"Apa yang dilakukan suamimu itu sudah keterlaluan, kamu harus ke rumah sakit. Kasihan bayi didalam kandungan mu."
"Dit bawa Reyna keluar dari sini" Teriak Dion
Mendengar teriakan Dion, Aditya sudah tidak banyak waktu lagi untuk terus membujuk Reyna agar mau pergi dari rumah Ivan.
"Maaf" kata Aditya dengan tangan meraih tubuh Reyna dan membopongnya keluar, walau Reyna terus memintanya untuk tidak membawa dirinya pergi.
Ivan yang melihat hal itu marah dan ingin mengejar Aditya, namun Dion lebih cepat menghalanginya. Dion berlari keluar ruangan itu, dan menutup pintu itu serta menguncinya dengan cepat hingga Ivan tidak bisa keluar dari ruangan itu suaranya terdengar berteriak.
Hingga salah satu teriakan Ivan membuat langkah Aditya yang menuruni tangga terhenti.
*Apa yang barusan dia katakan? Keysa?* batin Aditya.
Dion mengajak Aditya untuk segera keluar dari rumah Ivan sebelum Ivan dapat keluar dari ruangan itu.
Dalam perjalanan Aditya mengendari mobil dengan cepat karena melihat keadaan Reyna yang semakin memburuk, dibelakang mobil Aditya terlihat Dion yang tengah mengendari mobilnya dengan terus mengikuti mobil Aditya menuju rumah sakit.
Reyna dibawa kedalam IGD oleh perawat saat keluar dari mobil Aditya, Aditya meraih ponselnya dan menghubungi ibu Melati untuk memberi tahu keadaan Reyna. Beberapa saat kemudian terlihat dari jauh Rosa datang dengan sedikit berlari.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rosa pada Dion dan Aditya.
"Kamu tenang dulu, Reyna sudah diperiksa oleh dokter. Ceritanya panjang nanti aku akan cerita." Kata Dion sambil menenangkan Rosa
Aditya yang terduduk di kursi tunggu terlihat diam, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Aditya memikirkan ucapan Ivan yang sempat membuatnya berhenti.
-Flash back on-
Aditya menuruni tangga sambil membopong tubuh Reyna yang semakin lemas dan menahan sakit di perutnya.
*Aditya?! Dasar laki-laki b*d*h, kamu pikir Keysa adalah istri yang setia?!*
*Hahaha, keluarkan aku! Jangan bawa Reyna!*
-Flash back off-
"O iya Keysa di rumah sendirian, aku harus segera pulang sekarang." Gumam Aditya.
Aditya beranjak dari duduknya dan menghampiri Dion serta Rosa yang mondar-mandir di depan pintu IGD.
"Saya pulang dulu, kalau ada apa-apa segera hubungi saya."
"Apa Keysa di rumah sendirian?" Tanya Dion
"Iya."
Aditya berjalan menuju parkiran mobil, saat didalam mobil dia sempat melamun beberapa menit mengingat kejadian hari ini yang dia alami. Bahkan sesaat dia lupa mengenai ucapan Ivan karena pikirannya teralihkan dengan respon sang ayah yang mengetahui jika dia anaknya.
"Hah?"
Aditya meletakkan kepalanya di atas stir mobil, dan memejamkan matanya dalam beberapa detik. Setelah merasa sedikit tenang dia menyalakan mobilnya untuk kembali ke rumah, karena khawatir dengan keadaan Keysa.
.
.
.
.
...Jangan lupa terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian🤗❤...
__ADS_1
...Dan author ingin meminta maaf karena keterlambatan update chapter baru dikarenakan beberapa sebab yang tidak bisa author katakan😔...
...Ditunggu vote, like, dan komen nya xoxo❤❤...